Sinopsis Accidentally in Love Episode 26

 Sinopsis Accidentally in Love Episode 26

Kakek Chen merasa sakitnya kali ini benar-benar serius. Selama ini dia telah mengurus kejayaan bisnis Chen sekaligus membesarkan cucunya dengan baik. Kakek merasa dia telah mencapai semua yang dia inginkan.


"Kakek, aku tidak punya orang tua sejak kecil dan dibesarkan oleh Kakek sendiri. Karena itulah, Kakek adalah kakek nomor satu di dunia. Kakek juga pahlawan nomor satu di dunia."

"Tapi pahlawan ini sudah tua sekarang."

"Kakek tidak tua. Kakek tidak tua sama sekali."

Kakek mau tanya. Apa Qing Qing bersedia mewarisi kerajaan bisnis Chen? Tapi Qing Qing ragu dan meminta Kakek untuk memberinya waktu untuk memikirkan masalah itu.

Baiklah, Kakek tidak memaksa. Justru ia sangat berharap Qing Qing bisa menemukan impian hidupnya.


Saat Xin Ya masih tidur, Lan Ting membangunkan Feng dan mengajaknya bicara di luar, mendiskusikan masalah ini. Lan Ting masih bersikeras berusaha membujuk Feng untuk menerima Xin Ya, bahkan menakut-nakutinya bahwa hal seperti ini mungkin saja akan terjadi lagi.

Feng jelas protes tak terima. Masa hanya karena masalah ini, dia tidak boleh mencintai orang lain? Kenapa Lan Ting bersikeras memaksanya untuk bersama orang yang tidak dia cintai?

Menurut Lan Ting, ini tidak ada bedanya dengan saat Feng jadi idola. Ada banyak orang yang menyukainya. Tapi Xin Ya mencoba bunuh diri karena Feng. Masa Feng tega melihatnya mati? Dan saat Feng masih saja mau melawannya, Lan Ting dengan sengaja mengingatkan Feng bahkan keluarga Lan hanya memiliki Xin Ya setelah Xin Yu tiada.

Saat Xin Ya terbangun tak lama kemudian, Lan Ting langsung mengomeli perbuatan bodohnya. Tapi jangan khawatir, Lan Ting janji akan membantu Xin Ya mendapatkan Feng apapun caranya. Xin Ya hanya perlu menunggu untuk menjadi Nyonya Si Tu.


Melihat penampilan Feng yang berantakan, Daniel langsung mengomel panjang lebar menyuruhnya mandi, facial, dll. Tapi Feng sama sekali tidak mood memikirkan hal itu lalu menanyakan pendapat Daniel.

Jika ada seorang gadis membutuhkannya, maukah Daniel meninggalkan cinta sejatinya demi gadis itu? Daniel baru mau menjawab, tapi Feng malah sudah tertidur.


Malam harinya saat Feng di studio, tiba-tiba dia ditelepon Lan Ting yang mengklaim terjadi sesuatu pada Xin Ya. Feng kontan panik kembali ke rumah sakit.

Lan Ting tengah menunggu di ruang operasi bersama ibunya Xin Ya saat dia datang. Xin Ya ternyata mencoba bunuh diri lagi dengan meninggalkan sebuah pesan untuk Feng.

Lan Ting menuntut Feng untuk bertanggung jawab atas Xin Ya. Feng dan Qing Qing belum lama saling mengenal tak peduli seberapa dalam hubungan mereka. Beda dengan Xin Ya yang tumbuh bersamanya sejak kecil.

 

Dokter keluar tak lama kemudian dan memberitahu kalau Xin Ya masih koma dan mengingatkan mereka untuk tidak membiarkan apapun mengganggunya jika dia bangun nanti.

Mendengar itu, Ibunya Xin Ya langsung memohon pada Feng untuk membantu mereka. Mereka tidak pernah menyalahkan Feng atas kematian Xin Yu, tapi mereka tidak bisa kehilangan Xin Ya juga. Ayahnya Xin Ya bahkan jatuh sakit gara-gara masalah ini.

Feng diam saja, tapi Lan Ting langsung saja meyakinkan Ibu bahwa Feng pasti akan menjaga Xin Ya dengan baik agar Xin Ya bisa hidup damai sepanjang hidupnya.

Ibu Xin Ya jadi berpikir kalau itu maksudnya, Feng mau menikahi Xin Ya. Kaget, Feng mau meluruskan. Tapi Lan Ting dengan cepat memancing rasa bersalah Feng dengan cara mengingatkan Feng untuk tidak membiarkan Ibu Xin Ya kehilangan anaknya lagi.

 

Dokter memberitahu Qing Qing bahwa kesehatan Kakek Chen benar-benar semakin memburuk. Sekretarisnya Kakek juga memberitahu Qing Qing bahwa Kakek sebenarnya sangat menderita ditinggal Qing Qing.

bahkan dalam kondisinya yang sekarang, Kakek masih saja harus memikirkan bisnisnya. Tak ingin membebani Kakek, akhirnya Qing Qing terpaksa harus menggantikannya mengurus kontrak merger mereka sampai tengah malam.


Feng nge-chat saat itu, maka Qing Qing langsung saja meneleponnya dan menanyakan kondisi Xin Ya.

"Dia sedang tidak stabil. Aku sedang berada di rumah sakit menjaganya."

Qing Qing nyinyir mengatai Xin Ya ahli siasat. Orang yang rela mencabut nyawa sendiri hanya karena sedikit patah hati, seharusnya dia diomeli dan bukannya dijaga. Apa Feng menghubunginya tengah malam begini hanya untuk memberitahunya tentang betapa menyedihkannya Xin Ya?

Ujung-ujungnya mereka jadi bertengkar karen masalah ini. Feng tak suka dengan cara bicara Qing Qing. Tapi Qing Qing juga kesal karena Feng lebih perhatian dengan wanita lain dibanding padanya yang katanya pacarnya Feng.

Dia sendiri punya banyak masalah belakangan ini, tapi Feng malah mendampingi wanita lain. Apa Feng bahkan pernah menanyakan bagaimana kabarnya?! Feng bahkan tidak menanyakan keadaan kakeknya. Dia rasa, Feng juga pasti tidak akan kan seandainya dia tidak bisa kembali ke Yuncheng.

"Jika aku tidak bisa segera kembali ke Yuncheng, apa yang akan kau lakukan?"


Berusaha keras menahan emosinya, Feng malah berkata. "Chen Qing Qing, jika kebersamaan kita menyakiti orang lain... mungkin... tidak seharusnya kita bersama."

Qing Qing tak percaya mendengarnya, ternyata Feng tidak ingin dia kembali yah. Baiklah, kalau begitu. "Selamat tinggal, Si Tu Feng."

Qing Qing langsung menutup teleponnya dan tangis Feng pecah seketika.


Xin Ya sadar tak lama kemudian dan langsung terharu melihat Feng setia menjaganya dan langsung memeluk Feng sembari menuntut Feng untuk selalu bersamanya dan tidak akan pernah meninggalkannya. Feng mengiyakannya dengan terpaksa.

Xin Ya senang, "kau akan memegang janjimu, kan?"

"Iya."

 

Qing Qing bermimpi buruk tentang Xin Ya dan para kroninya nyinyir menghinanya sebagai orang ketiga padahal dia ahli waris kerajaan bisnis Chen. Dia bahkan memimpikan Xin Ya dan Feng mau menikah.

Qing Qing tersentak bangun dari mimpia buruk sambil menjerit heboh. Parahnya lagi, dia malah mendapati pesan permintaan maaf dari Feng yang sepertinya benar-benar ingin mengakhiri hubungan mereka.

"Apapun yang kulakukan selalu berakhir menyakiti orang lain. Tapi aku tak punya pilihan, maafkan aku."

Tapi Qing Qing tidak terlalu memikirkan maksudnya dan balik tidur lagi.


Feng tengah termenung sedih saat Tuan Si Tu datang dan berusaha menyemangati Feng. "Kau adalah putra Si Tu Jie. Kau tidak akan mudah terjatuh."

"Aku mungkin sudah membuat keputusan yang salah."

"Aku percaya pada pilihanmu. Lebih baik daripada sebelumnya saat kau tidak mendapat persetujuanku dan lebih memilih musik. Aku akan selalu menyesalinya."

Tuan si Tu sadar kalau ia tak pernah memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang ayah sejak ibunya Feng tiada dan selalu bersikeras mendapatkan apapun yang ia inginkan tanpa mempedulikan perasaan Feng. Jadi wajar saja kalau Feng membencinya.


Sejak Feng kecil, Tuan Si Tu selalu menganggapnya anak ingusan. Ia selalu memprovokasi Feng, mengejeknya, dan menentang segala hal yang Feng lakukan. Tapi sebenarnya...

"Tapi sebenarnya, Ayah hanya memasang wajah dingin sambil diam-diam peduli tentang karirku. Terakhir kali Qing Qing datang mengunjungiku, dia memberitahuku semuanya. Dia tak sengaja masuk ke ruang kerja Ayah dan menemukan tempat itu penuh dengan albumku dan artikel tentangku."

"Kau melakukan tindakan yang menampar wajahku. Aku merasa bangga padamu."

"Ayah, aku tidak pernah membenci Ayah. Aku hanya takut kalau Ayah tidak memperhatikanku."

"Aku salah. Kau sekarang sudah dewasa, sudah menjadi seorang pria yang mengambil semua tanggung jawab untuk dirinya sendiri. Mulai sekarang, aku tidak akan mengendalikan hidupmu lagi. Tak peduli apapun yang kau lakukan, aku akan selalu mendukungmu."

"Terima kasih, Ayah."


Tepat saat dia mau berangkat untuk melakukan konferensi pers, Nan Xi tiba-tiba datang dan langsung menuntut maksud dari undangan pertunangan antara Feng dan Xin Ya.

Feng mendengus sinis menatap undangan itu. Tapi tak ada apapun yang perlu dia jelaskan. Nan Xi datang saja nanti.

"Si Tu Feng, sebaiknya kau menjelaskannya sekarang. Jika tidak, aku tidak akan tinggal diam."

"Aku akan bertunngan dengan Xin Ya. Saat itu, kau harus datang."

Nan Xi kontan kesal melabraknya. Semua orang juga tahu kalau Feng tidak punya perasaan pada Xin Ya. Feng jadi ikut emosi mendengarnya. Nan Xi pikir dia setuju dengan semua ini?

Yah, benar. Dia memang tidak punya perasaan apapun pada Xin Ya. Tapi dia tidak bisa membiarkan Xin Ya terus menerus menyakiti dirinya sendiri. Beberapa hari yang lalu, Xin Ya mencoba bunuh diri lagi dan membutuhkan perawatan darurat semalaman.

"Aku sangat ketakutan. Aku sudah berutang satu nyawa pada Keluarga Lan. Aku benar-benar tidak bisa berutang pada mereka untuk kedua kalinya."

Bersambung ke episode 27

3 komentar: