Sinopsis Please Feel at Ease Mr. Ling Episode 2 - 2

Ling Yue / Xiao Ba tiba-tiba punya permintaan lagi. Kali ini dia mau dibelikan kursi roda, harus yang diimpor dari Jerman. Hah? Impor dari Jerman? Itu kan pasti mahal banget.

Ling Yue santai mengingatkan bahwa hari rabu nanti An Xin bakalan gajian. Hah? Kok dia tahu? Jelas tahu lah, dari kemarin An Xin gembar-gembor terus bahwa dia akan gajian hari rabu.

Saat An Xin berangkat kerja, entah kenapa hari ini mata kanannya kedutan terus. Pertanda apa nih? Tapi An Xin tak terlalu memikirkannya dan fokus pada pekerjaannya.

Ternyata An Xin juga menggambar komiknya di paketan yang diantarkannya. Seorang paman pelanggannya antusias banget saat dia melihat update-an komiknya An Xin di paketannya. Malah sebenarnya ia lebih antusias menerima update komik itu daripada paketannya. An Xin jelas senang ada orang yang menyukai komiknya.

Dia lalu ke hotel mengantarkan paketan berikutnya. Tak sengaja dia bertemu dengan Gu Xin Er dan teman-temannya di sana.

Dari gosipan teman-temannya Xin Er, An Xin ternyata anak adopsi Keluarga Gu. Namun entah ada masalah apa, An Xin dibuang oleh Keluarga Gu. Tapi sepertinya hubungan An Xin dan Xin Er tetap baik. (Tapi apakah akan tetap baik ke depannya? Entahlah)

Xin Er bahkan mencoba menawarkan kartu nama seorang kenalannya agar An Xin mendapat pekerjaan yang lebih baik. An Xin bersikeras menolak dengan sopan.

Tapi salah seorang temannya Xin Er yang rese, malah langsung mengejek An Xin, mengatainya sombong dan tidak berpendidikan, mengklaim kalau Xin Er membantunya hanya karena Xin Er menganggap An Xin menyedihkan.

Kesal, An Xin dengan elegan mengambil segelas campagne dari pelayan... lalu menyiramnya ke cewek rese itu. Pfft! Dengan sinis An Xin mengingatkan kalau dia orang yang tidak berpendidikan, jadi tidak mengerti apa yang dia lakukan. Dan tolong lain kali hati-hati kalau ngomong.

An Xin lalu pamit untuk melanjutkan pekerjaannya. Xin Er juga kesal sama si cewek rese itu hingga seketika itu pula dia menolak kerja sama bisnis pacarnya si cewek rese.

Di rumah, Ling Yue ingin cuci tangan tapi kerannya rusak hingga airnya muncrat. Tapi karena tak bisa memperbaikinya, akhirnya dia cuma mengikatnya dengan handuk lalu tidur... tanpa sadar kalau ikatan handuk itu tidak efektif dan airnya terus meluber.

Tidurnya tidak nyenyak karena memimpikan kejadian mengerikan masa kecilnya saat dia dibuli Ling Fang... hingga dia terjatuh ke danau dan tenggelam.

Ling Yue sontak tersentak bangun dari mimpi itu tapi malah mendapati seluruh rumah sudah jadi kolam, yang kontan memicu traumanya hingga dia begitu ketakutan dan gemetar hebat di tempat.

Saat An Xin pulang tak lama kemudian, dia jelas kesal melihat keadaan rumahnya dan langsung marah-marah mengomeli Ling Yue. Tapi kemudian dia menyadari Ling Yue sama sekali tak meresponnya dan tampak gemetar hebat.

An Xin langsung sadar kalau Ling Yue phobia air. Maka An Xin pun langsung mengambil headphone dan memasangkannya ke telinga Ling Yue, menggunakan musik untuk menenangkan Ling Yue.

Dan usahanya berhasil... sekaligus membuat Ling Yue jadi terpesona padanya. Dan jadi semakin terpesona saat dia melihat betapa cantik dan memesonanya An Xin dalam keadaan basah kuyup saat memperbaiki keran airnya.

Bahkan setelah semua air surut, Ling Yue sulit mengalihkan pandangannya dari An Xin... sampai saat An Xin mendadak berbalik menatapnya. Ling Yue langsung memalingkan muka, pura-pura lagi serius baca majalah, padahal majalahnya kebalik. Pfft!

Dia tegang banget saat An Xin mendadak mendekat padanya, padahal An Xin cuma mau ambil bukunya. Karena insiden hari ini adalah kesalahan Ling Yue, jadi An Xin menuntut Ling Yue untuk bertanggung jawab sepenuhnya. Ling Yue yang masih gugup, mengiyakannya saja sambil terus diam-diam melirik An Xin.

Keesokan harinya, An Xin seorang diri mengepel rumahnya, sementara Ling Yue nonton drakor What's Wrong With Secretary Kim, tepat di adegan romantis Lee Young Joon ngasih jaketnya pada Kim Mi So.

Ling Yue mendadak ingin mempraktekkan adegan itu dan langsung mengambil jaket, berniat mau memakaikannya ke An Xin, nggak sadar kalau cuaca lagi panas-panasnya. Wkwkwk!

Gagal deh rencananya. Malu, akhirnya tuh jaket dia pakai sendiri. An Xin cuma berdiri di tempat dengan kebingungan, sama sekali tidak mengerti dengan keanehan sikap Ling Yue itu.

Tapi Ling Yue pantang menyerah dan terus berusaha cari-cari kesempatan. Saat mereka kemudian makan bersama, dia mengklaim ada nasi nempel di pipi An Xin, biar dia ada kesempatan untuk melakukan adegan romantis menyeka pipi An Xin.

Tapi An Xin sama sekali tidak memahami niatannya dan langsung saja menyeka wajahnya dengan tisu. Beres! Wkwkwk! Gagal lagi deh.

Tiba-tiba An Xin kesulitan membuka tutup botol. Ling Yue langsung sok jantan membantunya membuka tutup botol itu dengan begitu mudahnya pakai jempol doang. Wah! Keren sekali, An Xin langsung terkagum-kagum... dalam khayalan doang ding.

Nyatanya An Xin sama sekali tidak butuh bantuannya dan santai membuka tutup botol itu pakai giginya yang sekuat baja. Ling Yue yang sebal, langsung nyerocos tentang kuman dan bakteri yang terkandung di tutup botol dan pengaruh buruknya untuk gigi dan gusi.

Tapi An Xin seperti biasanya, cuma menanggapinya dengan masa bodo dan menyuruhnya untuk menyelesaikan makannya secepatnya soalnya mereka setelah ini, mereka harus kontrol ke rumah sakit.

Bahkan di rumah sakit pun, Ling Yue masih begitu terpesona pada An Xin yang sedang ngobrol dengan dokter. Dia jadi cemburu dan langsung tanya ke perawat tentang apakah dokter itu sudah menikah. Perawat bilang belum menikah, pacar saja tak punya.

Si perawat yang kesengsem sama ketampanan Ling Yue, langsung penasaran sama Ling Yue sendiri. Apa Ling Yue sudah punya pacar?

"Di sana." Jawab Ling Yue sambil nunjuk An Xin.

Hah? Perawat bingung. "Bukankah kalian kakak-adik?"

"Jaman sekarang kan memang lagi tren untuk saling memanggil kakak-adik." Alasan Ling Yue sambil melemparkan senyuman semanis madu pada An Xin.

Tapi segala sikap anehnya hari ini, benar-benar membuat An Xin jadi heran dan khawatir. Soalnya biarpun kakinya pulih dengan baik, tapi sepertinya otaknya yang nggak beres. Dia sering melakukan hal-hal aneh.

Menurut dokter, hasil CT scan-nya Ling Yue baik-baik saja. Jadi mungkin, Ling Yue jadi begitu karena saat dia terluka, kesehatannya mentalnya juga terpengaruh. Karena itulah, Dokter menyarankan An Xin, sebagai keluarga pasien, untuk memastikan dia pulih perlahan-lahan.

Mereka lalu pulang melewati lapangan basket yang saat itu sedang ramai. Tiba-tiba ada bola basket melayang tepat ke arah An Xin. Ling Yue sontak cemas, tapi An Xin dengan lihainya menangkap bola itu dengan hanya satu tangan lalu melemparnya... tepat masuk ring walaupun jaraknya cukup jauh. Wow! Keren! Banyak para pemain basket itu kagum dengan kemampuan menembaknya.

Hanya Ling Yue seorang yang lebih khawatir kalau tangannya terluka. An Xin menyangkal, sama sekali tidak merasa ada yang sakit. Tapi Ling Yue langsung mengecek telapak tangannya dan benar-benar mendapati ada luka gores kecil.

Dia langsung menggandeng An Xin untuk duduk di bangku lalu membantu mengobati lukanya dengan lembut dan telaten, membuat An Xin jadi bingung dan gugup tapi juga terpesona padanya.

Mereka lalu belanja bersama ke pasar. Ling Yue seperti biasanya, sembarangan mau ambil barang yang kelihatan bagus dan mahal-mahal. Tapi An Xin dengan cepat mencegahnya.

Hujan turun deras saat mereka hendak pulang malam harinya. Ling Yue ingin naik taksi. Tapi ongkosnya kan mahal. Akhirnya An Xin ngotot mau naik bis saja.

Ada bis yang datang saat itu. Tapi bisnya ternyata tidak berhenti di halte itu dan terus melaju menembus genangan air yang langsung menciprati mereka. Ling Yue jadi kesal dan menyuruh An Xin untuk memanggil taksi saja, dia sendiri yang akan membayarnya.

Begitu mereka sampai rumah, Ling Yue mau langsung buka baju di hadapan An Xin yang terang saja langsung membuat An Xin gugup dan panik, ngapain dia melepas kaosnya?

"Habis kehujanan harus mandi."

"Kalaupun kau mau mandi, tidak perlu melepas pakaian di hadapanku. Masuk ke dalam dan lepas di sana. Oh yah, shower-nya rusak, jadi cuma bisa pakai bak mandi. Kau mandi duluan saja, aku setelahmu."

Tapi Ling Yue dengan cepat mencegahnya pergi dan mengingatkan bahwa dia butuh bantuan An Xin... bantu dia mandi. Hah? An Xin sontak membeku di tempat... berkhayal liar Ling Yue menyudutkannya di kamar mandi lalu mulai melakukan hal tak senonoh padanya. (Pfft! Dua orang nih suka ngayal aneh-aneh)

"Apa yang kau pikirkan?" Tegur Ling Yue dan sontak menyadarkan An Xin dari khayalan liarnya.

Ling Yue curiga kalau dia mengkhayal yang tidak-tidak. Apa jangan-jangan An Xin mengharapkan sesuatu? Malu, An Xin sontak menampik tangan Ling Yue dan menyangkal tuduhannya.

Dia menolak membantu. Selama ini Ling Yue bisa mandi sendiri, kenapa sekarang malah tidak bisa mandi sendiri? Apa bedanya antara mandi hari ini dengan hari-hari sebelumnya?

"Perbedaannya adalah aku, orang yang terluka, tidak bisa duduk di bak mandi itu."

An Xin akhirnya menurutinya. Tapi dia hanya berdiri membelakanginya, meminjamkan bahunya doang sebagai pegangan buat Ling Yue. Dia ingin segera keluar setelah itu, tapi Ling Yue masih minta diambilkan shampoo.

Dia bahkan sengaja tidak meraih shampoo itu saat An Xin menyodorkannya padanya sehingga membuat An Xin harus terus mundur... hingga dia menyentuh dadanya Ling Yue yang terang saja membuatnya shock.

Refleks dia melepaskan shampoo itu lalu buru-buru keluar dari kamar mandi. Dia jadi kepanasan gara-gara itu sampai-sampai dia harus mendinginkan dirinya pakai bir dingin. (Buset, tuh kulkas isinya penuh bir semua kayak kulkas mini market. PPL-nya lebay ah)

Tiba-tiba Ling Yue memanggilnya lagi. Sudah selesai mandi soalnya. An Xin mendekat pelan-pelan dengan terus membelakanginya, membiarkan Ling Yue berpegangan padanya.

Tapi saat Ling Yue berusaha berpegangan pada pundaknya, dia menarik terlalu kuat hingga membuat An Xin terpeleset air sabun dan membuatnya terjatuh ke bak mandi bersama Ling Yue, bahkan tangannya tak sengaja memegang dada Ling Yue. An Xin jadi tambah tegang nggak karuan. Hehe.

Bersambung ke episode 3

Post a Comment

0 Comments