Sinopsis Leh Nangfah Episode 24 - 1

 Sinopsis Leh Nangfah Episode 24 - 1

 

Setelah orang-orang itu pergi, Beauty langsung mematuk-matuk tombol lampu lalu terbang ke rak dan berusaha membuka map itu.

Tapi belum juga berhasil, Pat cs mendadak balik dan jelas bingung mendapati lampu menyala padahal tadi Piwara jelas-jelas sudah mematikannya.

Mereka kembali cuma untuk mengambil barang yang ketinggalan dan tidak melihat si burung. Tapi Beauty panik setengah mati sampai bercicit keras-keras.


Pat cs jelas heran, suapa apa itu. Sepertinya dari arah rak. Kratua mendekat dengan takut-takut sambil membawa map sebagai senjata dan langsung jejeritan heboh saat melihat si burung.

Beauty sontak terbang ke meja dengan kebingungan dan Pat memerintahkan Kratua menghajar si burung. Kratua langsung menggampar si burung tanpa ampun sampai kepalanya berdarah dan berusaha menangkapnya. Panik, Beauty pun bergegas kabur.


Grace menghubungi Tee untuk menegaskan bahwa dia menerima design Thanabavorn hanya karena dia tidak suka mencampur-adukkan masalah pribadi dalam pekerjaan. Tapi sebenarnya, design-nya Beauty masih punya cela, tidak seperti design-nya Jade.

"Jadi sebaiknya kau memperbaiki design-mu lebih dari sempurna. Jika tidak, kau dan perusahaanmu akan hancur."


Saat Beauty kebetulan lewat belakang gedung, dia melihat Korn bicara ditelepon dengan seseorang dan percakapan mereka terdengar mencurigakan. Ia meyakinkan orang di seberang untuk tidak khawatir dan pabrik baru mereka pun berjalan dengan baik.

"Tentang design? Apa sulitnya? Aku hanya akan memakai design-nya Beauty, kita hanya perlu memodifikasinya sedikit. Aku yakin ini pasti akan hit di pasaran anak muda."

Beauty tak percaya mendengarnya. Ayah dan anak sama saja. Ternyata Pat dan Korn saling bekerja sama untuk mencuri design-nya.

"Teganya paman mengkhianatiku seperti ini! Aku tidak lagi menyayangi dan menghormati paman!"

Cicitan kerasnya didengar oleh Korn, Beauty pun sontak menyembunyikan dirinya di balik semak sebelum Korn sempat melihatnya. Tapi siapa yang bicara di telepon dengan Korn barusan. Sepertinya bukan Pat... atau mungkin Jadecharn?

"Lihat saja nanti. Akan kuhancurkan semua pengkhianat itu!"


Tee menghubungi kedua orang tuanya yang masih liburan dan mengaku kangen sama mereka. Thana jadi curiga melihat Tee mendadak bicara manis kayak begini. Apa ada masalah di perusahaan? Tee menyangkalnya dan cepat-cepat mengalihkan perhatian mereka pada Seua.

Tapi begitu memutuskan sambungan mereka, senyum Tee langsung menghilang. Seua sampai heran, ada masalah apa dengan tuannya.

Seolah memahami pertanyaan Seua, Tee curhat kalau dia harus memberitahu orang tuanya besok kalau dia dan Orn sudah putus.

"Masalah cinta tidak bisa dipaksakan, bukan? Apa kau pernah jatuh cinta, Seua?"

"Mana mungkin tidak pernah, aku kan ganteng. Aku sering jatuh cinta dan sering terluka juga."

"Beauty, dasar kau biang onar."

"Beauty? Tuanku jatuh cinta pada burung? Oh, tidak! Burung itu milikku!"


Baru juga dibicarakan, burung Beauty hinggap di sana sambil menangis kesakitan. Tee melihatnya dan langsung cemas melihat kepalanya terluka. Dia kena pukul apa sampai terluka begini? Siapa yang memukulnya?

"Tentu saja si Pat! Rasanya sakit banget."

"Sini, sini. Biar kuobati kau. Lihatlah akibat kenakalanmu."

"Pat! Kau berani memukul burung cantikku. Awas kau! Akan kucakar mukamu kalau aku melihatmu!" Kesal Seua.

Tee dengan lembut merawat luka burung Beauty dan membuat Beauty begitu terpesona padanya. Selesai mengobatinya, Tee mengakhirinya dengan mengecup kening Beauty.


Keesokan harinya, Beauty sudah gelisah menunggu di kantornya Tee. Dia akhirnya datang tak lama kemudian dan langsung cemas melihat luka di kepala Beauty. Bagaimana dia bisa terluka?

"Di-ditampar orang gila."

"Ditampar orang gila?"

"Bercanda. aku terantuk pintu. Ini cuma luka kecil kok. Tidak usah buang-buang waktu. Ayo, ikut aku."

"Mau ke mana? Aku ada dokumen penting yang harus ditandatangani."

"Dokumen bisa menunggu, tapi bukti tidak bisa. Ayo, ikut aku sebelum bukti itu hancur." Tegas Beauty lalu menyeret Tee keluar ke kantornya Pat.


Pat langsung nyinyir geli melihat luka di kepala Beauty. Apa itu trend terbaru? Apa Beauty mau dia menamainya?

"Aku akan menamainya 'muka fashion rusak yang bahkan dokter pun tak mau menjahitnya' (seseorang yang mengalami situasi yang teramat sangat memalukan)."

"Nggak lucu. Aku punya sesuatu yang jauh lebih lucu."


Beauty langsung berjalan ke arah rak. Kratua dan Piwara langsung berdiri di depan rak itu dan berusaha menghalangi Beauty dengan tegang, tapi Beauty tegas memerintahkan mereka untuk minggir hingga mereka tak punya pilihan selain menurutinya.

Dia lalu memerintahkan Kratua untuk membalik rak itu. Pat melarangnya. Kratua jadi galau tak tahu harus menuruti siapa. Tapi akhirnya dia meminta maaf pada Pat dan lebih memilih menuruti perintah Beauty lalu membalik rak itu dan memperlihatkan map yang tertempel di sana.

Beauty memeriksa isinya dan benar saja, map itu memang berisi design-nya yang hilang. Tapi Pat terus bersikeras menyangkalnya biarpun sudah ada bukti nyata itu.


Mereka lalu membawa masalah ini ke kantornya Tee. Tapi Pat tetap bersikeras tutup mulut. Beauty jadi semakin kesal padanya. Pat bukan cuma membulinya, tapi juga mengkhianati perusahaan dengan menjual design-nya ke Jade Garment.

"Itu tidak benar!"

"Mana mungkin tidak benar saat aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri?!"

Pat ngotot menyangkalnya. Dia mengakui kalau dia memang mencuri design-nya Beauty, tapi itu hanya karena alasan pribadinya. Tapi dia tidak sejahat itu sampai menjualnya ke saingan mereka.

"Kalau bukan kau, lalu siapa?"

"Aku tidak tahu, yang pasti bukan aku!"

"Alasan pribadi apa yang kau maksud barusan?" Tuntut Tee.

"Aku membencinya!" Geram Pat


Tee sungguh tak percaya mendengarnya. Bisa-bisanya Pat membiarkan kebenciannya menguasainya lebih daripada tanggung jawabnya pada perusahaan. Kenapa dia sepicik ini? Beauty itu adiknya, dia bukan orang asing.

"Apa dia pernah memandangku sebagai kakaknya?!" Tangis Pat.

Pat mengakui kalau dia tidak sebaik Beauty. Tidak ada satupun dalam dirinya yang bisa dibandingkan dengan Beauty.

"Kau juga jatuh cinta padanya, kan? Karena itulah kau memihaknya!"

Beauty terkejut mendengarnya dan Tee pun cuma diam, tidak membenarkan tapi juga tidak membantah.


"Kau puas kan sekarang, Beauty? Pada akhirnya, kau juga merampas seseorang yang kucintai! Kenapa kau bisa mendapatkan segalanya?!"

Tee cepat menghentikannya dan memperingatkannya untuk tidak mengungkit-ungkit masa lalu mereka. Ini masalah perusahaan. Bagaimana bisa Pat tidak bisa membedakannya? Sudah berapa kali Pat membuat kesalahan dan menjatuhkan perusahaan, tapi dia masih saja dia tidak merasa bersalah.

"Kalau kau terus seperti ini, aku akan menskors-mu. Tapi jika kau masih tidak merasa bersalah, maka kau tidak usah kembali lagi."


Sakit hati, Pat langsung kembali kantornya sambil marah-marah menuntut siapa yang membocorkan rahasia keberadaan sketsa itu. Kratua dan Piwara ngotot menyangkal, tapi tentu saja Pat tak percaya karena hanya mereka bertiga yang mengetahui keberadaan sketsa itu.

"Jangan sampai aku tahu siapa yang sudah mengkhianatiku. Keluar kalian berdua! Kubilang keluar!"


Capek menghadapi Pat yang selalu mencurigai mereka, Kratua berniat mau mengundurkan diri saja. Kalau seperti ini terus, entah kapan dia akan dipecat. Mending dia mengundurkan diri saja sekarang.

Piwara tidak setuju dan berusaha keras membujuk Kratua untuk tetap menemaninya di sini. Dia tidak bisa mengundurkan diri karena dia tulang punggung keluarga.

Mendengar itu, Kratua jadi memikirkan situasinya yang juga sama seperti Piwara. Tapi Piwara orang baik, jadi Pat akan memaafkannya. Situasinya beda dengan Piwara. Dia pasti akan dipecat, jadi lebih baik dia mengundurkan diri sekarang.

Piwara tidak rela ditinggal begitu saja. Mereka kan sudah lama bekerja bersama. Piwara terus memohon-mohon sampai akhirnya Kratua luluh juga. Tapi yang tidak disadarinya, ekspresi lugu Piwara mendadak berubah licik saat dia sedang tidak melihat.


Beauty merenung di sawah memikirkan siapa sebenarnya pelaku yang menjual design-nya ke Jade Garment. Pikirannya dengan cepat teralih saat dia teringat ucapan Pat tentang Tee yang jatuh cinta padanya.

"P'Tee... jatuh cinta padaku? Kau salah paham. Dia tidak pernah menyukaiku sedikitpun. Dia tidak pernah mendengarkan penjelasanku."


"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Tee yang tiba-tiba datang dari belakangnya. "Jadi, apa sekarang kau bisa memberitahuku?"

"Tentang apa? Tentang apa yang sedang kupikirkan atau tentang aku tel~~~~ng di apartemennya Jadecharn?"

"Yang terakhir."

"Aku kan sudah bilang kalau aku tidak bisa mengatakannya! Kau tidak akan mengerti biarpun kuberitahu."

"Kenapa? Aku tidak mengerti kenapa kau tidak bisa menjelaskannya padahal kau bilang kau tidak ada apa-apa dengan pria itu. Jelaskan saja kenapa kau dalam kondisi seperti itu atau apakah pria itu melakukan sesuatu padamu."

Beauty menegaskan bahwa baik dia atau Jade tidak melakukan apapun. Tapi suatu hari nanti, Tee pasti akan mengerti dengan sendirinya tanpa perlu dia jelaskan. Sekarang ini Beauty hanya memohon satu hal.


"Kumohon padamu untuk tidak salah paham padaku. Kumohon padamu untuk mempercayaiku sekali saja. Bisakah kau melakukan itu?"

"Apa kau tahu betapa cemasnya aku padamu? Aku tidak terima melihatmu bersama seorang pria dalam kondisi seperti itu!"

"Kenapa juga kau mengkhawatirkanku. Khawatirkan saja pacarmu!"

Tee akhirnya mengaku kalau dia sudah putus dengan Orn. Terkejut, Beauty tidak mengerti kenapa mereka putus? Bukankah mereka mau tunangan?

"Aku tidak bisa bertunangan dengan orang yang tidak kucintai. Aku mencintai orang lain."

Bersambung ke part 2

1 komentar: