Sinopsis Love is Deep Episode 3 - 1

Sinopsis Love is Deep Episode 3 - 1

Ding Ding tiba-tiba di-add friend Zi Xin. Ding ding walnya ragu, tapi akhirnya dia tetap menerimanya. Mereka lalu ketemuan di sebuah cafe dan Zi Xin mendadak menyambutnya dengan sok akrab. Dia bahkan sudah memesankan kue-kue kesukaan Ding Ding.


Tapi Ding Ding penasaran kenapa Zi Xin ingin bertemu dengannya? Zi Xin to the point tanya apakah Ding Ding dan Chen Xun benar-benar sudah tidak mungkin lagi bersama? Jika ini karenanya, dia rela kok mengundurkan diri sebagai model iklan.

"Tidak. Ini tidak ada hubungannya denganmu, ini masalahku sendiri."

"Tapi kau dulu sangat mencintai. Bahkan saat kami bersama, kau rela untuk selalu menemaninya. Apa kau rela menyerah seperti ini saja?"

Dia meyakinkan Ding Ding kalau Chen Xun sangat menyukainya. Karena itulah, dia memohon pada Ding Ding untuk memberi Chen Xun kesempatan.


Belum sempat Ding Ding ngomong, tiba-tiba Chen Xun muncul sambil bawa buket bunga besar... lalu melamar Ding Ding di hadapan semua orang. Semua orang sontak bersorak menyemangati Ding Ding untuk menerimanya. Tapi kali ini Ding Ding sama sekali tidak senang, apalagi saat dia teringat ucapan Xiao Feng waktu di rumah sakit.

"Pria yang meninggalkanmu operasi sendirian, bisa berarti dua hal. Pertama, dia tidak mencintaimu. Kedua, dia tidak mencintaimu sedikitpun. Ding Ding, sadarlah." Itulah yang dikatakan Xiao Feng waktu itu.

Bingung harus bagaimana, Ding Ding berusaha menyuruh Chen Xun berdiri. Tapi Chen Xun ngotot tidak mau berdiri sampai Ding Ding menerima lamarannya.

"CUKUP!" Bentak Ding Ding.


Chen Xun tidak mengerti, bukankah seharusnya Ding Ding senang karena dia melamar. Yah, Ding Ding mengaku kalau sebelumnya dia memang ingin Chen Xun melamarnya. Tapi sekarang dia sudah tidak memerlukan itu lagi. Kenapa Chen Xun selalu melakukan hal yang salah di saat yang salah.

"Kukira kau akan senang kalau aku melamarmu."

"Kau melamarku hanya untuk membuatku senang? Apa kau benar-benar ingin menikahiku?"

Tentu saja. Hanya Ding Ding seorang yang selalu menemaninya selama dia mengalami masa-masa sulit. Mereka bekerja bersama membangun perusahaan mereka, semua orang berpikir kalau mereka adalah partner hebat dan pada akhirnya akan menikah.

Chen Xun tahu kalau belakangan ini mereka jadi terlalu sibuk sampai dia mengabaikan masalah ini. Maaf.  Dia terus berusaha meraih tangan Ding Ding, tapi Ding Ding terus menolaknya.

"Sepertinya kau tidak tahu apa sebenarnya masalah di antara kita. Usahaku selama bertahun-tahun ini, hanya kau anggap untuk menemanimu. Kalau begitu semua orang bisa juga bisa menemanimu."


Chen Xun ngotot menyangkal, dia benar-benar menyukai Ding Ding. Ding Ding menegaskan bahwa perasaan Chen Xun padanya hanya perasaan antar teman, apa yang Chen Xun sukai dari dirinya sebagai seorang pacar?

Dan Chen Xun malah terdiam canggung, dan akhirnya dia cuma terus ngotot bahwa menurutnya mereka bisa bersama selamanya? Tapi Ding Ding tidak menginginkan jenis cinta karena keharusan semacam itu. Pernikahan yang cuma didasari alasan bahwa mereka bisa menikah asalkan tidak ada kontradiksi di antara mereka.

Ding Ding jujur mengakui kalau dia sangat menyukai Chen Xun, dia jatuh cinta pada pandangan pertama pada Chen Xun sehingga pada akhirnya sudah menjadi kebiasaannya untuk mencintai Chen Xun selama bertahun-tahun ini.

Cintanya begitu besar hingga dia takut menyusahkan Chen Xun bahkan saat dia seang sakit. Dia pikir kalau Chen Xun akan selalu mencintainya asalkan dia terus melakukan itu. Tapi saat Zi Xin muncul, barulah dia menyadari kalau dia salah.

Saat Chen Xun dan Zi Xin bersama, Chen Xun sangat peduli akan segala sesuatu tentang Zi Xin. Makanan apa yang Zi Xin sukai atau tidak sukai, film-filn apa yang dia sukai, lagu-lagu apa yang dia sukai, dll.

Chen Xun bahkan takut tidak bisa mengingat semuanya sehingga Chen Xun menyuruhnya untuk ikutan mengingatnya. Waktu itu, Ding Ding berpikir betapa menyenangkannya dicintai oleh seseorang.


"Kau mau melamarku, kan? Baiklah. Coba kau sebutkan satu saja makanan apa yang ku sukai, maka aku akan menerimamu."

Chen Xun bahkan tidak bisa menjawabnya, dan satu-satunya yang bisa dia ucapkan hanya kata maaf. Ding Ding mengingatkan Chen Xun bahwa dia tidak salah apa-apa, Chen Xun hanya tidak terlalu tertarik padanya.

"Aku tidak ingin menjadi bagian dalam hubungan ini lagi. Jika terus berlanjut seperti ini, mungkin aku akan merendahkan diriku sendiri." Ucap Ding Ding lalu pergi.

Zi Xin berusaha mengejarnya seolah bersimpati, tapi tampak jelas dia senang dengan situasi ini.


Pada saat yang bersamaan, Wei Jin menemani Wei Xuan melihat-lihat sebuah toko yang mau Wei Xuan jadikan cafe-nya. Wei Xuan berlarian antusias mengelilingi toko itu sementara si agen real estate nyerocos panjang lebar mempromosikan tempat itu.

Wei Xuan langsung suka dengan tempat ini, mereka harus menyewanya. Pencahayaannya juga bagus, orang-orang bisa bersantai dan kucing-kucing bisa menikmati cahaya matahari dengan senang.

"Kau itu mau buka cafe atau panti?" Heran Wei Jin.

"Susah bener ngomong sama cowok kaku sepertimu," gerutu Wei Xuan.

Dia langsung memutuskan untuk menyewa tempat ini, tapi Wei Jin mendadak tidak mau bayarin. Wei Xuan sontak ngesot di bawah kakinya dengan manja... tepat saat dia melihat Ding Ding lewat dengan berlinang air mata.

"Itu kan Ding Ding, kayaknya dia nangis."

Wei Jin kontan cemas dan pergi mengejarnya tanpa mempedulikan Wei Xuan lagi. Wei Xuan nyinyir melihatnya, "sepertinya kalian lebih daripada sekedar teman. Kau peduli banget tentangnya."

Dia juga ingin menyusul, tapi si agen real estate memaksanya untuk teken kontrak sekarang juga.


Walaupun cemas melihatnya bersedih, tapi Wei Jin sengaja pura-pura bodoh. Dia bahkan mengiyakannya saja saat Ding Ding cuma bilang kalau dia barusan ngopi bersama temannya. Dia sengaja bilang kalau dia menuju ke arah yang sama dengan Ding Ding agar bisa menemaninya.

Tiba-tiba ada pesepeda yang lewat terlalu dekat Ding Ding, Wei Jin pun sigap menyelamatkan Ding Ding menarik Ding Ding ke dalam pelukannya.


Tiba-tiba Chen Xun dan Zi Xin menyusul. Dan bahkan tanpa mendengarkan apa yang hendak Ding Ding katakan, Chen Xun langsung menarik Ding Ding dengan kasar sambil asal menuduh pria inilah penyebab Ding Ding menolak lamarannya.

Jelas saja Ding Ding kesakitan karena Chen Xun menariknya tepat di bagian yang sakit. Wei Jin kesal, itu bagian lukanya. Kalau dia beneran pacarnya Ding Ding, seharusnya dia berhati-hati. Saat itulah Chen Xun baru sadar dan akhirnya melepaskan cengkeramannya, maaf.

"Itulah yang seharusnya dilakukan seorang pacar," nyinyir Wei Jin.

"Dr. Ning," tegur Ding Ding.

Chen Xun kaget mendengarnya. "Kau sebut dia apa barusan?"

"Kau tidak dengar? Aku dokternya."

Chen Xun langsung protes, Ding Ding tidak pernah bilang kalau dokternya ternyata pria. Ding Ding tidak terima protesnya, hati-hati kalau bicara. Wei Jin nyinyir, pacarnya Ding Ding picik banget ternyata. Seperti inikah Ding Ding dibuli olehnya? Pantas saja Ding Ding jadi sakit.

Chen Xun hampir saja marah-marah lagi, tapi dia berhasil menahan diri. dia berusaha meminta Ding Ding untuk menenangkan diri dulu, tapi Ding Ding langsung mundur menolak sentuhannya. Chen Xun akhirnya mengalah dan pergi.
 

Wei Jin lalu membantu memunguti barang-barangnya Ding Ding yang berserakan di jalan. Ding Ding berusaha menolak bantuannya, tapi Wei Jin ngotot. Dia bahkan tidak mau mendengarkan permintaan Ding Ding untuk pergi meninggalkannya.

"Aku memintamu pergi!" Kesal Ding Ding. "Kenapa? Kenapa aku selalu bertemu denganmu setiap kali aku sedih? Tidak bisakah kau pura-pura tidak melihat?"

Ding Ding pergi, tepat saat Wei Xuan muncul sambil memprotes Wei Jin yang tidak ngasih dia duit tadi. Ngomong-ngomong, di mana Ding Ding? Dia ingin makan malam dengan Ding Ding. Tanpa mengatakan apapun, Wei Jin langsung saja pergi menyusul Ding Ding. Wei Xuan jadi bingung, apa dia melewatkan sesuatu?


Wei Jin lalu membawa Ding Ding ke mini market dan memberinya minuman energi. Tapi dia sungguh tidak mengerti, kenapa Ding Ding tidak melawan balik tadi? Kenapa dia terima saja dibuli?

Asal Ding Ding tahu saja, pada stadium awal kanker pay~~~~a, masanya sangat kecil. Lebih seringnya tidak terasa sakit, makanya orang cenderung mengabaikannya. Baru saat mereka tidak mampu lagi menahan sakitnya, orang-orang akan datang ke rumah sakit untuk memeriksakan diri dan mendapati diri mereka sudah berada di stadium akhir sehingga itunya harus dipotong agar mereka bisa bertahan hidup.

"Aku tak pernah berpikir kalau kesabaran adalah sebuah kebajikan. Sebaliknya, dilihat dari aspek ilmu medis, alasan orang jadi sakit adalah karena tekanan lingkungan dan psikologis. Jadi saat itu terjadi lagi padamu, kau harus berani melawan tanpa ragu."

"Dr. Ning, apa kau mengajariku untuk melawan kekerasan dengan kekerasan? Kau itu dokter."


"Aku hanya bertanggung jawab terhadap pasienku. Aku tidak peduli dengan orang lain... terutama orang-orang yang mengganggu pasienku yang sedang dalam masa penyembuhan pasca operasi."

Dia tampak jelas serius, tapi Ding Ding mengira dia cuma bercanda. Tapi bagaimanapun, Ding Ding tetap merasa tersentuh.

Wei Jin menyangkalnya dengan tegas. "Siapa bilang aku bercanda?... Sudah sore, aku harus pulang. Kau juga harus pulang."

Bersambung ke part 2

Post a Comment

1 Comments

Hai, terima kasih atas komentarnya, dan maaf kalau komentarnya tidak langsung muncul ya, karena semua komentar akan dimoderasi demi menghindari spam