Rekap Novel The Days of Seclusion and Love Bab 121 - Bab 123

 

Mengingat kemarahan besar Yin Ge Zhi saat dia mengungkapkan identitas aslinya waktu itu, Feng Yue pikir sekarang Yin Ge Zhi akan menyingkirkannya, tapi ternyata tidak, malah dia barusan mencuri dua guci arak dari gudang penyimpanan araknya Sekretaris Agung Meng untuk merayakan malam ini.


Merasa tenang karena itu, Feng Yue jadi lebih berani mengajaknya untuk mencuri lebih banyak arak. Yin Ge Zhi sok mengomelinya karena mencuri itu salah, eh ujung-ujungnya malah dia sendiri yang menuntun Feng Yue ke gudang arak dan berjaga di depan pintu, lalu membawa Feng Yue bersembunyi dari para penjaga hingga mereka kembali ke kamar dengan selamat.

Feng Yue minum dengan gembira, menenggak arak itu kayak minum air, tapi Yin Ge Zhi ternyata tidak terlalu kuat minum, dan dia yang biasanya garang, jadi terlihat lucu saat sedang mabuk, jadi gampang dibohongi dan dibujuk kayak anak kecil.
 
Disuruh menghabiskan guci araknya, dia langsung menurut dengan patuh dan pada akhirnya membuat kepalanya nyut-nyutan. Disuruh mengucap babi bodoh, juga dia nurut. 

Feng Yue sontak ngakak melihat tingkah lucunya, tapi lama-lama dia kasihan juga melihatnya sakit kepala dan akhirnya memeluk Yin Ge Zhi sampai dia tertidur.

Namun keesokan paginya saat mereka masih lelap, Nona Yi mendadak menerobos masuk sambil menangis begitu sedih karena dia baru saja mengetahui tentang kematian ayahnya.
 
Dia tidak mengerti kenapa ada orang yang tega membunuh ayahnya padahal ayahnya adalah orang baik, ayahnya-lah yang berjasa menaklukkan kerajaan Wu ini, berkat ayahnya-lah rakyat Wu bisa hidup damai.

Pfft! Mendengar itu, Feng Yue langsung mengoreksinya. Yang paling berjasa dalam menaklukkan kerajaan Wu adalah leluhur kerajaan, bukan Jenderal Yi. Pada dasarnya, Jenderal Yi tidak punya banyak jasa karena kebanyakan kemenangannya dari invasi negara lain, tidak ada hubungannya dengan rakyat Wu.

Tapi seperti biasanya, ngomong sama Nona Yi ini sama saja kayak ngomong sama tembok. Bedanya, tembok diam saja, sedangkan dia ngelawan terus.
 
Dia maunya Yin Ge Zhi membantunya, tapi cara ngomongnya sama sekali tidak enak didengar. Bukannya meminta dengan cara baik-baik, dia malah seenaknya menuntut seolah itu adalah kewajibannya Yin Ge Zhi, dan saat Yin Ge Zhi menolak, dia langsung mengatai Yin Ge Zhi macam-macam.

Yin Ge Zhi yang terbangun dengan kepala nyut-nyutan dan langsung mendapat cecaran semacam itu jelas kesal.

Kali ini dia akhirnya bisa bebas ngomong tegas ke Nona Yi, mengingatkannya bahwa mengurus jenazah Jenderal Yi itu adalah urusan dan kewajiban pihak keluarga mereka sendiri, dia tidak berhak untuk ikut campur.
 
Sedangkan masalah penyelidikan kasus, Putra Mahkota sudah mengutus Sekretaris Agung Meng untuk menyelidikinya, dia tidak punya otoritas dalam perkara ini. Sebelum menilai orang lain, seharusnya dia memahami situasinya dulu.

Nona Yi memang baik hati, polos, tidak mementingkan hal-hal duniawi karena dia dibesarkan dengan dimanja dan dilindungi. Tapi sekarang Jenderal Yi sudah meninggal dunia, dia tidak boleh bersikap seperti ini terus, menangis dan menuntut orang lain untuk bertanggung jawab setiap kali terjadi sesuatu. Kalau dia mau merepotkan orang dan meminta bantuan mereka, maka seharusnya dia bersikap lebih sopan.

Nona Yi menuduh Putra Mahkota membohonginya dan tidak menyayanginya lagi, tapi Nona Yi sama sekali tidak pernah sadar betapa egoisnya Nona Yi terhadap Putra Mahkota selama bertahun-tahun. 

Dia menuntut Putra Mahkota untuk selalu melakukan ini-itu untuknya dan harus selalu ada untuknya, tapi dia bahkan tidak pernah menghormati Putra Mahkota dan selalu mengadu ke Permaisuri setiap kali dia tidak mendapatkan apa yang dia mau dari Putra Mahkota. Nona Yi bahkan tidak pernah mempertimbangkan harga diri Putra Mahkota setiap kali Nona Yi pergi menemui Yin Ge Zhi.

Nona Yi juga melakukan hal yang sama terhadap Yin Ge Zhi. Menuduhnya tidak memanjakannya, tidak baik padanya, tidak bicara dengan cara yang benar padanya, padahal Nona Yi sendiri tidak pernah bicara dengan cara yang benar pada Yin Ge Zhi.

Nona Yi tidak pernah ngomong terus terang, malah mengharapkannya untuk menebak maksudnya, dan kalau dia tidak bisa menebaknya, Nona Yi akan marah. Nona Yi mengharapkan orang lain untuk mencintainya tapi dia sendiri tidak membalas cinta orang lain.

Sayangnya, tak peduli sebanyak apa pun omelannya pada Nona Yi, si nona manja bin egois ini sama sekali tidak merasa dirinya salah, persis ayahnya, meyakini bahwa cinta tidak perlu timbal balik.
 
Hmm, ya memang sih, cinta memang tidak boleh egois, tapi... diucapkan oleh orang yang super egois kayak dia, logikanya ini terlalu salah. Ucapannya jelas menunjukkan kalau dia sebenarnya tidak pernah benar-benar menyukai Yin Ge Zhi.

Tidak tahan lagi, Yin Ge Zhi langsung mengusirnya dan dengan sopan menolak membantunya mengurus jenazah ayahnya. Nona Yi akhirnya pergi dengan kesal.

Sejak dia datang ke Wu, dia selalu menuruti apa pun kemauan Nona Yi. Bagaimanapun, Nona Yi memang tidak salah, tapi ayahnya harus mati, jadi hanya itu yang bisa dia lakukan untuk mengompensasi Nona Yi.

Tapi sekarang semuanya sudah selesai, sudah saatnya mereka berpisah arah.
Semua orang mengira kalau dia menyukai Nona Yi, padahal dia mengatakan itu pada orang lain hanya karena Nona Yi sendiri yang memintanya sebagai hadiah upacara kedewasaannya.

Waktu dia pertama kali datang ke Wu, rumahnya sering kali dibanjiri banyak gadis. Nona Yi tak senang dengan itu, makanya Nona Yi kemudian menuntutnya untuk bilang ke orang-orang bahwa dia menyukai Nona Yi untuk mencegah para wanita lain mendekatinya. 

Waktu itu dia ragu untuk melakukannya, makanya Nona Yi mendesaknya untuk melakukannya dengan alasan sebagai hadiah untuk upacara kedewasaannya.

Oh, Feng Yue mengerti sekarang. Sebenarnya Nona Yi memang tidak pernah mencintai Yin Ge Zhi, dia hanya merasa ingin memiliki Yin Ge Zhi. Karena Yin Ge Zhi dibawa kemari oleh ayahnya dan selalu bersikap baik padanya, jadi dia merasa Yin Ge Zhi harus menjadi miliknya seorang.

Namun bahkan setelah satu tahun menemaninya, Yin Ge Zhi sama sekali tidak bisa punya perasaan terhadapnya. Seandainya bersama Nona Yi menyenangkan, mungkin dia akan ragu tentang rencana pembunuhan Jenderal Yi.

Namun bersama Nona Yi itu sungguh melelahkan. Jadi kompensasi satu tahun ini sudah cukup, dan dia sama sekali tidak punya rasa bersalah terhadap Nona Yi.

