Monday, April 1, 2019

Sinopsis Leh Nangfah Episode 8 - 2

Sinopsis Leh Nangfah Episode 8 - 2


Orn nyerocos antusias tentang keahlian memasaknya dan berjanji akan memasak untuk Tee kapan-kapan, tapi Tee bahkan tidak konsen dan terus melamun memikirkan si burung. Orn jadi sedih melihat reaksinya, apa Tee bosan padanya?

Tak enak, Tee menyangkal dan mengaku kalau ini cuma karena ada masalah di perusahaan dan dia tidak tenang karena baru saja mendiskors seorang eksekutif.

Orn langsung tersenyum lagi mendengarnya. Kalau begitu, lebih baik mereka cepat-cepat menyelesaikan semua ini agar Tee bisa pulang dan mengecek pegawai yang barusan diskors-nya itu.


Dewi datang saat Beauty sedang tidur. Dengan kekuatannya, ia membuat Beauty memimpikan kembali masa kecilnya yang sangat nakal dan sering mengerjai Pat.

Pernah suatu hari saat mereka bermain bersama, Beauty dengan sengaja menarik tali untuk menjegal kaki Pat dan sukses membuat Pat terjatuh.

Lalu pada hari lainnya, dia usil memasukkan es krim ke dalam sepatunya Pat dan Tee. Pernah pula dia membawa Pat ke tengah-tengah taman rumahnya, lalu tiba-tiba penyemprot otomatisnya menyala dan membasahi Pat.


Terbangun dari mimpi itu, Beauty mendadak panik memikirkan segala kemungkinan. Jangan-jangan Pat jadi stres berat sampai mau bunuh diri?... Atau jangan-jangan Pat marah besar sampai ingin membunuhnya?

Gawat! Dia harus memata-matai Pat untuk melihat apa rencananya selanjutnya. Sesampainya di rumah Pat, dia malah melihat Tee ada di sana. Lagi ngapain Tee di sini?


Sementara Tee menunggu di ruang tamu, Korn masuk ke kamar Pat dan mencemaskan kondisi Pat. Tapi Pat malah nyinyir, tak mempercayai kekhawatiran ayahnya dan mengira Korn cuma mencemaskan reputasinya.

Mulai kesal, Korn langsung mengomeli perbuatan liciknya pada Beauty itu lalu menyuruhnya keluar untuk menemui Tee.


Melihat ketiga orang itu berkumpul di ruang tamu, Beauty jadi semakin curiga dan berusaha mencari cara untuk masuk. Tapi saat sedang mencari pintu, tiba-tiba dia malah digodain sekumpulan burung-burung jantan di kandang burung sebelah.

"Tinggalkan aku sendiri. Kalian itu cuma burung biasa. Aku jauh lebih cantik daripada kalian!"


Tak menemukan satupun jalan masuk, Beauty akhirnya hanya bisa menempelkan dirinya di kaca, berharap bisa mendengar mereka, tapi tidak kedengaran apapun.

Parahnya lagi, dia kemudian melihat Pat menyandarkan kepalanya di bahu Tee dengan manja.

Beauty jelas kesal. "Hei, Tee! Apa kau akan memihak si kuno itu? Kenapa nggak sekalian aja kau kerja sama dengan Paman Korn?!"


Jade sedang olahraga saat Bibinya menelepon. Dia meyakinkan bibinya untuk tidak cemas. Dia tidak tinggal diam kok. "Thanabavorn lah yang akan jatuh, percayalah padaku."

Dia lalu menemui Papa Orn dan meminta izinnya untuk kencan dengan Orn. Papa terkejut mendengarnya dan memperingatkan Jade untuk tidak mempermainkan putrinya. Jade meyakinkan Papa kalau dia serius, buktinya dia izin langsung pada Papa.

Baiklah. Tapi berhubung Papa tak mau memaksa putrinya, jadi ia hanya akan memberi izin untuk mendekati Orn. Selanjutnya tergantung Jade sendiri. 

Hmm... sepertinya Jade berencana memanfaatkan Beauty dengan mendekati keluarganya Orn.


Keesokan paginya, Tee membawa Pat ke rumah Beauty untuk meminta maaf. Tapi Pat mendadak panik, takut Beauty mencemoohnya. Jadi bagaimana kalau mereka diam saja dan membiarkan masalah ini berlalu begitu saja?

Tee menolak. Kalau Pat berani berbuat, maka dia harus berani mengakuinya. Kalau begitu, Tee harus selalu mendampinginya. Dia tahu sendiri betapa jahatnya Beauty.

"Aku tahu dia bagaimana. Tapi kita harus melakukan hal yang benar, biar dia tidak bisa menghina kita nanti."


Pat akhirnya setuju dengan setengah hati. Beauty sinis menyindir Pat, kenapa Pat membulinya? Apa Pat iri padanya? Pat kesal banget mendengarnya, tapi dia menahan diri berkat tatapan peringatan dari Tee.

Pat menyangkal membuli Beauty dan mengklaim kalau dia melakukan itu untuk membantu melatih Beauty, biar Beauty tahu apa yang harus dilakukannya saat menghadapi situasi semacam itu.

"Apa yang harus kulakukan? Gampang saja. Aku cuma perlu memecatmu!"

"Baik!" Kesal Pat.

Tapi Tee mencegahnya pergi dan berusaha membujuk Beauty. Dia meyakinkan kalau Pat merasa bersalah dan dia datang untuk meminta maaf. Jadi bisakah mereka mengakhiri masalah ini sampai di sini?

"Lalu bagaimana kalau ada karyawan yang merusak properti perusahaan, apa bisa selesai hanya dengan minta maaf?"


"Tidak bisa kalau mereka karyawan, tapi Pat dan Beauty adalah saudara."

"Kami bukan saudara!" Bentak kedua wanita itu serempak.

"Biarpun kalian bukan saudara kandung, tapi kalian berasal dari garis keturunan yang sama."

"Tapi dia masih tega untuk mengkhianatiku!"

"Siapa yang kau bicarakan, Beauty? Ini sudah keterlaluan!"

Tee terus berusaha meminta Beauty untuk mengakhiri masalah ini, tapi Beauty bersikeras menolak. Apa mereka lupa dengan perjanjian mereka? Jika dia tidak bersalah, maka mereka harus meminta maaf padanya dan Bibi Seenuan di hadapan semua karyawan pabrik.

Kalau dia berani mempermalukannya dan Bibi Seenuan di hadapan semua orang, maka dia harus berani meminta maaf... sesuai dengan aturan perusahaan yang mengatakan bahwa jika seorang eksekutif bersalah, maka dia harus meminta maaf, bahkan pada karyawan yang lebih rendah sekalipun.


Tak lama kemudian, mereka tiba di kantin pabrik. Tapi Pat masih bersikeras tak mau melakukan perbuatan gila itu di hadapan publik.

"Kalau meminta maaf itu gila, lalu apakah membuli orang lain itu hal yang baik?"

Ujung-ujungnya kedua sepupunya itu terus saja berdebat sampai Tee harus melerai mereka dan memperingatkan Beauty untuk tidak berdebat di hadapan umum kalau dia ingin mereka meminta maaf.

Beauty langsung mengambil mic dan menyuruh Pat untuk meminta maaf secara terbuka padanya dan Bibi Seenuan. Saat Pat masih ngotot menolak, Beauty langsung mengumumkan pada semua orang kalau Pat ingin mengatakan sesuatu pada mereka semua.


Melihat kelakuan Beauty, Seenuan berusaha menyeret Beauty pergi. Beauty menolak pergi dan bersikeras memaksa Pat untuk meminta maaf.

Seenuan langsung saja menyeretnya pergi dari sana, sementara trio penggosip berbisik heboh menggosipkan Beauty. Dia berani sekali yah menyuruh Pak Presiden dan Pat meminta maaf di hadapan semua orang. Beauty pasti akan dipecat.


Beauty tidak mengerti kenapa Seenuan menghentikannya. Mereka kan tidak bersalah, mereka cuma dijebak. Pokoknya orang-orang ity harus meminta maaf pada mereka berdua.

"Tidak perlu. Kemarin, presiden bicara padaku. Dia harus mengikuti setiap aturan, tapi dia juga bersedia membantu kita dengan segalanya."

"Itu tidak cukup, bibi. Saat mereka menghina kita, mereka melakukannya di hadapan umum. Tapi saat mereka harus meminta maaf, mereka melakukannya secara pribadi. Itu kan tidak masuk akal, bibi. Mereka harus meminta maaf di hadapan publik juga!"

"Bagaimana bisa mereka melakukan itu? Mereka adalah eksekutif tapi harus meminta maaf pada karyawan biasa seperti kita. Kalau begitu, maka yang lain pun tidak akan menghormati mereka dan tidak akan takut pada mereka!"


Beauty bersikeras kalau Pat memang pantas dibegituin. Tidak masalah kalau Seenuan tidak mau mereka meminta maaf. Tapi Beauty bersikeras ingin semua orang mengetahui kebenarannya.

"Mereka semua sudah tahu, kenapa juga kau memperbesar masalah. Tak ada seorangpun yang ingin berteman denganmu."

Beauty terkejut mendengarnya. "Tak ada seorangpun yang mau berteman denganku?"

"Iya."

"Tidak masalah. Aku tidak peduli!"

"Cantik. Dengan wajahmu itu, kau bisa main film sebagai pemeran utama. Tapi kenapa kau bersikap seperti anak manja di film-film?"

"Aku... bersikap seperti anak manja?"

"Ya. Kau berteriak-teriak dan marah pada semua orang. Semua orang melihatmu sebagai anak manja dan bahan olokan."

"Aku... bahan olokan?"


"Kau tidak membuat dirimu pantas dihormati sampai yang lain selalu cari perkara denganmu. Ubah dirimu, buat dirimu lebih manis, lebih baik dan lebih terhormat. Bisakah kau melakukan itu? Apa kau mengerti?"

"Apa aku seburuk itu, bi?"

"Aku memperingatkanmu karena aku kasihan padamu. Aku ingin kau bersikap baik. Agar kau tidak bermasalah dengan orang lain."

"Bibi!"

"Apa kau mau mengejekku?"

"Tidak. Aku ingin berterima kasih padamu. Terima kasih, bibi. Terima kasih kau sudah memperingatkanku. Tak pernah ada seorangpun yang bicara seterusterang itu padaku."


Lalita senang. Beauty beruntung memiliki seorang teman yang bisa memberinya peringatan dan menyadarkannya. Dewi curiga, Lalita tidak melakukan apapun untuk membantu Beauty, kan?

Lalita menyangkal, dia sungguh tidak melakukan apapun. Dia yakin kalau mulai sekarang, Beauty akan melakukan perbuatan baik. Tapi Dewi memperingatkannya untuk tidak senang dulu...


Karena tiba-tiba saja Beauty kembali ke kantin, mengambil mic-nya dan mengumumkan pada semua orang bahwa mereka sudah menemukan bukti tentang kain bernoda tinta itu. Seenuan tegang mendengarnya, bahkan Pat hampir menangis saking tegangnya.

"Itu... terjadi karena ada kebocoran air dari atap pabrik!" Ujar Beauty "Bibi Seenuan dan aku bukannya ceroboh."

Pat dan Tee terkejut mendengarnya. Lega, Seenuan buru-buru membubarkan semua orang. Kalau begitu, Pat juga mau kembali bekerja. Tapi Tee melarangnya dan menegaskan kalau diskors 2 minggunya tidak akan dibatalkan.


Dewi pun lega. Tapi Putrinya Lalita itu selalu saja membuatnya tak tenang. Tapi menurut Lalita, putrinya sekarang sudah banyak perkembangan. Menurut Dewi, perkembangannya cuma sedikit.

Saking sedikitnya, sampai membuat Dewi tak tenang. Warna emas di kristalnya juga belum banyak berubah. Kebaikan dan kejahatan dalam diri Beauty seimbang.


Setelah semua orang pergi, Tee tanya kenapa Beauty tiba-tiba berubah pikiran?

Soalnya Beauty punya rencana baru yang lebih menarik. "Apa kau ingat perjanjian kedua kita. Kau harus melakukan semua yang kukatakan selama satu hari penuh."

Bersambung ke episode 9

1 komentar:

Hai, terima kasih telah berkunjung. Tinggalkan komentar kalian, yah ^^