Monday, March 18, 2019

Sinopsis Leh Nangfah Episode 3 - 2

Sinopsis Leh Nangfah Episode 3 - 2


Korn terburu-buru mau ke rumah Beauty begitu mendengar Beauty mengusir paksa semua staf-nya. Pat langsung nyinyir, masalah apa lagi yang dibuat si bodoh itu?

Korn tidak suka mendengar cacian Pat. "Jangan memanggilnya seperti itu."

Baiklah, baiklah. Tapi apapun panggilannya, Beauty tetap bodoh. Ada masalah apa memangnya?

"Beauty memecat seluruh staf-nya."

Beauty kan memecat mereka kemarin, kenapa juga Korn harus mengurusnya sekarang? Memecat orang itu kan sudah biasa. Lebih baik Korn bilang pada mereka 'baguslah mereka dipecat, kenapa juga bekerja pada orang semacam itu?'

"Jangan bicara tentang sesuatu yang tidak kau ketahui!"

"Aku cuma mengatakan yang sebenarnya. Siapa juga yang tahan bekerja pada orang yang emosional, narsis dan suka meremehkan orang lain seperti Beauty?"

"Pat! Aku tidak pernah melihat Beauty bicara macam-macam tentangmu seperti kau bicara tentangnya. Kenapa kau sejahat ini?"

"Yah, aku tidak baik, apapun yang kulakukan salah! Tidak seperti keponakan kesayangan ayah itu! Bagaimana bisa ayah lebih peduli dengan keponakan daripada putri ayah sendiri?"


Pat langsung kesal banting-banting barang di kamarnya. Saat melihat album foto masa kecil mereka, Pat teringat kembali bagaimana ayahnya selalu menyayangi Beauty sejak mereka masih kecil.

Flashback.


Waktu itu adalah ulang tahun Pat kecil saat Beauty kecil mengajak mereka main putri-putrian. Pat ingin jadi putrinya, soalnya dia ultah hari ini. Tapi Beauty menolak sambil mengejek Pat jelek.

Pat jelas tidak terima dan langsung mendorong Beauty sampai jatuh. Beauty langsung menangis dan saat itulah Korn datang. Beauty langsung mengadu kalau Pat yang mendorongnya.

Korn sontak mengomeli Pat. Tee berusaha membela Pat dan menjelaskan kalau Beauty duluan yang mengejek Pat, tapi tetap saja Korn lebih membela Beauty. Tidak seharusnya Pat menyakiti Beauty biarpun Beauty mengejeknya duluan.

"Beauty adikmu, kalian seharusnya saling menyayangi, mengerti?"

"Aku tidak menyayanginya! Dia anak nakal, aku benci dia!"


Pat langsung pergi sambil menangis. Tapi Korn tetap lebih mempedulikan Beauty, ia bahkan meminta maaf pada Beauty. Pat cuma bisa menangis di pojokan melihat semua itu.

"Aku tidak akan pernah menerima seseorang sepertimu sebagai adikku, Beauty."

Flashback end.


Melihat Tuannya masuk kamar dengan wajah menyebalkan, Seua langsung takut Tee akan melampiaskan kekesalan padanya. Benar saja, Tee langsung mencengkeramnya sambil curhat marah-marah padanya.

"Aku lagi bad mood. Apa kau tahu apa yang harus kuhadapi hari ini?"

"Nggak tahu!"

"Aku bilang aku tidak mau pergi. Dan ternyata apa? Dia sama sekali belum berubah. Dia sama buruknya seperti dulu."

"Ngapain juga kau pergi? Aku kan sudah melarangmu pergi."

"Kau mengerti tidak apa yang kukatakan?"

"Ngerti. Sakit, tahu!"


Korn menyerahkan daftar gambar design baju-baju pada Beauty dan meminta Beauty untuk memberikan opininya sebagai seorang presiden perusahaan.

Selama ini, Korn lah yang mengurusi perusahaan alih-alih Beauty. Karena itulah, Korn ingin Beauty lebih serius sebagai presiden perusahaan mulai sekarang.

Tapi Beauty ngotot tidak mau. Lagian kan Korn wakil presidennya, jadi tidak masalah. Korn juga punya si gendut mata empat itu.

"Berhentilah memanggilnya seperti saat kalian masih kecil. Teepob sekarang sangat cakap, dia bahkan dinominasikan sebagai 'Businessman of The Year'. Semua orang mengaguminya."

Beauty langsung ketawa ngakak tak percaya, teringat Tee yang dulunya yang sangat culun, gendut dan ceroboh. Berusaha mengalihkan pikirannya dari kenangan masa lalunya, Beauty cepat-cepat melihat-lihat koleksi design baju itu.


Tapi tak ada satupun yang dia sukai dan dia langsung nyerocos panjang lebar memberikan berbagai kritik dan saran. Korn senang mendengarnya, seharusnya Beauty bekerja di perusahaan. Dia bisa memberikan instruksi pada designer-nya dengan lebih baik.

Beauty bersikeras menolak, dia tidak cocok bekerja di perusahaan. Korn tak menyerah dan terus berusaha membujuknya. Apalagi Beauty kan sangat berbakat, dia pernah belajar design fashion dan juga pernah mendapatkan penghargaan.

Beauty cuma perlu bekerja di bagian design dan produksi, sementara Teepob yang akan mengurus masalah marketing. Tapi Beauty tetap keukeuh dengan keputusannya. Dia tidak cocok dengan bisnis dan tidak ingin memikirkan masalah itu sekarang.

"Aku ingin kau menggunakan bakatmu dan tidak cuma menghabiskan harimu dengan bersenang-senang seperti biasanya. Ayahmu memiliki harapan yang sangat besar padamu."


Beauty langsung sedih membicarakan mendiang orang tuanya. "Paman, sejak kedua orang tuaku meninggal dunia, hanya paman yang kumiliki. Hanya paman yang masih menyayangiku dan selalu ada di sisiku."

Dia ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi tiba-tiba saja t**uhnya kesakitan. Ternyata matahari sudah mulai tenggelam. Beauty kontan panik melarikan diri ke kamarnya.


Begitu berubah jadi burung, Beauty langsung terbang mencari Korn dan menemukannya sedang menelepon seseorang. Tapi pembicaraan Korn terdengar mencurigakan.

Dia terdengar kesal karena Beauty masih ngotot menolak bekerja di perusahaan dan karenanya, ia bertekad untuk melakukan perubahan pada perusahaan. Sebaiknya mereka segera melaksanakan rencana kedua.

Korn tidak bisa membiarkan Thanabaworn dipimpin oleh seorang presiden yang tidak bisa apa-apa seperti Beauty, seseorang yang bahkan tidak pernah memikirkan apapun selain dirinya sendiri.


"Aku ingin tahu bagaimana perasaannya jika dia tahu kalau perusahaan ayahnya, bukan miliknya lagi."

OMG! Beauty shock mendengar paman kesayangannya ternyata juga berniat mengkhianatinya. "Paman, bagaimana bisa kau melakukan ini padaku? Paman, kau mengkhianatiku! Kau mengkhianatiku!"

Burung Beauty langsung menyerang Korn, dengan ganas. Korn jelas kesal dan langsung mengibas-ngibaskan tangannya mengusir burung itu dan cepat-cepat masuk kembali ke rumah, sementara Beauty hanya bisa menangis di luar.

Korn langsung memerintahkan pelayan untuk menyingkirkan burung itu sebelum Beauty mengetahuinya. Para pelayan jelas bingung karena Beauty sudah memerintahkan mereka untuk tidak mengusir burung tanpa seizinnya.

Tapi karena Korn memaksa mereka mengusir burung itu, pelayan akhirnya pergi untuk mengurus burung itu.


Mengira Beauty ada di kamar, Korn berusaha mengetuk pintu dengan cemas. Tapi karena tak ada jawaban dari dalam, Korn akhirnya pamit pulang. Hmm... Paman Korn sepertinya benar-benar tulus mencemaskan Beauty, tapi kok malah ingin mengkhianati Beauty?


Beauty sebenarnya sedang menangis di pinggir kolam, meratapi nasibnya. "Ternyata tak ada seorangpun yang tulus padaku. Paman, aku menyayangimu lebih dari siapapun. Kenapa? Kenapa tak ada seorangpun yang memihakku? Aku benci semua orang!"

Flashback.


Waktu Beauty masih kecil, ayahnya tanya Beauty mau jadi apa kalau besar nanti. Beauty kecil dengan polosnya berkata kalau dia ingin menjadi tuan puteri-nya ayah.

"Tentu saja. Jika kau menjadi puteri kecil ayah, maka kau harus membantu ayah mengurus perusahaan. Beauty, perusahaan ayah bernama perusahaan Thanabaworn. Kalau kau ingin menjadi tuan puteri, maka kau harus mengurus perusahaan saat kau besar nanti."

Beauty kecil mengiyakannya sambil melompat-lompat antusias. Tapi tepat saat itu juga, Lalita hendak menyajikan teh untuk suaminya dan beauty kecil tak sengaja menyenggolnya hingga teh panas itu tumpah ke kakinya.

Beauty kecil menangis karenanya, tapi Ayah berhasil menenangkannya dengan cepat dengan mengingatkan Beauty bahwa tuan puteri tidak boleh menangis, tuan puteri harus kuat.

Flashback end.

 

Beauty berhenti menangis berkat kenangan itu sembari mengingatkan dirinya sendiri untuk kuat seperti yang ayahnya ajarkan dulu. "Cukup! Mulai sekarang, aku tidak akan mudah percaya pada siapapun lagi. Bahkan Paman Korn sekalipun."


Cemas melihat kesedihan putrinya, Lalita hampir saja mengatakan sesuatu tentang Korn. Tapi Dewi mengingatkannya bahwa dia tidak boleh menunjukkan masa depan pada manusia.

"Tapi putriku sangat menderita. Bagaimana bisa dia akan berhasil menyelesaikan ketiga misinya."

"Segalanya adalah pelajaran, Malaikat lalita."

"Jika ini pelajaran, bukankah seharusnya ada petunjuk menuju jalan yang benar?"

"Itu... mungkin ada sedikit. Tapi tidak terlalu banyak."


Menghapus air matanya, Beauty menyemangati dirinya sendiri untuk mengurus perusahaan ayahnya dan melawan koruptor. Dia harus mengambil kembali perusahaan ayahnya.

Tiba-tiba ada sebuah cahaya ajaib muncul berputar-putar di sekelilingnya yang seolah menginginkan Beauty untuk mengikutinya. Mengerti keinginan cahaya itu, Beauty pun terbang mengikuti cahaya itu hingga dia tiba di rumahnya Tee.

 

Dia melihat ada pria di dalam rumah, tapi ternyata dia tidak tahu itu rumah siapa dan tidak mengerti kenapa dia dibawa kemari. Ah, tiba-tiba dia teringat misi tentang c**man cinta sejati. Beauty mengerti, pasti itu.


Dia langsung semangat untuk terbang masuk rumah dan BUK! nabrak pintu kaca. Wkwkwk! 

Seua melihatnya dan langsung jatuh cinta. Waduh! Beauty kontan panik saat Seua mendekatinya. Jadilah mereka kejar-kejaran.

Seua hampir saja berhasil menangkapnya, tapi untunglah Beauty berhasil terbang menghindarinya ke dahan pohon. Seua tak menyerah begitu saja dan terus mendekatinya dengan gaya playboy.

"Aku jatuh cinta padamu, cantik."

"Jangan mendekat! Akan kupatuk matamu sampai buta!"

"Aku tidak takut jadi buta."

"Dasar kucing gendut!"

"Apa? Kucing gendut? Kau boleh memanggilku apapun, tapi jangan kucing gendut! Kemari kau! Kau tidak bisa melarikan diri dariku"


Beauty panik setengah mati. Tapi tepat saat itu juga, Tee mendadak muncul menyelamatkannya dari Seua. Dengan lembut dia mengambil Beauty dan meletakkannya di tangannya.

"Kau baik-baik saja sekarang, burung kecil. Kau aman."

Beauty langsung terpana menatap penyelamatnya. "Tampan."

"Kau sudah aman sekarang," ujar Tee sambil membelai lembut kepala burung Beauty.

Err... ternyata Beauty benar-benar tidak ingat sama teman masa kecilnya itu. Dia malah heran saat memperhatikan Tee. Sepertinya dia familier, apa mereka pernah bertemu sebelumnya?

Seua kesal banget gebetannya diambil tuannya. "Aku masih menunggumu, sayangku~~~"


Melihat si burung terluka, Tee menaruhnya di tempat aman lalu mengambil kotak P3K. Seua jadi makin cemburu, Tee mengambilkan obat untuk si burung padahal Tee bahkan tak pernah melakukan itu untuknya.

Dengan lembut Tee membuka sayapnya si burung untuk mencari lukanya. Tak menemukannya di dalam sayap, Tee langsung menarik-narik di kaki si burung, sama sekali tak tahu kalau Beauty lagi protes keras. "Kau gila apa! Aku wanita! Lembut dikit! Sakit!"

Akhirnya Tee mendapati luka di kakinya si burung dan dengan lembut mengoleskan obat untuknya. Si burung kontan menggeliat nyeri, tapi Beauty yakin sekali kalau pria ini familier. Siapa yah dia?


Sementara Tee meniup-niup lukanya, Beauty terus memperhatikannya dengan seksama. Oh, Beauty ingat! Dia pacarnya Orn!

Beauty kontan kesal menggeliat dari genggaman Tee. "Lepaskan aku sekarang juga! Jangan menyentuhku!"

"Ssshh! Kau keras kepala. Kakimu bisa patah nanti."

"Tinggalkan aku sendiri!"


Mengira si burung lapar, Tee membawanya masuk dan mencoba menyuapkan biji-bijian padanya. Beauty tak mau dan langsung memuntahkannya.

Karena dia bergerak-gerak terus, Tee mengira kalau dia pasti ketakutan. Berusaha menenangkan si burung, Tee tiba-tiba menc**m lembut kening si burung.

Beauty sampai terperangah dibuatnya. "Kau sudah gila, yah? Kau sudah pacar!"

 

Tee lalu menaruh burung Beauty di patung soalnya dia mau mandi dulu. "Tapi aku akan membiarkan pintunya terbuka, jadi kau jangan terbang."

"Hah? Kalau kau mau mandi, tutup pintunya!"

Beauty langsung mengejarnya ke kamar mandi... tepat saat Tee lagi buka baaju. Shock, si burung langsung tepar. Wkwkwk. Beauty protes panjang lebar, tapi dia penasaran juga dan akhirnya tidak tahan untuk ngintip.


Beauty langsung heboh nampar-namparin dirinya biar sadar. Mulai tertarik pada Tee, Beauty keliling rak untuk melihat-lihat semua foto-foto Tee yang ganteng abis, lulusan universitas ternama lagi.

Tapi di salah satu foto, dia melihat Tee foto bersama orang tuanya. Beauty mengenali mereka. Tapi kenapa pria itu berfoto bersama Paman Thana dan Bibi Pawinee?

Pertanyaannya terjawab tepat saat itu juga saat dia melihat foto masa kecil Tee. OMG! Tidak mungkin! "Si gendut mata empat?!"

Bersambung ke episode 4

1 komentar:

Hai, terima kasih telah berkunjung. Tinggalkan komentar kalian, yah ^^