Kaisar sengaja mencegah bocornya berita kematian Jenderal Yi untuk sementara karena khawatir Negara Song akan langsung menyerang mereka begitu mendengar kabar kematian pilar kekuatan Negara Wu. 

Namun tentu saja mereka tidak akan bisa menyembunyikan ini selamanya. Negara Song pasti akan menyerang Wu cepat atau lambat.

Ling Shu datang tak lama kemudian dengan membawa sebungkus kue kacang hijau. Dia sudah mengetahui rahasia bungkusan kue itu dan langsung terang-terangan membukanya di hadapan Yin Ge Zhi dan membacakan isinya.

Rekannya Feng Yue memberitahu bahwa sekarang karena Jenderal Yi sudah mati, jadi mereka semua bersiap untuk pulang kampung. Tiga orang akan pulang duluan ke Wei.

Feng Yue mengerti keinginan mereka. Orang-orang ini sebenarnya tidak suka meninggalkan negara mereka, namun selama tiga tahun ini, mereka rela mengikutinya kemari demi membantunya.

Dulunya, Jalan Xiangyu pernah terbakar habis. Lalu setelah rekonstruksi, hampir semua toko di sana berganti kepemilikan yang mana semuanya adalah para pengungsi dari Wei, alias para rekannya Feng Yue.

Awalnya pihak berwajib agak was-was mengingat hampir seluruh toko di jalan itu dikuasai oleh para pengungsi Wei. Namun tiga tahun berlalu, dan tidak pernah ada masalah apa pun, malah, Jalan Xiangyu jadi semakin maju dan ramai.

Orang-orang pun senang dengan keramahan para pemilik toko tanpa mengetahui bahwa orang-orang yang terlihat seperti rakyat jelata itu sebenarnya adalah para jenderal dan komandan militer Negara Wei yang sengaja meninggalkan karir dan negara mereka demi membantu melaksanakan misinya Feng Yue di sini.

Menyadari Feng Yue juga mau pulang kampung, Yin Ge Zhi menyuruhnya untuk menunggunya. Lebih baik pulang bersamanya karena masuk ke gerbang ibu kota Negara Wei itu tidak mudah, dia pasti akan dikenali. 

Jika Feng Yue pulang bersamanya, maka dia bisa kembali ke Wei dengan aman tanpa ada yang berani menghentikan mereka dan mengecek identitasnya. Tidak usah khawatir, dia akan bisa pulang sebentar lagi.
 
Hah? Feng Yue bingung. Yin Ge Zhi kan sandera politik, bagaimana bisa dia pulang seenaknya? Namun Yin Ge Zhi menolak menjelaskan apa pun dan membiarkannya kebingungan sendiri.

Sementara itu di istana, Kaisar, Putra Mahkota dan para pejabat sedang gelisah memikirkan nasib negara mereka.
Beberapa pejabat menyalahkan Putra Mahkota yang belakangan ini menarget banyak jenderal-jenderal penting dan puncaknya, sekarang mereka malah kehilangan Jenderal Yi juga. Kalau sampai pecah perang dengan Negara Song, maka negara mereka tidak punya jenderal lain yang bisa memimpin pasukan.

Namun beberapa pejabat lainnya membela Putra Mahkota karena yang ditarget Putra Mahkota memang para pejabat korup. Dan lagi, negara mereka tidak kekurangan prajurit hebat kok. Contohnya kedua muridnya Yin Ge Zhi.

Mendengar itu, Menteri Ning seketika punya saran yang bagus. Yaitu beraliansi dengan negara tetangga. Jika mereka menyatukan kekuatan dengan negara tetangga, maka Negara Song pun akan berpikir dua kali kalau mau menyerang mereka.

Sarannya ini memang masuk akal, Putra Mahkota juga setuju walaupun tampangnya kurang enak. Karena jika menggunakan cara ini, maka yang tercepat adalah bernegosiasi dengan Wei karena Wei-lah yang paling dekat dengan Wu. 

Namun untuk beraliansi dengan Wei, mereka harus menunjukkan niat baik dengan cara mengembalikan Yin Ge Zhi ke Wei. (Ah! Jadi ini maksudnya Yin Ge Zhi).

Masalahnya, Putra Mahkota khawatir dan tidak rela melepaskan Yin Ge Zhi yang licik dan banyak akal itu. Melepaskan Yin Ge Zhi rasanya seperti melepaskan harimau kembali ke hutan.

Marquiss An tidak setuju dengan pemikirannya. Justru karena Yin Ge Zhi banyak akal dan cakap dalam peperangan, makanya mereka harus mengembalikannya. Jika Yin Ge Zhi yang memimpin pasukan, maka Wei sangat layak menjadi sekutu mereka.

Jenderal Xu setuju. Lagipula, selama tinggal di sini, Yin Ge Zhi tidak pernah macam-macam dan tidak punya niat buruk terhadap Wu. Dia bahkan sangat tulus dan mengajarkan berbagai keahliannya pada kedua muridnya. Itu menunjukkan bahwa dia sangat murah hati dan berbudi luhur.

Mendengar pendapat kedua pejabat itu, Kaisar akhirnya mantap menyetujui ide itu dan bergegas memerintahkan mereka untuk segera bertindak, memulangkan Yin Ge Zhi lebih dulu lalu mengirim utusan untuk membicarakan aliansi dua negara.

Putra Mahkota sebenarnya masih ragu, tapi berhubung dia kalah suara, jadi terpaksa dia diam saja.
 
Setelah rapat, dia langsung pergi ke kediaman Yin Ge Zhi. Namun saat melewati Jalan Xiangyu dia malah dibuat bingung melihat banyak toko di jalan itu tutup, bahkan beberapa toko ada tulisan toko dijual.

Dia paham sih banyak rakyat yang pasti ketakutan pasca kematian Jenderal Yi, makanya mereka pasti bergegas pergi mengungsi ke negara lain.
 
Namun kemudian, dia juga melihat Menara Menghui juga ikutan tutup. Biasanya ada banyak gadis di pelataran, tapi kali ini yang kelihatan cuma Madam Jin.

Penasaran, dia langsung turun menyapa Madam Jin. Madam Jin dengan agak canggung mengklaim kalau mereka tidak tutup, dia cuma perlu pulang kampung sebentar karena ada urusan keluarga. Jadi sekalian dia kasih libur untuk para wanita penghiburnya.

Untungnya Putra Mahkota percaya. Padahal begitu dia pergi, Madam Jin langsung panik mengepak barang-barangnya, menggembok tempat itu, lalu kabur lewat jalan belakang. Begitupun dengan para wanita penghibur di sini, mereka semua sudah pulang kampung duluan.

Feng Yue sedang kebingungan memikirkan ide untuk kabur dari Yin Ge Zhi saat tiba-tiba Putra Mahkota datang membawakan dekret Kaisar yang mengizinkan Yin Ge Zhi kembali ke Wei, bahkan menghadiahinya dengan cukup banyak harta sebagai wujud persahabatan dua negara.

Yin Ge Zhi pura-pura kaget, padahal yang beneran kaget tuh Feng Yue. Putra Mahkota masih sangat bimbang sebenarnya, walaupun Yin Ge Zhi tampak tidak berbahaya dan lembut, tapi dia tetap merasa Yin Ge Zhi adalah orang yang tajam, seperti tombak panjang yang bisa melukai dari jauh.

Tapi berhubung memang tidak ada yang mencurigakan tentangnya, jadi Putra Mahkota tidak bisa mencegahnya dan akhirnya memberinya berbagai dokumen yang dia perlukan untuk meninggalkan Wu.

"Apakah Yang Mulia juga akan membawa pulang Nona Feng Yue?"

"Tentu saja."

"Kalau begitu, sampai jumpa lagi." Putra Mahkota pun pergi.

Walaupun wajah Yin Ge Zhi masih tanpa ekspresi, tapi Guan Zhi bisa melihat kalau tuannya itu sangat bahagia. Di mata orang lain, Yin Ge Zhi cuma dianggap beruntung bisa kembali secepat ini. Padahal demi mendapatkan ini, Yin Ge Zhi memikirkan dan melakukan banyak sekali perhitungan dan berbagai rencana licik.

Bersambung...

Post a Comment

0 Comments