Sinopsis My Girlfriend is an Alien Episode 6 - 1

Sinopsis My Girlfriend is an Alien Episode 6 - 1

Nyonya Chai cepat-cept menyela kedua orang yang sedang bersitatap dengan sengit itu dan memberikan semua bonekanya pada Leng. Leng lalu memberikan semua boneka itu untuk Jiang Xue.


Jiang Xue heran, "kau beda dari Fang Leng yang pernah kukenal."

Tapi Leng sedang tidak mood mendengarkan ucapannya dan langsung pamit duluan, nanti akan dia suruh asistennya mengantarkan Jiang Xue.


Tapi sesampainya di rumah, dia malah kedatangan tamu tak diundang yang tak lain adalah Ibu Tiri. Dia datang untuk mencari Lie yang dia pikir tinggal di sini tapi Leng memberitahu kalau Lie punya tempat tinggalnya sendiri dan punya urusan yang harus Lie selesaikan sendiri.

"Tidak kusangka kalau kalian dua bersaudara ternyata mirip."

"Kami mirip?"

Sama-sama keras kepala dan tidak mendengarkan omongan orang tua. Sama seperti  dulu saat Leng keras kepala tidak menyetujui perceraian orang tuanya. Kalau saja ibunya tidak menyelamatkannya dari kecelakaan itu.


Tapi mendengar ibunya disebut-sebut sontak membuat Kepala Leng sakit hebat, teringat masa kelamnya saat dia menyaksikan sendiri kematian ibunya di tengah hujan badai. Dan Ibu Tiri tampak benar-benar cemas melihat kondisinya seperti itu. Untung saja Asisten Han muncul saat itu dan cepat-cepat mengusir Ibu Tiri secara halus.


Asisten Han cemas, sepertinya kondisi Leng semakin memburuk dan mencoba menyarankannya untuk mengikauaatai saran Dokter Zhang untuk menghubungi Xiao Qi.

Tapi Leng bersikeras bahwa kondisinya ini adalah karena mendiang ibunya sedang menghukumnya dan tidak usah menyebut Xiao Qi lagi, Xiao Qi tidak akan bisa membantunya.

"Dia pasti bisa. Dia satu-satunya yang bisa membantu menyembuhkan anda."

Malas mendengarkannya lagi, Leng dengan cepat mengalihkan topik mengingatkan Asisten Han bahwa yang harus mereka utamakan saat ini adalah mengurus masalahnya Lie. Besok hari terakhir, semoga saja Lie tidak mengecewakan dirinya sendiri.


Lie sedang melukis tanpa lelah sepanjang malam. Xiao Qi datang keesokan harinya untuk mengantarkan sarapan. Tapi Lie sedang tidak bisa diganggu, lukisannya belum sempurna, jadi Xiao Qi belum boleh lihat. Xiao Qi bantu dia jaga pintu saja, jangan biarkan siapapun masuk.

Bahkan saat ponselnya berbunyi dari Leng, dia langsung menyerahkan ponselnya ke Xiao Qi. Dia memperingatkan Xiao Qi untuk tidak mengangkat teleponnya biar Leng tenang.

Tapi untung saja kali ini Xiao Qi tidak mendengarkan perintahnya dan diam-diam mengangkat telepon itu. Leng memberitahu Xiao Qi bahwa Tuan Filner mengubah jadwal penerbangannya lebih cepat, jadi suruh Lie untuk pergi ke bandara secepatnya.

"Lukisannya sebentar lagi akan selesai, bagaimana kalau aku pergi mengulur waktunya?"

Sudah terlambat! Tak peduli seberapa banyak yang dia lukis, pokoknya suruh saja Lie ke bandara bawa lukisannya. Leng sekarang sedang dalam perjalanan ke bandara. Xiao Qi tidak setuju, Leng jemput Lie aja, biar Xiao Qi yang mengulur waktunya Tuan Filner.

 

Xiao Qi langsung pergi saat itu juga dan berusaha mengejar mobilnya Tuan Filner pakai sepedanya, tapi gagal terus.

Pada saat yang bersamaan, Lie akhirnya menyelesikan lukisannya. Dia mau menunjukkannya pada Xiao Qi tapi saking fokusnya melukis tadi, dia sampai tidak sadar kalau Xiao Qi sudah pergi. Dan tepat saat itu juga, Leng terburu-buru datang untuk menjemputnya.

Tak punya pilihan lain, terpaksalah Xiao Qi akhirnya harus memakai kekuatan supernya untuk menghentikan waktu lalu memindahkan posisi kaki si supir lalu mengatur posisi di depan mobilnya Tuan Filner seolah dia Tuan Filner mau menabraknya.


Dan begitu waktu berjalan kembali, si supir mengerem dadakan saking kagetnya melihat Xiao Qi yang mendadak muncul di hadapannya. Leng dan Lie berhasil menyusul saat itu dan sontak keduanya lari mencemaskan Xiao Qi alih-alih mempedulikan bisnis dengan Tuan Filner.

Tuan Filner mau memanggil ambulance... tepat saat Leng dan Lie tiba-tiba melihat Xiao Qi kedip-kedip mata ngasih kode. Xaio Qi seketika bangun, pura-pura lemah tapi mengklaim dirinya baik-baik saja lalu menyuruh Lie untuk segera menyelesaikan urusannya dengan Tuan Filner.

Tuan Filner benar-benar mencemaskan Xiao Qi, maka Lie pun menjelaskan alasan Xiao Qi melakukan ini adalah demi memberinya kesempatan untuk menunjukkan karyanya pada Tuan Filner.

 

"Ini adalah karya saya, judulnya 'Tuan Omong Kosong'." Ujar Lie lalu menunjukkan lukisannya yang tak lain adalah lukisan wajah Leng. "Seseorang yang menghargaimu, peduli padamu, dan membantumu. Bahkan sekalipun dia adalah Tuan Omong Kosong, maka dia akan dilihat oleh orang lain."


Sementara Lie mempresentasikan karyanya, Xiao Qi dengan penuh tekad berkata bahwa jika kali ini Lie gagal, maka dia akan melakukan segala cara untuk mencegah Tuan Filner pergi.

Leng lebih mempedulikan keadaan Xiao Qi, dia benar-benar baika-baik saja? Xiao Qi meyakinkan kalau dia sudah memperhitungkan segalanya, jadi Leng tidak perlu khawatir. Dia hebat, kan?

"Kau melakukan ini demi Fang Lie atau aku?"

"Apa bedanya?"

"Jika kau melakukannya demi Fang Lie, berarti kau bodoh. Jika kau melakukannya demi aku, berarti kau bego."

"Bukankah kedua kata itu digunkan untuk mengumpat?" Xiao Qi kesal.

"Ya, sekarang aku aku bukan cuma akan mengomelimu... tapi juga ingin memukulmu!"


Xiao Qi takut, jangan dong. Dia berusaha menghindar tapi Leng dengan cepat menariknya. Apa Xiao Qi tidak sadar betapa berbahayanya perbuatannya tadi?! Bahkan dengan sinisnya dia menantang Xiao Qi untuk meneruskan akting pura-pura sakitnya.

"Jangan marah." Xiao Qi berusaha sok imut. "Aku kan sudah bilang kalau aku ingin membantu menyelesaikan masalahmu. Sendirian itu susah loh. Baik saat sakit atau dalam masalah pekerjaan, kita bisa saling bergantung pada satu sama lain. Iya, kan?"

"Bergantung padamu?"

"Iya."


Tuan Filner akhirnya menyetujui karya Lie itu. Dia benar-benar merasa tersentuh oleh lukisan Tuan Omong Kosong itu. Lie benar-benar memiliki teman yang baik. Dia ingin membantu pamerannya Lie.

"Terima kasih, saya sudah tidak sabar untuk memberikan kabar baik pada mereka."


Mereka akhirnya pulang dengan hati riang. Xiao Qi dan Lie bahkan antusias banget mau merayakan keberhasilan Lie dengan makan besar. Tapi hanya Leng yang mukanya masih cemberut sedari tadi. Dia bahkan menolak menjawab saat Lie tanya dia mau makan apa.

Heran, Xiao Qi dan Lie langsung bisik-bisik menggosipkannya. Tadi Leng bilang kalau Leng mau memukulnya loh. Dia harus gimana dong?

"Berarti kau dalam masalah. Aku saja tidak pernah bisa mengalahkan kakakku."

Xiao Qi jadi merinding ngeri, apalagi saat dia melihat tatapan membunuhnya Leng lewat spion. Maka kemudian dia berusaha menghindar secepatnya dengan alasan ada urusan lain, jadi bisakah Leng menepi dan menurunkannya di sini? Tapi Leng tak menggubrisnya.

"Tuan Fang... Tuan Fang... Xiao Fang Fang."

Dan seketika itu pula Leng mendadak berhenti. "Keluar!"


Xiao Qi langsung semangat mau keluar, tapi Leng dengan cepat mengoreksi, yang dia suruh keluar adalah Lie. Dia bahkan mengancam akan 'membantu' Lie keluar jika Lie tidak mau keluar sendiri.

Xiao Qi panik, jangan pergi. Tapi Lie ketakutan dan langsung menuruti perintah Leng. Dan jadilah kedua orang itu mengucap selamat tinggal pada satu sama lain dengan gaya lebay bak sepasang kekasih yang dipaksa berpisah.


Leng lalu menyuruh Xiao Qi pindah duduk di sampingnya dan memberitahu Xiao Qi untuk mendengarnya baik-baik karena dia tidak akan mengatakannya dua kali. Xiao Qi puan fokus menanti apapun yang hendak Leng ucapkan.

"Jadilah pacarku."

"Hah?!" Xiao Qi kaget.

Saking kagetnya, Xiao Qi cuma bisa melongo... sebelum kemudian terbatuk-batuk. leng bilang apa barusan? Tapi Leng menolak mengulanginya, dia akan memberi Xiao Qi waktu untuk memikirkannya.


Dokter Zhang kaget mendengar Leng menyatakan cinta ke Xiao Qi. Dia memang menyuruh Leng untuk bersama Xiao Qi, tapi nggak gini juga kali. Wanita itu makhluk yang sangat rumit dan sulit ditebak.

Hanya jika Leng menghabiskan cukup banyak waktu bersamanya, mengorbankan uang, dan tenaganya, baru saat itulah Leng boleh menyatakan cinta atau memanjakannya, membantunya, atau mematahkan hatinya.

Sesekali rayu dia. Begitu Xiao Qi kecanduan perhatiannya Leng, baru saat itulah Leng boleh nembak Xiao Qi. Leng tidak mengerti. Bukankah yang penting dia sudah modal muka cakep dan banyak duit?

Hadeh! Memang bisa begitu. Tapi kalau begitu ceritanya, berarti Xiao Qi suka Leng cuma karena duitnya doang. Hubungan seperti itukah yang Leng inginkan? Yang seharuslah Leng lakukan adalah mengejar Xiao Qi, buat Xiao Qi merasakan cinta dari seorang presdir yang bossy... kayak yang ada di drama-drama.

Kasih Xiao Qi bunga, tas mewah, hadiah-hadiah, makan malam romantis, dsb... pokoknya apa aja yang Xiao Qi inginkan deh. Biarkan Xiao Qi melihat sisi lain dalam diri Leng.

Leng sinis. Bukannya itu sama saja membuat Xiao Qi jatuh cinta sama uangnya doang? Dokter Zhang ngotot menyuruh Leng mengikuti sarannya. Leng bakalan nyesel loh.

Bersamabung ke part 2

1 komentar: