Sinopsis You're My Destiny Episosde 1 - 3

 Sinopsis You're My Destiny Episosde 1 - 3

Secara bersamaan, Pawut dan Wanida berada di kantor kapal pesiar itu. Pawut datang untuk mendiskusikan event lamaran yang akan dia lakukan di kapal nanti, sementara Wanida datang untuk mengonfirmasi tiket yang dimenangkannya.


Tapi hadiahnya itu tidak sepenuhnya gratis pastinya, dia masih harus bayar sisanya yang sebenarnya jumlahnya cukup banyak. Tapi wanida tak keberatan mengeluarkan uangnya demi kencan romantisnya bersama sang pujaan hati. Dia bahkan rela membayarnya dengan cara mencicil.

Usai berdiskusi dengan pihak kapal pesiar, Pawut ke mall untuk membeli sebuah cincin lamaran. Bahkan saking bahagianya, dia memutuskan jalan sambil terus menatap cincin itu sehingga membuatnya tidak fokus lihat jalan... hingga dia tak sengaja bertubrukan dengan Wanida dan cincin itu melayang ke udara.

Dia berusaha mengulurkan tangannya untuk menangkap cincin itu. Tapi tiba-tiba Wanida kehilangan keseimbangannya dan terjatuh tepat menimpa tubuhnya sehingga dia gagal menangkap cincin itu dan jadilah cincin itu menggelinding jauh.


Pawut sontak mendorong kepala Wanida darinya dan berusaha mengejar cincin itu. Wanida yang merasa bersalah, langsung ikut lari mengejar cincin itu. Cincin itu terus menggelinding sampai keluar dari mall hingga berakhir di tengah jalan.

Entah kenapa Pawut tiba-tiba berhenti dengan ketakutan, tapi Wanida terus lari. Tapi bahkan sebelum dia sempat menyentuh cincin itu, tiba-tiba saja muncul dua geng yang bertarung tepat di tempatnya Wanida yang jelas saja membuatnya panik dan ketakutan.

Tiba-tiba salah satu preman hampir terjatuh menimpa Wanida, Pawut sontak sigap menendang si preman. Tapi aksinya malah membuat kedua geng mendadak berhenti berkelahi dan ganti menargetnya.


Menyadari itu, Pawut sontak menyeret Wanida melarikan diri bersamanya. Tapi tiba-tiba Wanida terjatuh di tengah jalan. Mereka kedua geng semakin mendekat, Pawut memutuskan membawa Wanida lari ke arah lain hingga akhirnya mereka aman di parkiran sebuah gedung dan Pawut langsung mengomeli Wanida karena kecerobohannya. Ada orang-orang berkelahi, dia malah mendekat.

"Aku hanya khawatir kalau kau kehilangan cincinmu."

"Lalu mana cincinku?"

Dan Wanida malah diam saja. Pawut jadi mengira kalau Wanida tetap tak mendapatkan apapun juga terlepas dari aksi nekatnya. Dan itu membuatnya jadi terus mengomel panjang lebar... hingga Wanida membungkamnya dengan menunjukkan cincinnya Pawut yang dia pakai di jari manisnya sendiri walaupun cincin itu kebesaran.

Pawut sontak heboh melepaskan cincin itu dari jarinya sambil protes tidak terima. Bagaimana bisa Wanida memakainya? Cincin itu bukan diperuntukkan untuk Wanida, dia mau melamar pacarnya dengan cincin ini.

"Maaf, aku cuma takut itu hilang."

Tapi Pawut malah terus saja mencurigainya, kali ini dia bahkan curiga kalau Wanida berniat mau mencuri cincinnya ini. Wanida menyangkal, dia membantu Pawut mendapatkan cincin itu karena cincin itu terjatuh karenanya.

"Iya. Gara-gara kau! Kau cuma membuat segalanya jadi semakin buruk! Dasar wanita tidak berguna!" Duh, kejamnya Pawut. Tapi sedetik kemudian, dia akhirnya sadar dan berterima kasih pada Wanida.


Pawut benar-benar antusias menatap cincinnya memikirkan lamarannya yang akan datang... tapi tanpa sadar, pertemuannya dengan Wanida dan senyum manis Wanida mendadak muncul memenuhi pikirannya.

Baru sadar, Pawut cepat-cepat mengenyahkan pikiran itu sambil merutuki Wanida. Dasar wanita tidak sopan, bagaimana bisa dia memakai cincin milik orang lain? Dia langsung membersihkan cincin itu dengan penuh semangat.


Di Hong Kong, Kaekai baru tiba di hotelnya saat resepsionis menyerahkan sebuah amplop besar untuknya, kiriman dari Pawut berupa tiket pesawat ke Singapura (kapal pesiarnya berangkat dari Singapura).

Pawut menelepon saat itu, Kaekai kan bilang kalau dia ada waktu libur dua minggu. Jadi bagaimana kalau mereka bertemu di Singapura lalu naik kapal pesiar dua tiga hari, setelah Kaekai bisa balik ke New York untuk menandatangani kontraknya.

"Bagaimana kalau mereka tidak menerimaku?"

Berusaha menghiburnya, Pawut menyarankannya untuk menganggap perjalanan ini sebagai cara untuk menenangkan dirinya sendiri biar nantinya dia jadi semakin termotivasi dalam pekerjaannya. Kaekai setuju, Pawut pun senang bukan main sampai dia harus berusaha keras untuk menenangkan dirinya biar tidak lebay. Kalau begitu, sampai jumpa besok.

"Pawut, terima kasih kau begitu pengertian dan sangat mendukungku. Aku sangat mencintaimu, Pawut. Cup cup~~~"


Pria yang duduk di sebelahnya Kaekai sontak mendengus geli mendengar pernyataan cinta Kaekai. Kesal, Kaekai bergumam sinis kalau pria itu pasti iri. Mungkin dalam hidup pria itu, tak pernah ada seorang pun yang mencintainya sebesar ini.

Pria itu santai saja menanggapinya dalam bahasa Thai. "Suka suka kau sajalah mau bicara apa saja, asal kau senang."


Kaekai kaget, dia orang Thailand? Pria itu membenarkan. Kesal, Kaekai langsung beranjak pergi. Tapi kemudian dia melewati sebuah tempat pameran yang kontan menarik perhatiannya, pameran seorang pelukis bernama Taya Rogers.

Kaekai langsung antusias selfie dengan poster pameran itu lalu mempostingnya ke media sosial. Pameran itu belum buka, tapi Kaekai nekat menerobos masuk mumpung sedang tidak ada orang.


Dia berniat mau selfi lagi saat pria itu mendadak nyempil di kameranya. Kaekai sontak kesal mengatainya tidak sopan. Ngapain dia menganggu acara foto-fotonya? Apa dia sedang berusaha menarik perhatiannya? Apa dia berniat mengejarnya?

"Aku ingin mengejarmu? Kau berpikir berlebihan. Aku hanya ingin menghentikan kegiatan memotretmu."

"Kau tidak punya hak untuk menghentikanku."

"Kau tidak punya hak untuk masuk kemari. Pameran ini bahkan belum resmi dibuka. Bagaimana bisa kau menyelinap masuk dan mengambil foto."

Kaekai mengklaim kalau dia tamunya Taya sekaligus penggemarnya. Makanya dia punya hak istimewa untuk mengambil foto-foto karya Taya sebelum orang lain.

Pria itu tak percaya, "kau bahkan tidak mengenalnya. Bagaimana mungkin kau penggemarnya?"

"Apa yang membuatmu bicara begitu? Kau tidak tahu apa-apa!"

Tiba-tiba seorang pria lain muncul dan memanggil pria itu, "Khun Taya."

Hah? Dia Taya Rogers? Kaekai kaget. Pria itu pun pamit pada Kaekai, tapi sebelum pergi, izinkan dia memperkenalkan dirinya dulu.

"Aku Taya Rogers. Senang bertemu dengan penggemarku." Ucap Taya lalu pergi. Kaekai jadi malu.


Taya sepertinya sedang mencari keberadaan adiknya yang hilang. Sayangnya, gadis yang dia selidiki, terbukti bukan adiknya. Awalnya dia mengira gadis itu benar-benar adiknya dilihat dari berbagai kesamaan ciri-ciri fisik adiknya, termasuk tanda lahir yang ada di kaki.

Tapi si asisten melapor bahwa setelah mereka menyelidikinya lebih dalam, tanda yang ada di kaki si gadis itu bukan tanda lahir, melainkan bekas luka yang terjadi beberapa tahun yang lalu.

Sedih, tapi Taya pantang menyerah. Dia akan terus mencari adiknya dan dia yakin suatu hari nanti dia pasti akan menemukan adiknya.

"Tapi, Pak, anda sudah berusaha menggunakan berbagai macam cara. Anda bahkan pergi sendiri ke panti asuhan untuk mencarinya dan menyewa seorang penyidik."

"Aku tahu. Tapi aku tidak akan berhenti berusaha. Selain adikku, aku tidak punya siapapun di dunia ini. Aku tak peduli berapa lama."


Kaekai tengah melakukan audisi untuk peran Odette (Swan Lake). Para juri ingin meng-casting-nya untuk peran Odile karena selama ini peran Odette tidak pernah dimainkan oleh ballerina Asia. Jika dia bisa memainkan Odile dengan baik, mungkin dia akan dipertimbangkan untuk peran Odette.

Tapi Kaekai ngotot menolak. Dia tidak mau tanda tangan kontrak kecuali untuk peran Odette. Managernya berusaha membujuknya untuk tanda tangan kontrak saja karena ini kesempatan yang sangat bagus.

Tapi Kaekai keukeuh dengan pendiriannya. Jika dia tidak bisa mendapatkan peran utama, lebih baik dia libur sebulan baru dia akan mendiskusikan kontrak dengan Paris Opera Ballet.


Apichat melapor bahwa segala persiapan di kapal pesiar sudah siap, tapi... apa Pawut yakin tidak mau membawanya juga? Siapa tahu dia bisa bantu apa-apa gitu?

Pawut menolak, dia mau melamar dan bukannya kerja. Lagian dia ingin melakukan segalanya untuk Kaekai sendiri tanpa bantuan siapapun. Apichat cuma perlu menjemput Kaekai di bandara lalu mengantarkannya ke kapal, lalu Apichat balik aja ke Bangkok.

Baiklah. Dia pasti akan mengantarkan Kaekai dengan selamat. Dan dia juga mendoakan semoga lamarannya Pawut sukses dan mereka bisa menikmati 3 hari 2 malam perjalanan cinta yang romantis.


Hari yang ditunggu-tunggu tiba, Wanida dan Thonwat sudah tiba di Marina Bay Singapura. Wanida antusias banget bisa liburan bersama kekasih tercinta. Apalagi Thonwat berjanji akan membuat saat pertama Wanida nanti jadi sangat berkesan. Wanida tersipu malu dibuatnya. Tapi yang tidak Wanida  ketahui, kekasih tercintanya malah melirik cewek lain yang penampilannya lebih s~~si daripada dia.

Apalagi cewek itu juga meliriknya. Thonwat jadi semakin tergoda untuk mengejarnya dan meninggalkan Wanida dengan alasan mau memotret pemandangan dan menyuruh Wanida masuk duluan.

Lama-lama sikapnya jadi semakin kasar, tapi Wanida sama sekali tidak menyadarinya. Bahkan saat Wanida menolak masuk duluan dan bersikeras mau menunggunya, Thonwat langsung mengatainya lemot, makanya dia menyuruh Wanida masuk duluan saja dan bawa koper-koper mereka.

Parahnya lagi, dia tanpa tahu malu minta pinjam kartu kreditnya Wanida dengan alasan dia tidak bawa kartu kredit. Dan Wanida yang polos tanpa ragu menyerahkan kartu kreditnya.


Keluar dari hotel, Kaekai masuk langsung masuk ke sebuah mobil. Tapi kebetulan banget Taya mendadak muncul dan menyerobot masuk ke mobil itu.

Kaekai sontak kesal menariknya keluar, ini mobil yang dia pesan tadi. Bagaimana bisa Taya seenaknya nyerobot mobilnya? Cowok macam apaan dia? Taya pikir dia bisa melakukan apapun hanya karena dia seorang seniman hebat?

"Apa maksudmu? Kenapa kau teriak-teriak padaku? Kaulah yang berusaha menyerobot mobilku."

"Aku yang membookingnya, jadi ini mobilku."

Mereka berdua jadi otot-ototan saling mengklaim mobil itu sebagai milik satu sama lain... sampai saat pegawai hotel muncul dan memberitahu Kaekai bahwa mobil ini memang benar-benar mobil yang di-booking oleh Taya. Mobil pesanannya Kaekai sendiri baru akan tiba 15 menit lagi.

Kaekai tidak terima. Dia kan sudah bilang kalau dia buru-buru ke bandara dan dia juga sudah bilang bahwa mobilnya harus datang 15 menit lebih cepat.


Mendengar itu, Taya akhirnya memutuskan mengalah. Kaekai seharusnya bersyukur karena dia tidak buru-buru, jadi Kaekai boleh ambil mobilnya.

"Makasih," ucap Kaekai dengan gaya angkuhnya lalu masuk mobil.

"Hei, Nona. Apa kau tidak mau memberitahukan namamu? Biar setidaknya aku tahu siapa orang yang merebut mobilku?"

"Kau sendiri yang memberikannya padaku," santai Kaekai lalu menutup mobilnya dan pergi.


Setibanya di kapal pesiar, Pawut langsung disambut oleh manager kapal pesiar itu. Dia hendak diantarkan ke kamarnya saat Wanida mendadak muncul di depannya sehingga mereka bertubrukan lagi hingga kacamatanya Wanida terjatuh.

Dia hampir saja oleng, untung saja Pawut sigap menariknya ke dalam dekapannya. Tapi tak sengaja dalam prosesnya, dia menginjak kacamatanya Wanida sampai remuk dan membuat jarak wajah mereka jadi sangat dekat.

Bersambung ke episode 2

Post a Comment

0 Comments