Sinopsis You Are My Hero Episode 10 - 2

Sementara itu di rumah sakit, Dokter Kepala Wei dan Dokter Shao mendapati para suster sedang heboh berkumpul di depan TV, melihat liputan siaran langsung penculikan Meiqi tersebut.

Tapi yang paling menarik perhatian mereka adalah Mi Ka yang terekam kamera. Dokter Kepala Wei sampai harus menegur mereka untuk kembali bekerja saja. Toh mereka juga tidak bisa membantu di sini.

Lv Fan khawatir juga dengan asmanya Meiqi yang kambuh. Wen Bo menyadari kekhawatiran Lv Fan itu, membuatnya jadi semakin yakin kalau mereka bisa berdiskusi dengannya dengan cara mengirimkan dokter ke sana.

Tapi Ke Lei tidak bisa membiarkan dokter asli menghadapi Lv Fan, maka dia memerintahkan Li Nian untuk menyamar jadi dokter dan meminta obat asma dari Mi Ka.

Tapi Lv Fan curiga sama Li Nian dan langsung teriak menuntut ganti dokter, harus dokter wanita, tidak boleh dokter pria. Mendengar itu, Mi Ka langsung nekat mau ke sana tanpa persiapan apa-apa.

Tapi Ke Lei sontak menariknya mundur. Menyelamatkan orang adalah tugas polisi, Mi Ka bukan polisi. Bahkan sekalipun resikonya sangat kecil, Ke Lei tidak akan membiarkan Mi Ka pergi ke sana.

"Aku seorang dokter. Ini adalah tanggung jawabku. Jika nyawa Xuan Meiqi terancam karena penyakit asmanya kambuh, misi kalian sama saja gagal."

Benar juga sih. Ke Lei jadi galau. Lv Fan terus menuntut dokter wanita, terpaksalah Ke Lei akhirnya mengalah. Tapi terlebih dulu dia memakaikan rompi anti peluru pada Mi Ka dan memperingatkan Mi Ka untuk segera pergi setelah dia memasang oksigen pada Meiqi nanti.

Ke Lei lalu membantu memakaikan headset ke telinganya Mi Ka, dan tak pelak tindakan simple itu, kontan membuat mereka sama-sama jadi canggung dan gugup.

Ke Lei lalu menyuruh Mi Ka untuk mengatakan sesuatu, apa saja untuk mengetes headset-nya. Mi Ka bingung harus ngomong apa, dan akhirnya satu-satunya yang terpikir olehnya hanya memanggil nama Ke Lei.

Dia benar-benar memanggil Ke Lei dengan nama lengkapnya tanpa embel-embel instruktur atau kapten seperti biasanya. Dan itu kontan membuat Ke Lei langsung menatapnya dengan gugup.

Cepat-cepat menguasai diri, Ke Lei pun berkata. "Selama ada aku, kau akan baik-baik saja."

Dia lalu memakai maskernya... yang kontan saja membuat Mi Ka jadi teringat akan penyelamatnya dulu. Penyelamatnya yang dulu juga mengucap kalimat yang sama.

Tapi sekarang tidak ada waktu untuk memikirkan itu. Ke Lei lalu mengantarkan Mi Ka ke Meiqi. Tapi Lv Fan panik melarang Ke Lei mendekat. Terpaksalah Ke Lei harus melepaskan Mi Ka sendirian di tengah jalan sembari tetap fokus mengamati Lv Fan. Dan saat Mi Ka memakaikan oksigennya ke Meiqi, saat itulah Ke Lei melihat dengan jelas kalau bom itu palsu karena tidak terhubung ke papan induk.

Ke Lei langsung membawa Wen Bo untuk mengendap-endap ke belakang mobil Lv Fan, sementara Mi Ka terus berusaha mengulur waktu dan mengalihkan perhatian Lv Fan.

Dia hampir saja membuat Lv Fan emosi gara-gara ngotot meminta Lv Fan untuk membawa Meiqi ke rumah sakit, tapi kemudian dia beralih mengomentari luka di tangan Lv Fan.

Dan itu sukses membuat Lv Fan lengah sehingga dia menurunkan pisaunya, dan secepat kilat Ke Lei dan Wen Bo memanfaatkan kesempatan itu untuk membekuk Lv Fan dan menyelamatkan Meiqi. Fiuh! Akhirnya selesai, semua orang pun bisa lega.

Para reporter langsung memberitakan tentang Mi Ka dan keberaniannya. Dokter Shao yang tadinya tampak cuek dengan berita itu, ternyata dia menontonnya juga saat sendirian di kantornya dan pastinya perhatian utamanya adalah Mi Ka dan keberaniannya yang membuatnya kagum.

Mi Ka bahkan tidak langsung pergi, dan tetap di sana untuk merawat luka tangannya Ke Lei. Ke Lei sendiri malah lebih fokus dengan banyaknya misscall dari Mi Ka dan itu benar-benar membuatnya senang, mengira Mi Ka mencemaskannya.

Tapi Mi Ka dengan canggung berbohong kalau dia menelepon hanya untuk menanyakan apa yang terjadi, soalnya tadi tiba-tiba dia mendapat panggilan tugas untuk membantu di sini.

"Cuma karena itu saja?" Ke Lei kecewa.

Usai memperban tangannya, Mi Ka tiba-tiba memanggil nama lengkapnya lagi lalu mencoba menutupi setengah wajah Ke Lei. Dia masih ragu-ragu dan ingin memastikan kalau Ke Lei adalah pahlawannya. Tapi bahkan sebelum dia benar-benar yakin, Ke Lei sudah dipanggil anak buahnya. Terpaksa mereka harus berpisah.

Tapi Mi Ka jadi tidak bisa tidur tenang gara-gara itu, dia bahkan sampai memimpikan penyelamatnya dua tahun yang lalu adalah Ke Lei. Mimpi itu kontan membuatnya terbangun dan jadi semakin gelisah.

Dia langsung menelepon Qing Xia dan tanya apa artinya jika memimpikan seseorang. Qing Xia yang masih ngantuk, kepedean mengira Mi Ka memimpikannya, berarti Mi Ka merindukannya.

"Aku memimpikan SWAT dua tahun yang lalu itu wajahnya sama persis dengan Xing Ke Lei. Apa mungkin hari ini aku terlalu gugup sampai memimpikannya?"

Qing Xia langsung tersadar sepenuhnya sekarang. Bukankah yang selalu Mi Ka dambakan selama ini adalah si kakak SWAT yang dulu. Kenapa sekarang tiba-tiba berubah jadi Xing Ke Lei. Jangan-jangan, Mi Ka memang mengharapkan si kakak SWAT itu adalah Ke Lei.

"Aku... aku tidak tahu."

"Jangan coba berbohong. Coba kau pikirkan baik-baik.. Hari ini saat mendengar bahwa dia pergi bertugas, kau sangat cemas, kan? Lalu kau juga ingin sesegera mungkin mengetahui kondisinya?"

"Tapi sesama teman juga bisa khawatir."

"Menurutku kau ini sudah masuk jebakan. Menurutmu, jika misalnya Kapten Xing mengejarmu sekarang, apa yang akan kau lakukan?"

Tapi Mi Ka masih saja ngotot tak mempercayainya, tidak mungkin Ke Lei mengejarnya. Masalah itu, Qing Xia menyarankannya untuk tanya langsung saja sama Ke Lei, cari kesempatan untuk memastikan apakah Ke Lei benar-benar sedang mengejarnya atau tidak.

Berkat tangannya yang terluka, Komandan Hao memberi Ke Lei libur 3 hari. Dan Ke Lei dengan senang hati menyerahkan semua tugas-tugasnya selama 3 hari ke depan pada Wen Bo.

Jadilah Wen Bo yang harus kerepotan menggantikan semua tugas-tugasnya ke Lei, termasuk memimpin pelatihan. Saat dia sedang latihan turun dari gedung, Qing Xia datang lagi untuk mengajaknya makan siang bareng.

Tapi Wen Bo tidak nyaman gara-gara dilihatin rekan-rekannya, maka dia tega menolak ajakan Qing Xia di hadapan semua orang itu dengan alasan kalau dia belum selesai latihan.

Qing Xia kecewa, tapi tidak masalah. Dia rela menunggu sampai Wen Bo selesai. Dia bahkan memanfaatkan kesempatan untuk memotreti latihannya Wen Bo.

Tapi bahkan setelah dia selesai, si keras kepala Wen Bo tetap keukeuh menolak ajakan makan siangnya Qing Xia, bahkan buru-buru menghindar dengan alasan kalau dia ada rapat di tempat lain lalu bergegas pergi. Qing Xia benar-benar kecewa dan sedih sekarang.

Pastinya, waktu libur ini wajib Ke Lei manfaatkan untuk mengejar sang gebetan. Dia rela menunggu sampai Mi Ka selesai kerja lalu dengan gugup mengajak Mi Ka makan bersama dengan alasan sebagai ungkapan terima kasih atas bantuan Mi Ka dalam misi kemarin.

Tapi Mi Ka terpaksa menolak, dia tidak ada waktu makan di luar karena banyak data yang harus dia urus di rumah. Dan Ke Lei sontak ganti haluan mengajak Mi Ka makan bersama di rumah saja. Pfft!

Sementara Ke Lei sibuk sendiri di dapur, Mi Ka di kamar, menelepon Qing Xia saking gugupnya. Soalnya rumah ini kan rumahnya Ke Lei. Bagaimana kalau setelah makan, Ke Lei malah tidak pergi?

Waktu dia menyewa rumah ini, Ke Lei kan cuma melarangnya untuk tidak masuk ke kamarnya. Ke Lei tidak pernah bilang kalau dia tidak akan tinggal di sini. Mereka pria dan wanita cuma berduaan di sini.

"Bukankah itu pas?" Santai Qing Xia.

Hah? Mi Ka kesal mendengarnya. "Pas? Pemikiranmu dan pemikiranku benar-benar sangat berbeda. Menghubungimu itu sia-sia saja."

Tiba-tiba Ke Lei memanggilnya lalu memintanya untuk membantunya memakaikan celemek, dia beralasan tidak bisa melakukannya gara-gara tangannya sakit, padahal bohong banget. Mi Ka dengan polosnya mempercayainya lalu membantu memakaikannya dengan canggung dan malu. 

Karena dia sendiri tidak bisa masak, jadi dia hanya membantu Ke Lei memegangi kembang kolnya saat Ke Lei kesulitan menyianginya dengan satu tangan.

Tiba-tiba Ke Lei mengeluh haus dan minta air. Padahal begitu Mi Ka ke kulkas, Ke Lei buru-buru menggunakan kedua tangannya untuk menyiangi kembang kol itu biar lebih cepat dan langsung pura-pura pakai satu tangan lagi begitu Mi Ka kembali. Hehe, dasar Kapten modus.

Dia bahkan sengaja Mi Ka membiarkan Mi Ka membantu menyuapinya air. Saat Mi Ka menyerahkan tomat padanya, tak sengaja tangan mereka bersentuhan, membuat mereka berdua jadi semakin canggung dan malu.

Semuanya sudah matang, Ke Lei pun mengawali makan malam mereka dengan bersulang campagne dan berterima kasih pada Mi Ka. Karena berkat penilaian Mi Ka yang tepat kemarin, misi mereka berakhir dengan baik. Mi Ka bukan hanya menolongnya, tapi juga menyelamatkan korban.

"Kenapa kau tiba-tiba begitu serius? Aku sangat tidak terbiasa."

"Oh, aku memang orang yang serius membahas masalah serius. Tentu saja harus bicara dengan serius."

"Kalau begitu, aku juga berterima kasih pada Kapten Xing yang rela berkorban. Sebenarnya itu semua kerja keras kalian, aku hanya bekerja sama dengan kalian saja. Kalau tidak ada kalian yang begitu rela berkorban, aku juga tidak akan bisa menyelamatkan Xuan Meiqi dengan aman."

"Sudahlah, tidak usah pura-pura sungkan lagi. Ayo makan."

Mi Ka penasaran, apakah mereka sering menghadapi situasi berbahaya seperti kemarin. Ke Lei mengaku bahwa insiden kemarin itu tidak terlalu berbahaya. Mi Ka penasaran misi apa yang paling meninggalkan kesan paling dalam bagi Ke Lei.

"Yang meninggalkan kesan paling dalam, seharusnya saat aku pertama kali bertugas dalam misi sebagai penembak runduk."

Waktu itu ada kasus perampokan dalam ruangan. Si pelaku sudah menempelken pisau di leher korban waktu itu, tapi situasinya tidak memungkinan untuk melakukan penyergapan.

Jadi hanya bisa dia yang menembak dari jauh. Dan dia harus menembak dari celah terali pintu yang sangat kecil, dan berhasil.

"Waktu itu kau pasti sangat gugup, yah?"

"Sebenarnya saat melakukannya biasa saja. Tapi setelah berakhir, aku lumayan ketakutan juga. Satu tembakan itu sangat mungkin menentukan nyawa seseorang. Kalau bukan nyawa perampok, maka nyawa sandera."

Bersambung ke episode 11

Post a Comment

0 Comments