Sinopsis Kleun Cheewit Episode 7 - 1

Sinopsis Kleun Cheewit Episode 7 - 1


Puas melihat Nenek Jan pergi, Khun Ying pun pergi tanpa mempedulikan tangisan Jee. Thit cuma bisa menyaksikan segalanya dengan kebingungan.

Kesedihan Jee dengan cepat berubah menjadi amarah. Dia bergegas masuk kembali ke rumah sakit dan menuntut Suki untuk menyerahkan kunci mobilnya. 

Chaiyan ingin mengatakan sesuatu, tapi Jee tidak ingin mendengarkan apapun dan menyuruh Chaiyan pergi duluan saja. Dia harus pergi mengurus sesuatu.

"Urusan apa?" Cemas Suki

"Mendapatkan seseorang kembali."

 

Jee langsung pergi ke rumah Sitta dan langsung naik ke kamar Khun Ying tanpa mempedulikan cerocosan pelayan setianya Sitta.

Khun Ying kontan cemas melihatnya dan berusaha mendorongnya pergi. Tapi Jee bertahan dan menuntut apa alasan Khun Ying mengusir Nenek Jan?

"Jika aku tidak mengusirnya, apa kau tahu betapa menderitanya kau nanti?"


"Aku tidak pernah malu dengan fakta kalau aku tumbuh di tempat kumuh. Aku tidak pernah malu mengakui pada siapapun bahwa aku dulunya anjing. Justru yang malu kuakui pada siapapun adalah bahwa aku memiliki seorang ibu egois seperti ini!"

"Jee!"

"Aku tidak pernah meminta Ibu untuk menciptakan background palsu itu. Ibu sendiri yang mengatakan dan melakukannya."

"Kau!"

"Jangan membuat alasan kalau Ibu melakukannya demi aku! Ibu sendirilah yang takut orang lain akan mengetahui latar belakang Ibu. Apa Ibu pernah mencintai siapapun? Atau Ibu cuma mencintai diri Ibu sendiri?"

"Kalau aku mencintai diriku sendiri, kenapa juga aku melakukan segala cara untuk melindungimu?! Bukan cuma masalah hari ini, tapi juga kasusmu. Dan kau malah berdiri di sini dan merutukiku!"

Yah, dia memang suka ikut campur. Wajahnya terlalu rapuh, dia tidak mau malu karena memiliki anak narapidana. Karena itulah Khun Ying harus menghalalkan segala cara demi Jee secara cuma-cuma seperti ini.

Jee sinis mendengarnya, apa Khun Ying yakin kalau Sitta membantunya secara cuma-cuma? Tapi baiklah, Khun Ying sangat mencintai suaminya itu, kan? Jee mau tahu bagaimana jadinya dia jika dia kehilangan suaminya itu.

Khun Ying kontan panik mencengkeramnya dan memperingatkannya untuk tidak melakukan hal gila. Sitta tidak mungkin serius dengan seseorang seperti Jee.

"Apa Ibu takut kalau dia akan tergila-gila dan mengangkatku setara dengan statusmu, Bu? Takutlah, Bu. Karena tidak akan ada yang tersisa untuk Ibu miliki, tidak akan ada seorangpun yang tersisa. Sama seperti yang Ibu lakukan padaku hari ini."

Khun Ying panik berusaha mengejar Jee tanpa menyadari Sitta dan si pelayan yang jelas senang mendengarkan perdebatan mereka barusan.

Khun Ying berteriak-teriak memperingatkan Jee untuk tidak menghancurkan hidupnya, tapi Jee sama sekali menolak mendengarnya dan langsung pergi.

 

"Sekarang kau lihat sendirikan kalau putrimulah yang merayuku." Kata Sitta.

Berusaha tetap tenang, Khun Ying berusaha meyakinkan Sitta kalau Jee itu anak nakal yang cuma cari perhatian. Sitta tidak perlu mempedulikannya. 

Sitta jelas tidak mau. Apa Khun Ying takut kalau dia menginginkan putrinya?

"Kau tahu kalau itu tidak mungkin."

"Kenapa tidak mungkin?"

Karena dia sudah banyak berjuang untuk Sitta. Dia berhasil mendapatkan pulau pribadi itu berkat jasa Khun Ying membayar suap untuk Sitta. Tidak ada yang akan memihak Sitta seperti dirinya.

"Apa kau mengancamku?"

"Aku hanya memohon. Aku memohon padamu agar tidak membiarkan siapapun menusukku dari belakang."


"Putrimu bahkan tidak memandangmu. Berani sekali memerintahku!" Kesal Sitta lalu mendorong Khun Ying sampai dia tersungkur ke kaki si pelayan. Puas, si pelayan dengan angkuhnya berjalan melangkahi Khun Ying.


Di suatu tempat, seorang pria tampak sedang mengetik sesuatu. Hmm... dilihat dari berbagai foto-foto dan potongan artikel di dindingnya, sepertinya dia sedang menyelidiki sebuah daerah di tepi pantai.

Tiba-tiba ada preman yang menggedor pintunya dengan kasar. Pria itu sontak panik lalu buru-buru mengambil laptopnya dan kabur lewat jendela. Salah satu preman langsung mengejarnya, sementara preman satu lagi menggeledah rumahnya. Oh! Di mejanya ada fotonya bersama Thit. Kayaknya dia temannya Thit.


Keesokan harinya, pria bernama Way itu mendatangi kantornya Thit dan menunjukkan foto pulau itu. Namanya adalah Pulau Boo dan para warga di sana sedang mengalami masalah sekarang ini.

Ada investor yang membeli setengah lahan pulau itu. Bahkan para warga yang menolak menjual tanah mereka, diusik dan diancam.

"Dan kenapa si investor itu ingin membeli lahan sebanyak itu?" Tanya Thit

Way menjawabnya dengan menunjukkan lebih banyak foto-foto pulau itu dan memberitahu Thit bahwa investor itu mau membangun sebuah proyek dan mengubah pulau itu jadi private resort mewah dan pulau kasino pertama di Thailand.

Mereka itu punya bekingan dan kekuasaan, makanya mereka melakukan hal seperti ini tak peduli biarpun para warga desa berusaha mati-matian melawan mereka.

"Dan siapa bekingan terbesar mereka?"

"Sitta. Kalau kita bisa mengekspos proyek mereka, apa kau mau mengambil kasus ini?"

"Tentu saja. Jika seseorang seperti ini bangkrut, dia tidak akan berani menginjak-injak orang lain lagi."

"Kau memang temanku. Kau orang pertama yang berani mengambil resiko bersamaku. Terima kasih."


Saat Thit mengantarkan Way keluar, mereka berpapasan dengan Jane yang membawakan sarapan dan bajunya Thit yang sudah selesai dicuci. Dia bahkan membelikan obat maag untuk Thit. Duh, perhatian banget.

Thit canggung berterima kasih padanya. Dia lalu ingin menanyakan sesuatu. Tapi belum sempat mengucap apapun, Jane sudah bisa menduga apa yang mau ditanyakannya dan langsung menjawab duluan. Dia sudah berusaha menghubungi Nenek Jan, tapi Pan masih belum membalas teleponnya.

Thita mau bicara lagi membahas schedule, tapi Jane lagi-lagi menyelanya. Dia tahu Thit ada janji dengan klien jam 4 sore nanti, dia akan standby untuk Thit.

"Oke. Aku akan segera kembali." Ujar Thit lalu pergi.


Way geli melihat interaksi mereka. Apa dia pacar barunya Thit? Tapi Thit menyangkal, dia cuma rekan juniornya. Way yakin sekali kalau Jane menyukai Thit, tapi Thit tidak percaya. Astaga! Way heran dengan Thit, apa dia buta sampai tidak bisa melihat kalau Jane suka sama dia?


Dao sedang berusaha menghubungi Jee, tapi tidak diangkat-angkat. Jade datang dari belakangnya saat itu, tapi Dao tidak menyadarinya. Saat Jade mendekat, dia melihat Dao ternyata membaca sebuah novel berseri yang sama seperti novel yang sedang dibacanya.

Dia sengaja menghindar saat Dao berbalik lalu mengejutkannya dari belakang. "Siapa yang kau telepon?"


"Khun Jade. Aku menelepon Jee. Apa kau sudah melihat berita tentang penggemarnya Jee?"

"Tentang pengasuhnya Jee?"

"Iya, tapi ia menghilang. Kurasa ia takut menjadi beban, makanya ia pergi. Jee sangat khawatir, makanya aku mencoba meneleponnya, tapi ia tidak mengangkatnya."

Jade meletakkan kedua novelnya di atas novelnya Dao saat dia duduk dan mengusulkan agar Dao memberikan nomor itu padanya. Siapa tahu jika nomor asing yang menelepon, nenek itu akan menerimanya.

Jika banyak orang yang menelepon, pada akhirnya nenek itu pasti akan mengangkat teleponnya. Dao setuju lalu memberikan nomor telepon Pan padanya. Tapi nasib Jade juga sama, teleponnya juga tidak diangkat-angkat.

 

Tapi dia pantang menyerah dan meyakinkan Dao untuk tidak khawatir, percaya saja padanya. Dia lalu pergi dengan hanya membawa satu novelnya.

Saat Dao mau memanggilnya, ada sebuah pesawat kertas terjatuh dari dalam buku itu. Dan di pesawat kertas itu ada sebuah pesan manis: Aku berharap kita bertemu setiap hari. Dao kontan bahagia membaca pesan itu. Hmm... tapi kayaknya itu pesan untuk Jee deh.


Chaiyan dan timnya sedang melihat-lihat hasil pemotretannya Jee dan Pim. Bahkan hanya dari foto, kebencian antar kedua nang'ek itu benar-benar tampak jelas dan nyata, dan itu benar-benar membuat Chaiyan cemas.

Karena itulah dia memerintahkan anak buahnya untuk memisahkan ruang fitting kedua nang'ek sejauh mungkin saat mereka mulai syuting besok.


Piak tidak setuju. Lebih baik membiarkan kedua nang'ek itu menggunakan satu ruangan yang sama. Tidak baik jika muncul berita bahwa kedua nang'ek mereka bertengkar di belakang kamera.

"Tapi aku ingin berita lebih fokus pada lakorn-nya."

"Kalau begitu, kita tunggu dan lihat saja hasil hari ini."

"Hari ini? Ada apa dengan hari ini?"

"Hari ini Pim dan Jee harus melakukan workshop untuk menyanyikan OST lakorn."

"Bagaimana bisa kau membiarkan kedua orang itu dekat-dekat satu sama lain?!"

"Tidak apa-apa. Mereka tidak akan saling membunuh sebelum syuting lakorn."


Di studio, Jee menyanyi dengan baik dan benar dan Pim dengan pedenya nyanyi asal-asalan. 

Jee sampai geli mendengar nyanyiannya yang nggak banget itu dan Suki langsung ngakak sambil nyinyir, nyanyi macam apaan tuh? Jelek banget. Lihatlah Jee, dia keren banget. Dia menyanyi bak peri embun pagi.

"Kau kasih makan apa artismu itu sampai menyanyi kayak begitu? Memangnya dia menyanyi untuk acara apaan? Aduh, jangan nyanyi lagi deh!"

Jadilah kedua manager ribut sendiri saling membela artis masing-masing sampai si pianis kesal membentak dan mengusir mereka. Terpaksalah kedua manager keluar untuk meneruskan perdebatan mereka tanpa membawa barang-barang mereka.


Kedua artis mulai latihan lagi tepat saat Piak datang. Dia duduk di sana untuk menonton mereka tepat saat dia melihat ponselnya Jee berbunyi.

Mumpung Jee tidak mengetahuinya, Piak diam-diam mendekat untuk melihatnya. Karena teleponnya tidak diangkat, beberapa pesan pun berdatangan. Entah dari siapa, tapi Piak sontak tersenyum licik begitu melihatnya.


Jee baru melihat pesan itu begitu latihannya selesai. Ternyata itu pesan dari Sitta. Belum juga Suki sempat mengambil mobilnya, Sitta mendadak muncul dengan mobil mewahnya untuk menjemput Jee.


Jee cemas awalnya. Tapi kemudian dia melihat mobilnya Khun Ying agak jauh dari sana, jelas-jelas sedang membuntuti Sitta. Jee langsung kesal melihatnya lalu pamit ke Suki.

Suki jelas cemas, tapi Jee meyakinkannya kalau dia bisa menjaga dirinya sendri, Suki tidak usah mencemaskannya. 

Dia lalu masuk mobilnya Sitta, tanpa menyadari Piak yang merekamnya dari kejauhan... Dan tanpa mereka semua sadari, Thit dan Way juga sebenarnya ada di sana untuk membuntuti Sitta.


Saat Pim keluar tak lama kemudian, dia heran kenapa Piak bukannya menjaga si ikan di rumah, malah membuntuti si kucing sampai kemari.

"Aku tidak perlu menjaganya karena si kucing sudah punya target baru." Kata Piak lalu pergi meninggalkan Pim yang penasaran, siapa target barunya Jee?

Bersambung ke part 2

2 komentar: