Sinopsis How, Boss Wants to Marry Me Episode 15 - 2

 Sinopsis How, Boss Wants to Marry Me Episode 15 - 2

Xia Lin mendatangi hotel tempat ibunya Yi Zhou tinggal. Dia menunggu agak lama sebelum akhirnya Ibu datang.


"Melihatmu datang mencariku, kau pasti sudah mengetahui identitasku. Duga Ibu. "Lalu Xiao Zhou...?"

"Dia tidak tahu kalau saya datang mencari anda. Saya mengetahuinya dari foto lama kalian berdua. Boleh saya bertanya, kenapa anda mencampakkan Ling Yi Zhou dulu?"

"Xiao Zhou tidak pernah memberitahumu?"

"Dia tidak pernah menyebut-nyebut tentang anda sebelumnya."

Ibu mengerti, "dia pasti sangat membenciku."

"Tidak ada seorangpun di dunia ini yang akan membenci ibu mereka sendiri tanpa alasan."


Benar. Ibu mengaku kalau dulu dia tidak tahan dengan sifat ayahnya Yi Zhou yang terlalu otoriter. Karena itulah Ibu kemudian jatuh cinta pada orang lain.

Ibu tahu kalau Xia Lin pasti berpikir kalau dia tidak pantas jadi istri seseorang. Dulu waktu mereka baru pertama kali menikah, mereka benar-benar keluarga yang bahagia.

Sayangnya, hal itu tidak bertahan lama. Perlahan-lahan, ayahnya Yi Zhou mulaia memperlihatkan sifat aslinya yang terlalu diktator.


Suatu hari, Ibu pamit mau shopping bareng tetangga baru mereka. Tapi Ayah langsung marah dan memperingatkannya untuk bilang-bilang dulu padanya sedari awal jika Ibu ingin melakukan hal-hal semacam ini.

Ayah memang mengizinkannya keluar tapi memberinya tenggat waktu dan menyuruh Ibu untuk ganti baju dulu sebelum pergi karena roknya Ibu tuh kependekan.

Seiring berjalannya waktu, segalanya menjadi semakin memburuk, Ibu harus mendapatkan izin Ayah setiap kali mau melakukan sesuatu. Ayah melarangnya begini dan begitu, Ibu bahkan tidak bisa memakan makanan kesukaannya jika Ayah tidak menyukai makanan itu.

Ah, Xia Lin mengerti sekarang, sifat ayahnya Yi Zhou turunan dari ayahnya. "Lalu bagaimana cara anda memberontak dari ayahnya Ling Yi Zhou?"


Ibu berusaha bertahan hanya demi Yi Zhou. Tapi yang dia dapatkan malah rasa terkekang yang semakin lama semakin menyesakkan.

Hingga suatu hari, Yi Zhou kecil menyaksikan ayah dan ibunya bertengkar karena sang ibu memutuskan pergi meninggalkan keluarganya.

Ibu tidak tahan dengan segala aturan yang mengekangnya, dia bahkan selalu dikuntit dua orang bodyguard bak seorang kriminal. Karena itulah, Ibu menuntut Ayah untuk menceraikannya.

"Ibu mau ke mana?" Tanya Yi Zhou kecil.

"Kembali ke kamarmu!" Bentak Ayah. "Biarkan dia pergi ke manapun dia mau!"

Dan begitulah akhirnya Ibu pergi meninggalkan Yi Zhou yang masih kecil. Ibu terpaksa meninggalkan Yi Zhou karena Ayah Yi Zhou sudah pasti tidak akan membiarkannya pergi kalau dia membawa Yi Zhou juga.


"Tapi pernahkah anda berpikir bahwa setelah anda pergi, bagaimana dia harus bertahan terhadap aturan ketat ayahnya?"

"Aku tidak berpikir sejauh itu waktu itu."

"Lalu, apa anda masih sering kembali untuk mengunjunginya?"

Tidak, Ibu tidak berani menghadapi kebencian Yi Zhou terhadapnya. Dia baru berani kembali satu setengah tahun yang lalu saat ayahnya Yi Zhou meninggal dunia.

Ibu khawatir kalau Yi Zhou tidak akan sanggup menanggung segalanya seorang diri. Tapi ternyata Yi Zhou malah menolak bertemu dengannya.

"Aku tahu kalau kau pasti berpikir kalau aku tidak pantas menjadi seorang ibu, aku tidak bertanggung jawab sebagai seorang ibu. Sejujurnya, aku tidak berharap Xiao Zhou akan memaafkanku. Aku hanya berharap kalau aku bisa melihatnya jadi kejauhan dan melihatnya bahagia. Dengan begitu, aku akan merasa tenang."


Usai mengantarkan semua pesananya, Xiao You menyisakan dua kotak untuk mereka berdua, tapi Chu Yan malas memakannya sedangkan Xiao You memakannya dengan lahap. Chu Yan heran melihatnya, sepertinya Xiao You gampang banget merasa senang.

"Aku punya makanan untuk di makan, baju untuk dipakai, dan pekerjaan untuk menyokong hidupku. Tidak ada alasan untuk tidak senang. Aku tidak tahan sama orang-orang yang sehat walafiat tapi malah mengasihani diri mereka sendiri."

Chu Yan tercengang. Kalimat terakhirnya barusan sama persis seperti yang diucapkan Xia Lin saat mereka bertengkar setelah Xia Lin menguping pertengkarannya dengan ayahnya dulu.


"Seseorang pernah mengatakan hal yang serupa padaku."

"Kau cakep juga kalau lagi senyum. Lebih banyaklah tersenyum di masa depan."

"Terima kasih, yah."

"Apa kau baik-baik saja? Ngapain kau berterima kasih padaku?"

"Terima kasih karena tidak memberiku waktu untuk bersedih. Hei gadis kecil, jangan jatuh cinta padaku loh yah. Karena aku sudah memiliki seseorang yang kusukai."

"Bodo amat."


Malam harinya, Sekretaris barunya Yi Zhou panik mengejar Xia Lin yang nyelonong masuk ke ruangannya Yi Zhou. Sepertinya si sekretaris baru itu tidak tahu siapa Xia Lin dan langsung kesal mengomelinya.

Baru saat Yi Zhou memanggilnya Mumu, si sekretaris sadar siapa yang barusan dia marahi ini. Yi Zhou langsung sumringah melihatnya datang, tapi kenapa dia datang kemari.

Tentu saja membawakan Yi Zhou makan malam. Takutnya Yi Zhou lupa makan lagi saking sibuknya, maag-nya bisa kambuh nanti.

"Istriku sangat baik padaku."


Jadilah Xia Lin menyuapi Yi Zhou sambil menginterogasinya tentang si sekretaris baru tadi. Siapa dia? Yi Zhou juga tidak tahu, dia ditugaskan menggantikan Wen Li selama Wen Li cuti sakit. Jangan khawatir, dia tidak akan lama di sini kok.

"Kenapa aku harus khawatir? Lagian dia tidak lebih cantik dariku."

"Kau ngapain seharian ini?"

"Tadi aku bertemu dengan Chu Yan. Aku ingin mengenalkannya dengan beberapa wanita, tapi dia malah bilang kalau aku tukang ikut campur."

"Chu Yan punya pemikirannya sendiri tentang rencana pernikahannya, jadi kau tidak perlu mengkhawatirkannya."

"Kalau begitu, selesaikan makanmu lalu balik kerja."


Nggak mau. Yi Zhou sudah selesai kerja dan langsung manja memeluk sang istri tercinta. Kalau begitu, Xia Lin mengajaknya pulang sekarang saja.

"Aku capek. Peluk aku."

Tiba-tiba si sekretaris baru mengetuk pintu dan melapor kalau laporannya sudah selesai. Yi Zhou menolak mendiskusikannya sekarang, besok saja.


Xia Lin tersenyum lebar mendengarnya. "Aku merasa kalau suamiku sangat keren, hebat, dan luar biasa."

"Karena aku sangat hebat, bukankah seharusnya kau memberiku hadiah?" Yi Zhou langsung mendekat untuk menc**mnya.

"Tidak boleh! Ini kantor!"

"Memangnya kenapa kalau ini kantor?"

"Jangan!"

Si sekretaris mendadak mengetuk pintu lagi. Yi Zhou kesal banget sekarang. Dia masih mau kerja di sini atau tidak?! Ketakutan, si sekretaris akhirnya pergi. Yi Zhou senang, tidak ada orang yang akan mengganggu mereka lagi sekarang.


"Ling Yi Zhou, kapan kau akan pensiun? Aku ingin pindah ke pulau terpencil dan tinggal di sana bersamamu lalu memisahkanmu dari seluruh dunia. Dengan begitu, tidak akan ada seorangpun yang bisa mendambakanmu."

"Ngomong apa sih? Ayo lanjut aja!"

Eh, tunggu! Xia Lin langsung membisikinya sesuatu yang nakal dan Yi Zhou sontak menyeretnya pulang.


Keesokan harinya, Xia Lin terbangun dan langsung mengecek ponselnya. Ternyata ada pesan masuk dari Ibu Yi Zhou. Mumpung Yi Zhou masih tidur, Xia Lin bergegas mengendap keluar.

Ibu datang membawakan makanan kesukaan Yi Zhou dulu. Tapi saat Xia Lin mengambilnya dan bersentuhan dengan tangannya, Xia Lin bisa merasa tangannya sangat dingin.

"Bibi, tangan anda sangat dingin. Apa anda menunggu lama di sini?"

"Tidak masalah. Lagipula aku sedang tidak ada kerjaan. Cepatlah masuk biar kau tidak masuk angin. Aku akan pergi sekarang."

Tak enak membiarkannya pergi begitu saja, Xia Lin mengundangnya datang nanti siang untuk menyiapkan makan siang. Tentu saja, Ibu dengan senang hati menerimanya.


Yi Zhou terbangun tak lama kemudian dan mendapati Xia Lin sudah tidak ada di sisinya. Dia menemukan Xia Lin di dapur dan langsung memluknya dengan manja.

Xia Lin menghangatkan sup buatan Ibu dan berbohong kalau dirinya sendirilah yang memasak sup itu. Jadi sebaiknya Yi Zhou mandi sana, dia jamin Yi Zhou pasti bakalan terkejut dengan rasa masakannya ini.


Tapi saat Yi Zhou mencoba mencicipi supnya, dia kontan terdiam. Xia Lin sampai khawatir, apa rasanya tidak enak? Dia mencoba mencicipinya sendiri dan langsung kecewa, rasanya memang rada amis. Tapi dia bangun pagi-pagi sekali hanya untuk membuat ini loh, jadi sebaiknya Yi Zhou menghabiskannya.

Tapi bukan itu yang Yi Zhou permasalahkan. Yi Zhou measa sup ini rasanya sama persis seperti makanan yang dimakannya waktu dia masih kecil.


Canggung, Xia Lin buru-buru mengalihkan perhatiannya ke Pi Dan. Yi Zhou kontan cemburu melihat Xia Lin lebih memperhatikan Pi Dan, dia tidak terima diperlakukan sama seperti Pi Dan.

"Aku kan harus memperhatikannya sesekali."

"Lalu bagaimana denganku?"

"Apa kau cemburu pada seekor anjing? Bukankah aku sudah menghabiskan banyak waktuku denganmu?"

"Kalau aku dan Pi Dan sama-sama tenggelam, siapa yang akan kau selamatkan duluan?"

"Kemampuan berenangmu setara dengan atlet nasional, tentu saja aku akan menyelamatkan Pi Dan duluan."

"Salah jawab, ulangi!"

Xia Lin balas melempar pertanyaan itu ke Yi Zhou, jika dia dan ibunya Yi Zhou tenggelam, siapa yang akan dia selamatkan lebih dulu? Ngomong-ngomong tentang ibu, Yi Zhou tidak pernah membahas tentang ibunya.


Yi Zhou menolak membahasnya. Ganti bagian ibunya jadi neneknya, Yi Zhou pasti akan menyelamatkan neneknya lebih dulu. "Karena aku akan mengajarimu menahan napas dulu."

"Menahan napasku? Bagaimana kau akan mengajariku?"

"Begini." Yi Zhou langsung mendekat dan menc**mnya.

Bersambung ke part 3

4 komentar: