Sinopsis Bupphae Saniwaat Episode 3 - 3

 Sinopsis Bupphae Saniwaat Episode 3 - 3


Ce***a dalamnya Kade akhirnya jadi. Tapi dia tidak cuma membuat untuk dirinya sendiri, melainkan untuk Pin dan Yam juga. Khusus untuk Pin ce***a dalam ukuran jumbo. LOL!

Kedua pelayan cuma menatap benda itu dengan aneh, bingung bagaimana cara memakainya. "Saya akan menggunakannya untuk mengelap air saja." Ujar Pin.

"Terserah, deh."

 

Selesai dengan pekerjaannya, Kade pun tidur sambil dipijat dan dikipasi kedua pelayannya. Tapi kemudian Yam memberitahunya untuk bangun subuh dan bersiap-siap lebih awal, karena besok ada acara derma yang diadakan oleh Ork Ya Gosa, ayahnya Janward. (Waduh, mereka nggak tahu Kade nggak diundang?)

Kade langsung melek seketika. Dia mengenali nama tokoh sejarah itu. Tapi yang mereka maksud Ork Ya Gosa yang mana, yang namanya Lek atau Ban?

"Lek, jao ka. Khun Ban lain lagi."

"Oi, aku senang sekali! Aku bisa bertemu orangnya langsung!"


Subuh-subuh, Por Date sedang sikat gigi saat tiba-tiba saja matanya melotot melihat sesuatu di kejauhan. Kade lagi yoga dan meliuk-liukkan t**uhnya kesana-kemari.

Tapi pemandangan itu terlalu mencengangkan bagi Por Date yang mungkin baru kali ini lihat ada wanita bertingkah seperti itu sampai dia menyemburkan air kumurnya.


Saat matahari terbit, Kade keluar kamarnya sambil bergoyang senang. Kali ini dia memakai kain sarung yang dililit jadi c**ana. Tapi yang membuatnya senang adalah karena akhirnya dia bisa pakai c**ana dalam, rasanya jadi tidak terlalu longgar. Bisa malu sedunia dia.

"Malu sedunia, jao ka?" Bingung kedua pelayan.

Mereka agak-agak ragu melihat baju yang dikenakannya. Tapi Kade tidak merasa ada yang salah, dia tahu kok kalau mereka memakai baju ini saat pergi ke kuil untuk melakukan derma. Bukankah acara di rumah Janward juga acara derma?

Pin masih mau protes tentang bajunya, tapi Kade tak mau dengar apapun lagi dan langsung melesat keluar. Pin langsung kesal mengomeli Yam, tidak seharusnya dia membiarkan Kade memakai baju sendiri. Yah, bagaimana mereka tidak khawatir, kain c**ana yang dipakai Kade ternyata panjang sebelah.


Por Date sekeluarga sedang berjalan keluar saat tiba-tiba saja mereka mendengar Pin dan Yam yang ribut gara-gara berusaha mengejar Kade. Khun Ying langsung kesal membentak cara jalan Kade yang kayak kuda. Di mau pergi ke mana pakai pakaian seperti itu?

"Kupikir harus pergi ke..."

"Pergi ke mana?"

Seketika itu pula Kade langsung sadar kalau dia tidak ikut diundang. Por Date juga menegaskan kalau dia tidak perlu ikut, dia akan membawa Kade ke perpustakaan saja.

Kade kecewa mendengarnya. "Tidak usah, jao ka. Maaf, kukira..."

"Pemilik rumah tidak mengundangmu. Entah apa yang membuatmu berpikir sebaliknya."

"Maaf, Bibi."


Tapi berhubung Kade sudah berpakaian rapi, Ayah Por Date tidak keberatan kalau Kade ikut. Ini acara derma dan akan ada banyak orang yang datang.

Tapi melihat reaksi kesal Khun Ying, Kade memutuskan menolak ajakan Ayah dan minta izin untuk membaca buku-buku yang ada di ruangan Ayah saja.

"Menyusahkan." Nyinyir Por Date.

"Lebih baik menyusahkan atau aku ikut?" Balas Kade sengit.

"Kau bilang apa, Por Date?"

"Mae Karakade bilang kalau dia mau tinggal di rumah saja, Ayah."

"Oh, ya sudah." Ayah pun naik duluan ke perahu.

"Puas, jao ka?" Kesal Kade. Dan bahkan sebelum Por Date sempat balas melabraknya, Kade langsung berbalik kembali ke dalam rumah.

 

Sepanjang perjalanan, Khun Ying terus ngedumel merutuki Kade. Dulu sikapnya sangat jahat, arogan, selalu menyiksa para pelayan, tidak bisa mengerjakan hal-hal berat, dan licik.

Dulu Karakade selalu menunjukkan sisi buruknya. Tapi sekarang, Khun Ying merasa dia lebih munafik. Entah apakah pikirannya benar-benar sama dengan ucapannya.

Tapi Ayah tidak setuju. Justru Ayah bisa melihat Karakade yang sekarang sudah berubah menjadi lebih baik. Dia berpikir baik dan cara bicaranya pun lebih baik daripada dulu. Karakade yang sekarang jauh lebih jujur daripada Karakade yang dulu.

"Kalau kau memiliki belas kasihan padanya, kau akan melihat apa yang kulihat." Ujar Ayah.

Kesal, Khun Ying langsung menanyakan pendapat Por Date. Tapi Por Date menolak bicara, dia tidak ingin untuk membicarakan Kade.

Tapi bukannya membaca seperti katanya tadi, Kade malah memanfaatkan kesempatan untuk menyelinap keluar rumah. Dia bahkan menyuruh kedua pelayannya untuk mencarikan orang untuk mendayung perahu.

Kedua pelayan panik dan berusaha melarangnya pergi. Lagipula tidak akan ada yang mau mendayungkan perahu untuknya, karena mereka takut kena hukuman.

"Kalau begitu, kalian berdua saja yang mendayung."

Pfft! Jelas mereka berdua juga tidak berani dan menolak mentah-mentah. Bahkan sekalipun Kade berusaha sok kejam mengancam mereka, mereka tetap keukeuh menolak.

"Kalau begitu, aku akan melakukannya sendiri! Kalian mau mendayung dengan cara baik-baik atau dengan berurai air mata?"


Terpaksalah duo pelayan harus menurutinya dan mendayung perahu itu sambil menutupi wajah mereka biar tidak dikenali orang. Kade seperti biasanya, cerewet tanya ini dan itu seperti anak kecil yang baru mengenal dunia.

"Ini sungai apa namanya?"

"Klong Kaek, jao ka."

"Klong Kaek yang terhubung ke Sungai Chao Phraya. Apa ada pasar malam? Di mana?"

"Tamnok Hua Ror? Di sana, melewati istana."

"Di sana. Ah, karena kuil Chai ada sebelah sana. Kita melewatinya waktu itu."

Teringat akan pelajaran sejarah yang dipelajarinya di universitas, Kade langsung nyerocos tentang pengetahuannya akan kuil itu. Bahwa kuil itu dibangun dengan gaya Khmer (Kamboja) pada masa pemerintahan Raja Somdet Phra Chap Prasat Thong untuk memperingati kampung halaman Ibunda Raja.


Dalam flashback, Kade bersama teman-teman sekelasnya diajak sang profesor melihat-lihat kuil kuno itu sembari menjelaskan sejarah kuil itu. Dan setiap kali ia melempar pertanyaan, Kadesurang langsung menyahut dan menjawab semuanya dengan tepat.


Setibanya di pasar dekat Kuil Chai, Kade langsung antusias melihat-lihat berbagai macam barang yang diperjualbelikan di pasar itu. Tapi tempat itu tak ayal membuatnya terkenang kembali akan saat-saat terakhirnya bersama Reungrit waktu itu, saat Reungrit mengomentari sinar bulan purnama yang begitu indah di atas langit Kuil Chai.

Kade pun pergi melihat Kuil Chai yang pada aman ini masih berdiri megah dan indah berhiaskan emas berkilauan di seluruh bangunan atapnya, sangat berbeda dengan kuil kuno yang pernah dilihatnya di dunia modern.

"Reung, ini indah sekali. Kau mati hanya untuk melihat ini. Andai saja kau tahu apa yang kulihat di hadapanku saat ini. Kuil Chai berhiaskan emas." Isak Kade. "Reung. Reungruit. Apa kita bisa bertemu lagi dalam kehidupan ini?"


Setelah acara derma berakhir, Ayah Por Date dan Khun Lek (Ayah Janward) main catur bersama. Khun Lek langsung membahas masalah tenggelamnya perahunya Janward waktu itu. Saat ia mendengar kabar itu, ia dan sang istri benar-benar merasa sangat ketakutan.

Di tempat para wanita berkumpul, Khun Ying Jumpa benar-benar bersyukur Janward selamat dan baik-baik saja sekarang. Seandainya dia berada di posisi Ibunya Janward, dia pun pasti akan merasa sangat ketakutan.

"Putrimu tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik." Puji Khun Ying yang benar-benar menyukai Janward.

Secara bersamaan, Ayah dan Ibu Janward penasaran dengan hasil dari mantra bulan yang mereka rapalkan? Apa benar Kade jadi gila sekarang? Tapi Ayah Por Date menegaskan pelakunya bukan orang dari kediamannya.

Khun Lek tampak kecewa mendengarnya. Ia meminta maaf karena curiga, apalagi dia mendengar banyak rumor beredar tentang masalah itu. Tapi ia rasa... tidak akan ada rumor jika tidak ada sumbernya.


Saat mereka keluar bersama, Reung menanyakan masalah ini langsung ke Por Date. Semua orang bilang kalau tunangan Por Date itu pelakunya.

"Dia tidak mati karena mantra itu."

"Kau tidak bisa mencegah orang untuk membuat dugaan."

"Terserah mereka."

"Terserah apa?"

"Terserah mereka mau berpikir apapun tentangnya."

"Kau sangat membencinya? Sepertinya, dia pasti sangat jelek. Matamu tidak seperti pria kebanyakan." Goda Reung.

Saat Ayah dan Khun Ying dalam perjalanan pulang, mereka malah melihat Por Date dan Reung pergi ke arah lain. Ayah kesal, ia yakin kedua pemuda itu pasti mau pergi minum-minum lagi.

Bersambung ke part 4

2 komentar: