Sinopsis The Love by Hypnotic Episode 6 - 2

Sinopsis The Love by Hypnotic Episode 6 - 2

Malam harinya, Ming Yue ngemil sambil merenung kesal memikirkan sikap Li Qian padanya tadi siang. Padahal dia sudah janji akan membantu Li Qian memulihkan ingatannya, sekarang Li Qian malah menuduhnya biang onar.



"Kalau kau berani macam-macam denganku lagi, akan kuberi kau pelajaran."

Dia mendadak ingat ketapelnya dan langsung menggunakan aprikot keringnya untuk bermain dengan ketapel itu dan sukses mengenai sebuah guci, tapi alangkah kagetnya dia saat melihat Li Qian ada di sana, berdiri sangat dekat dengan guci yang barusan dia tembak itu.

Ming Yue sontak panik menjelaskan kalau dia tidak sengaja. Tapi alih-alih marah, Li Qian berjalan linglung ke ranjangnya lalu mulai mengemili jajanannya.

Kayaknya dia berjalan dalam tidur, tapi Ming Yue tidak tahu itu dan terus berusaha membela diri dan meyakinkan Li Qian kalau dia sungguh tidak sengaja tadi.


Dia bahkan langsung membuktikan kehebatannya bermain ketapel biar Li Qian percaya. Dia menyasar ke suatu arah, tapi tiba-tiba saja Li Qian menepuk bahunya yang kontan mengagetkan Ming Yue... hingga dia tidak sengaja berputar tepat saat dia melepaskan ketapelnya sehingga aprikotnya menghantam kepala Li Qian dengan cukup keras sampai dia pingsan.

Ming Yue ketakutan, "Pangeran, apa kau baik-baik saja?"

Dan seketika itu pula, Li Qian mendadak bangkit dengan dahi benjol sambil menatap Ming Yue dengan marah. Dia lalu mendekati Ming Yue sambil menjulurkan jari telunjuknya yang kontan membuat Ming Yue makin ketakutan.

Tapi Li Qian ternyata cuma mengusap hidungnya dengan gemas. "Nakal," ucapnya sebelum kemudian dia keluar. Ming Yue bingung, ada apa dengannya?


Keesokan harinya, kedua temannya heran melihat dahinya benjol. Li Qian benar-benar tidak ingat bagaimana ceritanya dahinya bisa jadi seperti itu, mungkin Ming Yue main-main dengannya lagi.

"Mungkin Ming Yue menyelinap masuk ke kamarmu tengah malam dan mempermainkanmu." Goda Zhen.

"Kenapa kau memanggilnya seakrab itu?" Protes Li Qian tak senang (Hmm... cemburu yah?) "Li Ming Yue itu orang yang kasar, kau harus jauh-jauh darinya, jangan biasakan dia memengaruhimu."

"Kau suka Li Ming Yue sekarang?" Jin Yu curiga.

Li Qian canggung menyangkal. Tapi tentu saja kedua temannya tak ada yang percaya, orang luar bisa melihat dengan lebih jelas daripada diri sendiri. Biarpun Li Qian menyangkal keras, tapi buktinya konkret dan tak terbantahkan.

"Apa buktinya?" Tantang Li Qian.

"Kau bicara pada kami, tapi di tiap-tiap kalimat selalu melibatkan Li Ming Yue. Ini adalah tanda pertama menyukai seseorang, selalu membicarakan orang yang disukai."


Li Qian beralasan kalau dia cuma merasa kesal karena Ming Yue tuh orang yang tidak tahu aturan. Tak mempercayai pembelaan dirinya, Zhen mengomentari sikap Li Qian yang kemarin begitu marah pada Ming Yue saat Kang Le dan Ming Yue mengejar Jin Yu kemarin, padahal Ming Yue bahkan tidak membuat masalah apapun. Dan juga, tadi Li Qian mendadak marah saat dia memanggil nama Ming Yue dengan akrab.

"Itu adalah tanda kedua menyukai seseorang, yaitu cem-bu-ru."

Li Qian ngotot menyangkal, dia cuma mencemaskan Zhen. Dia takut Zhen mendapat pengaruh buruk dari Ming Yue. Jin Yu geli mendengarnya, jangan terlalu heboh menjelaskan. Tanda terakhir dari menyukai seseorang adalah melindungi orang yang dia sukai tanpa mementingkan diri sendiri.



Li Qian jadi tambah heboh menyangkal keras, dia bahkan menyatakan kalau dia akan mengabaikan Ming Yue mulai sekarang. Dia tidak akan peduli apapun yang terkait dengan Ming Yue, dia takkan peduli biarpun Ming Yue dekat dengan Zhen, dia bahkan tak peduli biarpun Ming Yue berada dalam bahaya.

Tapi selama dia sibuk mengoceh heboh sendiri, dia malah mendapati kedua temannya sedang menatap ke arah lain. Heran, dia mengikuti arah pandangan mereka dan mendapati Ming Yue sedang main ketapel... yang secara insting membuatnya ngeri sendiri sambil memegangi benjolannya.


Li Xun diberitahu pengawalnya bahwa proyek pengalihkan sungai Xuanhe resmi diberikan pada Li Qian. Dan juga, mata-mata mereka di istana melapor bahwa belakangan ini Diwu Cheng sering datang ke istana, sepertinya dia sedang menyelidiki kebakaran di istana yang terjadi 13 tahun silam.

Tapi dia meyakinkan bahwa semua orang tutup mulut. Li Xun jadi cemas, sepertinya Li Qian mengetahui sesuatu. Dia curiga kalau itu ada hubungannya dengan gelangnya Ming Yue.

"Sekarang kita harus menyingkirkan segala petunjuk." Perintah Li Xun.

"Baik. Dan juga, ada pesan dari Jenderal Fang yang mengatakan bahwa para pemberontak akan berkumpul secara diam-diam di Gunung Baiyun besok."

Mendengar itu, Li Xun mendadak punya ide bagus dan memerintahkan si Pengawal untuk mengirimkan surat ke kediamannya Li Qian besok.


Bertekad membuktikan dirinya tak punya perasaan pada Ming Yue, Li Qian dengan sengaja menyuruh para pelayannya untuk tidak menyebut-nyebut Putri. Kalaupun terpaksa, mereka batuk saja. Dia bahkan mengancam akan memotong gaji mereka kalau mereka ketahuan menyebut-nyebut Putri.

Jadilah para pelayan batuk-batuk setiap kali harus menyebut Ming Yue. Bahkan saat tak sengaja berpapasan dengan Ming Yue pun, mereka menyapanya dengan batuk-batuk yang jelas saja membuat Ming Yue heran, mengira orang-orang seluruh rumah sedang sakit flu.

"Kalau kalian sakit, kembalilah ke kamar kalian dan istirahat. Jangan terlalu memaksakan diri."

"Terima kasih *uhuk-uhuk* atas perhatian anda," ucap para pelayan itu canggung.

Ming Yue lama-lama merasa kalau mereka batuk-batuk hanya setiap kali bertemu dengannya. Jangan-jangan Li Qian menyuruh semua orang di rumah untuk mengabaikannya? Awas kau, Li Qian!


Dia mau mendatangi kamarnya Li Qian saat tiba-tiba Zhen muncul dan Ming Yue langsung menyapanya dengan akrab. Li Qian mendengar dan melihat pemandangan itu dari kamarnya dan sontak penasaran tapi pura-pura cuek. Zhen penasaran kenapa wajah Ming Yue tampak buruk.

"Li Qian menyita ketapelku dan menyuruh semua orang di rumah untuk mengabaikanku. Setiap kali semua orang melihatku, mereka selalu menghindar. Setiap kali menyebutku, mereka selalu batuk-batuk. Memangnya aku ini pembawa sial apa?!"

"Kebetulan sekali aku datang membawakan teman yang sama sepertimu, kesepian." Ujar Zhen sambil menunjukkan layang-layang yang dibawanya.


Ming Yue senang, layang-layang ini kan cuma ada di Persia. Dia langsung mengajak Zhen main bersamanya dan Zhen setuju dengan senang hati, sengaja banget dia mau buat Li Qian cemburu, apalagi dia memperhatikan Li Qian jelas-jelas sedang melirik mereka dari dalam kamarnya.

Li Qian pura-pura cuek, malah Cheng yang heboh sendiri melihat kedua orang itu main dengan begitu gembira seperti sepasang kekasih yang sedang kencan. Layang-layang pemberian Zhen itu memang unik, makanya *uhuk-uhuk* tampak bahagia sekali.

"Cuma anak kecil yang main layangan dan berisik cuma gara-gara layangan. Menyia-nyiakan waktu sepanjang hari, sungguh konyol." Nyinyir Li Qian.

Tapi waktu Cheng usul agar mereka menutup pintu dan jendela saja biar Li Qian tidak terganggu, Li Qian sontak menolak keras dengan alasan tidak mau menghalangi udara segar masuk cuma gara-gara keberisikan di luar.


Saking asyiknya main layangan, Ming Yue hampir saja terjatuh kalau saja Zhen tidak sigap menangkapnya dalam dekapannya. Cheng jadi tambah heboh melihat pemandangan itu.

Tiba-tiba layangannya Ming Yue tersangkut di pohon sakura. Ming Yue langsung nekat memanjat pohon itu. Cheng jadi semakin panik tapi bingung bagaimana harus memberitahukannya pada Li Qian, apalagi Li Qian pura-pura cuek terus sedari tadi.

Li Qian lama-lama kesal mendengar ocehan Cheng. Dan saat itulah dia akhirnya mau menoleh keluar dan sontak cemas luar biasa melihat Ming Yue memanjat pohon.

Tepat saat itu juga, Ming Yue tiba-tiba kehilangan keseimbangan dan terjatuh tepat dalam dekapan Zhen. Li Qian sontak heboh memisahkan mereka sambil mengulurkan telunjuknya ke Zhen dengan penuh emosi.


Tapi sedetik kemudian dia sadar dan langsung mengalihkan jari telunjuknya ke Ming Yue lalu menautkan jari-jarinya dengan jari-jarinya Zhen seolah dia tidak terima sahabat karibnya direbut Ming Yue.

"Zhen adalah sahabat karibku, bukan sahabatmu. Kalau kau berani dekat-dekat dengan Zhen lagi, akan kuhukum kau!"

Dia langsung menyeret Zhen pergi bersamanya sambil tetap gandengan tangan mesra yang jelas saja membuat Ming Yue jadi salah paham, mengira kedua pria itu jeruk makan jeruk. Iiih, ngeri!


Zhen geli melihat reaksi Li Qian. Dia tahu kalau Li Qian peduli padanya, tapi tak disangka ternyata kepeduliannya sampai sejauh itu. Li Qian kesal, Zhen benar-benar hebat dalam membuat masalah makin runyam.

"Tidak seharusnya kau marah pada Ming Yue gara-gara aku. Lagipula dia tidak tahu kalau kau punya niatan itu."

"Zhen, cukup!"

"Kau menolak mengaku kalah. Jadi bagaimana bisa aku berhenti?"

"Tidak masuk akal! Kenapa juga aku harus membuktikannya padamu kalau aku tidak menyukai Ming Yue?"

"Kalau tidak ada alasan untuk membuktikannya, lalu kenapa kau berusaha membuktikannya dengan menggunakan seluruh rumah? Kau berusaha membuktikannya padaku atau pada dirimu sendiri?"

"Kau!" Li Qian jadi tambah kesal dan langsung pergi mengabaikannya.


Malam harinya, Li Qian mendadak bangkit dari tidurnya. Kali ini dia tidak pergi ke kamarnya Ming Yue, tapi main layangan mengelilingi kamar dengan gembira kayak anak kecil. Pfft!


Sementara itu, Ming Yue bermimpi aneh. Dalam mimpinya, Li Qian memberinya sebuah surat. Ming Yue hampir saja senang mengira itu surat cinta, tapi yang tak disangkanya, ternyata itu surat cerai.

Li Qian mengaku kalau hatinya milik orang lain, makanya dia tidak bisa memenuhi pernikahan kontrak mereka. Dia bahkan langsung mengusir Ming Yue saat itu juga dan menyuruhnya kembali pulang ke Xiyue.

"Kenapa begitu tiba-tiba? Siapa orang itu?!" Ming Yue tidak terima.

Li Qian langsung pergi mengabaikannya. Penasaran, Ming Yue pun mengikutinya hingga tiba di sebuah taman dan langsung tercengang melihat Li Qian sedang bermain ayunan bersama seseorang berambut panjang dan tampak sangat bahagia. Hmm, siapakah orang itu?

Bersambung ke episode 7

2 komentar: