Sinopsis Bupphae Saniwaat Episode 7 - 3

 Sinopsis Bupphae Saniwaat Episode 7 - 3


Tapi Khun Ying meyakinkan Ayah bahwa ia sudah tidak membantah Ayah lagi, ia bahkan sudah melaksanakan kewajibannya sebagai ibu untuk mengajari Kade.

"Dia sudah berubah, Mae Jumpa."

"Tapi aku masih belum mempercayainya. Dia punya kepribadian yang buruk."

Mereka tidak sadar kalau orang yang mereka bicarakan sebenarnya ada di belakang dan mendengarkan percakapan mereka. Kade benar-benar sedih mendengar semua itu. Memahami perasaannya, Pin langsung menggenggam tangan Kade dan berusaha memberinya kekuatan.


Saat mereka kembali ke kamar, Pin dan Yam tanya apakah Kade marah pada Khun Ying. Biasanya setiap kali Khun Ying berkata seperti itu, Kade pasti akan langsung marah dan melawannya. Tapi kali ini, anehnya, dia malah diam saja. Apa Kade sudah tidak marah pada Khun Ying lagi?

Kade jadi penasaran mendengarnya. Memangnya bagaimana dia melawan Khun Ying? Pin dan Yam sontak saling melempar pandang ragu-ragu.

"Apa sangat 'raeng' (jahat)?"

"Sangat 'raeng', jao ka." Ujar duo pelayan kompak.

Flashback.


Pernah suatu hari, Khun Ying mengkritik Karakade yang kerjaannya cuma malas-malasan tiap hari. Tidak mau masak, tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah, dan lain sebagainya.

Tapi Karakade malah ngamuk-ngamuk dengan melempar kipasnya ke pelayan terdekat Khun Ying lalu menjerit sekeras-kerasnya dan menampari semua pelayan yang tidak salah apa-apa.

Flashback end.


Kade melongo mendengar kekejaman Kade. Benar-benar sangat 'raeng'. Tapi Yam mengklaim kalau itu belum apa-apa, masih ada lagi.

"Aku percaya deh."

"Saya belum bilang, tapi anda sudah percaya?" (LOL!)

"Katakan."

Flashback.


Suatu hari, Khun Ying mencoba menyuruh Kade membuat karangan bunga melati. Tapi Karakade bahkan tak ada niat sedikitpun dan melakukannya asal-asalan. Bahkan dengan cepat dia malas melakukannya lagi dengan alasan pusing.

Pada hari lainnya, dia disuruh belajar masak. Tapi seperti biasanya, Karakade cuma melakukannya asal-asalan yang jelas saja membuat Salee mendengus geli. Kesal, Karakade sontak melempar makanan itu ke Salee lalu memutuskan pergi.

Lalu saat dia disuruh belajar menjahit, hasil jahitannya sangat tidak rapi yang kontan membuat Prik mendengus geli. Khun Ying sontak mengkritiknya, tapi Karakade malah nyolot dengan sangat kurang ajar.


Kesal, Khun Ying langsung menyuruhnya pergi. Karakade pun beranjak bangkit dengan gaya angkuhnya dan Prik terus menatapnya tajam dengan penuh keberanian.

Kesal, Karakade memperingatkan Prik kalau dia akan menjadi menantu rumah ini dan dia juga putri seorang Phraya. Tapi Prik tidak takut dan terang-terangan mengutarakan protesnya.

Karakade sontak menamparnya dan mengingatkan Khun Ying bahwa Prik itu cuma seorang pelayan. Kalau Khun Ying lebih membelanya, maka dia akan menjadi bahan gosip di seluruh kota. Jelas saja Khun Ying jadi semakin benci padanya dan mengusir Karakade kembali ke kamarnya.

Flashback end.


Kade heran, kalau dia sangat 'raeng' seperti itu, lalu kenapa Pin dan Yam masih setia padanya? Pin dan Yam sontak menggenggam tangan Kade sambil berlinang air mata penuh haru. Kade terharu melihat air mata mereka.

"Kalian selalu menjagaku sejak aku sangat jahat sampai aku jadi diriku yang sekarang, aku tidak akan melupakan kebaikan kalian." Janji Kade.


Setelah beberapa lama menggalau ria, Por Date akhirnya memutuskan pergi menemui Kade di kamarnya dan dengan ketus memberitahunya bahwa besok dia akan membawa Kade ke pasar Saphan Chikun itu. (Pfft! Akhirnya dia nyerah juga)

Flashback.


Pak Dosen pernah menjelaskan tentang pasar Saphan Chikun. Ia bahkan pernah bercanda mengatakan bahwa seandainya mereka bisa time travel, maka ia menyarankan mereka untuk mengunjungi pasar ini. (Pfft! Seandainya Pak Dosen tahu kalau salah satu muridnya beneran time travel)

Di pasar ini, mereka bisa menemukan orang India menjual berbagai macam aksesoris dan perhiasan wanita.

Flashback.


Dan di sinilah Kade sekarang bersama Por Date yang dengan manisnya memberitahu Kade untuk memilih apapun yang dia sukai (Por Date yang bayar). Kade jelas senang dan langsung antusias melihat-lihat aksesoris di sebuah kios.

Yang paling menarik perhatiannya adalah aksesoris berbentuk rantai untuk dipakai di baju. Aksesoris itu berhiaskan batu-batu ruby kecil dan simple. Mengira Kade menyukainya, Por Date hampir saja mau membelikannya, tapi Kade mendadak berkomentar.

"Jadul banget."

"Kau bilang apa?"

"Aku bilang, jadul banget. Khun P', kenapa juga kau menaruh perhatian pada ucapanku?"


Dia langsung meletakkan kembali benda itu di tempatnya dan pindah ke kios-kios lain, dan melihat-lihat berbagai macam benda yang menarik perhatiannya. Saat dia melihat sebuah guci emas, dia memperhatikan ukiran pada guci itu seperti bukan dari Ayutthaya.

Por Date membenarkan, itu berasal dari India. Apa Kade tahu India? Tahu dong, India itu berada di dekat Sri Lanka dan Pakistan. Pfft! Por Date bingung mendengarkan penjelasannya.

Tak ingin membahas masalah itu lagi, Kade buru-buru beralih topik ke makanan. Dia langsung mengajak para pelayan ke kios cemilan dan membeli 5 buah.

Sementara dia sibuk membeli makanan, Por Date justru kembali ke kios perhiasan tadi dan memandangi perhiasan ruby yang disukai Kade tadi. Hmm, apakah dia akan membelinya?


Ternyata Kade membeli cemilan cukup banyak untuk dibagi-bagikan pada keempat pelayan yang ikut bersamanya. Tapi belum sempat mereka memakannya, Por Date sudah kembali. Para pelayan jadi takut untuk memakannya.

"Kau benar-benar memanjakan para pelayanmu." Komentar Por Date.

"Memanjakan bagaimana?"

"Biasanya, tidak ada yang menaruh perhatian pada para pelayan yang mengikuti mereka. Apalagi bagi-bagi makanan, tidak ada yang melakukan itu."

"Mereka kan sudah menjagaku. Mereka susah payah jalan bersamaku, jadi kenapa aku tidak boleh membalas jasa mereka?"

"Bukannya tidak boleh, tapi tak ada seorang pun yang melakukan itu."

"Kalau begitu, aku akan jadi yang pertama." Santai Kade.

"Mungkin. Tapi sebentar lagi, kau harus segera pulang."


Por Date bahkan sudah memanggil beberapa pelayan pria untuk mengantarkan Kade pulang. Por Date sendiri masih mau minum-minum di Pasar Chikun. Kade seperti biasanya, ngotot minta ikut. Tapi Por Date tegas melarang, dia mau bertemu Reung.

"Kalau begitu, aku juga akan bertemu Khun Reung."

Por Date sontak kesal dan menatapnya tajam gara-gara ucapannya itu. Kade tidak boleh ikut, dia harus pulang bersama para pelayan. Para pria mau minum-minum, wanita tidak boleh ikut campur.

Kade tidak terima dan ngotot tidak mau pulang. Sama seperti di pasar Nang Chie dulu, dia juga mau jalan-jalan saja sementara Por Date bisa pergi minum-minum.

"Tapi kali ini akan lama, aku tidak mau kau khawatir."

Kade sinis mendengarnya. "Kerja apa? Kau kan cuma minum-minum biar dilihat orang."

Hadeh, jelas saja Por Date kesal mendengar tuduhannya. Dia minum-minum bukan untuk dilihat orang seperti yang Kade pikirkan. Pokoknya dia tidak boleh ikut campur. Kalau dia tidak mau menurut, maka Por Date tidak akan mengajaknya keluar lagi lain kali.


Tapi bukan Kade namanya kalau nggak melanggar aturan. Begitu Por Date pergi meninggalkannya, Kade langsung memerintahkan para pengawal untuk membawanya ke pasar cina.

Kade antusias banget setibanya di pasar itu. Yam khawatir karena tempat ini jelas-jelas tidak sesuai untuk Kade. Tapi Kade seperti biasanya, santai aja.

Tapi saat dia lewat, ada dua pria Cina yang mendadak muncul dan langsung menggodanya. Kade diam saja, tapi malah Pin yang langsung maju melabrak kedua pria itu sampai Kade terpaksa harus menghentikannya dan meminta kedua pria itu untuk bicara baik-baik.

Pria itu malah tambah kurang ajar menuntut Kade untuk memberinya ci*man. Pin sontak emosi melabrak pria itu. Tapi bentakannya malah membuat pria itu jadi marah dan langsung menamparnya.


Kade jelas tidak terima dan langsung mencaci maki kedua pria itu. Salah satu pria itu langsung mengulurkan tangan ke Kade, tapi Kade langsung memitingnya dan menendangnya.

Pria kedua kontan emosi mencekik Kade. Tapi Kade dengan cepat memiting tangannya dan menggunakan berbagai ilmu bela diri yang pernah dipelajarinya di masa depan untuk melawan kedua pria itu seorang diri.

Bersambung ke part 4

Post a Comment

1 Comments

Hai, terima kasih atas komentarnya, dan maaf kalau komentarnya tidak langsung muncul ya, karena semua komentar akan dimoderasi demi menghindari spam