Sinopsis Leh Nangfah Episode 23 - 2

 Sinopsis Leh Nangfah Episode 23 - 2


Jade datang ke rumah Beauty dengan membawa sebuket bunga. Tapi tentu saja Beauty menolak bertemu dengannya dan menyuruh Somcheng mengusir orang itu. Lagian dia sibuk kerja sekarang, jadi kalau ada tamu lagi, jangan biarkan mereka masuk.

Jade kesal saat Somcheng memberitahunya kalau Beauty lagi sibuk dan tidak mau menemuinya. Tapi tak ada yang bisa dilakukannya dan akhirnya dia hanya menitipkan buket bunganya pada Somcheng.


Pat sebenarnya gelisah karena sekarang sudah hampir waktunya pertemuan dengan Grace. Tapi saat kratua datang dan mencemaskan hal yang sama, dia pura-pura tak peduli.

Saat Piwara memberitahu kalau Tee sudah datang, Pat santai menyuruh Kratua untuk menyuruh para designer membuat 10 sketsa itu. Tapi tentu saja itu tidak mungkin, waktunya sudah terlalu dekat.

Pat tidak mau tahu,suruh satu satu designer membuat dua design. Bahkan Beauty saja bisa membuat 10 sketsa seorang diri.

"Dia itu jenius. Sedangkan kami orang normal."

"Kalau seperti ini, sama artinya dengan menggigit tangan yang memberimu makan. Kalau mereka tidak bisa melakukannya, maka suruh mereka semua mengundurkan diri!"


Pat lalu pergi ke Tee dan lagi-lagi berusaha menghasut Tee. Tidak seharusnya dia mempercayakan masa depan perusahaan ini di tangan Beauty.

Tapi terlepas dari kemarahannya pada Beauty, Tee tetap membela Beauty. Dia yakin jika Grace mengerti bahwa ini kecelakaan, hal itu tidak akan berdampak pada Thanabavorn. Lagipula Grace bersikeras menyangkut design itu. Terus dia harus bagaimana?

"Aku menyuruh para designer membuat cadangan. Lebih baik kau menggunakan mereka. Lebih baik daripada tidak punya apapun untuk diserahkan padanya. Perusahaan bisa malu."


Tapi tepat saat itu juga, Beauty datang dengan membawakan design lain yang baru saja dibuatnya. Tapi Tee dengan dinginnya menyuruh Beauty untuk pergi duluan ke hotelnya Grace, dia akan menyusul setelah menyelesaikan pekerjaannya dulu.

"Tapi ada yang harus kita bicarakan."

Pat jadi penasaran dengan mereka berdua, apalagi Tee tampak sangat dingin pada Beauty dan itu jelas membuatnya senang. Tapi Beauty langsung mengusirnya.

Beauty berusaha menarik perhatiannya, tapi Tee terus acuh dan fokus pada laptopnya. Kesal, Beauty langsung menutup laptop itu. Tapi Tee langsung beranjak pergi menghindarinya.


Lalita bingung, apa yang harus mereka lakukan agar Tee tahu kalau Beauty tidak melakukan hal-hal yang dia pikirkan? Lalita memohon agar Dewi memikirkan sesuatu untuk membantu mereka agar mereka saling mengerti.

"Biarkan aku melihat-lihat aturan surga dulu agar kita tahu apa yang bisa kita lakukan." Ujar Dewi.


Bahkan di lobi hotel, mereka duduk saling berjauhan dan pura-pura fokus pada ponsel masing-masing. Tiba-tiba Dewi muncul dengan menyamar sebagai pegawai hotel yang sedang ngepel.

Dia sengaja merecoki Tee untuk pindah tempat duduk dengan alasan biar dia bisa ngepel. Tapi alih-alih pindah ke sofa-nya Beauty, Tee malah pindah ke sofa lain.

Dewi terus saja mengikutinya sambil terus merecokinya untuk pindah sofa sampai Tee tak punya pilihan lain selain pindah ke sofa-nya Beauty. Pun begitu, mereka tetap duduk saling membelakangi bak orang asing sambil mainan ponsel masing-masing.


"Kalian bisa berkomunikasi dengan orang yang jauh, tapi tidak mau peduli untuk saling bicara dengan orang yang dekat dengan kalian." Sindir Dewi.

Tiba-tiba ia menjatuhkan gelas kopi sampai pecah. "Tidak ada yang akan bertahan selamanya. Segalanya cuma bagus sesaat. Sekarang sudah pecah. Cangkir yang pecah tidak bisa disambung kembali, tapi sedikit kesalahpahaman mungkin bisa disambung kembali setelah dibicarakan. Bicaralah. Kenapa kalian tidak mau saling bicara?"

Dewi lalu memberikan sihirnya pada mereka dan pergi. Seketika itu pula Tee tiba-tiba menuntut penjelasan Beauty akan kejadian tadi. Kenapa dia ada di apartemennya Jade?


"Aku melihat design-ku ada di Jade Garment dan... Jade membawa design-ku ke apartemennya. Jadi aku mengikutinya untuk memastikan. Itu artinya, yang mencuri design-ku sudah pasti menjualnya ke Jade Garment."

Lega melihat mereka akhirnya saling bicara, Dewi pun menghilang kembali ke surga. Tee sinis, apa hubungannya antara menemukan design-nya yang hilang dengan tel~~~~ng bersama Jade seperti itu.

"Apa kau benar-benar harus memberikan segalanya demi design-mu yang hilang itu?"

"Ini tidak seperti yang kau lihat."

"Jadi apa kebenarannya, katakan."

"Bahkan sekalipun aku mengatakannya, kau tidak akan pernah mengerti."

"Katakan saja kenapa?"


Beauty tidak bisa menjelaskannya. Tapi dia bersumpah bahwa dia tidak ada hubungan apapun dengan Jade dan segalanya tidak seperti yang Tee lihat.

"Jadi, apa yang kulihat dan tidak kulihat itu? Kau mau aku memahaminya bagaimana?"

"Suatu hari ini, kau akan tahu dan memahamiku. Tapi untuk sekarang ini, tolong percayalah padaku. Kumohon, percayalah padaku. Kumohon."

Tapi Tee langsung menampik tangannya dan bersikeras memaksa Beauty untuk mengatakan kebenarannya. Beauty jadi galau. 

Tapi Beauty bahkan belum sempat mengatakan apapun saat tiba-tiba mereka tersela karena Sekretarisnya Grace memanggil mereka untuk masuk.


Dewi baru sampai kembali ke surga dengan antusias tapi malah diberitahu kalau kesalahpahaman Tee dan Beauty masih belum terselesaikan gara-gara kerjaan.

Sayang sekali, padahal Dewi sudah melakukan segala hal yang diizinkan oleh surga. Sepertinya ini karma mereka.


Beauty menyerahkan karya barunya pada Grace dan langsung tegang selama Grace melihat-lihatnya. Tapi Grace menolak mengatakan apapun pendapatnya sampai semua orang sudah berkumpul karena dia tidak mau repot-repot ngomong dua kali.

Jade datang tak lama kemudian dan menyerahkan karya jiplakan itu. Beauty dan Tee sontak melempar tatapan penuh kebencian padanya. 

Dibanding dengan design barunya Beauty, design jiplakan itu mendapat respon yang jauh lebih baik dari Grace yang tentu saja membuat Beauty jadi makin kesal pada Jade.


Selesai melihat-lihat, Grace langsung memberikan keputusannya. Dia memilih Jade. Beauty jelas tidak terima dan hendak mengatakan yang sebenarnya. Tapi Grace memotongnya dengan cepat karena dia belum selesai bicara.

"Yang ingin kukatakan adalah... aku juga memilih design-mu." Ujar Grace.

Menurutnya, design-nya Beauty punya kekuatan dan unik, sementara karya jiplakannya Jade elegan dan sesuai dengan permintaan  Yang dia inginkan sekarang adalah dia ingin kedua perusahaan merealisasikan design-design mereka dulu, baru dia akan membuat keputusan akhir. Dia akan kembali seminggu lagi untuk melihat karya real mereka.


Pertemuan itu berakhir dengan cepat saat Orn sekeluarga datang. Grace pun langsung mengusir mereka. Tapi saat Tee beranjak pergi juga, Grace langsung melarangnya dan memintanya tetap di sini bersama. Karena mereka kan sebentar lagi akan jadi satu keluarga. Tee langsung canggung menatap Beauty. Cemburu, Beauty langsung pergi dengan kesal.


Jade bergegas mengejarnya dan bersikeras kalau perusahaannya tidak mencuri design-nya. Beauty cuma salah paham.

"Aku tidak salah paham. KAU mencuri karyaku. Jade Garment mencuri karya Thanabavorn!"

"Apa kau bisa membuktikannya?"

"Jika aku bisa membuktikannya, apa yang akan kau katakan?"

"Jika kau bisa, aku siap untuk meminta maaf dan bertanggung jawab atas segalanya. Biarpun begitu, aku masih menganggap kita cuma saingan, bukan musuh."

"Kau sendiri yang mengatakannya. Tepati kata-katamu itu!"


Grace mulai sadar ada keanehan dalam diri mereka semua. Apalagi Papa kemudian mengusir Tee dengan alasan ada yang mau dia bicarakan dengan Grace. Grace bingung kenapa Tee harus pergi?

"Mereka sudah putus. Kau bukan keluargaku. Silahkan pergi."

Begitu Tee keluar, Orn langsung menangis dalam pelukan Grace dan Mami menjelaskan apa yang terjadi. 

Grace mengerti, tapi setidaknya kan Tee jujur. Kalau Tee tidak mencintai Orn, maka lebih baik mereka berpisah. Lebih baik Orn mencari seseorang yang benar-benar mencintainya.


Tapi Papa tidak terima dan meminta Grace untuk membantunya memberi pelajaran pada Thanabavorn. Grace menolak. Dia memang mencintai keluarga mereka. Tapi masalah pekerjaan, dia hanya menginginkan yang terbaik, bahkan sekalipun itu berasal dari seseorang yang dibencinya.

Papa tetap tidak terima dan bersumpah akan menyakiti Tee berkali-kali lipat daripada yang diperbuat Tee pada putrinya. Orn sontak panik dan memohon pada Papa untuk tidak melakukan apapun pada Tee.

"Papa, jika P'Tee tidak memberitahuku yang sebenarnya dan terus mengencaniku hanya karena bisnis, itu hanya akan menyakitiku lebih dalam dari ini. Kumohon."

"Menurutku, caramu membantunya malah jauh lebih menyakitinya daripada apa yang dilakukan Khun Tee."


Beauty kembali ke kantornya yang sudah mulai gelap dan bersiap untuk berubah. Dia bahkan sudah tidak sabaran karena hari ini dia berniat mau menemukan si pengkhianat yang mencuri design-nya dan menjualnya ke Jade Garment.

Matahari akhirnya tenggelam dan burung Beauty langsung terbang ke kantornya Pat. Dia tidak bisa masuk karena pintunya tertutup dan akhirnya cuma bisa menempelkan kupingnya ke pintu.

Pat sudah tak sabar ingin tahu hasil pertemuan tadi. Tapi sampai sekarang tak ada seorangpun yang menghubunginya. Jangan-jangan Grace tidak memilih design-nya Beauty, makanya tak ada seorangpun yang menelepon untuk memberitahukan hasilnya.

"Grace memilih design-ku, cewek kuno!"

"Atau jangan-jangan karena dia marah karena kita mencuri design-nya makanya dia tidak menelepon?" Duga Piwara.


Wah! Beauty sontak kesal. Jadi beneran Pata yang mencurinya. Pat tak suka mendengarnya dan memperingatkan Piwara untuk tutup mulut lalu menyuruh Piwara untuk mengecek apakah file itu masih ada di tempat persembunyiannya.

Beauty bingung bagaimana caranya masuk. Tidak adakah yang bisa membantunya membuka pintu. Harapannya terkabul semenit kemudian saat Kratua datang dan membuka pintu.

Beauty cepat-cepat terbang masuk tepat saat Piwara membalik bagian belakang salah satu rak dan memperlihatkan map berisi design-nya Beauty yang mereka sembunyikan di sana. Semua design itu masih utuh dan lengkap.

"Kuperingatkan kalian semua. Jangan bilang-bilang siapapun. Jika tidak, kalian semua akan mati!"

"Jahat! Seolah mencuri design-ku tidak cukup, kau bahkan memberikannya ke Jade Garment!"


Kratua meyakinkan kalau dia akan menutup mulutnya rapat-rapat. Hanya saja, dia menyayangkan karya sebagus ini harus tersia-sia.

"Kalau kau ingin jadi orang bermuka dua dan memihak Beauty, pergi saja! Sayang sekali usahaku mengundangmu untuk bekerja di Thanabavorn jadi sia-sia. Kalau tidak menghormatiku, pergi sana!" Kesal Pat.

"Khun Pat. Aku selalu setia padamu. Hanya padamu."

Piwara lalu memasukkan design itu kembali ke map dan membalik raknya lagi. Kratua lalu mengajak mereka makan malam bersama dan akhirnya mereka bertiga pun pergi.

"Aku tidak akan membiarkan kalian!"

Bersambung ke episode 24

0 komentar

Post a Comment