Sinopsis Put Your Head on My Shoulder Episode 21 - 1

 Sinopsis Put Your Head on My Shoulder Episode 21 - 1

Mo Mo hendak masuk ke salah satu ruang kelas dan langsung kaget melihat sebuket bunga mawar disodorkan oleh seseorang padanya. Mo Mo kontan senang mengira orang itu Wei Yi... tapi ternyata Ah Ke. Mo Mo kecewa.


Ah Ke sendiri kaget, dia kira kalau Meng Lu. Ngapain Mo Mo di sini? Meng Lu mana? Dia kan sudah bilang ke Fu Pei.

"Dia lagi dandan. Fu Pei membawa Shan Shan keliling."

"Yah sudah, pergilah. Suruh Lu Lu membuka pintu."

Lu Lu akhirnya datang dan tak lama kemudian dan kejutan Ah Ke sukses. Mo Mo jadi iri. Mereka lalu foto-foto bersama teman-teman mereka yang lain.

 

Pada saat yang bersamaan, Wei Yi juga foto-foto bersama rekan satu lab-nya. Yu Yin dan Prof Jiang juga memberikan buket bunga masing-masing unatuk Zhou Lei dan Wei Yi.


Tapi saat Yu Yin melihat hasil foto selfie Zhou Lei dan Wei Yi, dia baru menyadari dasinya Wei Yi yang ikatannya tak beraturannya. Siapa yang mengikatkan dasi itu untuknya?

Dia berniat mau memperbaikinya. Tapi tepat saat itu juga, Wei Yi malah melihat Mo Mo datang. Waduh! Mo Mo langsung cemburu. Wei Yi kontan panik menarik dasinya dari tangan Yu Yin, tapi itu malah membuat Yu Yin jadi tak sengaja tertarik nempel ke Wei Yi yang jelas saja membuat Mo Mo jadi makin panas.


Tapi begitu Yu Yin melihat ke arahnya, Mo Mo langsung pasang wajah ramah. Dia bahkan berbaik hati mau membantu memotret mereka saat Prof Jiang memintanya.

Zhou Lei senang akhirnya bisa bertemu Mo Mo. Tapi dia kurang peka terhadap situasi dan santai saja mendorong Wei Yi untuk nempel ke Yu Yin sebelum difoto.


Setelah Mo Mo memotret mereka, Zhou Lei tiba-tiba mengajak Mo Mo selfie bersamanya. Wei Yi keberatan, tapi Mo Mo tak peduli dan langsung saja menyetujuinya.

Cemburu, Wei Yi langsung memaksa ikutan foto bersama mereka tanpa mempedulikan protesnya Zhou Lei.

Mo Mo langsung pamit setelah itu. Wei Yi mau mengejarnya, tapi tiba-tiba saja Mo Mo mendengar Zhou Lei memanggil Wei Yi hanya untuk menyerahkan buket bunga pemberian Yu Yin. Mo Mo jadi tambah kesal mendengarnya.


Melihat Wei Yi bawa bunga, Fu Pei dan yang lain jadi mengira kalau Wei Yi mau ngasih bunga itu ke Mo Mo... Dan Wei Yi dengan santainya menuruti mereka dengan menyodorkan bunga pemberian Yu Yin ke Mo Mo.

Jelas saja Mo Mo ngambek menampik bunga itu dan langsung lari menghindarinya. Wei Yi berusaha mengejarnya dan jadilah mereka kejar-kejaran berputar-putar mengelilingi teman-teman mereka.


Buket bunga itu akhirnya berakhir di tangan Niu Niu saat mereka berfoto bersama sambil lempar topi toga. Tapi Mo Mo masih saja ngambek.


Maka demi menyatukan mereka kembali, Fu Pei dan Shan Shan sengaja mendorong mereka ke salah satu rak perpus dan memaksa mereka untuk pose berdua. Dan lucunya, Wei Yi sengaja menirukan semua posenya Mo Mo... termasuk pose Doraemon melet yang sukses membuat Fu Pei mau muntah.


Kesal, Mo Mo lagi-lagi berusaha melarikan diri sampai ke lapangan. Tapi Wei Yi masih gigih mengejarnya tak peduli biarpun Mo Mo berusaha mengusirnya.

"Jangan ikuti aku!"

"Lapangannya sangat besar, tidak bolehkah aku main sepak bola?"

"Silahkan saja."

"Tidak ada bolanya."

"Tendang saja aku."

"Aku tidak berani."

"Apa yang kau takutkan? Kau kan sudah berani membiarkan orang lain mengikatkan dasi untukmu."

"Aku tidak memperhatikannya. Aku tidak bersalah."

"Benarkah? Sepertinya kau menikmatinya."


Wei Yi malah diam saja yang jelas saja membuat Mo Mo semakin salah paham. Dia mau melarikan diri lagi tapi Wei Yi dengan cepat menangkapnya lalu mendudukkannya ke atas gawang mini. Mo Mo ingin dia bagaimana?

"Mana kutahu. Pikirkan saja sendiri."

Wei Yi langsung saja menci~m bibirnya yang akhirnya sukses meluluhkan hati Mo Mo.


Mereka akhirnya pulang sambil bergandengan tangan seperti biasanya. Mo Mo lapar, tapi berhubung mereka sudah tidak punya uang buat beli makan, bagaimana kalau mereka ikut Fu Pei, katanya dia mau mentraktir mereka loh.

"Tidak mau," tolak Wei Yi.

"Apa kau masih cemburu sama Fu Pei?"

"Seniorku mau mentraktirku."

Jelas saja Mo Mo langsung ngambek lagi dan melepaskan genggaman tangan Wei Yi. Tapi Wei Yi dengan cepat menggenggamnya kembali.

"Jangan pegang aku. Pegang saja tangan seniormu sana!"

Wei Yi geli melihat kecemburuannya. "Ayo pulang, aku akan masakkan bubur."

"Kau tidak bisa masak."

"Kalau begitu, ajari aku."

"Nggak mau. Kau pikir kau hebat dan tahu segalanya, gitu?"


Wei Yi langsung saja menyeretnya pulang tanpa mempedulikan cerocosannya. Akan tetapi... selama beberapa hari kemudian, mereka terus saja makan bubur yang lama-lama membuat Wei Yi eneg tapi terpaksa dia harus menghabiskannya. Hehe.

Tapi saat dia mau cuci piring, Mo Mo malah bingung karena airnya tidak mau keluar. Sepertinya ada masalah dengan pipa airnya, coba cek deh. Tapi Wei Yi malah dengan canggung mengaku kalau dia belum bayar tagihan air, jadi aliran air mereka dihentikan. Pfft!

Tapi jangan khawatir, Prof Jiang sudah berjanji padanya kalau beliau akan memberinya bayaran proyek. Dia akan bayar tagihan airnya nanti kalau sudah mendapatkan uangnya.

Mo Mo menawarkan diri untuk bayar tagihan pakai duitnya, tapi Wei Yi ngotot menolak dengan penuh harga diri.

Parahnya lagi, saat Mo Mo mau menyalakan AC, dia tidak bisa menemukan remote-nya di mana-mana. Wei Yi juga belum bayar listrik soalnya.  Wkwkwk!

"Sumpek di rumah. Jalan-jalan aja, yuk."


Wei Yi akhirnya membawa Mo Mo ke taman dan mengajaknya tanding tenis meja. Kali ini dia lebih percaya diri daripada sebelumnya. Mo Mo nyinyir, apa kali ini dia mau menyalahkan meja dan raketnya lagi? Wei Yi yakin mau tanding lagi? Jangan nyesel loh kalau kalah. Wei Yi langsung saja memberikan bola ke Mo Mo.

"Kau saja yang servis. Kalau aku yang melakukannya, takutnya kau akan meleset." Ejek Mo Mo.

"Tidak usah."

"Kau yakin? Aku Zhang Yi Ning no.2 loh (atlet tenis meja Tiongkok), kau lihat sendiri sebelumnya."

"Cepetan."

Dan Mo Mo langsung saja melakukan servis sebelum Wei Yi siap yang jelas saja membuatnya melewatkan bolanya. Mo Mo jadi makin getol mengejeknya.


Wei Yi kontan kesal dan langsung balas dendam dengan menunjukkan kemampuan terbaiknya. Kali ini, mereka benar-benar bertanding dengan sengit. Tapi Wei Yi berhasil mengungguli Mo Mo sampai akhirnya, Mo Mo sendiri yang menyerah kalah.

Heran dia, bagaimana bisa Wei Yi sehebat ini? Mendadak bisa sendiri lagi kayak skateboard waktu itu? Seperti sebelumnya, Wei Yi tidak mau mengakui kalau dia latihan keras, malah ceramah panjang lebar tentang tenis meja dan hubungannya dengan fisika.

"Iya deh, kau hebat. Aku lapar."

"Ayo pulang dan makan."

"Tidak ada air dan listrik di rumah."

Tapi tepat saat itu juga, Wei Yi akhirnya mendapatkan bayarannya. Akhirnya mereka punya uang. Ayo makan mewah!


Dan makan mewah yang mereka maksud ternyata membeli beberapa jenis mie instan cup. Pfft! Yah, apa boleh buat, Karena tidak bisa cuci piring, terpaksa mereka harus beli mie instan cup biar tidak perlu cuci piring.

Wei Yi malah menggila ingin beli diswasher saja. Beberapa hari lagi, beasiswanya akan cair. Mo Mo tidak setuju. Kenapa Wei Yi selalu ingin membeli segala macam robot?

"Kita kan sudah membeli banyak mie instan cup, nasi, dan acar. Bahkan sekalipun dunia hancur, kita masih bisa bertahan setidaknya selama setengah bulan. Jadi kurasa kita mampu membeli dishwasher sekarang."

"Tidak boleh!"

"Aku sudah lama ingin membeli dishwasher. Lihatlah parameternya. Temperaturnya diatas 70 derajat. Sterilisasinya mencapai 99,99%. Kita tidak akan rugi."

"Lingkaran atau dishwasher. Pilih satu saja." Ancam Mo Mo yang kontan membuat Wei Yi galau. Tak ingin kehilangan Lingkaran kesayangannya, akhirnya dia menyerah deh.

"Anak pintar!"


Ujian penentuan ke Jerman itu akhirnya dimulai, Wei Yi berhasil menyelesaikan ujiannya lebih cepat yang jelas saja membuat Zhou Lei jadi panik.


Pada saat yang bersamaan, Mo Mo sedang mengepaki sisa-sisa barangnya yang ada di asrama bersama dengan Shan Shan. Shan Shan mengaku kalau dia akan tinggal di asrama S2 untuk sementara waktu sebelum kemudian mengirimkan barang-barangnya ke Universitas Utara.

"Kau tidak akan pulang?"

"Fu Pei tidak mengizinkan."

"Kau menurutinya? Terus bagaimana saat kau pindah universitas nantinya? Apa dia akan menangis setiap hari?"

Shan Shan mengaku kalau Fu Pei sebenarnya ingin ikut dengannya, tapi dia melarang. Soalnya Fu Pei kan mau mendirikan perusahaan, jadia lebih baik Fu Pei tetap tinggal di sini.

"Dia mau mendirikan perusahaan?"

"Dia punya bakat bisnis."

"Kau dibutakan oleh cinta."

Kalau begitu, mereka akan LDR dong? Itu buruk, Mo Mo rasa dia tidak akan tahan pacaran jarak jauh kayak begitu. Shan Shan rasa, Mo Mo tidak perlu mengkhawatirkan masalah itu, soalnya dia dan Wei Yi kan tinggal serumah.

Saat tengah memasukkan buku-bukunya, Mo Mo tak sengaja menjatuhkan sebuah amplop... yang didalamnya berisi uang 800 RMB. Mo Mo baru ingat, ini adalah bayarannya waktu dia mengajar bimbel dulu. Dulu dia sengaja menyimpannya biar tidak dia habisin sampai akhirnya dia lupa.

"AKU KAYA~~~!!!"


Wei Yi menghubunginya saat itu dan melapor kalau dia sudah selesai tes dan packing juga. Tapi Mo Mo belum selesai, dia juga masih ingin makan dulu dengan teman-temannya.

"Kalau begitu, santai saja. Aku mau ke lab dulu. Beritahu aku kalau sudah selesai, aku akan menjemputmu."

Tapi kemudian Shan Shan malah mengaku kalau dia tidak bisa ikut makan bersama Mo Mo, Niu Niu dan Lu Lu juga ada urusan masing-masing. Mo Mo kecewa.

Bersambung ke part 2

0 komentar

Post a Comment