Monday, April 1, 2019

Sinopsis Likit Ruk (The Crown Princess) Episode 1 - 1

 Sinopsis Likit Ruk (The Crown Princess) Episode 1 - 1


Letnan Komandan Davin Samuthyakorn (Nadech Kugimiya) memimpin rekan-rekan tim bodyguard-nya mengawal seorang klien VIP mereka dengan ketat. Namun saat mereka tengah berjalan masuk menuju gedung konferensi, tiba-tiba mobil di belakang mereka meledak.

Sontak semua bodyguard dan polisi bersiaga dengan senjata mereka. Davin buru-buru membawa si klien masuk. Tapi bahkan di dalam gedung, suasana begitu kacau.

Beberapa orang mendadak menyerang mereka. Para bodyguard pun sontak melepaskan tembakan pada semua penyerang mereka dan mengalahkan mereka semua dengan mudah.


Davin sendiri mengamankan si klien ke sebuah ruang gelap. Tiba-tiba penyerang mereka muncul, sontak Davin menghadapi, menyerang dan menembaki mereka satu per satu seorang diri, dan membiarkan rekan wanitanya membawa si klien keluar lewat jalur belakang.

Penyerangnya terus berdatangan makin banyak, tapi Davin tak gentar dan menangani mereka dengan mudah dan klien mereka pun berhasil diamankan.


"Sekarang aku bisa libur, kan?" Gumam Davin santai begitu misi mereka selesai. Tiba-tiba ada musuh yang hendak bangkit, tapi Davin langsung menembaknya tanpa ampun.


Kita kemudian beralih ke sebuah negeri bernama Hyrsos dan melihat seorang wanita yang tengah berjalan di tengah padang salju seorang diri. Sepertinya wanita itu orang penting karena tiba-tiba saja muncul seorang snipper dari dalam tumpukan salju yang sontak melepas tembakan ke wanita itu.

Tapi tepat saat itu juga, wanita itu menoleh ke arahnya dan jadilah peluru itu cuma menyerempet bahunya. Alih-alih ketakutan, wanita itu sontak mengeluarkan pstolnya sendiri dan berusaha menyerang si snipper sebelum kemudian melarikan diri.

Sayangnya, langkahnya terhenti dengan cepat karena kemudian dia menghadapi jalan buntu, sementara penyerangnya terus mengejar. Tak gentar, wanita itu sontak melepaskan tembakannya tepat mengenai si penyerang.

Wanita itu adalah Putri Alice Madeline Tereza Filippe (Yaya Urassaya). Sayangnya, penyerangnya bukan cuma satu orang. Para penyerang itu terus menerus berdatangan menyerangnya.

Alice kehabisan peluru dengan cepat. Maka dengan sengaja dia bersembunyi. Dan begitu si musuh mendekat, dia menyerang musuhnya itu secara tiba-tiba, mengambil alih senapannya lalu menembak si musuh.


Sukses mengalahkan semua penyerangnya, Alice langsung pergi ke sebuah istana megah di mana bibinya yang bernama Putri Mona dan sepupunya yang bernama Putri Catherine William Ann Filippe, tengah bersantap siang.

Begitu masuk, dia langsung melabrak Mona karena dia yakin Mona lah dalang di balik percobaan pembunuhannya. Dari labrakannya, kita mengetahui bahwa Mona ini dulunya ternyata ibu tirinya Alice.

"Kau begitu menginginkanku untuk mati? Silahkan saja!" Tantang Alice sambil melempar pistolnya ke Mona. "Hadapi aku secara langsung, agar kau tidak perlu repot-repot menyewa orang untuk membunuhku."


Mona tidak terima tuduhannya dan menuntut bukti. Alice sinis, semua orang juga tahu kalau Mona membencinya.

"Kalau kau menggunakan kebencian sebagai bukti, maka kau harus mencurigai seluruh istana... karena bukan cuma aku yang membencimu." Balas Mona.

Kate berusaha menenangkan ketegangan di antara mereka. Tapi Mona tak peduli dan mengingatkan Alice bahwa semua orang di negeri ini tahu kalau Alice tidak cocok memimpin negara ini.

Alice kan mendapatkan posisinya dengan cara menjilat, makanya banyak orang yang ingin membunuh Alice. Hanya itu satu-satunya cara agar negara ini tidak memiliki ratu berhati dingin, tidak berpengalaman, dan tidak punya kredibilitas seperti Alice.

"Itu jauh lebih baik daripada memiliki seorang raja yang berselingkuh dengan istri saudaranya sendiri... dan seorang ratu murahan yang tidur dengan kedua saudara." Balas Alice.


Tepat saat itu juga, Pamannya Alice - Pangeran Andre Fillipe, muncul di sana dan menuntut Alice untuk menarik kembali ucapannya barusan. (Jee ketemu bapak tirinya lagi, hehe)

"Bahkan sekalipun aku menarik ucapanku, itu tidak akan bisa menghapus kebenaran!" Cecar Alice.

Andre dan Mona berselingkuh hingga menyebabkan ayahnya meninggal dunia. Kakek tidak senang karenanya. Dan karena itulah, Kakek tidak akan menunjuk Andre sebagai penerusnya.

Semua ini terjadi akibat perbuatan mereka sendiri, tapi mereka malah tidak mau menerimanya dan menyalahkan orang lain. Menyedihkan sekali!

"Diam!"

"Aku akan berhenti kalau kalian berhenti bersikap seperti an*ing pengkhianat! Jika tidak, maka seseorang sepertiku tidak akan pernah menyerah pada siapapun. Nyawa dibalas nyawa." Geram Alice lalu pergi.

Andre benar-benar kesal merutuki ayahnya. Bagaimana bisa Raja malah mewariskan tahta pada anak tak punya sopan santun seperti Alice. Kalau dia sampai naik tahta, maka negeri ini akan terbakar.


Raja Henry Antoine Fillipe kesal saat mendengar percobaan pembunuhan cucunya itu padahal dia bahkan belum resmi dinobatkan sebagai Putri Mahkota. Tapi Alice juga salah karena dia suka sekali keluar istana seorang diri.

Tapi Alice menegaskan kalau dia hanya ingin berkeliling negeri, jadi lebih enak bepergian sendiri.

"Dan apa hasilnya? Enak bagi para pembunuh itu." Omel Raja Henry.

"Aku tidak akan membiarkan apapun terjadi padaku." Janji Alice.

Tapi Raja Henry tetap tak bisa tenang dan berencana untuk membatalkan semua misi setelah penobatan Alice nantinya... termasuk rencana kepergiannya ke Thailand.


Alice tidak setuju dan ngotot kalau dia tetap harus pergi ke Thailand. Misi ini penting untuk dilakukan demi negara.

"Tapi itu berbahaya! Hari ini saja aku hampir terkena serangan jantung. Kau juga tahu sendiri ada orang-orang yang tidak setuju aku menobatkanmu sebagai putri mahkota."

Kalau Raja Henry tahu itu, lalu kenapa malah menunjuknya sebagai putri mahkota? Apakah tidak ada orang lain yang lebih cocok selain dia?

"Kalau ada, kenapa juga aku membahayakanmu? Alice, hanya kau satu-satunya solusi yang bisa menyelesaikan semua masalah." Ujar Raja Henry.


Kedua bodyguard-nya Alice (Petra dan JC) benar-benar merasa bersalah karena tadi dia tidak mengkuti Alice hingga menyebabkannya terluka. Tapi Alice sama sekali tidak marah pada mereka, toh memang dia sendiri yang melarang mereka untuk mengikutinya.


Tiba-tiba terdengar suara kaca pecah. Ternyata sepupunya Alice - Pangeran Alan, melempar botol wine ke fotonya Alice sambil nyinyir. "Bersorak untuk putri mahkota! Posisi yang kau curi dari pamanmu sendiri."

Alice tak gentar dengan nyinyirannya. Mending Alan pulang saja dan tidur daripada dia mengganggu istananya. Alan menyangkal, dia datang untuk merayakan penobatan Alice.

"Apa kau tidak bisa bersikap baik seperti orang lain? Lihatlah P'Kate. Kalian bahkan memiliki ayah yang sama."

Alan makin nyinyir mendengarnya. Mereka berdua beda ibu, makanya kepribadian Kate lebih buruk darinya. Kate itu pengecut, tidak berani melawan siapapun. Dia tidak punya kepribadian semacam itu.


Dan bagaimana dengan sikap Alice sendiri yang menerobos istananya sambil bawa pistol dan menuduh orang tuanya? Apa Alice pikir dia bisa melakukan apapun hanya karena dia keturunan kakek?

Kakek mereka itu juga tidak adil. Ayahnya Alan adalah anak tertua, seharusnya dialah urutan pertama pewaris tahta. Sedangkan Alice cuma anak dari ayahnya yang sudah lama meninggal dunia.

Alice jelas tidak terima. Alan tak peduli dan terus saja nyerocos menghina orang tua Alice. Sekarang dia malah ganti menghina ibunya Alice yang cuma seorang rakyat jelata dan tidak jelas asal-usulnya.

"Beruntung sekali negara kita karena dia tidak lama hidup. Karena begitu dia melahirkanmu, dia langsung say goodbye. Bagaimana perasaanmu menadi penyebab kematian ibumu sendiri?!"


PLAK! Satu tamparan keras mendarat di pipi Alan. "Tamparan pertama itu untuk membuatmu sadar. Kalau kau belum sadar juga, maka tamparan kedua akan jauh lebih keras!"

Emosi, Alan sontak membanting botol wine-nya ke pigura foto keluarga kerajaan. Alice nyinyir mengingatkan Alan tentang kelakuan ibunya Alan sendiri. Tak lama setelah menikah dengan Ayah Alice, Mona berselingkuh dengan Ayahnya Alan hingga menyebabkan kematian Ayah Alice.

"Aku ingin tahu, bagaimana perasaanmu mengetahui ibumu adalah penyebab kematian ayahku?" Balas Alice.

Alan kontan speechless mendengarnya. Alice menegaskan bahwa dia sebenarnya tidak pernah menginginkan posisi apapun. Semua ini adalah keputusan kakek.

"Kalau aku bisa memilih, aku hanya ingin menjadi cucunya kakek... dan menjadi adiknya P'Kate, dan menjadi saudaramu."

"Kalau kau berpikir begitu, maka tolaklah penobatanmu dan lepaskan posisi itu ke ayahku. Tapi kalau kau tidak bisa, maka hiduplah dalam kecurigaan dan kesepian."


Alan langsung pergi setelah itu, meninggalkan Alice dalam kesedihannya, teringat betapa bahagianya masa kecilnya bersama Alan dan Kate dulu. Hubungan mereka sangat dekat biarpun mereka bukan saudara kandung. Tapi sekarang, segalanya berubah.

Bersambung ke part 2

5 komentar: