Sinopsis My Husband in Law Episode 2 - 2

Muey bergegas lari ke kamarnya tapi kamarnya malah terkunci. Teman-temannya Thien sudah masuk lagi. Hadeh! Panik, Muey pun bergegas menyembunyikan diri di balik rak lalu melempar kertas ke Thien untuk diam-diam memberitahunya tentang kunci kamarnya yang berada di sofa.


Thien mau mengambilnya, tapi salah satu temannya tiba-tiba menghempaskan dirinya ke sofa dan menindih kunci itu. Gagal deh. Terpaksalah Thien mengisyaratkan Muey untuk bersembunyi di kamarnya saja.

Thien berhasil membawa teman-temannya untuk menikmati kudapan di teras, sementara Muey menyembunyikan dirinya di kamarnya Thien.

Tiba-tiba salah satu temannya yang bernama Toon sakit perut. Thien menyuruhnya ke toilet dekat dapur. Tapi sedetik kemudian, Beer juga ikutan sakit perut. Mungkin lupa, Thien asal mengarahkan Beer ke arah toilet yang sama dengan Toon.


Tapi tentu saja mereka tidak bisa memakainya secara bersamaan, jadi Beer mau ke toilet yang ada di kamarnya Thien saja. Hadeh, gawat! Thien panik berusaha mencegahnya ke sana. Tapi Beer sudah tidak tahan lagi dan langsung lari ke sana dengan slow motion dramatis.

Thien pun mengejarnya dengan dramatis dan berhasil mencapai pintu duluan dan langsung memberitahu yang di dalam bahwa Beer mau pakai toilet. Muey jadi panik mencari tempat bersembunyi.

Beer sontak mewek sambil memegangi perutnya, Thien ngapain sih? Dia ngomong sama siapa? Dia perlu banget-nget pakai toilet!

"Aku minta izin sama Dewa Bumi."

"Dewa Bumi, bolehkah hamba pakai toilet?! Hamba sudah nggak tahan!" Tangis Beer.


Mungkin merasa sudah aman, Thien akhirnya membuka pintu. Muey tidak tampak ada di sana. Tapi saat Beer hendak ke kamar mandi, dia tak sengaja menginjak ikat rambutnya Muey yang terjatuh. Thien dengan canggung mengklaim kalau ini punyanya ibunya.

"Bukankah ibumu rambutnya pendek? Ah, okelah, itu punya ibumu!" Beer mau masuk toilet, tapi tepat saat itu juga, Thien melihat Muey malah bersembunyi di dalam toilet.

Thien sontak mendorong Beer dan masuk toilet duluan. Beer kesal dan langsung mengancam Thien untuk buka pintu dalam hitungan ketiga atau dia akan buang hajat di luar.

Thien akhirnya membuka pintu setelah menyembunyikan Thien di balik sekat dan menarik Beer ke toilet. Tapi dia ngotot untuk tetap di dalam dengan alasan untuk melindungi Beer biar tidak kena sinar matahari yang menyengat.

Beer jelas tidak nyaman dan berusaha meminta Thien keluar. Tak punya alasan lagi, Thien terpaksa keluar dan membiarkan Muey harus menderita sendirian di dalam, menahan bau busuk menyengat dan suaranya yang menjijikkan.


Dia berusaha bertahan. Tapi tiba-tiba saja ada cicak jatuh ke mukanya, terang saja Muey langsung menjerit heboh sekeras-kerasnya. Dia langsung keluar dari persembunyiannya yang jelas saja membuat Beer ikutan menjerit heboh dan jadilah mereka kontes jejeritan super heboh.


Tak lama kemudian, kedua orang itu disidang sama teman-temannya Thien yang menuntut siapa sebenarnya wanita ini. Thien refleks menjawab bahwa Muey adalah adiknya.

Mereka helas heran karena selama ini mereka tidak tahu kalau Thien punya adik cewek. Dan kenapa pula dia bersembunyi di dalam toilet? Muey mengklaim kalau dia ngantuk dan ketiduran di sana.

"Hah? Siapa yang tidur di dalam toilet? Kenapa kau tidak tidur di sofa?"

Muey buru-buru beranjak bangkit untuk menyiapkan kudapan untuk mereka semua. Tapi para pria itu masih curiga, Muey beneran adiknya Thien atau istrinya?

"Adik!"

"Yakiiiiiiin?"

"Dia adik tersayangnya P'Thien?"


Tapi saat mereka duduk dan makan siang bersama, Nut memperhatikan Thien dan Muey. Dan akhirnya dia meyakini kalau Thien dan Muey adalah kakak-adik kandung soalnya mereka sangat mirip. Toon dan Beer akhirnya ikut percaya juga dan langsung rebutan menggodai Muey, dan Muey dengan ramah mengiyakan saja semua permintaan mereka.

"Dia manis dan baik hati. Pantas saja Thien tidak mau kita di sini. Dia mengkhawatirkan adiknya."

"Iya. Dia tidak ingin kita mengenalnya."

"Licik sekali dia."

"Thien bilang kalau kau interior desainer. Apa itu benar?"

"Sungguh? Apa aku boleh lihat portfolio-mu?"

"Aku masih belajar, aku belum serius."


"Aku takut kau akan menghancurkan perusahaan." Sinis Thien.

Muey jadi canggung mendengarnya. "P'Thien, berhentilah menggodaiku."

"Tidak. Aku serius."
"Bagaimana bisa kau bicara begitu? Yang enak dong kalau ngomong, dia tuh cewek."

"Tunggu, bisakah kalian semua berhenti mengejar adikku?" Kesal Thien. (Hmm... cemburu kah?)

"Memangnya aku melakukan itu? Aku cuma bercanda."

"Apa kalian mau salad ceker ayam? Makan saja dan tutup mulut kalian."

"Terima kasih."

Setelah teman-temannya pergi, Muey mengomentari teman-temannya Thien yang menurutnya lucu-lucu itu. Apa mereka semua sudah punya pacar?

"Apa kau merasa kecewa?"

"Tidak. Mereka bukan tipeku."

"Lalu seperti apa tipemu?"

"Aku suka cowok pintar." Aku Muey sambil menatap Thien. "Pria yang sangat pintar."

"Kenapa?"

"Entahlah. Mungkin karena aku merasa diriku sangat bodoh."

"Betul sekali." Ejek Thien lalu pergi. Muey gregetan.


Keesokan harinya, para pegawai di perusahaannya Muey pindah ke TPC sambil ribut. Seorang wanita tomboy bahkan langsung cerewet mengeluhkan tempat kerja baru mereka yang terlalu sempit itu.

Chat buru-buru menyela untuk memperkenalkan arsitek yang akan menjadi bos baru mereka, yang tak lain tak bukan adalah Thien. Muey langsung panik berusaha menyembunyikan dirinya, tapi tetap saja kelihatan. Thien melotot kaget melihatnya.

Tapi dengan cepat dia mengubah ekspresinya dan memberitahu mereka untuk cepat-cepat membenahi barang-barang mereka lalu meeting dengannya, membicarakan masalah aturan kerja.


Thien langsung pergi, tapi tiba-tiba saja Yada muncul. Thien kaget melihatnya dan langsung menyeretnya keluar, tapi tiba-tiba ayahnya Yada muncul dan menyapanya sok akrab. Dia harus pergi sekarang, tapi mereka akan sering bertemu mulai sekarang.

"Apa maksud ayahmu?" Tanya Thien.

"Aku tidak suka mengaku kalah. Aku akan mendapatkan apapun yang kuinginkan. Dan kaulah yang kuinginkan."

"Kuberitahu kau. Ini akan menjadi kekalahan pertamamu. Kau tidak akan bisa mendapatkanku. Anggap saja masa lalu kita sebagai aku bersimpati padamu."

Tapi ucapan kasarnya malah membuat Yada jadi makin suka padanya dan semakin bertekad untuk mendapatkannya.


Yada dan ayahnya lalu menemui calon klien mereka dan menunjukkan portfolio perusahaan mereka. Tapi para klien mereka itu tampak jelas ragu, mengingat hubungan Yada dengan suaminya yang reputasinya kurang bagus.

Yada tetap tenang menanggapinya dan mengklaim bahwa dia dan ayahnya tidak pernah ambil bagian dalam pekerjaannya Pondet. Dia bahkan berbohong bahwa dia dan Pondet sudah bercerai.


Kung kesal banget usai meeting karena desain perusahaan mereka yang sangat berbeda dari desain perusahaannya Thien ini. Apalagi Thien itu terus menerus memberi perintah ini-itu pada mereka. Thien bahkan menyuruh mereka untuk mengelompokkan dokumen-dokumen Hammock (Perusahaan interior design merema) berdasarkan tahun, tipe, dll. Itu kan bukan tugas mereka sebagai interior desainer.

"Aku menyuruhmu melakukan semua itu adalah supaya kau mencari tahu kenapa performa Hammock semakin memburuk selama beberapa tahun terakhir." Ujar Thien yang mendadak muncul. "Aku perlu melihat hasil dari kalian semua untuk bisa menganalisa dan mencari tahu alasannya."


Sekarang ini mereka bekerja di TPC, jadi mereka harus meningkatkan kinerja mereka. Jadi sebagai supervisor mereka, Thien harus memastikan kualitas kerja mereka karena dialah yang bertanggung jawab terhadap segala tugas. Mengerti?

"Mengerti." Hanya Muey yang menjawab dengan senang hati, membuat semua orang menatapnya dengan keheranan.

Bersambung ke part 3

Post a Comment

2 Comments

Hai, terima kasih atas komentarnya, dan maaf kalau komentarnya tidak langsung muncul ya, karena semua komentar akan dimoderasi demi menghindari spam