Sinopsis Leh Nangfah Episode 11 - 1

Sinopsis Leh Nangfah Episode 11 - 1


Beauty mau keluar makan siang saat Tee menghadangnya dan mengajaknya makan bareng, ada yang mau dia bicarakan juga. Beauty tidak mau. Lagian kalau dia telat, 'seseorang' pasti akan mengomelinya.

"Kau tidak akan terlambat. Aku akan mengecek waktu untukmu. Masuklah."

Di restoran, Tee mengaku kalau dia terpaksa memberitahu Manager toko tentang jati diri Beauty, tapi dia meminta Manager untuk merahasiakannya. Makanya, Beauty juga jangan membuat masalah lagi.

"Hei, kau ada saat aku bekerja dengan baik. Kenapa kau tidak pernah memujiku?"

"Baik apanya? Caramu menjual itu sangat buruk."

"Tidak benar. Aku sales yang sangat baik, yang buruk itu adalah pelanggan. Mengacak-acak sana-sini, tapi tidak beli. Bahkan ada orang yang minta diskon."

"Pelanggan itu selalu benar. Jangan lupa kalau kita hidup sampai sekarang ini adalah karena para pelanggan."

"Cobalah jadi aku."

"Aku sudah pernah melakukannya. Setiap sales pernah mengalami situasi sepertimu. Yang bisa sukses adalah mereka yang bisa memenangkan hati pelanggan dan si pelanggan itu sendiri."


Beauty kesal banget di ceramahin seperti itu sampai tak sengaja dia menggerakkan gelas air di tangannya terlalu keras dan pada akhirnya membuat airnya menciprati jasnya.

Beauty sontak heboh melepaskan dan mengangin-anginkan jas mahalnya. Tee geli melihatnya... sampai saat dia melihat lebam-lebam kecil di lengan Beauty. Tee sontak cemas melihat itu. Mengira Beauty dipukulin cowoknya, Tee menyuruh Beauty untuk putus saja dengan cowok itu.

"Kau sudah gila apa? Kau sudah kelewatan. Tinggalkan aku sendiri. Apa sih yang kau pikirkan?"

"Bukannya aku ingin ikut campur urusan pribadimu. Tapi kalau Paman Baworn dan Bibi Lalita melihatmu seperti ini, mereka pasti sangat sedih."


Setelah belanja, Jade dan Orn pun mulai bersiap belajar masak. Tapi Jade memanfaatkan setiap kesempatan untuk menggodai Orn. 

Saat dia pura-pura teriris pisau, Orn sontak cemas dan buru-buru menarik tangannya ke pancuran air. Tapi Jade malah mencandainya. Kesal, Orn langsung melemparinya dengan tomat.


Setelah masakannya jadi, mereka pun makan bersama Papa dan Mami, dan Jade memuji-muji masakan Orn setinggi langit. Mami lalu mengajak Jade untuk shopping bersamanya dan Orn.

Orn awalnya menolak ikut. Tapi begitu Mami bilang kalau dia mau belanja di outlet-nya Tee, Orn langsung semangat.


Pat dan Piwara langsung pergi ke outlet di Hua Hin begitu tahu kalau Beauty ada di sini. Karena tokonya besar, Pat menyuruh Kratua untuk berpencar mencari Beauty.

Kratua langsung lebay ngumpet sana-sini dan ngesot-ngesot di lantai bak lagi perang gerilya. Pat sampai aneh sendiri melihat kelakuan temannya yang satu itu.


Manager toko sekarang jadi sangat amat sopan pada Beauty dan hampir saja keceplosan memanggilnya 'presiden'. Dia dan Tee sekarang memindahkan Beauty ke bagian lain tak peduli biarpun Beauty sudah nyaman di tempat tugasnya yang sekarang.

Tee menegaskan bahwa setiap bagian toko ini memiliki detil yang berbeda-beda. Dengan Begitu, Beauty bisa belajar secara menyeluruh.

 

Di toko yang sama, rombongan Orn datang untuk shopping. Orn berusaha menghindari Jade dengan pindah ke sisi lain. Tapi Jade langsung saja ikutan pindah lagi ke sisinya. Kesal, Orn dengan sengaja mengibas-ngibaskan tasnya biar mengenai Jade.


Seorang pegawai lain menyuruh Beauty membawa dua kotak baju yang berat untuk mengisi bagian yang kosong. Tapi karena tidak bisa lihat jalan, dia tidak menyadari makanan yang tumpah di lantai. Beauty sontak terpeleset dan terjatuh di atasnya.

Parahnya lagi, orang-orang yang melihatnya, bukannya membantu, malah heboh memotretinya dan merekamnya yang jelas saja membuat Beauty jadi tambah heboh. Gara-gara kehebohan itu, Orn cs dan Pat cs melihatnya.


Orn langsung membantu menyeka Beauty, dan Pat cs langsung heboh mengejek dan menertawainya. Tee datang tak lama kemudian dan langsung menggandeng Beauty pergi dan memerintahkan Manager untuk membersihkan kekacauan ini.

Orn buru-buru mencegahnya, kecewa karena tidak tahu kalau Tee ternyata ada di sini juga. Tapi Tee bahkan tak mempedulikannya. Dia harus pergi sekarang dan berjanji akan menghubungi Orn nanti.

Orn hampir saja mewek diacuhin seperti itu. Berusaha menyemangati Orn, Mami menyarankannya untuk mengundang Tee makan malam nanti.


Beauty masih saja heboh saat mereka sudah aman di kantornya Manager. Tee santai menyuruhnya membersihkan diri saja, tidak perlu berisik seperti ini.

Pat malah tambah mengompori situasi dan mengklaim kalau para pelanggan mereka menjelek-jelekkan toko ini gara-gara salah satu pegawainya yang heboh banget seperti orang gila.

"Daripada mengkritikku, seharusnya kau menyalahkan lantainya yang kotor. Oh, atau jangan-jangan ini rencana jahat seseorang?"

"Siapa yang kau caci?"

"Seseorang yang tidak punya sejarah yang baik dan kebetulan sekarang dia datang ke Hua Hin hari ini."

"Bukan aku pelakunya!"

"Betul! Aku bisa meyakinkan kalau Khun Pat bukan pelakunya!" Bela Kratua.

"CUKUP!" Bentak Tee.


Daripada membuat suasana makin ribut, Tee dengan bijak menyuruh Manager untuk menunjukkan rekaman CCTV area itu. Dan ternyata pelakunya adalah seorang pelanggan yang tampak sedang ribut dengan anaknya.

"Jadi, kurasa kau berhutang maaf padaku."

Tapi tentu saja Beauty terlalu angkuh untuk itu. Lagian apa dia pernah menyinggung nama Pat? Tee cuma bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Beauty itu.

 

Begitu mereka pulang, Orn antusias memberitahu Papa kalau tadi mereka bertemu Tee di toko dan Mami mengundang Tee makan malam. Papa tak terlalu antusias mendengarnya, mungkin tak enak karena Jade.

Jade pamit tak ikutan makan malam bersama mereka dengan alasan kalau dia akan mengundang temannya. Papa menyarankan Jade untuk mengundang temannya makan malam bersama mereka saja, tapi Jade menolak dengan alasan tak enak mengganggu mereka.


Saat Beauty hendak pulang, Jade tiba-tiba muncul mendekatinya dan memberikan kartu namanya. Beauty ingat pernah melihatnya tampak akrab dengan Korn dan curiga kalau Jade lah orang yang bicara di telepon dengan Pamannya malam itu.

Jade mengklaim kalau dia ingin membicarakan perusahaan mereka. Makanya dia datang untuk mengajak Beauty makan bersamanya di sebuah restoran. Tapi sekarang sudah sore. Beauty tidak ada waktu dan beralasan kalau dia sudah ada janji.

Jade bersikeras agar mereka bertemu lain kali. Dan saat melihat Beauty kebingungan mencari taksi, Jade langsung menawarkan tumpangan untuknya.


Karena sudah tak ada waktu, Beauty langsung saja masuk ke mobilnya... tepat saat Tee keluar untuk mencarinya tapi malah melihatnya masuk mobilnya Jade.


Begitu sampai, Beauty langsung lari ke dalam rumah. Tapi Jade terus mengejarnya, bersikeras ingin menjemput Beauty besok. Tepat saat itu juga, Beauty mulai kesakitan. Beauty asal saja mengiyakannya lalu bergegas masuk kamar.


Tak lama setelah Beauty jadi burung, Tee datang mencarinya. Bibi Jan bingung karena Beauty tak mau diganggu di malam hari. Tapi Tee menegaskan kalau dia mau membicarakan masalah penting dengan Beauty.

Bibi Jan akhirnya menyuruh Pon untuk memanggil Beauty. Tapi satu-satunya yang Pon temukan cuma bajunya Beauty yang tergeletak begitu saja di lantai. Mereka semua jelas bingung.

"Dia pergi dengan siapa?" Tanya Tee.

"Saya tidak tahu. Saya hanya melihat sebuah mobil abu-abu yang mengantarkannya. Tapi saya tidak melihatnya keluar."

 

Tee langsung kesal mendengarnya... sama sekali tak menyadari Beauty sebenarnya ada di sana, sedang melihatnya dengan sinis.

Tee akhirnya pamit. Beauty yakin kalau Tee pasti mau pergi ke pacarnya. Penasaran apakah Tee juga bersikap menjengkelkan pada Orn seperti sikap Tee padanya selama ini atau tidak, Beauty memutuskan terbang mengikuti Tee.


Tanpa semua orang sadari, Pat dan Kratua lagi ngumpet di belakang semak terdekat. Tapi Kratua heboh terus gara-gara digigitin semut sampai Pat harus mengomelinya untuk diam dan konsen saja mengawasi musuh mereka.


Tepat saat dia melihat mobilnya Tee pergi, Kratua melihat burung Beauty terbang membuntuti mobil itu. Kratua mengenalinya, itu burung setan yang waktu itu membuli mereka. Dia sontak menjerit histeris sampai Pat harus membungkam mulutnya dengan panik.

"Ada apa sih? Kenapa kau teriak-teriak? Apa kau mau mereka semua keluar rumah?"

"Apa kau tidak lihat? Itu si burung setan yang berusaha membunuh kita!"


Pat tak percaya, mungkin Kratua salah lihat. Kratua bersikeras meyakini apa yang dilihatnya tadi. Tapi tiba-tiba dia melihat sesuatu yang lebih membuatnya ketakutan dan langsung mundur perlahan.

"Apa lagi sekarang, Kratua?"

"Hmm-hmm."

"Apa sih? Aku tidak mengerti!"

"Ada tokek!" (Hahaha!)

Pat melirik ketakutan ke sebelah dan sontak melemparkan dirinya ke Kratua sambil jejeritan heboh.


Beauty hinggap di pohon terdekat dan langsung sinis melihat Tee senyam-senyum dan bicara manis pada Orn. "Duh, manis banget aku sampai mau muntah rasanya. Huek!"

Tee memang memuji masakannya Orn enak, tapi dia tidak seperti Jade yang tampak benar-benar tulus menikmati masakan Orn. 

Mami dengan sengaja menyinggung Jade yang sangat menyukai masakan Orn. Orn jadi tak enak pada Tee gara-gara ucapan maminya itu.

Beauty geli mendengarnya. "Tee, kau punya saingan."


Papa juga sengaja mengompori Tee dengan memberitahunya kalau Jade mengajari Orn main golf tadi. Dia sebenarnya mengundang Jade makan bersama mereka tadi, tapi dia bilang kalau dia ada pesta dengan temannya.

Mendengar itu, Tee jadi berpikir kalau Beauty pasti pergi bersama Jade dan pikiran itu langsung membuatnya cemburu. 

Orn cemas melihat ekspresinya, apa Tee marah padanya? Tee menyangkal dengan senyum manis, dia cuma agak stres dengan toko. Bosan melihat mereka, Beauty memutuskan pergi.


Keesokan harinya, Jade datang menjemputnya. Tepat saat mereka pergi, mereka berpapasan dengan Tee yang baru datang. Kedua pria itu sontak bersitatap dengan sengit.

Beauty langsung memalingkan muka dengan jutek. Merasa menang, Jade langsung senyum sinis dan berlalu pergi.

Bersambung ke part 2

2 komentar: