Sinopsis Memory Lost Season 3 Episode 2 - 2

Sinopsis Memory Lost Season 3 Episode 2 - 2


Han Chen lalu menggambar bulan, gambar orang yang mewakili anggota sindikat, sebuah lampu jalan dan berbagai rumus perhitungan yang rumit. Berdasarkan kalkulasinya, Han Chen memperkirakan video itu direkam sekitar 2 hari yang lalu, jam 3-4 subuh.

Jin Xi kagum melihatnya. "Seandainya kau tidak jadi detektif, kau bisa jadi profesor matematika di universitas."

"Aku hanya akan jadi profesormu."

"Oke. Lalu apa lagi?"


Han Chen menjelaskan lebih lanjut. Tempat lain di video itu tampak gelap dan hanya ada satu penerangan di atas ketiga orang itu. Berdasarkan panjang bayangan dan tinggi L, Han Chen bisa memperkirakan jarak mereka dengan lampu terdekat dan tinggi lampu itu.

Menurut perhitungannya, L seharusnya berjarak sekitar 20m dari lampu terdekat, dan tinggi lampu itu sekitar 15m. Cahaya lampunya putih sehingga tidak meninggalkan pola dan tidak membiaskan bayangan lain.

Jadi Han Chen memperkirakan lampu ini bukan berada di area pemukiman penduduk, melainkan lampu jalan di sebuah jalan yang kosong. Sementara Han Chen berceloteh, Jin Xi senyam-senyum mengagumi kepintaran Han Chen.

Lampu jalan di kota ini sudah diganti dalam dua tipe. Yang satu 8m dan yang satunya 12 cm. Tapi lampu yang ini 15m. Di mana lagi ada lampu setinggi ini jika bukan tiang lampu jalan.

Jika jalan ini berdekatan dengan apartemen, artinya mereka berada sekitar 20m dari sebuah gedung berlantai 5 yang tingginya sekitar 15m dan ada sebuah lampu di atap gedung ini yang menyala sepanjang jalan.

"Kau memang jenius diantara para jenius. Dengan mengikuti deduksimu, kita hanya harus menemukan sebuah lokasi yang sesuai poin itu."

"Penjahat biasanya melakukan kejahatan di area yang femilier bagi mereka. Lokasi dalam video ini pasti di suatu tempat di mana mereka merasa aman."


Selain itu, Han Chen dengar ada 2 suara dalam video ini. Suara pertama adalah suaranya A. Jika mereka menggunakan software analisa suara untuk mengecek voiceprint-nya, maka mereka bisa memperkirakan jaraknya dari gedung terdekat.

Dia juga mendengar ada suara mobil di jalan. Dari situ, mereka bisa memperkirakan jarak mereka berdiri dari jalan raya terdekat.


Selain itu, Han Chen merasa aneh dengan kalimat puisi tentang bintang utara yang terbagi 7 dan menunggu ke 7 bintang untuk berkumpul dan bangkit kembali.

"Xin Jia pernah bilang kalau anggota Sindikat Alfabet aslinya ada 7 orang, jadi Bintang Utara mungkin mewakili grup itu." Duga Jin Xi

Lalu kalimat selanjutnya 'Getaran dalam hati kita akan terangkul, menuntun kita untuk membuka pintu surga yang terkunci'. Han Chen merasa kedua kalimat ini kelihatan seperti sebuah sumpah.

Dan A juga bilang 'Dia belum mendengar puisi ini'. Berarti ada seseorang lainnya yang belum mati. Han Chen jadi teringat kembali akan ucapan Nan Bo sebelum dia mati, 'Hidupku berakhir bertahun-tahun yang lalu, sampai saat aku bertemu dengan dia, hidupku mulai berarti saat itu'.

Siapa yang Nan Bo maksud dengan 'dia'? Saat Nan Bo mengucapkannya, dia terdengar begitu mengagumi orang ini. Kekaguman yang sama juga terdengar dari cara A saat dia membacakan puisinya dan dari cara L menulis puisi ini. Ketiga orang ini mengagumi satu orang yang sama.

"Apa mungkin di Sindikat Alfabet... ada seseorang semacam pemimpin mereka?"


"Dan dia seperti yang digambarkan A dalam puisinya, dia seperti Bintang Utara yang menuntun mereka. Dan sebagai balasannya, mereka bersumpah setia dan mengikuti tuntunannya."

"Bintang utara? Bintang? Star..."

Tiba-tiba mereka punya ide akan siapa pimpinan sindikat itu. "S"


Tim Black Shield lainnya tengah menyelidiki lokasi video itu dibuat berdasarkan deduksi Han Chen. Xiao Zhuan memberitahu yang lain bahwa menurut pengamatan Han Chen video ini direkam sekitar 2 hari yang lalu antara jam 3-4 pagi. Jadi yang perlu mereka lakukan sekarang adalah mengecek rekaman CCTV sekitar jam tersebut.

"Mari kita tangkap para bed*bah itu secepatnya. Kasus di mall itu membuat ketakutan di seluruh kota. Parahnya lagi, para bed*bah itu menggunakan dry ice untuk membuat orang-orang berpikir kalau itu gas beracun. Mereka mempermainkan kita!" Rutuk Lao Dao.

"Kepar*t! Kentara jelas tujuan mereka adalah menantang polisi."

Seorang petugas menemukan rekaman sebuah mobil mencurigakan. Terlihat di video itu, 3 orang Sindikat Alfabet berjalan ke sebuah mobil. Rekaman itu sangat jelas, mereka bahkan bisa melihat nomor platnya.

Kalau begitu mereka cuma perlu melacak nomor plat mobil itu. Tapi Lao Dao berpikir, bagaimana kalau itu nomor plat palsu? Karena itulah dia memerintahkan si petugas untuk melacak nomor plat sekaligus tipe mobil itu juga.


Tak lama kemudian, Cold Face sudah berada di sebuah tempat parkir tempat mobil tipe serupa ditemukan, tapi nomor platnya beda. Lao Dao dan Xiao Zhuan pun menemukan mobil-mobil serupa di parkiran lainnya.

Kecapekan setelah beberapa hari mencari mobil itu tanpa hasil, Lao Dao dan Xiao Zhuan parkir di depan sebuah gedung. Xiao Zhuan keluar ke toilet sementara Lao Dao tidur di dalam mobil.


Xiao Zhuan sedang cuci muka saat tiba-tiba dia merasa ada yang aneh di belakangnya. Saat dia menengadah, dia malah mendapati si A sudah ada di belakangnya dan R langsung menghantam leher belakangnya sampai dia pingsan. Mereka pun segera menyeretnya ke dalam mobil van.


Han Chen baru keluar dari rumah sakit walaupun dia belum pulih sepenuhnya. Tiba-tiba dia terbatuk-batuk. Jin Xi kontan mengomelinya sambil menyodorkan sebotol air untuknya. Tapi Han Chen malah manja minta disuapin.

"Aku baik-baik saja. Kelamaan di rumah sakit itu membosankan. Lagipula, jika kita membiarkan para berandal itu bebas berkeliaran lebih lama, itu akan semakin berbahaya untuk kita."

"Aku mengerti. Semoga kali ini, kita bisa mendapatkan mereka semua."


Cold Face dan rekannya berhenti di suatu tempat untuk istirahat. Tapi tiba-tiba rekannya melihat mobil si pelaku lewat. Mereka sontak bergegas mengejarnya sambil menghubungi rekan yang lain. Han Chen mendengar itu dan kebetulan mereka berada tak jauh dari jalan yang dilewati tersangka.

L dan Cold Face kejar-kejaran dengan kecepatan tinggi berkelok-kelok diantara mobil-mobil. Tapi L dengan lihainya putar arah tepat saat mobil di depannya Cold Face juga mau putar arah, jadilah Cold Face terhalang mobil-mobil itu dan R pun lepas darinya.


Han Chen dan Jin Xi sudah hampir sampai di jalan itu. Tepat saat itu juga, Jin Xi melihat mobilnya R melintas. Mereka pun bergegas mengejarnya.

L mendengus sinis melihat mobil lain yang sedang mengejarnya itu. Berniat mempermainkan mereka, L pun sengaja terus-menerus menghalangi mobilnya Han Chen.


A dan R tiba di tempat janjian mereka untuk bertemu L, tapi L malah belum datang-datang. R jadi kesal, tapi A merasa kalau L mungkin sedang ada masalah mengingat biasanya dia selalu tepat waktu.

Cemas, R langsung buka laptopnya untuk melacak L dan mendapati L ternyata sedang dikejar-kejar oleh polisi. R pun langsung menyuruh A menyetir sementara dia akan membantu L.


L dengan sengaja memasuki area ramai orang. Jin Xi cemas dengan banyaknya orang di jalanan dan mengingatkan Han Chen untuk berhati-hati.

L tiba-tiba melempar uang ke udara yang jelas saja membuat banyak orang langsung berebut uang itu dan menghalangi jalannya Han Chen. Untunglah Han Chen sigap berbelok menghindari mereka dengan kelihaiannya menyetir.


L terus menerus melempar uang ke udara. Tiba-tiba Han Chen punya ide dan langsung menyuruh Jin Xi mengambil alih setir. Dia sendiri langsung mengambil pistol lalu melongok keluar dan langsung menembak tangan L saat dia tengah melempar uangnya. L sontak menjerit kesal dan kesakitan.

"Tembakan yang bagus," puji Jin Xi.

"Karena aku suamimu."


L terus melaju keluar ke jalan raya dengan kecepatan tinggi hingga mengagetkan sebuah mobil yang hendak belok dan akibatnya membuat mobil itu terbalik dan terpelanting cukup jauh.

L ngamuk-ngamuk memberitahu teman-temannya kalau Han Chen menembak tangannya. "Aku harus membunuhnya. Akan kubunuh dia!!!"

A santai mengingatkannya bahwa mereka tidak bisa membunuh Han Chen untuk sementara waktu. L malah semakin marah-marah dan semakin bertekad mau menghabisi Han Chen. A dan R sampai geli sendiri mendengar kemarahannya.

R terus membantunya dengan memandu jalannya dan menyuruh L pergi ke arah barat laut ke jalan Bendera Merah. Dia punya rencana untuk membantu L melarikan diri di sana.


Jin Xi memberitahu rekan-rekan polisi tentang arah larinya L. Tapi suara yang menjawabnya malah bukan Cold Face melainkan R yang sudah meretas sistem komunikasi polisi. Gampang saja baginya melakukan itu, firewall mereka lemah sekali.

"Siapa kau? Apa maumu?" Tuntut Jin Xi

"Kalian menembak temanku, dan membuatku marah."

"Akulah yang menembak temanmu, aku juga akan menangkapnya." Ujar Han Chen lalu menyuruh Jin Xi menutup sambungan mereka.


L menggerutu kesal pada teman-temannya. R menyuruhnya santai saja, mereka pasti akan segera kehilangan jejak L.

R lalu menyuruhnya putar arah. L melakukan perintahnya dan berhenti di sana, menunggu Han Chen.

"Apa yang harus kulakukan sekarang?" Tanya L.

"Jalan lurus kedepan dengan kecepatan 120km/jam dan belok kanan setelah 5 detik."

"Jalan lurus kedepan? Aku akan tabrakan dengannya kalau aku melakukan itu."

"Percaya saja padaku."

L terlebih dulu memperban tangannya lalu pakai kacamata hitam biar kelihatan keren. Han Chen sadar apa yang mau dilakukan L dan langsung menyuruh Jin Xi pegangan erat-erat.


Secara bersamaan, kedua mobil itu mendadak ngebut ke arah satu sama lain. Mereka semakin mendekat dan hampir bertabrakan, tapi L putar ke kanan tepat waktu sementara Han Chen terus melaju lurus. Saat Han Chen memundurkan mobilnya, L sudah tidak kelihatan lagi.


Lepas dari kejaran Han Chen, L pun berhenti di tengah jalan sambil terus merutuki Han Chen dan bersumpah akan membunuhnya. A dan R tiba tak lama kemudian. R pun pindah ke mobil mereka dan mendapati bukan cuma Si Bai, tapi juga Xiao Zhuan yang pingsan di dalam mobil mereka.

"Kalian bahkan berhasil mendapatkan si polisi kecil. Kali ini aku mau melihat, siapa yang akan dipilih Su Mian."

"Permainan ini jadi semakin menarik. Aku sudah tidak sabar."

Mereka lalu pergi, dan mobil yang ditinggalkan L itu langsung meledak.


Han Chen kembali seorang diri ke kantor. Dia memberitahu mereka kalau dia kehilangan L tapi dia berhasil menembak tangannya.

Jin Xi sekarang sedang meminta yang lain untuk menghubungi berbagai rumah sakit yang mungkin mendapatkan pasien dengan luka tembak.

Han Chen berpendapat kalau R lah yang paling sulit ditangani. Dia bukan cuma hacker, tapi juga mengerti pikiran orang. L bisa kabur juga berkat R.


Ngomong-ngomong tentang hacker, Lao Dao baru sadar kalau Xiao Zhuan tidak ada sedari tadi. Apa ada yang melihatnya?

"Bukankah dia bersamamu?"

"Kami bersama pagi tadi. Tapi dia menghilang setelah dia bilang kalau dia mau beli sarapan. Kukira kalian memanggilnya untuk menyuruhnya melakukan sesuatu."

Cold Face tidak pernah melakukan itu, Han Chen juga tidak. Mereka mulai cemas sekarang.

Bersambung ke episode 3

0 komentar

Post a Comment