Sinopsis Leh Nangfah Episode 7 - 1

 Sinopsis Leh Nangfah Episode 7 - 1


Karena sudah tidak ada waktu lagi, Beauty ngotot menyuruh Tee mampir ke pom bensin. Dia bergegas masuk toilet tepat saat matahari menghilang dari langit dan dia berubah jadi burung.

Tee jelas heran saat dia menunggu cukup lama, tapi Beauty masih belum keluar juga dari toilet. Dia mencoba menanyakan Beauty pada petugas toilet, tapi yang si petugas temukan cuma seragamnya Beauty.

Tee jadi semakin heran karena dia yakin tak melihat Beauty bawa baju ganti tadi. Dia pakai apa kalau dia mencopot seragamnya ini.

Dia tidak sadar kalau Beauty sudah ada di luar sambil menggerutuinya. "Gara-gara kau, aku jadi harus berubah di toilet lagi! Kotor banget, aku sampai merinding!"

Bingung karena Beauty mendadak menghilang tanpa jejak, Tee mencoba tanya-tanya ke petugas pom. Tapi tentu saja tak ada yang tahu.

Beauty senang-senang saja. "Akan kubiarkan kau mencariku sampai kau lelah. Itu balasan karena kau lambat menyetir tadi."

Tak menemukan Beauty, Tee akhirnya naik kembali ke mobilnya. Beauty sontak panik mengejarnya.


Di pesta, Thana dan Nee memperhatikan Jade terus menerus mengikuti Orn sepanjang acara. Thana jadi cemas, kalau Tee terus begini, dia bisa kalah dari Jade.


Tee mencari Beauty ke rumahnya, tapi Bibi Jan bilang kalau Beauty tidak ada. Ia mengklaim kalau Beauty belakangan sering pulang larut dan berangkat pagi-pagi.

Tee kesal mendengarnya. "Dia bahkan tidak bilang-bilang pergi ke mana dan tiba-tiba saja menghilang."

Dia lalu menyuruh mereka untuk mengambil barang-barangnya Beauty di mobilnya. Nee menelepon saat itu dan menyuruhnya untuk cepat pulang, ada sesuatu yang harus mereka diskusikan.


Tee akhirnya pamit. Tapi saat hendak pergi, dia melihat si burung Beauty bertengger di sana. Tee santai saja mengambilnya lalu membawanya pulang, sama sekali tak menyadari kalau Beauty sedang protes keras tak mau pulang ke rumah Tee. Dia terus ribut bercuit-cuit sepanjang perjalanan, tapi Tee cuek.


Jade masih setia menemani Orn bahkan setelah pesta usai. Orn malas banget sama dia, tapi Papa menyuruhnya untuk berterima kasih ke Jade. Papa bahkan berjanji akan mentraktir Jade makan malam berkat bantuannya sepanjang pesta tadi.

Mami setuju, apa Jade ada waktu minggu depan? Jade menyetujuinya dengan senang hati. Eh, tapi Papa dan Mami harus ke Hong Kong minggu depan. Kalau begitu, Orn saja yang menemani Jade.

Orn jelas menolak. Tapi Papa dan terus saja mendorongnya sampai Orn tidak tahu lagi bagaimana harus menolaknya.


Setibanya di rumah, Nee langsung mengomelin Tee karena dia tidak datang ke pestanya Orn dan mengecewakannya. Thana sengaja mengompori Tee dengan memberitahunya tentang Jade menemani Orn sepanjang acara.

Beauty geli. "Paman, apa kau sengaja membuat Tee cemburu?"

"Kurasa kau harus mencetak lebih banyak poin. Jika tidak, maka orang lain akan punya kesempatan. Ibu tidak mau kehilangan gadis semanis dan sesempurna Nong Orn."

Beauty nyinyir. "Bibi, apa kau yakin kalau gadis yang pura-pura terlihat manis itu manis dan sempurna? Cih!"


Tee heran melihat burung kecilnya itu emosian lagi, dia benar-benar mirip Beauty. Thana menasehati Tee untuk belajar merayu wanita. Apa perlu dia mengajari Tee?

"Baiklah. Baiklah. Aku akan berusaha menjaga Orn dengan lebih baik."

"Kau anak yang sungguh berbakti. Kenapa kau tidak menjadi dirimu sendiri? Membosankan! Iiish!" Kesal Beauty lalu terbang dari tangan Tee.


Setibanya di rumah, Papa langsung mengomeli Orn atas sikap buruknya pada Jade tadi. Orn tidak mengerti kenapa Papa terus saja memaksanya? Papa menyangkal, ia hanya ingin Orn mencoba kencan dengan pria lain.

"Tapi Orn pacaran dengan P'Tee"

"Dan apa dia peduli padamu? Dia bahkan tidak datang ke pestamu."

Orn hampir mewek mendengarnya. Tapi Papa tetap bersikeras biar Tee tahu kalau putri mereka punya banyak pilihan dan dia punya saingan. Pokoknya mulai sekarang, Papa melarang Orn ketemu Tee tanpa sepengetahuannya.


Masih mencemaskan Beauty, Tee menelepon Korn untuk tanya apakah Beauty meneleponnya. Soalnya tadi tiba-tiba saja Beauty menghilang dari toilet pom bensin. Korn rasa, mungkin Beauty pergi bersama temannya.

"Tapi tiba-tiba menghilang seperti ini, jelas tidak benar."

"Terus saja komplain. Sebenarnya kau mencemaskanku, kan?"

Korn mulai cemas mendengarnya. Apa yang harus mereka lakukan kalau Beauty benar-benar menghilang? Kalau memang seperti itu, maka besok Tee akan melaporkannya ke polisi.


Setelah memutus teleponnya, Tee langsung menggerutui Beauty. "Lihatlah masalah yang kau buat. Aku kan sudah bilang padanya untuk mengikuti aturan, tapi dia masih saja memakai syal branded."

"Itu karena pabrikmu banyak debu. Seragam pabrikmu juga membuat gatal-gatal. Makanya aku harus menggunakan syal itu."

Mendengar suara cuitan si burung, Tee langsung menggodanya dengan meniup-niup mata Beauty yang jelas saja membuat Beauty makin kesal.


"Berhentilah marah seperti Beauty. Apa kau Beauty, hah?"

"Iya, aku Beauty."

"Kalau kau Beauty, kau harus tahu kalau memakai parfum mahal itu bisa membuat para karyawan mencurigaimu. Kebiasaan pamer kekayaan, karena itulah orang-orang tidak menyukaimu."

"Aku tidak pamer kekayaan, aku memang kaya."

"Apa kau memprotesku biar aku tidak membicarakan Beauty, hah?"

"Itu karena kau tidak bicara manis padaku seperti saat kau bicara dengan Nong Orn."

"Apa kau marah? Ayo mandi bersamaku."

"Nggak mau! Nggak mau!"

Tee santai saja membawanya ke kamar mandi tanpa mempedulikan cuitan protesnya Beauty. Malu, Beauty sontak terbang keluar dari kamarnya. Tee lucu melihatnya. "Burung juga bisa malu?"


Beauty hinggap di dahan pohon sambil menggerutu, sama sekali tidak merasa bersalah dengan semua aturan yang dia langgar. Dia kan cuma pakai kosmetik, parfum dan memodif seragamnya sedikit.

Dia berbalik, tapi malah mendapati Seua sudah menunggunya di bawah, tampak siap memakannya. Beauty kesal, kenapa sih Seua selalu ingin menggigit dan mencakarnya? Memangnya apa salahnya pada Seua?

"Aku cuma ingin main denganmu, cantik."

Ujung-ujungnya Beauty malah curhat. "Apa salahnya kalau aku cantik dan kaya?"

"Tidak salah. Tapi aku cuma ingin main denganmu."

"Apa kau cemburu padaku? Coba saja kau jadi aku."

Seua mulai bingung dengan arah pembicaraan ini. "Bagaimana bisa menjadi cantik itu buruk?"

"Tidak ada seorangpun di sekelilingku. Mereka semua tidak ada yang tulus. Aku sangat kesepian."

"Aku juga, makanya ayo main sama aku."

"Dan aku dikutuk jadi seperti ini juga."

"Dikutuk? Siapa yang mengutukmu, cantik."

"Penyihir jahat! Dasar penyihir gila! Gila! Gila! Gila!"


Terlepas dari kemarahannya pada Dewi, warna emas di kristalnya sekarang mulai bertambah karena sekarang Beauty sudah mulai memahami situasinya. Dia tidak lagi berpikir kalau dirinya sempurna. Tapi Lalita masih cemas. Apa Beauty bisa berhasil kalau perkembangannya lambat seperti ini?

"Itu tergantung perbuatan baiknya."


Pat dan Kratua menyelinap masuk ke pabrik. Sambil berusaha menghindari CCTV, Kratua diam-diam menyemprotkan tinta ke stok kain.


Beauty terbangun keesokan harinya oleh bunyi telepon. Tee yang menelepon dan dia sudah ada di ruang tamu rumahnya Beauty. Beauty langsung kesal diganggu sepagi ini. Sekarang baru jam 6 pagi, tahu!

"Ke mana kau menghilang semalam? Cepat ganti baju dan turun. Aku menunggu di bawah."

Dia langsung mematikan teleponnya. Huft! Beauty kesal. Tidak terima diperintah-perintag, Beauty memutuskan mengacuhkan perintah Tee dan balik tidur lagi.


Bahkan sampai satu setengah jam kemudian, Beauty masih juga belum turun dari kamarnya. Kesal, Tee menyuruh Bibi Jan untuk menyuruh Beauty turun atau trainingnya berakhir sampai di sini.

"Apa hakmu memerintah orang-orangku?" Beauty akhirnya turun juga. "Dan apa yang kau lakukan di rumahku sepagi ini?"

"Mengantarmu ke tempat kerja."

"Aku bisa pergi sendiri."

"Kau selalu terlambat kalau aku membiarkanmu pergi sendiri."

"Karena itu kau mengawasiku. Kau terobsesi dengan kekuasaanmu."

"Kalau begitu kau tinggal saja di rumah. Tidak usah bekerja."

"Eh, tunggu! Berhenti!"


Tee pikir dengan menekannya, akan bisa membuatnya menyerah? Itu tidak akan terjadi. Baiklah, kalau begitu jika hari ini dia terlambat, maka Tee akan mendenda Beauty satu hari untuk setiap menit keterlambatannya.

"Maksudnya?"

"Kalau kau terlambat satu menit, maka kau harus training satu hari lagi."

"Oh, kalau begitu kenapa kita masih berdiri di sini? Ayo, pergi!"


Tapi Tee belum selesai dan memerintahkan beauty untuk melepas sabuknya yang berumbai itu. Beauty menolak, pakai sabuk kan tidak melanggar aturan. Lagian seragamnya ini longgar.

"Kalau kau memakainya seperti itu, maka itu akan terjepit ke mesin dan tbuhmu akan terpenggal oleh pisau mesin. Perusahaan tidak akan bertanggung jawab, oke?"

Beauty sontak ngeri membayangkan dirinya terbelah jadi dua. Dia tetap menolak mempercayai ucapan Tee, tapi kemudian diam-diam dia melepaskan sabuknya seolah sabuk itu copot sendiri.


Beauty sibuk menulis jurnalnya sepanjang perjalanan ke kantor. Tee sinis menyindir Beauty yang dia kira masih suka pesta malam sehingga baru sempat mengerjakan laporannya sekarang. Tapi ke mana Beauty menghilang semalam? Beauty menolak menjawab, itu urusan pribadinya.

"Tapi kalau kau pergi bersamaku, seharusnya kau bilang ke mana kau pergi dan bukannya membuatku menunggu berjam-jam."

"Itu... ada urusan mendesak."

"Biarpun mendesak, seharusnya kau tetap punya aturan."

"Maksudmu aku tidak punya sopan santun?"

"Memang benar! Cobalah untuk memikirkan orang lain."

Malas membahas masalah ini lebih jauh, Beauty berniat mau turun tepat saat itu juga di tengah jalan raya. Untunglah Tee cepat-cepat menariknya kembali. Tapi berhubung Beauty ngotot tidak mau tumpangannya, Tee menurunkannya di tengah jalan lalu pergi meninggalkannya.

Bersambung ke part 2

1 komentar: