Sinopsis Drama Cina Hidden Love Episode 15

Episode 15: Pernyataan Cinta, Tarikan Perasaan.

Jia Xu cuma ingin mengeceknya saja sih sebenarnya, tidak ada niatan aneh-aneh. Untungnya alerginya Sang Zhi kali ini tidak begitu parah karena dia cuma minum seteguk. Dulu lebih parah, dia pernah muntah-muntah semalaman gara-gara minum susu?

Hah? Jia Xu jadi ingat kalau dia dulu pernah memberi Sang Zhi sebotol susu, apa Sang Zhi dulu meminumnya? Sang Zhi menyangkal, dia berbohong bahwa susu itu diminum temannya, dan botolnya dibuang, tidak ada gunanya menyimpan botol susu. Pfft!

Jia Xu lega mendengarnya dan menyuruhnya untuk memberitahunya kalau ada apa-apa yang tidak bisa dia minum atau makan. Jia Xu janji akan lebih berhati-hati tentang masalah seperti ini di masa mendatang, tapi dia juga mengingatkan Sang Zhi untuk selalu memeriksa kemasan makanan atau minuman apa pun yang hendak dia konsumsi.


Kalau begitu, sebaiknya Jia Xu antarkan Sang Zhi pulang ke asrama sekarang. Tapi berhubung Sang Zhi terus menerus menyentuh wajahnya padahal itu bisa memperburuk kondisinya, Jia Xu langsung mengunci kedua tangan Sang Zhi lalu menyeretnya dalam posisi seperti itu yang kontan saja membuat Sang Zhi geli, soalnya kelihatannya Jia Xu seperti sedang mengajak gukguk jalan-jalan.

"Benar. Aku sedang mengajak Zhi Zhi, si gukguk kecil yang makan sembarangan."

Sang Zhi penasaran kenapa Jia Xu tadi memperkenalkannya sebagai temannya, padahal dulu Jia Xu selalu memperkenalkannya sebagai Meimei-nya.

"Kau sungguh menganggapku sebagai gege-mu?"

Jia Xu ingin membahas masalah ini lebih jauh, tapi sedetik kemudian dia tiba-tiba ragu dan memutuskan untuk mengurungkan niatnya untuk saat ini dan ganti haluan membahas ultahnya Sang Zhi.

Sebentar lagi ultahnya Sang Zhi, tapi dengan alerginya Sang Zhi, sayang sekali, Jia Xu tidak akan bisa memberinya kue ultah, takutnya Sang Zhi alerginya kambuh gara-gara mentega.

Sang Zhi tercengang mendengarnya, apa itu maksudnya Jia Xu ingin merayakan ultahnya? Tapi ngomong-ngomong tentang ultah, ultahnya Jia Xu juga berdekatan dengan ultahnya. Sang Zhi penasaran bagaimana Jia Xu akan merayakan ultahnya.

"Aku tidak merayakan ulang tahun?"

"Mengapa?"

"Merayakannya sendiri tidak seru." (Aww, poor him)

Begitu Sang Zhi sampai asrama, teman-temannya sontak heboh menanyakan kencannya dengan Lao Gege tadi. Sang Zhi cuma bilang oke.

Ning Wei tidak puas dengan jawabannya dan menuntut lebih detil lagi. Sang Zhi merasa kalau Jia Xu mungkin sedikit menyukainya juga, tapi Jia Xu belum tahu tentang perasaannya kok, dia tidak pernah menampilkan perasaannya.

Ning Wei merasa kalau Sang Zhi senyam-senyum gaje kayak begini, Lao Gege pasti akan mengetahui perasaannya. Karena itulah, Ning Wei menasehati Sang Zhi agar Sang Zhi jangan sampai membuat Lao Gege merasakan perasaan Sang Zhi padanya. Sebagai wanita, Sang Zhi harus menjadi pihak yang dikejar dan bukan sebaliknya.

"Baiklah. Aku akan menunggunya mengejarku. Jika dia tidak mengejarku... aku yang akan mengejarnya." (Pfft!)

Ning Wei nyerah deh, "sia-sia aku menasehatinya."

Hari ultah Sang Zhi pun tiba, mereka akan merayakannya bersama hari ini. Jia Xu sudah menunggu di depan asrama, Sang Zhi pun sudah dandan cantik khusus untuk kencan dengan Jia Xu hari ini dan langsung lari keluar asrama dengan penuh semangat.

Eh tiba-tiba di tengah jalan dia dihadang Jiang Ming lagi. Kali ini Jiang Ming mau memberi Sang Zhi kado ultah. Sang Zhi jadi canggung harus menerima kado itu di hadapan mas crush, apalagi mas crush terang-terangan memperhatikan interaksi mereka itu dengan senyum sinis.

Jiang Ming bahkan ingin merayakan ultahnya, tapi tepat saat itu juga, dia baru melihat Jia Xu. Dia masih mengira kalau Jia Xu adalah kakaknya Sang Zhi, jadi dia menyapa Jia Xu sebagai kakak lalu pamit.


Cemburu, Jia Xu tidak mau membiarkan Sang Zhi memegangi kado dari Jiang Ming, jadi dia langsung mengambilnya dengan alasan membantu membawakannya.

"Dia pria sangat jantan yang kau ceritakan itu?" tanya Jia Xu.


Sang Zhi menyangkal. Oh? Kalau begitu... Jia Xu tiba-tiba menundukkan wajahnya sangat dekat ke Sang Zhi, menoleh kanan-kiri, lalu bertanya...

"Apakah aku mirip dengan pria yang kau ceritakan?" tanya Jia Xu dengan penuh arti.

Sang Zhi jadi bingung mendengar pertanyaan itu. Apa maksudnya? Apa Jia Xu sudah tahu? Tidak! Tidak! Dia tidak boleh mengakuinya. Jika dia mengiyakannya, maka itu artinya sama saja memberitahu Jia Xu bahwa dia diam-diam menyukai Jia Xu selama ini.

Karena itulah, Sang Zhi dengan canggung berbohong menyangkal dan mengklaim bahwa dia sudah tidak berhubungan dengan pria itu lagi. Soalnya Jia Xu kan bilang kalau dia cowok brengsek. Sekarang dia tidak punya orang yang dia suka. Karena itulah, dia meminta Jia Xu untuk tidak membahasnya lagi.

Namun Jia Xu malah terus membahasnya, "kau bilang kalau pria itu seperti AC sentral?" tanya Jia Xu.

"Kapan aku bilang begitu...?"

Ah! Sang Zhi baru sadar kalau dia pasti mengatakannya waktu mabuk. Baiklah, dia akui kalau pria itu memang sedikit mirip AC sentral. Apa Jia Xu tahu apa itu cowok AC sentral?

Cowok AC sentral itu adalah istilah untuk cowok yang baik pada semua wanita tapi tidak punya pacar. Ini bahasa gaul anak muda, Jia Xu kan beda generasi sama dia, jadi Jia Xu mungkin tidak mengerti. 

"Pandai sekali memfitnah orang," gumam Jia Xu.

"Kau bilang apa?"

"Hmm? Memangnya aku barusan bicara?"

"Jelas-jelas kau bicara barusan."


Mereka kemudian menuju ke pusat kota naik bus dan Jia Xu sigap melindunginya dari senggolan para penumpang yang naik-turun. Bahkan saat Sang Zhi tidak punya pegangan, Jia Xu langsung menawarkan lengannya buat pegangan.

Namun Sang Zhi tidak nyaman berpegangan langsung padanya, makanya dia cuma berpegangan dengan mencubit jaketnya Jia Xu. Geli, Jia Xu langsung saja meletakkan tangan Sang Zhi ke lengannya agar bisa berpegangan dengan benar. Sang Zhi jadi tersipu malu karenanya, Jia Xu pun senang.

Sebelum masuk bioskop, Sang Zhi beli minuman lagi. Jia Xu ingin dia beli teh lemon hangat saja karena cuaca mulai dingin sekarang, tapi Sang Zhi ngotot mau es teh lemon.

"Nanti bioskopnya juga akan dingin, suhu AC-nya juga rendah. Nanti minumlah lebih sedikit," omel Jia Xu.

"Kau suka sekali mengaturku."

"Kau menganggapku menyebalkan?"

"Tidak."

"Bukankah itu maksudmu?"

"Tidak."

"Segeralah terbiasa."

Segera terbiasa untuk mendengarkan omelannya lebih sering kalau mereka sudah jadian nanti? Hehe. Sang Zhi bingung apa maksudnya, tapi memutuskan untuk tak menanyakannya.


Benar saja, di dalam bioskop, Sang Zhi kedinginan karena esnya. Apalagi kursinya tidak ada tempat untuk menaruh gelas. Jadilah sekarang dia harus kerepotan menggunakan cardigannya untuk melindungi tangannya dari dinginnya es.

Jia Xu langsung berinisiatif membantu membawakan esnya dan menyodorkannya ke mulut Sang Zhi kalau Sang Zhi mau minum. Namun Sang Zhi jadi salting untuk minum langsung dari tangan Jia Xu, tidak enak juga membiarkan tangan Jia Xu kedinginan, makanya dia langsung mengambilnya kembali. 

"Memang dingin. Kalau begitu, kau bantu hangatkan aku," goda Jia Xu sambil mengulurkan tangannya yang kedinginan.

Sang Zhi jelas canggung dan gugup karenanya, tapi tentu saja dia menolak. Kurang etis jika dia menghangatkan tangan Jia Xu.

Hmm, benar juga sih... "sekarang memang kurang etis. Lagi pula kita juga belum punya status."

Pfft! Sang Zhi hampir tersedak mendengarnya. Status? Apa maksudnya? Tapi Sang Zhi tidak berani mengutarakan kebingungannya itu.

Usai nonton, Jia Xu tiba-tiba mengajak Sang Zhi ke rumahnya, mengaku bahwa kue ultah dan hadiah ultahnya untuk Sang Zhi ada di rumah.

Errr... Sang Zhi jadi bingung, bukankah sebelumnya Jia Xu melarangnya datang ke rumah dan kantornya, kenapa sekarang Jia Xu malah mengajaknya ke rumah?

"Kapan aku bilang begitu?" bingung Jia Xu.

"Saat aku mengantarkan lubang pengintip elektronik, lalu kau menarikku ke samping dan mengatakan agar kelak aku tidak pergi ke rumahmu dan kantormu untuk menemuimu."

Ah, Jia Xu mengerti dan langsung menjelaskan kronologi kejadian waktu itu. Dia panik banget waktu itu, takut Jiang Ying melihat Sang Zhi dan menyakiti Sang Zhi, makanya dia ngomong ke Sang Zhi kurang jelas waktu itu.

Jia Xu mengerti sekarang. Jadi karena ini Sang Zhi selama ini tidak senang? Jia Xu senang, dia minta maaf, dia yang salah, seharusnya dia ngomong dengan jelas waktu itu agar Sang Zhi tidak salah paham.

Sang Zhi jadi malu karena sudah salah paham, tapi senang juga setelah masalah ini jelas. Dia juga minta maaf karena sudah berkecil hati.

Karena kesalahpahaman di antara mereka sudah clear, Sang Zhi pun dengan senang hati pergi ke rumah Jia Xu, dan yang tak disangkanya, Jia Xu sudah menyiapkan sandal pink lucu untuknya. (Pfft! Mempersiapkan segalanya untuk sang calon pacar)

Jia Xu lalu mengajaknya naik ke rooftop dan memberinya kejutan ultah yang indah plus dua buah kue ultah pie lemon. Yang satu bagus, yang satunya agak nggak karuan bentuknya. Kenapa kuenya ada dua?

Karena yang satu adalah buatan Jia Xu sendiri. Dia belajar membuatnya dari mantan bosnya di sebuah bakery. Dia membuatnya dengan susah payah, berulang-ulang kali dia mencoba hingga akhirnya bisa membuat yang bentuknya agak lumayan lah walaupun masih agak nggak karuan.

Kue buatannya ini dia buat khusus tanpa susu agar alerginya Sang Zhi tidak kambuh. Sedangkan yang kue yang dia beli, yang bentuknya lebih bagus, buat tiup lilin saja. 

Namun biarpun bentuknya nggak karuan, Sang Zhi lebih memilih kue buatan Jia Xu untuk tiup lilin. Dia maunya satu lilin saja, tapi Jia Xu tidak setuju, ngeyel bahwa lilinnya harus sembilan belas lilin sesuai umurnya Sang Zhi. Harus mengenali usia sendiri dengan jelas.

"Jia Xu Ge, jika harus mengenal usia sendiri dengan jelas, maka saat kau berulang tahun, maka lilinnya tidak akan cukup." (Pfft!)

"Setiap hari selalu mengatai umurku."

Sang Zhi bahagia sekali hari ini. Ini pertama kali ulang tahunnya dirayakan bersama Jia Xu. Semoga kelak masih akan ada banyak lagi kesempatan seperti ini.

Usai make a wish dan tiup lilin, mereka pun bersama-sama memotong kuenya. Rasanya ternyata enak juga, dan yang tidak Sang Zhi sangka, selain semua ini, Jia Xu masih punya kado ultah juga untuknya, tapi dia melarang Sang Zhi untuk membukanya sekarang, nanti saja kalau sudah balik ke asrama.

Jia Xu penasaran dengan pria yang ngasih kado ultah ke Sang Zhi tadi. Apa pria itu sedang mengejar Sang Zhi? Sepertinya banyak sekali pria yang mengejar Sang Zhi. Sang Zhi mengiyakannya dengan sok angkuh.

Jia Xu ingin tahu apa saja syarat untuk mengejar Sang Zhi. Sang Zhi bingung mendengar pertanyaannya, lagian mana ada syarat untuk mengejarnya. Kalau begitu ganti pertanyaan, apa saja syarat-syarat pria yang Sang Zhi sukai.

Seperti biasanya, Sang Zhi menjawab dengan menyebutkan ciri-cirinya Jia Xu. Bahwa pria itu harus tampan, temperamennya baik, satu kepala lebih tinggi darinya dan punya pandangan sama dengannya. Itu saja.

"Itu saja? Aku merasa, dalam syarat-syarat yang kau sebutkan ini, aku memenuhinya. Jadi aku ingin menanyakan satu hal padamu. Apa aku boleh mengejarmu?"

Sang Zhi tercengang saking kaget dan bingungnya, "itu... itu... Jia Xu Ge, apa maksud kata-katamu ini sama maknanya dengan yang sedang kupikirkan?"

"Memangnya ada makna lain dari kata-kata ini?"

"Tapi bukankah kau berkata kalau aku ini anak kecil dan merasa usiaku masih sangat muda?"

"Itu hanya panggilan saja. Kalau kau suka, setelah usiamu 80 tahun pun, aku masih bisa memanggilmu 'anak kecil'. Lagipula, kau memanggilku 'Gege' setiap hari, apa kau benar-benar menganggapku sebagai kakakmu?"

"Iya, aku menganggapmu sebagai kakakku."

"Tapi aku tidak ingin hanya menjadi kakakmu saja. Aku ingin menjadi pacarmu."

Sang Zhi jadi gugup banget sampai tak tahu harus ngomong apa. Jia Xu pun jadi gugup ingin mendengar jawabannya, ingin tahu apakah Sang Zhi punya perasaan itu terhadapnya.

Sang Zhi tak mau langsung mengiyakannya, gengsi dong. Jadi dia berbohong kalau dia tidak punya perasaan semacam itu ke Jia Xu, tapi... ada tapinya. Mungkin setelah Jia Xu mengejarnya, dia baru akan tahu apakah dia punya perasaan itu atau tidak terhadap Jia Xu.

Pfft! Jia Xu yang hampir patah hati, seketika penuh semangat mendengar Sang Zhi memberinya harapan. Baiklah kalau begitu, jadi butuh waktu berapa lama baginya untuk mengejar Sang Zhi?

"Mana bisa dibocorkan. Rasanya seperti aku sudah pasti akan menerimamu saja."

"Memangnya bisa ditolak?"

"Tentu saja bisa. Aku sangat sulit dikejar."

"Baiklah, aku akan mengejarmu lebih lama saja sampai bertahun-tahun."

Tapi kalau sampai Sang Zhi kenalan sama cowok lain, Jia Xu mengancam akan mendatangi Papa dan Mama Sang untuk mengadukan perbuatan Sang Zhi yang dulu menyuruhnya untuk menemui pak guru dengan pura-pura menjadi kakaknya.

"Itu sudah ratusan tahun lalu, kenapa masih dibahas?"

"Aku senang bernostalgia. Oh ya, aku lupa bilang. Hari ini kau berdandan dengan cantik."

Sang Zhi senang, "aku tahu."

"Kau berpakaian dengan begitu cantik untuk menemuiku, tapi masih berkata kalau kau tidak menyukaiku."

"Memangnya aku tidak boleh berpakaian cantik saat berulang tahun? Memangnya aku berpakaian cantik hanya demi dirimu?"

"Baiklah, aku tahu kau tidak menyukaiku. Namun apa aku tidak boleh berkhayal agar diriku sendiri senang?"

"Kalau begitu tidak perlu dikatakan, kan?"

"Aku ingin mengatakannya agar kau tahu."

Sang Zhi senang. Errr... tapi, kali ini Jia Xu cuma tanya tentang apakah dia boleh mengejarnya atau tidak. Jadi ini bukan penyataan cinta, kan? Jadi dia juga tidak termasuk menolak Jia Xu. Karena itulah, apa boleh dia membawa pulang kuenya?

"Apakah maksudmu barusan, jika aku menyatakan perasaan sekarang, kau akan menerimaku?"

"Tidak."

"Kalau begitu tidak boleh."

Sang Zhi tidak terima. Pelit banget, maksudnya dia tuh, Jia Xu boleh mengejarnya lebih lama, toh dia tidak akan menolak.Oops! Keceplosan. Pfft! Baru sadar sedetik kemudian, Sang Zhi buru-buru menegaskan bahwa Jia Xu harus mengejarnya dulu, baru setelah itu dia akan bisa mengetahui bagaimana perasaannya terhadap Jia Xu.

Oh, baiklah. Tidak masalah kok biarpun Sang Zhi tidak menyukainya, Jia Xu hanya akan mengejarnya lebih lama saja... dan Sang Zhi boleh kok membawa pulang kuenya, dua-duanya juga boleh dia bawa. Kalau Sang Zhi suka, kelak Jia Xu bisa membuatkannya setiap hari untuk Sang Zhi.

Tak lama kemudian, Sang Zhi pulang ke asrama dan teman-temannya juga memberinya kejutan ultah dan langsung penasaran bagaimana kencannya Sang Zhi dengan Lao Gege tadi, dan langsung heboh banget mendengar hubungan mereka akhirnya ada perkembangan.

Bersambung ke episode 16 

Post a Comment

0 Comments