Sinopsis Because of Meeting You Episode 7 - 2

 Sinopsis Because of Meeting You Episode 7 - 2

Dengan alasan ingin merapikan kamarnya, Yu Xin sengaja meminta Ayah dan Hui Jie untuk tidak masuk dulu. Dengan cepat dia membereskan segala jejak Si Chen sebelum akhirnya menyilahkan mereka masuk.


Hui Jie dan Ayah cemas melihat Yu Xin tinggal di tempat sempit seperti ini, tidak ada AC-nya lagi. Yu Xin meyakinkan mereka kalau dia tidak mempermasalahkan hal itu, kalau udaranya panas yah kipas-kipas saja.

Tapi Hui Jie benar-benar cemas, bagaimana kalau dia kena serangan panas. Begini saja, bagaimana Yu Xin tinggal di rumah mereka malam ini?

Yu Xin tak enak dan menolak. Tapi Ayah dan Hui Jie bersikeras. Selama ini mereka tak pernah tahu bagaimana keadaan Yu Xin. Sekarang setelah mereka mengetahuinya, Ayah ingin Yu Xin tinggal di rumah mereka hari ini.

Mereka akan membelikan AC untuknya besok, Yu Xin bisa pindah kembali setelah mereka selesai memasangnya.


Tepat saat itu juga, tiba-tiba Shi Chen datang yang jelas saja membuat Yu Xin panik. Berusaha tetap tenang, dia memperkenalkan pria ini hanya sebagai kakak seniornya di kampus lalu pura-pura tanya alasan Shi Chen datang kemari sambil diam-diam memberinya isyarat.

Shi Chen dengan canggung beralasan kalau dia hanya datang karena dia membelikan kue untuk merayakan kelulusan Yu Xin.

"Terima kasih, Senior. Tapi, bagaimana kau bisa tahu tempat tinggalku?"

"Aku... Err... Teman sekelasmu yang memberitahuku."

"Oh, terima kasih." Yu Xin cepat-cepat mengambil kue itu dan membisikinya untuk pergi sekarang juga. Terpaksalah Shi Chen menurutinya dan pergi.

Yu Xin memberitahu Ayah dan Hui Jie bahwa seniornya itu adalah orang yang banyak membantunya dalam membuat skripsinya. Menurut Ayah, pria itu sopan dan baik. Tapi sebaiknya Yu Xin cepat berkemas sekarang.


Mereka tiba Jin Lu Ge tak lama kemudian dan Hui Jie memberinya sebuah kamar kosong yang ukurannya sangat besar. Anggap saja rumah sendiri dan panggil saja Hui Jie kalau dia butuh apa-apa, tidak usah sungkan-sungkan.

Yu Xin melongo melihat kamar yang jauh lebih besar daripada apartemennya itu. "Guru, anda sangat baik padaku."


Tapi saat Hui Jie hendak pergi, Yu Xin tiba-tiba menggenggam tangannya dan dengan gaya sok melasnya dia mengutarakan keinginannya untuk bisa memiliki seorang ibu seperti gadis-gadis lain.

"Guru, alangkah bagusnya jika Guru adalah ibuku walaupun cuma sehari saja. Aku sudah yatim piatu sejak aku masih kecil. Hanya Guru dan Profesor yang baik padaku. Aku sangat berharap Guru-lah ibuku. Aku bisa membayangkan di hari pernikahanku, aku menggenggam tanganmu dan Prof. Jin, berjalan ke altar bersama-sama."

Hui Jie tampak jelas ragu. Tapi karena tak ingin menyakiti hati Yu Xin, dia menolaknya secara tak langsung. Dia memberitahu Yu Xin bahwa dia dan seluruh keluarganya tidak pernah menyerah untuk menemukan Yi Bei biarpun sudah puluhan tahun waktu berlalu.

"Jika aku mengakuimu sebagai putriku, itu sama saja aku melupakan Yi Bei." Ujar Hui Jie lalu melepaskan genggaman tangan Yu Xin darinya. "Maafkan aku."


Yu Xin diam saja. Tapi saat Hui Jie berlalu pergi, Yu Xin bertekad dalam hatinya bahwa dia akan menjadi putri Jin Lu Ge bagaimanapun caranya.


Di luar, Hui Jie mendengar ibu mertuanya bicara pada suaminya tentang Xiu Hua. Nenek merasa kalau Xiu Hua sangat dekat dengan mereka. Kontan saja itu langsung menarik perhatian Hui Jie. Apa Nenek sudah punya kabar tentang Xiu Hua?

Nenekpun memperlihatkan cheongsam sulaman itu pada mereka. Sulaman ini persis seperti karyanya Xiu Hua, bukan?

Hui Jie memperhatikan sulaman itu dan langsung setuju kalau sulaman itu memang persis seperti gaya sulaman Xiu Hua. Dari mana Nenek mendapatkan cheongsam ini?

"Aku menemukannya di jalan. Ada banyak orang, tapi sulamannya bisa jatuh ke tanganku. Apakah Langit mengisyaratkan sesuatu?"

Hui Jie sinis. Nenek benar-benar pemaaf. Dulu waktu keluarga mereka mengalami masalah besar, Xiu Hua dengan santainya meninggalkan rumah dan semua masalah.


Nenek mengakui kalau tindakan Xiu Hua memang sangat mengecewakan, tapi itu karena kepribadiannya. Bagaimanapun, Xiu Hua sudah lama menjadi menantunya. Nenek sudah menganggapnya sebagai putrinya sendiri.

Xiu Hua sendirian di luar sana. Dia pasti sangat menderita. Kalau Xiu Hua kembali sekarang, Nenek tidak akan menyalahkannya.

"Waktu itu, kita sangat mengharap kakak ipar kembali. Kalau terjadi sesuatu padanya di luar, bagaimana kita bisa menghadapi (mendiang) kakak?" Keluh Ayah.

Nenek penasaran apakah Xiu Hua masih memiliki sulaman Kediaman di Pengunungan Fuchun? Hui Jie pura-pura tak tahu benda apa itu?

Nenek pun menjelaskan bahwa sebelum kecelakaan itu terjadi, Xiu Hua sempat meneleponnya dan bilang kalau dia pergi ke Jiangling untuk menemui Guru Cui untuk mendapatkan sulaman lukisan itu. Tapi Nenek tak pernah melihatnya sampai sekarang. Karena itulah, Nenek berpikir apa mungkin Xiu Hua membawa bordir lukisan itu?

"Jika dia bisa membawa lukisan itu kembali padaku, itu akan memenuhi keinginanku."

Tapi tentu saja jika Xiu Hua kembali dengan membawa bordir lukisan itu, bisa menyebabkan masalah untuk Hiu Jie. Mungkin saja Nenek akan berubah pikiran dan menjadikan Xiu Hua sebagai pemimpin sulam.


Yu Xin sedang menata bajunya saat Si Chen meneleponnya dan menanyakan keberadaannya. Yu Xin mengaku kalau dia diminta tinggal semalam di Jin Lu Ge.

Si Chen kurang setuju sebenarnya, tapi Yu Xin bersikeras. Lagian keluarga ini memiliki segala kebutuhan yang diperlukannya.

Dia datang kemari dengan tujuan memperkuat hubungannya dengan keluarga Jin. Jika dia bersama keluarga ini, mungkin saja keluarganya Si Chen akan lebih mudah menerima dirinya. Ini demi masa depan mereka berdua loh.

Si Chen ingin mengatakan sesuatu, tapi Yu Xin dengan tak sabaran menyela dan dengan manja meminta Si Chen untuk menghormati keputusannya. Dia berhubungan baik dengan keluarga Jin, dia tidak mau menyerah secepat ini.

Si Chen terpaksa menyerah. "Baiklah, kalau begitu, selama kau ingat di mana rumahmu."

"Baik!" Yu Xin langsung menutup teleponnya lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh rumah ini. "Rumah? Tempat ini lebih terasa seperti rumah."

Nenek masih memandangi cheongsam sulaman itu dengan sedih, ia sangat yakin kalau ini sulaman karyanya Xiu Hua. "Sudah satu dekade berlalu tanpa ada kontak apapun. Apa kau masih dendam padaku?"


Ai Yu mengomeli Guo Guo karena menggantung bajunya sembarangan lalu nyerocos membangga-banggakan Yu Xin yang sudah bekerja keras sampai bisa membelikannya baju mahal, sedangkan Guo Guo sama sekali tidak berguna, bisanya cuma bikin masalah saja.

Guo Guo diam saja menerima semua omelannya dan membiarkan Ai Yu mengira kalau baju dan uang yang dia berikan adalah pemberian Yu Xin. Tidak masalah asalkan Ai Yu bahagia.

Ai Yu terus saja nyerocos membandingkan Guo Guo yang cuma pintar ngomong, sangat berbeda dari Yu Xin yang berhasil jadi lulusan terbaik. Guo Guo bahkan tidak lulus ujian negara.

Dalam hal penampilan, Yu Xin bagaikan wanita kaya, sedang Guo Guo cuma gadis pelayan. Bahkan dalam urusan kerja, Yu Xin bisa belajar sambil bekerja sampai bisa mengirim uang ke rumah. Sedangkan Guo Guo, bagaimana caranya dia akan berbakti?

"Bu, aku akan menunjukkan kasih sayangku seperti ini." Guo Guo langsung mem**uk dan meng**up pipi Ai Yu dengan sayang.

"Menggelikan sekali. Kau itu sudah besar. Tidak malu apa?"

"Bu, tidurlah duluan. Aku mau keluar sebentar."

Ai Yu jadi curiga, dia mau ke mana? Apa dia sudah punya pacar? Guo Guo menyangkal. Dia cuma mau pergi meminta maaf pada guru sulamnya karena dia sudah menghilangkan cheongsam-nya.

"Kukira ada pria kaya yang menyukaimu dan bisa memberiku uang pernikahan. Lihatlah betapa konyol dirimu. Siapa yang akan menyukaimu? Pergilah."

 

Guo Guo pun pergi dan Ai Yu tidur. Sulaman Kediaman di Pengunungan Fuchun yang dulu dibawa Yi Bei, sekarang masih ada di sana, tapi sekarang Ai Yu menjadikannya sebagai sprei bantal.


Di rumahnya, Xiu Hua kesulitan memasukkan benang ke dalam jarum. Tangannya gemetar hebat dan kesakitan, efek tabrakan puluhan tahun yang lalu masih membekas dan itu membuatnya teringat insiden yang menewaskan suaminya tersebut.

"Suamiku, tanganku semakin kaku dan sulit dikendalikan. Aku sangat merindukanmu. Aku merindukan Ibu. Aku ingin sepenuhnya berbakti pada Ibu untukmu. Tapi lihatlah aku sekarang. Aku terlalu malu untuk kembali."

Tapi tiba-tiba terdengar suara Guo Guo memanggilnya. Xiu Hua cepat-cepat menghapus air matanya dan keluar menemui Guo Guo.

Bersambung ke part 3

1 komentar: