Sinopsis Please Feel at Ease Mr. Ling Episode 1 - 1

Gu An Xin sedang mengendarai sepeda motornya melewati tepi pantai sambil bernyanyi riang saat tiba-tiba saja sebuah mobil mewah melaju kencang terlalu dekat dengannya hingga hampir menyerempetnya yang terang saja membuat An Xin kesal.

Tapi mobil itu terus melaju kencang mengabaikannya, membawa penumpangnya yang seorang presdir muda sebuah perusahaan e-commerce, Ling Yue. Masih muda dan tampan, tapi dia bos yang sangat teliti, dingin, dan tanpa ampun.

Dia bahkan menolak kue buatan tangan istri seorang presdir lain hanya karena kue itu tidak ada izin dinkes dan izin-izin dari dinas terkait lainnya.

Bahkan saat seorang pegawai melakukan sedikit saja kesalahan dalam presentasi kerjanya, si pegawai itu langsung dipecat saat itu juga. Karena walaupun itu kesalahan kecil, tapi akibatnya bisa cukup fatal.

An Xin sendiri hanya seorang kurir yang hari itu kebetulan datang ke perusahaannya Ling Yue untuk mengantarkan pesanan bunga. Tepat setelah dia menyerahkan bunganya ke resepsionis dan pergi, Ling Yue baru keluar dari ruang rapat.

Bunga itu ternyata pesanannya Ling Yue untuk mengenang mendiang ibunya. Ling Yue lalu membawa bunga itu masuk lift bersamaan dengan An Xin.

Tiba-tiba TV di lift itu menyiarkan berita tentang kecelakaan yang terjadi di dalam lift yang menyebabkan 3 penumpangnya meninggal dunia. Berita itu kontan memicu ketakutan Ling Yue... hingga dia membayangkan hal mengerikan bahwa lift yang ditumpanginya itu mendadak bermasalah lalu terjun bebas. Untungnya cuma khayalan, dan Ling Yue cepat tersadar dari khayalannya itu.

Kembali ke tempat kerjanya, An Xin masih sibuk luar biasa dengan banyaknya paketan yang menggunung. Dia seorang pekerja keras dan tak keberatan kerja lembur yang penting dapat bayaran.

Ling Yue menyetir sendiri dalam perjalanan menuju ke makam ibunya. Sementara berita di radio melaporkan bahwa malam ini akan terjadi hujan badai, Ling Yue tiba-tiba menyadari ada mobil yang membuntutinya di belakang.

Maka Ling Yue pun dengan sengaja belok arah di persimpangan dan sukses membuat para penguntit itu kehilangan jejaknya. Sepertinya mereka mau menculiknya, mereka bahkan sudah menyiapkan tali tambang dan beberapa tongkat untuk kejahatan mereka itu.

Dan mereka melakukan itu atas perintah Ling Fang, kakaknya Ling Yue. Hmm, sepertinya mereka saudara tiri yang saling memusuhi satu sama lain. Mereka punya adik bungsu bernama Ling Sheng. Tapi berbeda dengan Ling Fang, Ling Sheng sepertinya menyayangi kedua kakaknya, tapi Ling Fang tak suka dengan itu dan mengingatkan Ling Sheng bahwa dialah kakaknya Ling Sheng yang sebenar-benarnya.

Ling Yue melewati jalan pegunungan dan terus menambah kecepatan. Saat akhirnya dia yakin sudah aman dan berniat menekan rem, dia malah baru menyadari bahwa remnya blong. OMG!

Jadilah mobil itu melaju terlalu kencang tak terkendali. Parahnya lagi, tiba-tiba dari arah berlawanan, muncul sebuah bis. Ling Yue sontak banting setir, tapi malah mengakibatkan mobilnya terjun ke laut. Para penguntitnya baru tiba saat itu dan langsung mengabarkan hal itu ke bos mereka.

Hujan mengguyur deras saat akhirnya An Xin selesai bekerja. Tapi dia tetap nekat pulang dengan sepeda motornya, dengan hati-hati menembus hujan... saat tiba-tiba saja Ling Yue muncul di depannya dari jurang.

Kemunculannya begitu tiba-tiba sehingga An Xin terlambat mengerem motornya... hingga dia tak sengaja menabrak Ling Yue sampai dia terpental cukup jauh. Hadeh! Kasihan banget Ling Yue. Dia langsung pingsan gara-gara itu.

Panik, An Xin pun bergegas membawanya ke rumah sakit. Rumah sakit juga sedang ramai waktu itu, jadi perawat meninggalkannya di lorong sebentar untuk mencari dokter.

Saat itulah Ling Yue sadar dan melihat para penguntitnya mencarinya. Ling Yue langsung panik menyeret An Xi mendekat, menjadikannya sebagai penghalang.

Tiba-tiba ada orang lewat dan tak sengaja menyenggol An Xin hingga dia tak sengaja tabrakan bibir sama Ling Yue. Shock, An Xin malah refleks menabok Ling Yue... sampai dia pingsan lagi. Wkwkwk! Dia yang salah, kok Ling Yue yang ditampar.

Sementara itu, ramai orang mendatangi lokasi jatuhnya mobilnya Ling Yue. Berbagai petugas didatangkan untuk mencari korban. Tapi tentu saja mereka tidak menemukan seorang pun. Sekretarisnya Ling Yue benar-benar cemas memikirkan bosnya.

Ling Fang pura-pura khawatir saat dia bergegas pulang mengabarkan hal itu pada ayah mereka. Berita itu kontan membuat Tuan Ling shock hingga jantungnya kumat.

Berita kecelakaan itu ditonton oleh Keluarga Gu yang sepertinya saingan bisnis keluarga Ling. Tuan Gu tampak senang-senang saja dengan insiden itu karena itu artinya, mereka punya kesempatan untuk merebut pasar e-commerce saat Ling Yue absen. Tapi putri mereka, Gu Xin Er, tampak sedih menonton berita itu. Hmm... apa mungkin dia menyukai Ling Yue?

Saat Ling Yue tersadar tak lama kemudian, dia mendapati An Xin menjaganya di sisinya. Kakinya cidera, jadi harus di-gips.

Ling Yue tiba-tiba minta pinjam ponselnya An Xin, dan melihat foto seorang wanita di wallpaper-nya An Xin. Dia tampak tertarik dengan foto itu, tapi dengan cepat dia fokus pada tujuan utamanya... mau menelepon polisi dan melaporkan An Xin, soalnya An Xin yang menabraknya tadi.

Hah? An Xin sontak panik merebut ponselnya dan berusaha memohon padanya untuk menyelesaikan masalah ini dengan jalan damai saja.

"Lalu... siapa aku?" Tanya Ling Yue. (Hah? Dia hilang ingatan? Tapi tadi dia ingat para penguntitnya kok? Dia pura-pura doang yah? Tapi kenapa?)

Ling Yue mengklaim kalau dia hanya ingat An Xin menabraknya, yang lain-lain tidak ingat. Menurut dokter, mungkin hilang ingatannya terjadi karena gegar otak yang disebabkan tabrakan dengan kekuatan luar biasa. Hah? Tabrakan dengan kekuatan luar biasa? An Xin mendadak teringat tabrakan bibir dan tamparannya yang bikin Ling Yue pingsan tadi. (Pfft! Jos amat yah tamparannya sampai bisa bikin orang amnesia) Dia sontak menyesali perbuatannya tadi.

Menurut dokter ini mungkin cuma amnesia sementara, mungkin cuma beberapa hari... atau bisa juga beberapa bulan. Dokter lalu menyuruh An Xin bayar biaya rumah sakitnya dulu.

Tapi biayanya mahal banget 35.981 Yuan, itu termasuk biaya operasi dan rawat inap. Tapi kalau tidak pakai rawat inap, lebih murah setengah harga. Oke! An Xin memutuskan untuk tidak usah rawat inap saja. Pfft! Itu pun sebenarnya, An Xin masih nggak ikhlas melepaskan kartunya. Tapi akhirnya terpaksa dia harus merelakannya.

Dan bahkan setelah dia kehilangan banyak uang gara-gara masalah ini, Ling Yue memburuk situasinya dengan menuntut kompensasi untuk perawat pribadi, ahli gizi dan kamar presidential suite di Hotel Hilton, yang totalnya sebesar 300.00 Yuan.

Buset! Ini kompensasi apa ngerampok. Ling Yue tak peduli, An Xin penuhi permintaannya atau An Xin harus berurusan sama polisi yang pastinya akan membuatnya rugi lebih banyak lagi.

Tapi An Xin benar-benar tidak punya uang sebanyak ini. Uang yang tersisa setelah bayar tagihan rumah sakit, hanya tinggal 1.888 Yuan.

Parahnya lagi, An Xin tiba-tiba ditelepon tuan tanahnya yang menuntutnya bayar uang sewa sekarang juga. Si tuan tanah bahkan tega menaikkan uang sewanya 50 persen.

Tapi terpaksa An Xin menyetujui permintaannya atau dia bakalan kehilangan tempat tinggalnya. Dia mentransferkan 1.000 Yuan pada si tuan tanah saat itu juga sehingga tabungannya sekarang cuma tinggal 888 Yuan.

Dia benar-benar tidak punya uang untuk membayar kompensasi. Tapi Ling Yue tetap tak mau tahu. An Xin punya ide bagus... bagaimana kalau Ling Yue tinggal di rumahnya saja?

Rumahnya lumayan bagus kok, tidak lebih buruk daripada... apa itu namanya... Hotel Hilton. Dia juga bisa jadi perawat pribadinya Ling Yue.

Ling Yue memikirkannya sesaat sebelum akhirnya menyetujuinya. Tapi terlebih dulu dia menuntut An Xin untuk menulis surat hutang yang menyatakan bahwa dia akan menuruti apapun permintaan korban yang ditabraknya, menyediakan tempat tinggal untuknya dan mengurus kehidupan sehari-harinya sampai hutangnya lunas. Deal! Mereka pun menyepakatinya dengan cap jempol masing-masing.

"Bisakah anda dipulangkan sekarang, Tuan Korban?" Tanya An Xin setengah sinis.

Bersambung ke part 2

Post a Comment

0 Comments