Saturday, April 27, 2019

Sinopsis Leh Nangfah Episode 18 - 2

Sinopsis Leh Nangfah Episode 18 - 2


Saat mereka makan malam bersama, Mami senang dengan pilihan restoran Jade dan mengundang Jade untuk lebih sering bertamu ke rumah mereka. 

Jade akan senang hati menerimanya, tapi sekarang dia sedang sibuk dengan urusan Thailand Fashion Week.

Jade tiba-tiba mengingkari janjinya pada Orn dan dengan sengaja memberitahu Mami bahwa Thanabavorn punya presiden baru sekarang. Dia dengar kalau Beauty jadi co-presiden bersama Tee sekarang.

Orn jelas kesal padanya. Mami tak suka mendengar informasi itu, memangnya Beauty bisa menangani pekerjaan jadi presiden perusahaan. Dia itu kan moody dan suka pilih-pilih. Kemampuan ahli waris belum tentu sama seperti orang tuanya. Banyak bisnis yang harus gulung tikar karena ahli waris.


Contohnya saja Orn. Papa tahu betul kalau Orn tidak cukup pintar untuk meneruskan bisnisnya, makanya Papa tidak memaksa Orn. Papa lebih memilih menunggu seseorang yang berbakat untuk membantunya, ujar Mami sambil menatap Jade penuh arti.

Tak suka dengan arah pembicaraan ini, Orn cepat-cepat menyela dan mengajak Mami pulang. Lagian besok dia harus pergi untuk mengantarkan undangannya Tee.


Pat ketiduran dan mimpi buruk diserang si lovebird. Korn sampai cemas melihatnya jejeritan dalam tidurnya dan cepat-cepat membangunkannya. Apa ada masalah?

Pat bertanya sekali lagi. Apa Korn sungguh tidak melihat Beauty di dalam gudang tadi? Dia tidak bisa tenang karena masih belum mendapatkan jawaban akan ke mana menghilangnya Beauty dan dari mana burung itu datang?

Korn yakin kalau itu bukan burung yang sama. Pat bersikeras kalau itu burung yang sama, dia mengingatnya dengan baik. Burung itu bahkan mengikutinya sampai ke rumah Tee tadi.

"Pat. Apa kau terlalu stres? Apa kau mau kuantarkan ke dokter?"

"Aku tidak gila, Yah!"

"Ayah tidak bermaksud begitu. Ayah hanya ingin kau membicarakannya dengan dokter biar kau merasa lebih tenang. Pat, kau harus menjaga kesehatanmu. Aku sudah punya banyak pekerjaan."

"Pekerjaan apa?"

Korn hanya menjawab ambigu bahwa Pat pasti akan tahu kalau waktunya sudah tiba. Sekarang dia tidur saja dulu dan jaga kesehatan. Jangan sampai sakit.


Keesokan harinya, Tee dan Beauty hendak rapat dengan tim departemennya Pat. Tapi Pat sendiri malah belum datang. Beauty langsung nyinyir, kepala departemen tapi malah terlambat. Dia melanggar aturan perusahaan nomor 4.

Kalau begitu, Tee memutuskan untuk memulai meetingnya saja. Apalagi sebentar lagi dia ada janji lain. Beauty memperkenalkan dirinya sendiri dengan narsis, menyuruh mereka untuk memanggilnya 'Presiden Beauty' dan memperkenalkan Somcheng sebagai sektretaris pribadinya.

Tee mengumumkan bahwa dalam event Thailand Fashion Week tahun ini, Thanabavorn akan diundang untuk menunjukkan koleksi haute couture (adi busana). Para designer sontak jejeritan heboh.

Tapi Tee memberitahu bahwa yang menangani fashion show tahun ini bukan cuma perusahaan mereka. Jade Garment dan Sasha juga diundang. Beauty mengingatkan mereka bahwa perusahaan mereka harus elegan, luar biasa dan tanpa cela.


Pat akhirnya datang tak lama kemudian. Beauty langsung sinis menyindirnya. Tee cepat-cepat menyela dan mengumumkan bahwa Pat akan bertindak sebagai proyek manager.

Berhubung Pat sudah datang, jadi Tee akan menyerahkan proyek ini sepenuhnya pada Pat lalu pamit, dia harus menemui klien.


Beauty tidak terima dan langsung bergegas mengejarnya. Tee pasti sengaja yah melakukan ini? Tee tahu betul kalau dia dan si cewek kuno tidak akur.

"Hei, kalau kau ingin bekerja sama dengan orang lain, maka kau harus menyimpan persoalan pribadimu dan mulailah menghormati orang lain. Berhentilah menyebut orang lain dengan sebutan tidak sopan."

Beauty menyangkal, itu cuma karena kebiasaan saja. Tee tak peduli dan memperingatkannya berhentilah bersikap seperti itu dan kembali ke ruang meeting sana.

"Aku kan sudah jadi presiden. Kenapa kau tidak menjadikanku manager proyek?"

"Posisimu memang presiden. Tapi masalah pengalaman sebagai designer, kau masih pemula."

"Tapi aku bisa menanganinya."

"Jika kita tidak harus berkompetisi dengan perusahaan lain, aku mungkin akan mencobanya. Tapi kita tidak boleh mengambil resiko saat ini. Mengerti?"

"Baiklah."


Oh, Tee juga memperingatkan Beauty bahwa ide-ide design mereka adalah rahasia perusahaan. Jangan sampai dia membocorkannya pada Jade Garment. Biarpun Beauty dan Jade sangat dekat, jangan lupa kalau mereka adalah saingan.

"Apa kau tidak berpikir kalau aku mungkin bisa menggali rahasia perusahaannya untuk kita?"

"Tidak perlu. Thanabavorn tidak suka mencuri dari orang lain."


Pat dan timnya meeting dengan antusias, tapi Beauty malas banget dan meminta meeting ini untuk segera diakhiri. Pat menolak dan mengingatkan semua orang bahwa mereka harus bersatu dan berdiskusi sebelum mulai bekerja agar ide-ide mereka tidak tercerai berai.

Kratua mengusulkan agar mereka mengadakan seminar di luar kota saja untuk mencari inspirasi. Yang artinya, tentu saja mereka harus menginap di luar kota. Beauty jelas tidak setuju, inspirasi kan bisa berbeda-beda. Jadi mereka bisa mencari inspirasi sendiri-sendiri, mereka tidak harus mencarinya bersama-sama di satu tempat.

Pat santai mengingatkan kalau mereka akan bekerja sebagai satu tim. "Kau dengar itu? Teamwork!"


Klien yang dimaksud Tee ternyata Orn yang datang untuk memberikan undangan pesta anniversary shopping mall milik papanya. Undangannya dua karena Papanya Orn juga mengundang Beauty. Dan nanti akan ada tamu VIP yang datang ke pesta itu. Tapi dia tidak boleh memberitahu Tee tentang siapa tamunya. Surprise.

Tapi... Orn mengaku kalau dia tidak sengaja membocorkan rahasia pada Jade bahwa Beauty sudah resmi diumumkan sebagai presiden Thanabavorn. "Maaf, P'Tee. Aku sungguh tidak tahu (kalau itu rahasia)."


Sambil menggenggam tangan Orn, Tee meyakinkan Orn bahwa itu bukan masalah besar. Tidak usah terlalu dipikirkan. Tepat saat itu juga, Beauty mendadak masuk dan langsung cemburu melihat mereka berpegangan tangan.

Tee sontak canggung melepaskan pegangan tangannya dari Orn. Kesal, Beauty langsung pergi. Tee berusaha mengejarnya, tapi Beauty terus pergi tanpa menoleh.


Di rumah, Bibi Jan sedang mengawasi para pembantu yang bersih-bersih. Tapi kemudian dia melihat Seenuan mau mengangkat vas bunga dengan tangannya yang masih di-gips. Bibi Jan sontak membentaknya, takut vasnya pecah.

Kapan gips-nya itu bisa dilepas? Tanya Bibi Jan. Dokter bilang hari senin nanti, jawab Seenuan. Baguslah. Dengan begitu, dia bisa sepenuhnya membantu Beauty.

Tapi dokter bilang bahwa biarpun gips-nya sudah dilepas, jari-jarinya masih akan sulit digerakkan dan akan butuh waktu untuk kembali ke sedia kala karena urat dagingnya robek.

Bibi Jan jadi prihatin mendengarnya. "Kau beruntung memiliki nona yang mengurusmu."

Seenuan juga berpikir begitu. Jika tidak, dia dan putrinya pasti akan berada dalam situasi yang sangat buruk. Bibi Jan penasaran, ke mana ayahnya anak-anak? Apa dia sudah meninggal dunia?

"Tidak. Dia meninggalkan kami saat anak bungsu kami belum genap setahun. Dia bilang kalau dia tidak bisa mengurus kami semua. Tapi para tetangga bilang kalau dia meninggalkan kami demi istri kedua."

"Baguslah. Lebih baik tidak punya suami daripada punya suami semacam dia."

"Biarkan saja. Aku sudah memaafkannya. Aku sungguh beruntung memiliki nona yang mengurusku. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikannya pada seluruh keluargaku."

"Semua orang bilang kalau nona itu jahat. Tapi sebenarnya hatinya rapuh dan tulus."


Beauty pulang tak lama kemudian dengan tampang jutek. Dia mau kerja di rumah saja, dia tidak mau berada di kantor, dia lagi kesal sama seseorang. Kalau begitu, Bibi Jan akan menyiapkan meja untuk Beauty di taman.


Saat dia merenung di gazebo, tiba-tiba dia membayangkan Tee sedang mesra-mesraan dengan Orn di kantor. Mereka saling mengucap kata cinta, lalu Tee melamar Orn dengan cincin berlian dan mengecup mesra tangan dan pipi Orn.

"Tidak! Tidak!" Jerit Beauty.

Tapi... itu kan urusannya Tee. Kenapa juga dia mesti peduli? Tidak usah dipikirin! Jangan dipikirin! Jangan dipikirin! Jangan dipikirin! Belum juga berhasil menyingkirkan Tee dari pikirannya, Tee tiba-tiba datang dan langsung menegurnya.


"Jangan pikir kau bisa meninggalkan pekerjaannya dan pulang setelah kau jadi presiden."

Beauty kaget. Sedang ada Tee di sini? Cepat-cepat menguasai dirinya, Beauty mengklaim kalau dia bisa men-design dari rumah. Ngapain Tee kemari? 

Dia datang membawakan kartu undangan pesta anniversary dari Falcon shopping mall.

Beauty menolak datang. Tapi Tee bersikeras menyuruhnya datang karena ini urusan bisnis, Beauty harus datang sebagai presiden Thanabavorn. Falcon shopping mall adalah sponsor terbesar Thailand Fashion Week dan akan ada tamu VIP di pesta itu nanti.

"Siapa?"

"Tak ada yang tahu. Tapi kurasa dia adalah orang penting di industri fashion."

"Kalau pestanya malam, aku tidak akan pergi. Oke?"

"Ini pesta teatime. Apa mungkin akan diadakan di malam hari?"


Baiklah, dia akan datang. Tapi dia akan datang hanya demi perusahaan. Dan dia punya syarat. Dia hanya bisa menghadiri pesta itu sampai jam 5 sore. Oke?

"Oke. Aku akan menjemputmu nanti."

"Tidak perlu. Aku akan pergi sendiri."

"Ini hanya demi persatuan, agar aku punya kesempatan untuk memperkenalkanmu sebagai co-presiden perusahaan."

"Yah, deh. Oke. Cerewet banget."


Tapi saat Beauty masuk ke kantornya tadi, apa ada masalah? Tanya Tee. Beauty langsung ketus. Tidak ada, dia sudah menyelesaikan masalahnya sendiri. 

Lain kalau Beauty mau masuk kantornya, buat janji dulu. Jangan asal masuk seperti tadi.

Beauty kesal. "Lain kali kalau kau mau kencan dengan pacarmu, lakukan di tempat lain, jangan di kantor! Iiish!"

"Kau bilang apa? Itu omong kosong."


Beauty menoleh lagi dan langsung kaget mendapati wajah Tee di depan hidungnya. Beauty sontak mundur dengan canggung. "Gendut mata empat!"

Tee sebal. "Kau bilang apa? Ulangi lagi."

"Gendut mata empat!"

"Aku tidak gendut dan tidak pakai kacamata lagi!"

Beauty malah tambah getol merutukinya gendut mata empat berulang kali sampai Tee harus membungkam mulutnya. "Aku tidak gendut dan tidak pakai kacamata lagi. Berhentilah mengucapkan itu!"

"Yah, sudah, pergi saja sana. Dadah!"

"Baiklah. Aku pergi." Ucap Tee lalu pergi


Malam harinya, Tee membaca buku laporan Beauty. Dia menyarankan agar mereka mendekorasi ruang kerja agar para pegawai lebih antusias dalam bekerja. Beauty juga menyarankan agar mereka mengingatkan para designer akan filosopi yang mengatakan kecantikan luar terpancar dari dalam.

Tee jadi teringat akan saat-saat kebersamaannya bersama Beauty. Tapi kenapa dia selalu memikirkan Beauty?


Beauty juga sebenarnya kangen sama Tee, tapi dia terus keras kepala menyangkal perasaannya sendiri dan mengingatkan dirinya sendiri bahwa si gendut mata empat dan cewek sok imut itu tidak ada urusan dengannya.

"Aku tahu... kalau kau tidak suka padaku. Kau tidak suka padaku. Kau tidak suka padaku (hiks!)... Tapi aku lebih tidak menyukaimu, tahu!"


Pokoknya mulai sekarang, dia tidak boleh lagi menyia-nyiakan waktunya untuk merindukan Tee.

"Sebelum 30 hari, aku akan menemukan pria yang kucintai lebih daripada hidupku sendiri dan akan kuci*m dia di hadapanmu. Lihat saja!"

Tapi kemudian pikirannya mengembara lagi mengingat kebersamaannya dengan Tee tadi siang. Beauty langsung histeris berusaha menyingkirkan pikiran itu. Heran dia, kenapa dia selalu memikirkan wajah Tee setiap saat? Jangan pikirin dia! Jangan pikirin dia! Jangan pikirin dia! Tapi...

"Aku merindukannya~~~"


Lalita senang, jangan-jangan Beauty sedang jatuh cinta. Tapi sayangnya, Beauty tidak berani menerima perasaannya karena dia takut kecewa. Tapi jika dia berani mencari, kutukannya akan segera terpatahkan, bukan?

"Tidak. Segalanya tergantung pada pria yang dia cintai juga."

"Tapi anda hanya memberinya waktu yang sangat sedikit. Kita harus membantunya, Dewi."

"Kurasa tak ada seorangpun yang bisa membantunya."

"Hanya ada satu hati yang punya perasaan yang sama dengannya. Dialah yang bisa menjadi kunci untuk membuka hatinya."

Bersambung ke episode 19

2 komentar:

Hai, terima kasih telah berkunjung. Tinggalkan komentar kalian, yah ^^