Sinopsis Once Upon a Time... In My Heart Episode 1 - 3

 Sinopsis Once Upon a Time... In My Heart Episode 1 - 3

Mengira cowok di hadapannya ini orang gila, Fah batal belanja dan bergegas kabur darinya. Tapi Daniel malah membuntutinya yang jelas saja membuat Fah kesal dan langsung melabraknya dalam Bahasa Inggris, menuntut kenapa Daniel membuntutinya.


Bukannya bicara baik-baik, Daniel malah mencengkeram tangan Fah yang malah membuat Fah jadi semakin ketakutan padanya.

Parahnya lagi, Tian Kong cs menemukannya saat itu dan langsung menembak ke arahnya. Fah kontan jejeritan panik dan Daniel bergegas membawanya lari melewati gang sempit terdekat.

Untungnya gang itu juga gelap sehingga mereka kehilangan jejaknya dengan cepat. Dan tepat saat itu juga, anak buahnya Tian Kong melapor kalau polisi sudah datang. Terpaksa akhirnya mereka menyerah dan pergi tanpa menyadari kalau Daniel dan Fah sebenarnya bersembunyi di dekat mereka.


"Apa aku akan mati? Apa aku akan mati?" Panik Fah.

"Kau tidak akan mati, mereka sudah pergi."

Fah kaget, dia bisa bicara bahasa Thai? Dia mau pergi, tapi Daniel malah menariknya dan mencengkeramnya dengan erat. Fah jadi semakin yakin kalau Daniel itu pasti orang jahat, makanya dia mau dibunuh.

"Siapa namamu?" Tanya Daniel.

"Buat apa kau tanya?"

"Aku tanya siapa namamu?!"


Fah jelas tidak mau bilang dan berbohong kalau namanya adalah Dr. Kwan (Pfft!). Tapi Daniel tak percaya begitu saja dan langsung saja mengambil paspornya Fah dan dari situlah dia mengetahui nama Fahsai.

"Balikin! Kalau kau tidak mengembalikan pasporku, aku akan menjerit sekencang-kencangnya biar orang-orang itu kembali untuk membunuhmu!"

"Kalau kau teriak, aku akan menutup mulutmu pakai ini." Ancam Daniel sambil menunjukkan pistolnya.

Fah jadi tambah takut padanya, tapi Daniel terus mencengkeramnya erat dan mencegahnya melarikan diri. Daniel penasaran dia tinggal di mana?... Dia mau tinggal bersama Fah. What?


Tak lama kemudian, Fah dengan terpaksa membawa Daniel ke hotel. Mereka berjalan bersama layaknya sepasang kekasih biar tidak dicurigai.

Fah berusaha memberi isyarat pada pegawai hotel untuk menolongnya, tapi si petugas hotel nggak nyambung, malah terus menerus membungkuk hormat padanya. Daniel sadar apa yang tengah dilakukannya dan mengancam Fah untuk menghentikan aksinya atau Fah tidak akan selamat.


Begitu sampai kamar, Fah langsung melepaskan diri darinya dan menuntut Daniel untuk memenuhi janjinya. Pokoknya dia harus pergi begitu dia berhasil menghubungi anak buahnya nanti.

Bukannya menjawab, Daniel malah santai membuka pakaiannya, memperlihatkan luka di lengannya. Fah jadi panik, Daniel mau ngapain?! Ketakutan, Fah langsung kabur ke kamar mandi. Daniel cuma tersenyum geli melihat reaksinya sebelum kemudian mengeluarkan sebilah pisau.


Fah berusaha menghubungi Fai dan memintanya cepat kembali ke hotel. Tapi Fai malah sedang bersenang-senang dengan teman-temannya yang ribut jejeritan heboh dan sepertinya sudah mabuk, dia bahkan kesulitan mendekar suara Fah.

Fah sampai terpaksa harus mengeraskan suaranya dan berkata kalau dia bertemu pencuri. Fai sontak cemas menyuruhnya untuk menyembunyikan dirinya di kamar mandi, dia akan kembali secepat mungkin!


Fai berjalan sempoyongan keluar dari restoran itu. Pada saat yang bersamaan, Chen Biao juga lewat di jalan itu sambil berusaha menghubungi Daniel tanpa hasil. Dia jadi cemas, apa Bos baik-baik saja?

Di tengah kebingungannya mencari polisi, Fai mendadak mual gara-gara mabuknya. Dia berniat berpegangan pada sebuah sepeda terdekat, tapi dia malah oleng dan membuat semua sepeda di sana terjatuh tepat di hadapan Chen Biao.

Samar-samar dia melihat sosok Chen Biao dan langsung merengek-rengek minta tolong padanya... sebelum kemudian pingsan. Chen Biao jadi bingung harus bagaimana.


Fah galau di kamar mandi saat tiba-tiba saja dia mendengar suara Daniel menjerit kencang yang kontan membuatnya keluar untuk mengecek keadaan tapi malah mendapati Daniel tengah mengoperasi lukanya sendiri sampai dia berhasil mengeluarkan pistolnya.

Dan hal itu kontan membuatnya mencemaskan Daniel sampai dia lupa akan ketakutannya pada Daniel. Dia bahkan langsung mendekat untuk mengecek luka Daniel dan berusaha membujuknya untuk pergi ke rumah sakit.

Tapi tentu saja Daniel menolak pergi ke rumah sakit karena orang-orang itu masih mengejarnya sekarang ini.

"Kau lihat sendiri, kan? Bermasalah dengan orang lain itu tidak bagus untuk diri sendiri. Kembalilah menjadi orang baik. Masyarakat pasti akan memaafkanmu." Omel Fah.

"Dan bagaimana kau tahu kalau aku bukan orang baik?"


Tentu saja karena Daniel dikejar-kejar orang lain, dia juga punya senjata, mengancamnya, menculiknya, dan mencuri barangnya. Bukankah semua itu cukup sebagai bukti?

"Jujur saja, kau sebenarnya siapa?"

"Aku bukan orang baik. Terus kau siapa?"

"Kau kan sudah tahu."

"Aku ingin lebih mengenalmu."

"Buat apa?"

"Agar aku bisa membalasmu."

"Tidak perlu. Kau tidak perlu membalas apapun. Kau tunggu saja orangmu datang menjemputmu dan kita tidak perlu bertemu lagi. Sebaiknya kita tidak bertemu lagi, maka aku akan bahagia."

Daniel agak kecewa mendengarnya, tapi perhatiannya teralih dengan cepat saat Fah mengeluarkan kotak P3K-nya dan melihat ada beberapa hansaplas warna-warni di sana.


Daniel geli melihat semua itu. "Apa kau tidak takut?"

"Aku pernah melihat darah yang jauh lebih banyak daripada ini. Diamlah, aku akan mengobatimu." Ujar Fah lalu mulai mengobati Daniel.

"Kenapa?"

Dalam flashback, Fah pernah membantu Dr. Itt mengobati seseorang yang mengalami kecelakaan. Dia mengaku pada Daniel bahwa dia sering mengobati luka banyak orang sebelumnya. Tapi berhubung sekarang peralatan medisnya terbatas, jadi dia hanya bisa memperbannya.

"Kalau kau tidak ingin lukamu terasa terlalu menyengat, maka pikirkan saja hal-hal lucu atau hal-hal yang membuatmu bahagia."


Mendengar itu, Daniel malah langsung mendekatkan wajahnya ke Fah dengan tatapan menggoda. Fah menyuruhnya untuk melakukan sesuatu yang membuatnya bahagia, kan?

"Tidak usah merayu. Hatiku tidak akan goyah oleh orang asing."

"Terima kasih."

"Kenapa kau tidak mengubah 'terima kasih' itu dengan mengembalikan pasporku?"

"Kalau kau menginginkannya... datang dan ambil saja sendiri." Goda Daniel sambil menepuk-nepuk sakunya dengan penuh arti.

"Sinting!" Fah sontak melarikan diri ke kamar mandi.


Daniel akhirnya meletakkan paspornya Fah di meja dan saat itulah Daniel melihat buku diary-nya Fah. Dia jadi tertarik untuk membukanya dan langsung sadar kalau Fah hanyalah orang yang mirip Botan. Tapi berbagai foto dan konten yang Fah tulis di dalamnya kontan membuat Daniel tersenyum.


Fah keluar dari kamar mandi tak lama kemudian dan sontak merebut buku dairy itu dari tangan Daniel dengan kesal. Tidak sopan membaca buku diary orang lain!

Dia langsung mengambil tasnya dan bersiap pergi. Daniel tunggu saja anak buahnya di sini, Fah mau turun. Tapi Daniel memperingatkan kalau dia sudah tahu alamat rumah Fah. Jadi kalau Fah berani berbuat macam-macam, dia akan mengejar Fah sampai ke rumahnya.

Fah tak menjawab dan langsung pergi... dan seketika itu pula Daniel baru cemas. Bagaimana kalau orang-orangnya Chen Ming sampai melihat Fah?


Di tempat lain, Chen Ming menatap lukanya dengan penuh emosi, teringat kenangan masa lalunya semasa keluarganya masih hidup.

Flashback.


Chen Ming ternyata dulunya seorang pelukis. Tapi ayahnya bersikeras untuk melatihnya dengan keras. Bahkan pada hari itu, ayahnya dengan sengaja menyuruh Chen Ming untuk bertarung dengan anak-anak buahnya.

"Kalau kau ingin bertahan, maka kau harus bertarung, Ming. Jika kau tidak bertarung, maka akan kubiarkan kau mati di tangan mereka."

Ayah bahkan melarang Tian Kong membantu Chen Ming karena Cheng Ming adalah pewaris geng White Tiger. Chen Ming benar-benar harus berjuang keras untuk melawan kedua lawannya, tapi pada akhirnya, dia berhasil mengalahkan mereka.

Ayah senang, "pewaris geng White Tiger tidak boleh kalah."

Tapi setelah berhasil mengalahkan kedua orang itu, Chen Ming malah jadi lengah dan kedua orang itu langsung kembali mengeroyoknya dengan mudah dan kali ini Chen Ming benar-benar tidak mampu melawan mereka. Tapi untunglah Kakaknya Chen Ming datang menyelamatkan sang adik saat itu, tapi Ayah tidak senang.

Flashback end.


Kenangan akan ayah dan kakaknya itu sontak membuat emosi Chen Ming semakin membuncah hingga dia langsung memecahkan cerminnya.


Fah santai saja keluar dari hotel tanpa menyadari Tian Kong ada di sana. Mengira dia Botan, Tian Kong langsung menyeretnya paksa ke dalam mobil.

Bersambung ke part 4

0 komentar

Post a Comment