Sinopsis About is Love Episode 12 - 3

 Sinopsis About is Love Episode 12 - 3


Maaf, kemarin keliru ngasih judul, maklum update tengah malam udah ngantuk, pikiran jadi nggak konek. Hehe.

Zhou Shi menatap kepergian Wei Qing dengan prihatin. Tapi tunggu dulu, kenapa juga dia harus prihatin? Air matanya itu air mata buaya, jangan sampai terpedaya.


Masalah barusan membuat Wei Qing jadi tidak mood dan menyuruh Asisten An untuk membatalkan meeting sore ini. Oh yah, kapan Xue Zi kembali ke negara ini?

Asisten An melapor kalau Xue Zi baru kembali kemarin, dia bahkan mengunjungi galeri ini dan membeli lukisannya Xun Ran dengan harga tinggi.

Wei Qing tambah kesal mendengarnya. Dia menyuruh Asisten An balik duluan, sementara dia sendiri pergi dengan sedih, teringat masa lalunya.


Dia dan ayahnya dulu sering sekali bertengkar yang semuanya dipicu oleh oleh kecemburuannya pada Ning Fei. Ditambah lagi sifat ayah dan anak itu yang sama-sama keras dan bertolak belakang. Ayahnya juga tak pernah menghargai karya lukisannya sehingga membuat Wei Qing semakin benci pada ayahnya dan Ning Fei.


Hingga suatu hari, terjadilah musibah itu. Ayahnya Wei Qing meninggal dunia entah karena apa, tapi Nyonya He yakin kalau Wei Qing-lah yang membunuh Ayah. Wei Qing pun cuma diam tanpa mengatakan apapun.

Tapi dibalik semua pertengkaran mereka, Ayah Wei Qing jelas masih menyayangi putranya. Nyatanya saat pengacara mereka membacakan surat wasiat Ayah, surat itu menyatakan bahwa Ayah menyerahkan kepengurusan Yun Ma art pada Wei Qing sepenuhnya.

Tapi Nyonya He yang meyakini kalau putranya adalah pembunuh ayahnya sendiri, tidak terima dengan wasiat itu dan langsung memutuskan untuk pergi meninggalkan Wei Qing seorang diri.
 

Fei Fei sedang sikap gigi saat tiba-tiba saja pikirannya melayang ke Ning Fei. Astaga! Mikir apa sih dia?! Sadar! Sadar! Biarpun dia masih patah hati dan tidak punya cowok, tapi tidak seharusnya dia menyukai anak itu! Jangan dipikirin lagi!

Tapi saat dia berbalik, dia malah tak sengaja tabrakan dahi dengan Ning Fei yang mendadak muncul di sana. Ning Fei kontan mencemaskannya dalam jarak yang sangat dekat yang kontan saja membuat Fei Fei deg-degan dan wajahnya memerah.

Cemas melihat wajah Fei Fei memerah, Ning Fei langsung saja menempelkan kedua dahi mereka untuk mengecek suhu ttbuh Fei Fei.

"Panas. Apa kau demam?"

Malu, Fei Fei kontan menyalahkan Ning Fei, dia ketularan demamnya Ning Fei waktu itu. Kalau begitu, Ning Fei akan ambilkan obat untuknya. Fei Fei menolak dan bergegas keluar.


Fei Fei sungguh tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya sendiri. Dia kan ahli dalam hal cinta dan rayuan, bagaimana bisa pertahanannya goyah oleh anak ulah anak kecil yang menempelkan dahinya? Ini pasti gara-gara dia kelamaan menjomblo sampai jadi karatan. Kalau begitu, dia harus secepatnya mencari target baru.


Tiba-tiba ponselnya berbunyi dari seseorang yang mengajaknya untuk melakukan pemotretan hari ini. Fei Fei kontan antusias menerima tawarannya. Akhirnya! Fei Fei akan bangkit kembali! Lupakan saja si Ning Fei itu! Dia akan mencari pria sejati.


Dalam perjalanan pulang, Zhou Shi ditelepon Qiu Jing yang mengaku kalau dia sudah menanyai Ming Cheng dan mengklaiam kalau Ming Cheng mau hadiah kaligrafi.

Haah? Zhou Shi jelas heran. Ming Cheng kan maniak astronomi, sejak kapan dia suka seni?

"Err... tadi pagi. Aduh, nggak usah banyak tanya. Bukankah itu keahlianmu. Pokoknya yang perlu kau ingat adalah dia suka seni sekarang. Suka banget."

Zhou Shi mempercayainya begitu saja dan langsung senang. Mereka berdua yang sama-sama orang jenius memang bisa berkomunikasi dengan baik. Makasih, yah.

Tapi sekarang dia bingung. Dia musti nulis kaligrafi apa? Di tengah kebingungannya, tiba-tiba saja dia melihat Wei Qing sedang duduk sendirian di tepi danau. Sedang apa dia di sana?


Wei Qing sedih teringat perdebatan masa lalunya dengan ayahnya. Suatu hari, dia dengan antusias datang menunjukkan lukisannya pada ayah dan berkata bahwa ada seseorang yang ingin membeli lukisannya.

Tapi Ayah cuma melihat lukisannya sekilas lalu dengan dinginnya menyuruh Wei Qing untuk membakarnya saja. Wei Qing tidak mengerti kenapa? Si pemilik galeri bahkan maua membayar 1.000 dollar untuk lukisannya ini, mereka bilang kalau lukisannya ini sangat realistis.

Tapi Ayah tak percaya kalau ini lukisannya Wei Qing sendiri. Jika memang ini lukisannya, lalu berapa lama waktu yang dia butuhkan untuk melukis ini?

"Dua hari."

"Dua hari? Apa kau tahu berapa lama waktu yang dihabiskan seniman aslinya untuk melukis ini? Dua tahun. Karena itulah karya mereka adalah mahakarya yang bisa bertahan sampai bertahun-tahun lamanya dan punyamu ini cuma sampah!"

Setiap detil dalam lukisannya Wei Qing cuma menggambarkan satu kata, yaitu uang. Ayah kan sudah bilang kalau dia tidak mau hasil karyanya cuma jadi pajangan di rumah orang.


Tiba-tiba Zhou Shi duduk di sampingnya yang kontan membuatnya heran sekaligus senang. Katanya Zhou Shi tidak mau melihatnya lagi? Memang, tapi Wei Qing selalu saja terbang di sekitarnya kayak lalat yang sulit disingkirkan.

"Sesuatu yang biasanya dikerubungi lalat itu biasanya tidak bagus." Balas Wei Qing.

"Kau! Seharusnya aku mengabaikanmu saja!"

Tapi Wei Qing kontan mencegahnya pergi dan memohon setulus hati agar Zhou Shi menemaninya. Dia sedang tidak mood hari ini.


Zhou Shi akhirnya duduk kembali. Dia mengerti perasaan seperti itu, saat sedang tidak mood, dia juga biasanya malas ngomong sama orang dan bersedih.

Tapi pada akhirnya, dia menyadari kalau cara itu tidak efektif. Karena saat sedang sendirian, biasanya kita cenderung memikirkan sesuatu secara berlebihan dan jadi semakin sedih.

"Lalu apa yang harus kulakukan?"

"Mengalihkan pikiran. Shopping dan makan-makan. Jauh lebih baik kalau dilakukan bareng teman."


Tapi Wei Qing tidak ingin membeli apapun. Apa Zhou Shi ingin membeli sesuatu? Dia beliin deh. Zhou Shi kontan mundur teratur, Wei Qing mau menipunya lagi yah?

"Aku sungguh-sungguh. Aku tidak tertarik menghabiskan uang. Aku hanya berpikir bahwa jika kau menginginkan sesuatu maka aku akan membelikannya untukmu. Jika kau bahagia, bukankah aku juga bisa sedikit bahagia?"

Kalau begitu, Wei Qing beli saja untuk teman-temannya. Dia pasti punya banyak teman nongkrong kan? Wei Qing tidak mau. Kalau cuma teman nongkrong, ngapain juga repot-repot mencari mereka.

"Memangnya kau tidak punya teman dekat?"

"Waktu kecil punya. Tapi sekarang, tidak lagi."

"Ternyata kau sangat kesepian. Lalu kenapa kau tidak bersosialisasi?"

"Karena aku tidak bisa kontak dengan siapapun."


Tapi Zhou Shi salah paham dengan maksudnya dan mengira Wei Qing begitu cuma karena dia sombong saja. Tidak seharusnya Wei Qing begitu. Yah, walaupun Wei Qing rada nyebelin, tapi sebenarnya dia tidak jahat kok. Jadi seharusnya dia lebih banyak kontak dengan orang. Kalau tidak punya teman, rasanya akan sangat menyesakkan.

"Bukan begitu. Aku..." Tapi pada akhirnya Wei Qing ragu untuk mengakuinya dan mengurungkan niatnya.

Masalah teman, bagaimana kalau Zhou Shi jadi teman pertamanya? Wei Qing mengaku salah atas insiden yang sebelumnya. Dia salah karena sudah meremehkan perasaan Zhou Shi dan menyakitinya.

"Aku minta maaf."

Permintaan maafnya benar-benar tulus sampai membuat Zhou Shi canggung, tidak apa-apa kok. Tapi saat Wei Qing ngotot agar mereka berteman, Zhou Shi masih ragu.

Baiklah, mereka bisa jadi teman. Tapi Wei Qing tidak boleh melanggar norma-norma dan tidak usah memberinya apapun. Oke, Wei Qing setuju.


"Setuju semudah itu. Tapi aku masih berpikir kalau aku adalah pihak yang dirugikan."

"Kalau kau berpikir begitu, maka katakan saja padaku dan aku pasti akan menyetujui semuanya."

"Pede amat. Kalau begitu, biarkan aku mengetesmu. Jangan beri aku makanan, hadiah, atau bunga. Tapi beri aku sesuatu yang bisa membuatku merasa tersentuh. Dengan begitu, aku akan memaafkanmu. Bagaimana? Kau tidak bisa melakukannya, kan?"

"Apa susahnya. Aku janji."

"Kalau begitu, kita sepakat."


Fei Fei menunggu giliran bersama para model lainnya untuk dirias. Dia tidak sabaran ingin segera dirias juga, tapi si MUA nyinyir meremehkannya. Fei Fei kan cuma model kecil, model untuk bagian cover saja belum selesai.

Zhou Shi meneleponnya saat itu untuk memberitahunya tentang Wei Qing. Fei Fei kontan emosi teriak-teriak menyebut nama Wei Qing tepat saat He Wei baru datang dan mendengar teriakannya.

"Aku kan sudah bilang jangan terjatuh ke dalam perangkapnya! Apanya dari dia yang kasihan? Kurasa kaulah yang paling kasihan!"


Si MUA kontan kesal membentaknya untuk diam, terpaksa Fei Fei harus menunduk menurunkan suaranya. Saking fokusnya, dia sampai tidak sadar kalau He Wei memberikan jasnya padanya.

Baru saat dia menutup teleponnya, dia mulai bingung. Siapa yang barusan memberinya jaket? Model yang duduk di sebelahnya langsung nyinyir. Tidak usah pura-pura, masa dia tidak mengenali jaketnya Kepala Editor He?

"Gadis-gadis jaman sekarang harus berakting menyedihkan biarpun lagi bersin maka kau akan bis amenarik hati kepala editor." Sinis model yang satunya. Fei Fei benar-benar bingung dengan situasi ini.

Sekretarisnya He Wei buru-buru menyela lalu memberi isyarat pada si MUA. Model yang sedang dirias itupun langsung disuruh minggir demi Fei Fei. Para model lainnya cuma bisa menatapnya dengan cemburu. Fei Fei sungguh tidak mengerti apa yang terjdi, tapi bodo amat.


Saat dia ganti bajua taka lama kemudian, Fei Fei kesulitan mengancingkan gaunnya. Dia berusaha meminta bantuan salah satu model, tapi malah dicuekin.

Fei Fei mencoba meminta bantuan siapapun tapi tak ada yang datang. Terpaksa Fei Fei harus berusha seorang diri... saat tiba-tiba saja He Wei muncul dan langsung membantu mengancingkan gaunnya tanpa permisi.

Dia beralasan kalau dia mendengar suara teriakan Fei Fei barusan. Fei Fei tidak akan marah dengan sikapnya yang to the point ini kan?


Fei Fei berniat berbali menghadapinya, tapi malah tak sengaja membuat rambutnya nyangkut di brosnya He Wei. He Wei sok romantis melepaskannya lalu memakaikan bros itu jadi hiasan di rambutnya Fei Fei.

"Kuberikan ini padamu." Ujar He Wei.

"Hah? Apa tidak masalah?"

Bersambung ke episode 13

3 komentar: