Sinopsis Bupphae Saniwaat Episode 6 - 4

Sinopsis Bupphae Saniwaat Episode 6 - 4



Joi keluar untuk menyambut Khun Ban, dia bahkan menawarkan minuman keras sebagai jamuan. Khun Ban sontak kesal mengomelinya, siapa juga yang minum-minum di siang bolong begini.

"Meun Reung dan Meun Thun sering melakukannya." Bisik Joi.

Kade kesal setengah mati gara-gara diusir dari sana. Dia sungguh tidak mengerti kenapa dia tidak boleh tetap di sana? Kenapa?! Pin mengingatkan Kade bahwa masalah politik itu urusan para pria.

"Lalu kenapa Mae Janward boleh?"

"Mae Ying Janward sudah pergi, jao ka?"

"Sungguh?"

"Benar, jao ka. Bagaimanapun, dia memang harus pergi, jao ka. Dia tidak boleh tinggal dan berunding dengan mereka, jao ka."

Kade jadi semakin penasaran dengan apa yang sedang diobrolkan para pria di sana. Bukan cuma Kade, para pelayan lain juga bisa merasakan keseriusan obrolan para pria itu.

Saat Juang menyuruh Jit untuk keluar dan menyajikan tehnya pada para tamu, Jit takut dan meminta Juang saja. Para pria itu kelihatannya lagi ngobrol sangat serius.


Khun Ban bersyukur Janward pergi karena ia benar-benar tak sanggup untuk membahas apa yang hendak mereka bahas kali ini di hadapan Janward. Karena pembicaraan mereka kali ini adalah mengenai Ayahnya Janward.

Por Date cemas. Khun Lek tidak tahu kalau si Phaulkon ini orang yang sangat menakutkan. Khun Ban juga cemas dengan kakaknya itu, dia percaya banget pada Phaulkon, sama sekali tidak curiga kalau orang itu tidak bisa dipercaya.

Khun Ban bisa melihat niatannya dengan jelas, Phaulkon itu jelas-jelas bekerja sama dengan kakaknya hanya untuk mendapatkan perhatian Raja.

Tapi kakaknya tidak menaruh curiga sedikitpun, malah membawanya untuk ikut bekerja melayani Raja dan membiarkan Phaulkon menunjukkan pekerjaannya langsung pada Raja.


"Khun Luang Narai menghargai siapapun yang berbakat. Thun Ork Luang (Phaulkon) itu sangat pintar. Coba pikirkan, dia farang yang datang dari luar negeri."

"Dari Yunani." Timpal Reung.

"Benar, dari Yunani. Dia farang yang tidak punya garis keturunan. Tapi hebat sekali dia bisa melayani Paduka Raja dan menangani masalah keuangan dan perdagangan yang biasanya adalah pekerjaan yang sulit dan tak ada seorang pun yang mau melakukannya." Ujar Por Date.

Khun Ban memberitahu mereka bahwa saat pertama kalinya Phaulkon bekerja, para pedagang datang untuk menuntut hutang istana pada mereka. Tapi kemudian Phaulkon memeriksa buku keuangan dan mendapati  para pedagang India itulah yang ternyata punya hutang pada istana.

Raja sangat puas dengan kinerja Phaulkon dan langsung menaikkan pangkatnya. Tapi yang paling penting sekarang, semua orang khawatir kalau-kalau Phaulkon akan mempengaruhi Raja untuk pindah agama.

Por Date tahu tentang itu. Lalu, apakah menurut Khun Ban, Raja akan pindah ke agamanya Phaulkon? Khun Ban juga tak tahu, tapi mungkin saja. Raja selalu menyukai para farang, beliau pikir bahwa mereka hebat dan orang-orang Thai tidak bisa bersaing dengan mereka.

"Lalu bagaimana dengan Paman Kosa Lek?"

"Kakakku memihaknya. Jika Khun Luang setuju, kakakku tidak akan keberatan. Terlepas dari semua protes, Khun Luang lebih mendengarkannya (Phaulkon)."


Di belakang, Kade sedang kepo banget ingin tahu apa yang sedang dibicarakan para pria itu. Tak peduli biarpun kedua pelayannya berusaha mengingatkannya bahwa wanita tidak boleh ikut campur dalam urusan pria.

Pin memberitahunya bahwa wanita harus mengurus tugasnya sendiri. Memasak di dapur, membuat karangan bunga, dan melayani pria. Kade jelas sinis mendengarnya.

"Tapi wanita dari era IT tidak begitu, you know?"

Mungkin mengira nona mereka lagi nggak waras, Pin dan Yam memutuskan untuk menghindar saja. Baguslah, Kade jadi bisa lanjut mengintip. Sontak saja kedua pelayan langsung menghalanginya. Itu sikap yang tidak pantas. Huft! Kade gregetan dibuatnya.


Keesokan harinya, Kade terbangun subuh-subuh dan memberitahu kedua pelayannya bahwa dia sudah tidak perlu menunggang kuda lagi. Mereka heran, kenapa Kade bangun subuh-subuh padahal yang lain saja belum bangun. Tapi Kade sepertinya punya rencana.

Begitu matahari terbit, dia langsung mencari Joi untuk menanyainya tentang Por Date. Hari ini Por Date mau pergi ke mana?

"Pergi ke istana." Jawab Joi

Kade sontak antusias minta ikut. Dia ingin melihat istana. Boleh, yah? Joi jelas bingung harus menjawab apa, sebaiknya Kade tanya sendiri pada tuan.

"Makanya aku menunggu di sini untuk tanya." Ujar Kade, tidak sadar kalau Por Date sebenarnya sudah ada di sana sedari tadi.

"Eh, Joi! Bicara pada siapa?" Tegur Por Date. "Pergi siapkan perahu sana."

"Baik." Joi langsung berjalan pergi sambil membawa sebuah peti.


Kade berusaha mengikutinya, tapi Por Date langsung menegurnya dan menyuruh Joi pergi sekarang juga. Tak menyerah begitu saja, Kade berusaha sok imut untuk membujuk Por Date. Tapi bahkan sebelum dia sempat mengucap sepatah kata, Por Date sudah melarang duluan.

Kade langsung cemberut kecewa. Melihat itu, Por Date menjelaskan bahwa dia ada pekerjaan penting saat ini. Jelas saja Kade jadi tambah kepo, pekerjaan apa? Kade ingin tahu pekerjaan Por Date.


Belum sempat Por Date menjawab, Ayah dan Khun Ying keluar saat itu juga dan mereka langsung membahas kepergian Por Date ke istana nanti. Dari percakapan mereka, ternyata hari ini Por Date akan naik jabatan.

Khun Ying senang karena Khun Luang kembali ke Phranakorn hari ini. Tapi Ayah berkata bahwa Khun Luang akan kembali ke Lavo seperti biasanya setelah acara ini selesai.

"Astaga. Seharusnya beliau tinggal lebih lama. Apa bagusnya di Lavo? Kenapa beliau sangat menyukainya?"

Tapi sepertinya Kade tidak begitu mengerti dengan apa yang mereka bicarakan karena mereka bicara dalam dialek kuno, dan jadilah dia cuma berdiri di sana sambil kedip-kedip bengong. Khun Ying heran melihatnya berdiri bengong di sana. Dia mau bicara apa?

"Tidak ada. Kalau begitu, saya permisi."


Begitu Kade pergi, Khun Ying seperti biasanya. Ngedumel kesal tentang Kade, ia sama sekali tidak bisa menoleransi anak itu. Mata dan telinganya sangat cepat, suka sekali menguping orang.

Tapi Ayah sama sekali tidak masalah dengan sikap Kade. Kepribadiannya memang suka ingin tahu segalanya. Malas membahas hal itu lagi, Khun Ying langsung pergi ke dapur.

"Bepergian santai sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan keingintahuannya tentang kenapa aku pergi ke istana. Nang Pin dan Nang Yam akan menjawab semua pertanyaannya." Yakin Por Date dalam hatinya.


Dugaannya benar. Kade kepo banget dengan apa yang barusan di dengarnya tadi. Kenapa Pra Narai tinggal di Lavo?

Tapi Pin berkata kalau ucapannya tidak benar, tidak seharusnya dia memanggil Khun Luang Narai sebagai Pra Narai.

"Bukankah Pra Narai juga benar? Semua orang memanggil Paduka seperti itu."

"Saya tidak pernah mendengar siapapun memanggil Paduka dengan sebutan itu, jao ka."

Yam setuju. "Khun Luang itu Raja, jadi bagaimana bisa beliau disebut sebagai 'Pra', jao ka?"

Oh! Begitu? Oke, deh. Kade mengerti. Lalu kenapa Por Date pergi ke istana? Katakan! Tapi duo pelayan kontan serempak menjawab tidak tahu.

"Tadi Paman bilang bahwa hari ini seseorang akan mendapatkan 'oua ko'. Apa itu artinya?"

Oh, Yam dan Pin mengerti. Ayah pasti membicarakan masalah promosi jabatan. Berarti hari ini seseorang akan mendapatkan 'oua yot (pangkat) ko'.


Kade malah nggak nyambung. "Maak? (sangat banyak)"

Pin bingung. Maak apa? Oh, dia mengerti. Kade pasti mengira kata 'ko' yang dia maksud di akhir kalimat tadi, sama dengan kata 'maak'.

"Nona, anda lupa 'maak' (sangat banyak), jao ka."

"Betul, betul. Aku lupa 'ko' (sangat banyak)!" Canda Kade.


Di istana, acara berlangsung khidmat dengan terlebih dulu memberikan penghormatan terhadap Raja. Dan akhirnya, kita bertemu sang Raja Narai. (Raja Kerajaan Ayutthaya yang paling terkenal dan Ayutthaya menjadi negeri yang makmur selama masa pemerintahannya berkat kebijakannya untuk membuka hubungan diplomatik dengan negara-negara lain, terutama Perancis)

Satu per satu, para pejabat muda berbaris di hadapan Sang Raja yang kemudian memberikan sebundel kain pada mereka sebagai tanda kenaikan pangkat mereka. Guru Chieprakao dan Janward pun ada di sana untuk menyaksikan acara tersebut.


Begitu Por Date pulang tak lama kemudian, Kade langsung lari menyambutnya dan tanya. "Apa kau mendapat kenaikan pangkat hari ini?... Lalu apa Meun Reung juga?"

Por Date sontak emosi mendengar pertanyaan terakhir itu. "Kau sangat ingin tahu?!"

"Sangat."

"Kalau begitu, tunggu saja dan tanya sendiri padanya!"

"Tanya sendiri? Kapan aku bisa tanya dan bagaimana? Di mana aku bisa bertemu Meun Reung? Khun P'!"

Masih tak mendapat jawaban juga, Kade langsung menggoyang-goyang tangan Por Date sambil mengeluh manja yang jelas saja langsung mendapat tatapan sengit dari Por Date.


"Jual mahal. Aku tidak mau tahu juga." Decih Kade.

"Sebentar lagi dia akan datang." Ketus Por Date. "Ork Phra Visut Suntorn juga akan datang. Apapun yang ingin kau tanyakan, tanyakan sendiri padanya. Persiapkan dirimu."

"Terima kasih." Kade senang. "Ork Phra Visut Suntorn? Oh! Kosa Ban!"

Bersambung ke part 5

1 komentar: