Sinopsis The Love by Hypnotic Episode 11 - 2

Sinopsis The Love by Hypnotic Episode 11 - 2

Setelah mendengar cerita Li Qian tentang Hui Xin, Jin Yu dan Zhen menyarankannya untuk mengambil Hui Xin jadi selirnya saja dengan begitu semua orang akan senang. Li Qian tidak mau, dia tidak punya perasaan apapun terhadap Hui Xin.


"Jika kedua pihak harus saling tertarik, entah apakah kau dan aku akan bisa terlahir." Nyinyir Jin Yu.

"Aku tidak peduli dengan orang lain. Aku beda dari orang biasa."

"Kau yang beda dari orang biasa atau Ming Yue yang beda dari orang biasa?"

Dan kali ini Li Qian bahkan tidak membantahnya. Ngomong-ngomong, apa kata Kang Le? Bukannya langsung menjawab pertanyaannya, Jin Yu malah mendadak curhat sendiri tentang Kang Le yang hobi banget membulinya. Tapi kali ini dia bahkan terpaksa menerima siksaan itu demi Li Qian.


Kang Le bilang kalau waktu itu Ming Yue menggumam tentang... bidak catur apalah gitu, terus Ming Yue menghantam barang-barang yang ada di rumahnya seolah barang-barang itu adalah musuhnya. Apa maksudnya sih? Apa Li Qian menang dari Ming Yue saat main catur?

Li Qian langsung terdiam sedih dan merasa bersalah, menyadari kata-katanya telah melukai Ming Yue. Jin Yu jadi tambah penasaran, memangnya dia ngomong apa sama Ming Yue?

"Jika Ming Yue tidak punya perasaan padamu, kenapa dia sesedih itu? Dan jika kau tidak punya perasaan pada Ming Yue, lalu kenapa kau tidak tahu bagaimana harus menghadapinya? Dan kenapa kau menolak Qiao Hui Xin?" Tanya Zhen.


Jin Yu yakin kalau Li Qian sebenarnya sudah punya perasaan pada Ming Yue sejak lama, hanya saja Li Qian tidak mau mengakuinya.

"Ming Yue menciumnya saat dia mabuk," ujar Zhen.

"Apa?!" Jin Yu kaget.

Li Qian kesal, dasar Diwu Cheng si mulut ember itu. Jin Yu antusias banget mendengarnya, Ming Yue ini memang benar-benar luar biasa. Li Qian malah lambat banget dan terlalu banyak ragu-ragu.

"Karena kalian berdua saling mencintai dan sudah menjadi suami-istri, berarti hubungan ini adalah jodoh dari Tuhan. Xiao Qian, jangan mengecewakan Ming Yue. Jangan menyia-nyiakan perasaan kalian."

"Sekarang ini, Ming Yue pasti patah hati karena aku."

"Semakin dalam cintamu, kalian akan semakin tidak seimbang. Semakin baik dia memperlakukanmu, semakin dia mengharapkan balasan. Kesalahpahaman bisa menghalangi pandangan seseorang. Jika kau tidak menjernihkannya, kau akan jatuh ke jurang. Katakan saja perasaanmu yang sebenarnya. Dia pasti akan mengerti."

"Tapi Ming Yue bahkan tak ingin bertemu denganku sekarang ini."

Jin Yu dan Zhen punya ide, rombongan kakak kedua-nya Ming Yue pasti sudah tiba di ibu kota sekarang. MIng Yue kan pasti harus bersikap bak Putri yang baik di hadapan kakak.

Li Qian ambil saja kesempatan ini untuk memperlakukan Ming Yue dengan baik. Melalui sikap dan perbuatan, tunjukkan pada Ming Yue kalau dia bukan sekedar bidak catur bagi Li Qian.

Benar juga, Kaierbi sangat menghargai pernikahan mereka. Kaierbi pasti akan berusaha membujuk Ming Yue. Zhen mengingatkan bahwa Li Qian tidak boleh lagi bersikap terlalu arogan. Dia harus menunjukkan dengan jelas sikap baiknya pada Ming Yue. Pokoknya, jangan mengecewakan perasaan mereka berdua.

"Jangan mengecewakan perasaanku dan Ming Yue... aku akan mencobanya."


Kaierbi tiba di kediaman mereka keesokan harinya. Dia tidak datang sendirian, melainkan dengan membawa seorang pria bernama Yun Si. Hmm, sepertinya dia suka sama Ming Yue.

Kaierbi sebenarnya sudah memperingatkannya akan posisi Ming Yue sekarang. Tapi peringatan itu sama sekali tak digubris. Yun Si langsung saja menarik Ming Yue mendekat lalu memeluknya erat dan tanya apakah Ming Yue merindukannya...tepat di hadapan Li Qian. Dia bahkan tak peduli dengan perubahan nama Ming Yue dan tetap memanggil Ming Yue dengan nama lamanya - Aimaila. Kaierbi sampai tak enak pada Li Qian.

"Kau teman terbaikku, tentu saja aku merindukanmu." Ujar Ming Yue.

Jelas yang dimaksud Yun Si bukan merindukannya sebagai teman, tapi bahkan sebelum dia sempat mengatakan apapun lagi, Kaierbi buru-buru mengalihkan perhatian Ming Yue padanya.

Li Qian penasaran siapa pria ini? Ming Yue dengan senang hati menjawabnya, Yun Si adalah jenderal di Kerajaan Xiyue. Dia tumbuh bersama mereka dan seorang teman yang penting bagi mereka.


Li Qian tampak jelas tak senang, tapi dia tetap menyambut Yun Si dengan ramah. Tapi Yun Si sendiri terus berusaha merebut perhatian Ming Yue secara terang-terangan.

Bahkan saat Li Qian menuntun mereka untuk masuk ke dalam, Yun Si dengan santainya memberikan sebotol arak buatannya sendiri untuk Ming Yue karena dia dengar kalau arak Beixuan pahit.

Ming Yue dengan senang hati menerimanya, arak dari Beixuan memang tidak enak sih. Yun Si dengan senang hati menyatakan akan mengantarkan arak untuknya kalau Ming Yue mau.


Kesal dan cemburu, Li Qian sontak merebut botol arak itu dan mengklaim kalau Ming Yue gampang mabuk. Jadi untuk mencegahnya melakukan tindakan yang tak pantas pasca mabuk, dia tidak boleh lagi minum-minum.

Yun Si dengan kurang ajarnya merebut botol arak itu dari tangan Li Qian dan jadilah kedua pria itu saling unjuk ilmu bela diri memperebutkan botol arak itu... hingga akhirnya botol itu berakhir di tangan Kaierbi yang sontak membentak sikap tidak sopannya Yun Si.

Yun Si mengklaim kalau arak buatannya tidak akan membuat Aimaila mabuk. Bahkan sekalipun Aimaila mabuk, dia ada di sini untuk menjaganya. Kaierbi gregetan banget sama Yun Si sampai dia harus buru-buru menjelaskan pada Li Qian bahwa Yun Si memang orangnya suka blak-blakan, dia bahkan selalu bersikap seperti ini di hadapan Raja Xiyue, mohon Li Qian memakluminya dan memaafkannya.

"Kalau kau tidak mengizinkanku meminum arak ini, aku akan mengembalikannya." Ujar Ming Yue.

Tapi Li Qian malah dengan ketusnya mengklaim kalau dia sudah tidak peduli lagi, terserah Ming Yue mau meminumnya atau tidak.

"Itu kan cuma sedikit arak, kenapa dia marah lagi?" Sebal Ming Yue.


Que Yan penasaran, apa sebenarnya hubungan pria itu dengan Putri? Apa mungkin mereka...? Cheng sontak menegurnya untuk diam. Mereka bisa mendapat masalah kalau Pangeran sampai mendengarnya.

"Betul. Putri dan Yun Si cuma teman baik. Tapi... seandainya Putri tidak datang kemari untuk menikah, mungkin... aku cuma bilang mungkin... dia akan menikah dengan Yunsi. Tapi kalian jangan bilang-bilang ke yang lain loh!"


Sementara Li Qian dan Kaierbi saling bersulang, Ming Yue asyik makan dengan lahap tanpa menyadari tatapan Yun Si yang penuh cinta padanya. Ming Yue ingin ikut minum, tapi Li Qian dengan cepat mencegahnya.

Kesal melihat itu, Yun Si dengan sengaja mengajak Ming Yue minum. Ming Yue dengan senang hati menerimanya, tapi Li Qian dengan cepat merebut gelasnya Ming Yue. Sekali lagi mengklaim kalau Ming Yue tidak bisa minum, jadi biar dia yang mewakili Ming Yue bersulang.

Jadilah kedua pria itu minum sambil saling melempar tatapan sengit pada satu sama lain, ketegangan kedua pria itu terasa begitu nyata, sementara Ming Yue cuma merengut sebal.

Yun Si terus saja cari masalah dan tanya apakah Li Qian takut jika Ming Yue minum dengannya, hati Ming Yue akan terbang kembali ke Xi Yue?

"Aku tahu di mana hati Putri berada," santai Li Qian. "Kau tidak perlu repot memikirkannya, lagipula kau tidak punya kemampuan untuk memikirkan hal itu."


Kesal, Yun Si langsung menantangnya untuk berkompetisi. Jelas saja Kaierbi jadi tambah kesal padanya dan sontak membentaknya untuk jaga sikap.

Li Qian dengan sengaja sok mesra pada Ming Yue dengan menawarinya anggur dan sukses membuat Yun Si makin cemburu. Stres menghadapi situasi ini, Kaierbi buru-buru menyatakan dirinya agak kurang enak badan, mungkin karena capek setelah perjalanan jauh. Jadi dia mohon pamit untuknya dan Yun Si juga.


Tapi Ming Yue sengaja ingin menghindari Li Qian, maka dia beralasan untuk membawa mereka keliling rumah. Bukan cuma arak, Yun Si juga membawakan jajanan khas Xiyue yang biasanya Ming Yue sukai. Ming Yue jelas senang.

Yun Si meminta Ming Yue untuk mengajak mereka jalan-jalan nanti, dan Ming Yue langsung menyetujuinya dengan senang hati. Karena Yun Si sudah memberikan hadiahnya, Kaierbi dengan cepat mendorong Yun Si pergi ke tempat peristirahatan mereka dengan alasan bahwa mereka harus istirahat sekarang.


Tapi setelah kedua pria itu pergi, Ming Yue heran melihat wajah khawatir Tan Li, ada apa dengannya? Tan Li cemas akan Li Qian, apa Putri tidak melihat wajah cemberutnya Pangeran? Dia rasa Pangeran cemburu dengan hubungan Ming Yue dan Yun Si.

"Dia? Cemburu karena aku? Tidak mungkin. Kurasa itu cuma karena Yun Si tidak sopan padanya. Li Qian selalu peduli dengan reputasinya dan mudah marah. Lagipula... kenapa juga dia cemburu karena sebuah bidak catur?"


Que Yan menyerahkan sebuah pedang pada Li Qian, pedang itu dikirim dari tempat peristirahatan dengan disertai sebuah pesan verbal dari Yun Si. Dia bilang bahwa pedang ini adalah pusaka yang baru dia dapatkan baru-baru ini. Ini adalah hadiah yang dia siapkan khusus untuk Li Qian. Besok dia ingin datang dan mendiskusikan masalah bela diri dengan Li Qian.

Tapi Li Qian tahu betul maksud Yun Si memberikan pedang itu adalah untuk menantangnya duel. Tiba-tiba dia mengayunkan pedang itu hingga sukses menebas sebatang lilin dan membuat Que Yan hampir saja jantungan saking kagetnya.

"Aku pasti akan menunggunya datang besok!"


Keesokan harinya, para pelayan dan para pengawal lagi-lagi heboh terbagi ke dalam dua kubuh untuk bertaruh. Kubunya Tan Li bertaruh untuk Yun Si pastinya, sedangkan kubunya Cheng bertaruh untuk Li Qian. Kali ini Que Yan yakin akan kemampuan Li Qian, jadi dia bertaruh untuk Li Qian.

Ming Yue mendadak muncul dan ikut bertaruh... untuk kedua pihak. Dia bahkan bertaruh dengan jumlah besar untuk kedua-duanya. Dia menolak memilih salah satu soalnya dengan begini, siapapun yang menang, dia juga akan memenangkan semua uang taruhan ini. Maka dimulailah duel kedua pria itu, sementara yang lain menonton dengan tegang.

Bersambung ke episode 12

1 komentar: