Sinopsis U-Prince: The Handsome Cowboy Episode 3 - 2

Sinopsis U-Prince: The Handsome Cowboy Episode 3 - 2

 

Keesokan harinya, Prikkang menemani Key jalan-jalan. Awalnya Key memang memotreti tanah pertanian itu, tapi pada akhirnya dia mengalihkan kameranya untuk memotret Prikkang. Mereka saling bercanda tawa dan bermain ayunan bersama dengan gembira sampai lupa waktu.


Sementara itu, Sibtis sekeluarga dan Pitta sedang sarapan bersama. Bibi cemas karena Prikkang belum datang juga. Dia meminta Sibtis untuk pergi mencari Prikkang dan mengajaknya sarapan. Tapi Sibtis ternyata sudah melakukan itu tadi tapi Prikkang tidak ada di kamarnya.


Pitta mengecek IG-nya dan mendapati update-an dari Key yang mengupload gambarnya Prikkang. Sibtis langsung cemburu saat Pitta memperlihatkan gambar itu padanya dan Bibi Moo menggerutu mengkritiki Prikkang yang bukannya kerja malah asyik kencan dengan pria.


Prikkang dan Key akhirnya kembali tak lama kemudian. Sibtis langsung bertanya kemana saja mereka. Key menjelaskan kalau tadi dia mengajak Prikkang jalan-jalan untuk memotret sekitar tempat ini yang mana foto-fotonya nanti akan digunakan untuk mempromosikan tempat ini.

Tapi saking cemburunya, Sibtis menolak mempercayai alasan itu dan menuduh Prikkang menggunakan alasan itu untuk bisa bermain di luar dan menghindari pekerjannya di dapur. Prikkang berusaha membela diri dan mengingatkan Sibtis bahwa sekarang ini belum waktunya jam kerjanya di mulai.

Tapi Sibtis tetap tidak mau terima alasan apapun. Parahnya lagi, dia bahkan menuduh Prikkang keganjenan.

Tidak terima, Prikkang menekankan kalau dia dan Key sama sekali tidak melakukan hal yang aneh-aneh. Tapi Sibtis tetap tak percaya, memangnya apa yang harus dia pikirkan melihat Prikkang pergi berduaan dengan Key.


Bibi langsung membentak Sibtis dan baru saat itulah Sibtis akhirnya diam. Bibi meyakinkan Prikkang bahwa dia mempercayai Prikkang, dia yakin Prikkang dengan ucapannya bahwa dia dan Key tidak melakukan hal-hal yang tak pantas.

Bibi hanya mengingatkan Prikkang untuk lebih berhati-hati mulai sekarang, tidak baik bagi pria dan wanita berduaan di tempat sepi.

Apalagi mereka tengah berada di desa yang notabene lebih introvert dalam menghadapi masalah seperti ini daripada di kota. Para pekerja bisa saja salah paham dengan sikap Prikkang ini.


Pitta dengan sengaja menyindir Prikkang dan berkata kalau para pekerja di tempat ini tuh biang gosip dan Prikkang sukses jadi buah bibir mereka walaupun dia belum lama tinggal di sini.

Key menyudahi perdebatan mereka dengan membela Prikkang dan mengakui bahwa semua ini adalah kesalahannya sendiri. Prikkang pun meminta maaf pada Paman dan Bibi dan berjanji akan lebih hati-hati lain kali.


Setelah sarapan, Prikkang bekerja di dapur dan memasak makan siang. Kali ini dia belajar membuat telur dadar. Tapi memecahkan kulit telur saja dia heboh sendiri dan hasil gorengannya gosong.

Jelas dia yang salah karena tidak bisa masak tapi dia menyalahkan kompor gasnya dan menuduh si kompor menyala terlalu besar sampai membuat telurnya gosong.

"Hentikan omong kosongmu itu" omel Bibi Moo "Kau itu cuma peduli ingin memenangkan sesuatu tapi tidak tahu bagaimana caranya."

Kedua koki yang lain juga ikut-ikutan mengejeknya dan menuduhnya mau merayu bos mereka dan sekarang dia punya gebetan cowok baru.

Hed/Ped berusaha membela Prikkang tapi semua orang malah jadi berdebat sengit. Dan semua perdebatan mereka membuat Prikkang jadi stres dan sedih. Tak tahan lagi, Prikkang langsung pergi.


Hed/Ped membawa pergi telur dadarnya Prikkang sambil menggerutui para koki-koki bermulut jahat itu. Tapi mereka lapar dan berhubung telur dadar itu tidak layak makan, akhirnya mereka memutuskan untuk makan mie instan.

Mereka sepakat untuk merahasiakan ini dari Prikkang agar dia tidak menangis, tapi tepat saat itu juga Prikkang lewat dan menghampiri mereka.

Panik, mereka cepat-cepat makan omelet gosong itu sambil nyerocos kalau telur dadar gosong itu sangat lezat dinikmati dengan mie instan.

Prikkang aneh sendiri melihat mereka "Kalian tidak perlu memakannya. Aku minta maaf karena aku sangat tak berguna. Jangan dimakan."

Mereka akhirnya berhenti makan telur gosong itu. Ped curiga apa yang dilakukan Prikkang didalam kamarnya tadi, apa dia menangis tadi.

Prikkang menyangkalnya dengan canggung dan beralasan kalau dia masuk kamar cuma untuk mengambil sesuatu saja.

Dia mengklaim kalau dia adalah wanita kuat dan tidak akan menangis hanya karena masalah kecil. Hed pun menyemangatinya untuk tidak bersedih hanya karena para penggosip itu.

Ped bahkan menyemangati Prikkang untuk melawan balik jika dia dijahati dan mengajari Prikkang mengucapkan kata-kata umpatan yang sukses membuat Prikkang bisa tersenyum lagi.


Prikkang akhirnya kembali ke dapur dengan semangat baru. Bibi Moo sama sekali tak senang dengan kedatangannya lalu menyuruh Prikkang untuk mengambilkan panci sup dari atas kompor.

Prikkang berusaha mengambilnya dengan hati-hati tapi salah satu koki malah sengaja menyenggolnya sampai Prikkang menjatuhkan panci sup itu dan menumpahkan isinya.

Bibi Moo langsung marah besar menyalahnya Prikkang dan mengusirnya dari dapur. Prikkang akhirnya keluar dengan sedih.


Dia duduk di luar di tempat penyimpanan bawang bombay dan memutuskan untuk melampiaskan kesedihannya dengan mengiris bawang itu sampai air matanya mengalir karena sedih juga karena bawangnya sambil mengingat kembali semua kecerobohannya dan kata-kata kasar semua orang padanya.


Tiba-tiba jarinya teriris sampai berdarah. Sibtis datang tepat saat itu juga dan langsung menyeret Prikkang untuk mengobati lukanya tapi dia melakukannya dengan sikap yang kasar sambil mengomeli Prikkang.


"Kau belum seminggu di sini tapi kau sudah punya banyak luka. Ini cuma luka kecil, kenapa kau harus menangis?"

"Tapi tidak menangis. Mataku cuma pedas kena bawang"

"Lalu kenapa kau malah mengiris jarimu dan bukannya mengiris bawangnya? Oh, kau mungkin lagi melamunkan seorang pria?"

Prikkang tersinggung mendengarnya, tak menyangka Sibtis tega berpikir seperti itu tentangnya. Sibtis dengan kesal menuduh Prikkang sekarang jadi tidak konsen dengan pekerjaannya sejak Key datang padahal awalnya Prikkang cukup rajin bekerja. Jadi dia memperingatkan Prikkang untuk belajar memisahkan pekerjaan dari kehidupan peribadinya.

Prikkang langsung membela diri dan menekankan bahwa dia tahu betul apa tujuannya berada di tempat ini dan dia tidak pernah mencampur adukkan pekerjaannya dengan kehidupan pribadinya. Sibtis terus bersikeras mengkritiki Prikkang dan menuduh ucapan dan sikap Prikkang saling bertolak belakang.


Kesal dengan kritikan Sibtis, Prikkang langsung balas mengkritik sikap Sibtis sendiri, termasuk sikap Sibtis pada pacarnya yang sudah susah payah jauh-jauh datang kemari demi Sibtis tapi Sibtis malah mengacuhkannya.

Apa dia bersikap seperti karena dia takut kalau orang-orang akan menilainya buruk. Sibtis bersikeras kalau dia dan Pitta tidak punya hubungan spesial, tapi tentu saja Prikkang tak percaya.

Sibtis yakin kalau Prikkang marah-marah karena dia cemburu pada Pitta. Prikkang menyangkal, dia cuma pekerja di tempat ini jadi dia tidak punya hak untuk cemburu. Dia mengingatkan untuk tidak mengganggunya lagi mulai sekarang agar orang lain tidak berpikiran buruk tentang mereka.

Prikkang ingin pergi tapi Sibtis menariknya kembali dengan kasar dan menolak melepaskannya saat Prikkang menyatakan kalau dia mau pergi ke seseorang yang bisa membuatnya merasa nyaman.

"Bersikaplah profesional. Kau harus bisa memisahkan pekerjaan dari kehidupan pribadimu" ujar Prikkang mengingatkan Sibtis akan ucapannya sendiri karena jelas saat ini dia tengah melanggar ucapannya sendiri.


Sibtis akhirnya melepaskan Prikkang yang langsung melarikan diri darinya. Prikkang menangis sepanjang jalan tapi langsung berhenti dan memalingkan muka untuk menyembunyikan air matanya saat berpapasan dengan seorang pekerja di tengah jalan.

Key datang tak lama kemudian dan melihatnya menangis. Dia mengerti kalau Prikkang tidak mau orang lain melihatnya menangis jadi dia menawarkan sapu tangannya untuk Prikkang gunakan menutupi wajahnya lalu dengan lembut menuntun Prikkang kembali ke kamarnya.


Prikkang terus menangis sambil menutupi wajahnya dengan sapu tangan sampai mereka akhirnya tiba kembali di kamarnya Prikkang. Key sengaja membelakangi Prikkang dan meminta maaf karena telah membuat Prikkang berada dalam situasi yang sulit.

"Ini bukan karenamu. Aku hanya belum bisa membuat orang-orang mempercayaiku"

"Jika kau ingin memenangkan hati orang-orang, maka kau harus melakukannya dengan hatimu. Apa kau masih ingin terus berjuang? Berjuanglah."


Malam harinya, Prikkang menelepon ayahnya dan mengeluh manja ingin pulang. Dia mengeluhkan tindakan semua orang yang mengejeknya habis-habisan bahkan menuduhnya cewek ganjen.

Tapi Ayah tak percaya dan yakin sekali kalau orang-orang itu mengoloknya pasti karena Prikkang membuat ulah. Prikkang memberitahu Ayah kalau semua itu cuma kesalahpahaman saja tapi masalah utamanya adalah dia tidak bisa melakukan apapun dengan benar di tempat ini.

"Lalu apa yang ingin kau lakukan? Apa kau mau melarikan diri begitu saja seperti pengecut atau kau mau terus berjuang? Pilih!"

Terprovokasi, Prikkang akhirnya memilih untuk terus berjuang, dia tidak mau kalah.


Sementara itu, Sibtis sedang berdiskusi tentang ide pamerannya bersama Paman. Sibtis mempresentasikan ide-ide barunya tapi Paman tidak menyetujuinya karena menurut Paman, ide-idenya Sibtis terlalu modern.

Terlebih karena produk-produk yang akan mereka jual nantinya adalah produk lama, mereka sama sekali tak punya produk baru jadi tema idenya Sibtis ini tidak akan cocok dengan produk yang akan mereka jual.

Paman mengingatkan Sibtis untuk mencari ide yang lebih kretif. Sebentar lagi Sibtis akan lulus dan saat itu dia harus menggantikan ayah dan ibunya mengelola tanah pertanian ini.

"Kami menaruh harapan sangat besar padamu. Kau harus melakukan yang terbaik dalam proyek ini. Kau harus bisa membuatku percaya padamu. Jika kau bisa melakukannya maka aku yakin orang lain pun akan mempercayaimu"


Stres, Sibtis keluar ke kamar Prikkang. Tapi saat dia hendak mengetuk pintu, dia teringat dengan pertengkaran mereka tadi. Dia akhirnya membatalkan niatnya dan memutuskan untuk berdiam diri di sana sembari mengenang kenangan indahnya bersama Prikkang di tempat ini.

Tanpa dia sadari, Prikkang sebenarnya sedang gelisah di dalam kamarnya, dia terus menerus menatap jendelanya yang tertutup dan mengingat saat-saat Sibtis menggodanya dari luar jendela.


Keesokan harinya, para koki penggosip itu senang karena mereka yakin kalau Prikkang tidak akan berani datang lagi setelah diusir Bibi Moo.

Tapi yang tak mereka sangka, Prikkang tiba-tiba datang tak lama kemudian dan menyatakan kalau dia berniat ingin terus berlatih sampai dia bisa memasak dengan benar. Bibi Moo dengan ketus berusaha mengusirnya lagi dan menyuruhnya belajar di tempat lain saja.

Tapi Prikkang menolak pergi sambil terus berusaha membujuk Bibi Moo. "Tidak ada tempat lain yang lebih baik daripada tempat ini dimana aku bisa membuat orang-orang Wimarndin kenyang dengan makanan enak. Maafkan aku jika aku banyak melakukan kesalahan di masa lalu. Aku janji aku akan lebih fokus dan berusaha melakukan yang terbaik"

Prikkang bahkan menyatakan bahwa Bibi Moo boleh mengomelinya semaunya. Mendengar itu, Bibi Moo tak segan mengumpati Prikkang dan mengkritik pedas Prikkang yang menurutnya cuma punya wajah cantik tapi tak punya otak. Puas ngomel, Bibi Moo menyuruh Prikkang untuk mengupas wortel.


Sibtis diam-diam memperhatikannya dari luar, senang melihat Prikkang mau berjuang lagi. Karena Prikkang tidak menyerah begitu saja, Sibtis pun jadi bersemangat lagi dan memutuskan kalau dia sendiri juga tidak boleh menyerah begitu saja.


Sementara Sibtis merevisi laporan proyeknya, Prikkang bekerja keras di dapur dibawah pengawasan ketat Bibi Moo sampai akhirnya Bibi Moo menyetujui rasa masakannya.


Tak lama kemudian, semua orang berkumpul di meja makan dan Bibi Moo menyajikan kare buatan Prikkang. Paman mencoba mencicipinya dan langsung memuji rasanya. Bibi pun senang dengan perkembangan Prikkang.


Pitta memperhatikan Sibtis tampak tidak nafsu makan. Paman memberitahu semua orang kalau Sibtis memang sedang stres karena sedang menangani proyek besar tapi ide-idenya sejauh ini tidak ada yang bagus. Bibi jadi cemas karena deadlinenya besok.

Sibtis berusaha meyakinkan ayahnya bahwa dia akan menyelesaikannya hari ini tapi Paman pesimis.


Malam harinya, Prikkang mencemaskan Sibtis. Dia ingin mengsmsnya tapi pada akhirnya dia membatalkannya karena dia pikir kalau Sibtis mungkin masih sibuk saat ini. Tapi tak lama kemudian, Sibtis mengetuk pintunya. Prikkang jadi semakin cemas melihat wajah sedih Sibtis.

Sibtis langsung menarik Prikkang dalam pelukannya. Dia mengaku bahwa dia sudah berusaha tapi tetap saja dia gagal. Prikkang berusaha menghiburnya dengan membalas pelukannya dan menepuk-nepuk punggungnya.

Bersambung ke episode 4

Post a Comment

0 Comments