Sinopsis Leh Nangfah episode 5 - 1

Sinopsis Leh Nangfah episode 5 - 1

Orn sedang merangkai bunga di toko bersama maminya saat Jade datang. Orn langsung sebal melihatnya.

"Ini tokomu? Pantas saja toko ini semanis dirimu." Gombalnya si Jade.

Dia datang kemari untuk pesan karangan bunga untuk ultah bibinya. Maminya Orn tidak mengenalinya dan senang-senang saja mendapat pesanan baru.

Orn males banget dan berusaha menghindar, tapi Mami langsung menyeretnya kembali untuk melayani pelanggan baru mereka itu dan tanya Jade mau karangan bunganya seperti apa?

"Aku ingin bunganya sesuai apa yang Orn pikir paling bagus. Aku yakin bibiku pasti akan menyukainya."

Dia lalu memberikan kartu namanya dan meminta Orn untuk mengirimkan bunga dan tagihannya jam lima. Mami antusias menerima pesananya, bahkan memberikan brosur promosi toko mereka.

Baru setelah Jade pergi, ibu mulai pernasaran dengan kartu nama pemberian Jade dan baru sadar kalau pria itu ternyata presiden Jade Garment, saingan beratnya Thanabaworn.

 

Saat Beauty tiba di kantin pabrik, dia langsung jadi pusat perhatian semua orang. Seenuan tanya kenapa dia terlambat. Beauty malah nyerocos panjang lebar kalau dia barusan sibuk mengurus kukunya, lalu mencuci wajahnya dan juga mengoles krim tabir surya untuk melindungi wajahnya dari debu dan sinar UV.

Seenuan menyuruhnya untuk cepat makan sekarang soalnya waktu istirahat cuma tinggal 5 menit. Tapi Beauty langsung ilfeel melihat makanannya para karyawan. Apa tidak ada restoran di sekitar sini?

"Tidak ada. Bos memberikan makanan gratis saja sudah cukup. Kau menyusahkan saja. Kemarilah!"


Tapi Beauty tak sempat makan karena Tip datang saat itu juga untuk menjemput Beauty. Ada urusan penting, perintah presiden. Terpaksalah Beauty pergi. Para karyawan langsung nyinyir, mereka yakin kalau Beauty pasti akan dipecat gara-gara memecahkan produk mereka.


Begitu dia datang, Tee langsung ngomel-ngomel memarahinya. Dia baru bekerja beberapa jam dan dia sudah memecahkan produk perusahaan yang seharga hampir 100.000 baht. Beauty santai, dia akan membayarnya. Tapi itu bukan salahnya.

"Bagaimana bisa itu bukan salahmu? Menurut laporan, kau yang roboh menimpa para karyawan dan membuat produknya pecah."

Itu karena barangnya berat. Lagian di era modern seperti ini, seharusnya mereka pakai forklift dan bukannya menyuruh para keryawan angkat-angkat barang berat. Mereka itu manusia dan bukannya budak. Bagaimana kalau para karyawan itu terluka?

"Kita melakukan sesuai dengan aturan persatuan buruh! Semua karyawan melakukannya tanpa masalah kecuali satu orang yag lebih peduli dengan kukunya daripada properti perusahaan."


Beauty tidak terima. Dia tidak memperhatikan kukunya sama sekali, dia baru memperhatikan kukunya hanya waktu kejatuhan kardus. Lagian kenapa sih presiden perusahaan sepertinya harus melakukan sesuatu yang sulit seperti itu?! Kukunya jadi rusak semua!

"Aturan kelima seorang presiden perusahaan adalah kau harus bisa melakukan segala macam pekerjaan yang dilakukan pegawaimu. Jika kau bahkan tidak tahu apa yang pegawaimu lakukan, lalu bagaimana kau akan bisa mengurus seluruh pabrik?"

"Aturan, aturan, aturan, aturan! Kebanyakan aturan bodoh!"


Kesal, Tee langsung mengusir Beauty dari kantornya... dan tidak usah kembali lagi. Tee tak mau lagi mengajarinya. Beauty jelas tidak terima dan menegaskan kalau dia akan tetap kembali besok.

"Kau sendiri yang janji akan melatihku setidaknya selama seminggu, hihihi...."


Walaupun dia mengacau di pabrik tadi, tapi dia juga sempat melakukan kebaikan sebentar saat dia membantu angkat-angkat kardus. Dan berkat kebaikannya itu, akhirnya muncul juga warna emas di jimat kristalnya walaupun cuma sedikit.


Pulang dari kantor, Beauty langsung ke salon menikur. Tapi belum sempat kukunya diperbaiki, alarmnya sudah bunyi. Sudah jam 4 sore. Beauty langsung panik dan buru-buru pulang.

Tapi tengah jalan, dia malah terjebak macet panjang. Sudah tak ada waktu, Beauty berusaha menyuruh supir untuk melakukan apa saja untuk menerobos kemacetan. Supir tidak bisa melakukannya... tapi ada satu cara agar Beauty keluar dari kemacetan lebih cepat.

Tak lama kemudian, Beauty dijemput ojek. Walaupun jijik banget sama helmnya, tapi terpaksa dia melakukannya.


Sesampainya di rumah, dia malah membayar ojek pakai kartu kredit yang jelas saja membuat tukang ojeknya mengira Beauty penipu. Tapi ujung-ujungnya dia malah kurang ajar menuntut Beauty untuk membayarnya pakai ci*man.

Tepat saat itu juga, matahari sudah hampir tenggelam dan Beauty mulai kesakitan. Untunglah satpam membuka pintu tepat waktu dan langsung memiting si tukang ojek. Beauty sontak melesat ke kamarnya dan berubah begitu dia menutup pintu.

Kesal, Beauty langsung guling-guling frutasi di kasurnya. Barusan saja dia hampir terlambat, dia harus bagaimana kalau shift kerjanya selesai setiap jam 5 sore.


Korn datang tak lama kemudian untuk bertemu Beauty. Tapi Bibi Jan memberitahu kalau Beauty tidak makan malam dan mungkin sudah tidur sekarang. Korn semakin heran mendengarnya, belakangan ini Beauty selalu menghindarinya. Ada apa sebenarnya?

Dia mencoba mengetuk kamar Beauty, tapi tentu saja tak ada jawaban. Beauty kesal banget mendengar suara Korn. Dia tidak mau bicara dengan pengkhianat... mending dia ke rumah Tee saja. Dia yakin kalau Tee pasti sedang menjelek-jelekkannya.


Sesampainya di rumah Tee, bukannya bertemu Tee, dia malah bertemu kucingnya Tee yang langsung melancarkan rayuan gombal padanya.

"Hai, kejutan. Kurasa ini takdir."

"Kau sendiri yang berpikir seperti itu!"

"Yang waktu itu kita belum mendiskusikan kesimpulan kita, sayang."

"Mau apa kau?"

"Apa yang mau kulakukan? Tentu saja merayumu."

"Dasar cab*l! Jangan dekat-dekat! Dasar kucing gendut!"

Wah! Seua tersinggung. Beauty harus dikasih pelajaran, nih. Ketakutan, Beauty langsung terbang menjauhinya. Seua kecewa, kenapa dia tidak mau main lagi?


Beauty akhirnya melihat Tee sedang mengeluarkan sebuah kandang burung kosong. Beauty bingung kenapa Tee mengeluarkan kandang burung, apa dia pelihara burung?

Nee juga menanyakan hal yang sama pada Tee. Tentu saja kandang itu untuk si burung kecil itu. Siapa tahu burung kecil itu kembali, jadi Tee menyiapkan tempat untuknya biar dia bisa terhindar dari Seua.

Beauty senang mendengarnya, Tee manis juga menyiapkan tempat untuknya. Berterima kasih, Beauty langsung hinggap di bahu Tee.

"Kau benar-benar datang. Baguslah."

"Saat aku jadi manusia, aku tidak pernah melihatmu bicara semanis ini."

"Burung macam kau suka nempel seperti manusia. Kau mirip seseorang."

"Setidaknya tidak seperti cewekmu."


Mengira si burung lapar, Tee menyuapinya biji-bijian lagi. Tapi Beauty tak mau dan langsung dimuntahin. Heran sama burung yang cerewet ini, Tee jadi penasaran dia cowok apa cewek.

Dia langsung menarik-narik kaki si burung untuk melihat gendernya. Jelas saja Beauty langsung protes keras dan memberontak.

"Oke, oke, oke! Aku tidak akan melihat, deh. Kau cerewet sekali, seperti Beauty saja."

"Kau pikir siapa yang kau sedang hina? Rasain, nih! Rasain, nih!" Kesal Beauty sambil mematuki jarinya Tee.

"Oke, oke, oke! Aku kesakitan. Kita masuk ke dalam saja. Seua mungkin akan memakanmu kalau kau tinggal di sini dan aku tidak akan bertanggung jawab untuk itu."


Tee lalu membawa si burung bertemu kedua orang tuanya dan Beauty langsung bercuit-cuit menyapa mereka. Nee tanya apa ini burung yang kemarin itu. Tee yakin karena burung ini masih punya bekas lukanya.

"Jangan main-main denganku!" Protes Beauty

"Dia jahat juga," komentar Nee

"Menurutku dia cuma moody, bu."

"Mungkin burung itu terbang dari pemiliknya." Duga Thana.

"Iya, yah. Dia bisa mengerti. Iya, kan. Beauty?"

"Hei! Jangan gunakan namaku sebagai nama burung!"

"Lihatlah, yah. Dia gampang marah, persis seperti Beauty."

Mendengar Tee ngomongin Beauty, Thana menduga kalau Beauty pasti melakukan sesuatu yang besar hari ini. Tee mengiyakannya, Beauty hampir saja membuat gudang pabrik meledak hari ini padahal ini baru hari pertamanya bekerja.


Kesal, Beauty langsung mengepak-ngepak sayapnya sebagai tanda protes. Tee jadi heran melihat burung itu. "Apa hubunganmu dengan si perusuh itu? Hah?"

"Aku Beauty!"

Nee meminta Tee untuk kasihan sedikit pada Beauty. Bagaimanapun, dia dibesarkan bak seorang putri sejak dia lahir, tapi malah harus mengalami banyak kesulitan. Tee terlalu kejam pada Beauty.

Mendengar itu, Beauty langsung terbang ke tangan Nee sambil memprotes Tee. Tee memang jahat banget sama dia.


Tee membela diri. Beauty sendiri yang memintanya untuk melatihnya seperti cara yang dilakukan Ayahnya Beauty dulu. Thana mengerti, Ayahnya Beauty memang sangat tegas pada semua orang kecuali putrinya sendiri. Mungkin ia kasihan karena Beauty tidak punya ibu, makanya dia memanjakan Beauty.

"Kasihanilah dia. Bukan cuma ibunya meninggal dunia saat dia masih kecil, sekarang ayahnya juga tidak ada. Tee, bantulah dia. Walaupun Beauty tidak sedarah dengan kita, tapi dia sudah seperti adikmu." Pinta Nee.

"Terima kasih bibi. Kau sangat baik padaku. Tidak seperti si gendut mata empat itu!"

 

Tee keluar tak lama kemudian dari kamar mandi dengan hanya memakai selembar handuk. Beauty sontak heboh nutup mata sambil protes keras. "Kau sudah gila apa? Kenapa kau tidak berpakaian dengan benar sebelum keluar dari kamar mandi?! Dasar sinting!"

Seua santai saja mengelap t**uhnya di hadapan si burung lalu mengambilnya dan menaruhnya di d**anya. Beauty tambah heboh menggeliat menjauh darinya. badanmu masih basah, kenapa tidak kau lap dulu dengan handuk?!


"Cerewet seperti ini. Kadang baik, kadang jahat. Benar-benar mirip Beauty."

"Hei! Aku sudah bilang jangan pakai namaku untuk menamai burung!" Protes Beauty sambil mematuki tangan Tee.

"Augh! Augh! Sakit! Hei! Kau galak seperti Beauty banget. Beauty! Beauty! Beauty! Beauty!"

"Aaaarrrgh!!! Jangan panggil aku Beauty! Rasain, nih! Akan kucabik-cabik jari-jarimu!"

Gemas sama burung kecil galak itu, Tee langsung berniat mengecupnya. Beauty sontak menghindar tepat waktu yang malah membuat Tee makin getol menggodanya dan mencoba mengecupnya lagi dan kali ini dia sukses.

"Dasar gila! Iiiiih!!!"


"Kau imut juga." Tee langsung memeluk Beauty. "Malam ini tidurlah di sini dan jangan pergi ke mana-mana. Jangan bergerak, malam ini kita akan tidur bersama."

Beauty protes tak mau, tapi aslinya mau juga sih dan akhirnya dia diam saja menikmati plukan Tee.


Saat dia terbangun tak lama kemudian, dia malah mendapati dirinya ketiduran. Kapan dia ketiduran? Tapi dia tak sempat memikirkannya karena tepat saat itu juga, dia melihat jam sudah hampir pukul 6 pagi.

Dia harus pulang sekarang. Tapi semua pintu terkunci. Gawat! Beauty sontak mencubiti bajunya Tee sampai dia terbangun lalu heboh menggerak-gerakkan kepalanya ke arah pintu.

Tee mengerti maksudnya, dia mau pulang, yah? Tapi heran dia, burung macam apa bisa sepintar ini?

"Cepetan, sudah hampir pagi! Aku bisa terlambat nanti!"

Tee akhirnya membukakan pintu dan melepaskannya. "Kembalilah lagi malam ini, cantik."

Bersambung ke part 2

1 komentar:

  1. Hua.....ha...ha...lucu ni klo nonton langsung,lanjut....Semangat,!!!!!!

    ReplyDelete