Sinopsis Bupphae Saniwaat Episode 5 - 1

Sinopsis Bupphae Saniwaat Episode 5 - 1


Saat Por Date pulang, Kade sudah menyambutnya di depan dengan seulas senyum tipis. Tapi senyum Kade mengembang makin lebar saat melihat kedatangan Reung. Reung pun tampak begitu terpesona padanya.

Ayah menyusul masuk tak lama kemudian bersama Khun Lek yang memberitahu Kade bahwa ia datang bersama Khun Ban. Nama itu kontan membuat Kade melongo gugup. Dia benar-benar speechless saat melihat Khun Ban masuk sesaat kemudian.

Khun Ban atau dikenal sebagai Phraya Kosa Ban adalah adik dari Kosa Lek/Khun Lek. Mereka adalah putranya Jao Mae Wadusit yang merupakan ibu susuan Raja Narai. Ia adalah duta besar yang dikirim ke Perancis. Ia orang yang pintar dan cerdas sehingga dikagumi oleh pihak Perancis dan mereka menerimanya sebagai duta besar.

Bahkan Raja Louis XIV sangat mengagumi dan memuji-muji Khun Ban. Khun Ban orang yang sangat modern pada masa itu dan fasih bicara Bahasa Perancis juga. Kade benar-benar kagum akan semua kehebatan Kosa Ban.

Karena itulah sekarang Kade cuma bisa bengong melihat Khun Ban dalam wujud nyata. Dia langsung duduk di depan Khun Ban sambil tersenyum manis pada tokoh sejarah yang sangat dikaguminya itu.

"Ini Mae Karakade, kan?" Sapa Khun Ban. "Dia memang cantik sesuai rumornya. Apa sekarang kau sudah merasa lebih baik? Setiap kali aku datang kemari, aku tidak pernah melihatmu. Kudengar kau selalu sakit dan tidur di dalam."

"Saya sudah merasa lebih baik, jao ka. Ini mungkin berkat dari mantra bulan."


Tapi kemudian Por Date merusak suasana baik itu dengan memberitahu Khun Ban bahwa walaupun fisik Kade baik, tapi pikirannya tidak waras. Cara bicara Kade juga sangat aneh.

Por Date mengucap semua itu sambil melirik ke arah Kade... yang sekaligus tempat duduknya Janward. 

Kayaknya dia ngelirik Kade deh, tapi Kade mengira kalau Por Date lagi melirik Janward dan langsung sebal.

"Lagi? Setelah menggigitku dia main mata dengan gebetannya. Si Meun ini." Sinis Kade dalam hati.


Mengalihkan pembicaraan ke topik utama pertemuan mereka, Ayah tanya Khun Lek ingin minta bantuan apa darinya? Khun Lek mengaku bahwa ia ingin bicara pada Raja untuk mempromosikan adiknya ini. Khun Ban pintar dan punya kemampuan menjadi duta besar.

Ayah langsung setuju. Ia mengakui Khun Ban memang pintar dan cerdas. Mengirimnya sebagai duta besar akan menunjukkan bahwa negeri mereka juga mampu. Ayah janji akan ikut membantu juga.

"Aku juga ingin meminta putra anda, Por Date, untuk menjadi diplomat juga." Ujar Khun Lek.

Ayah jelas setuju. Ia rasa putranya ini memang cocok untuk ikut menjadi diplomat. Kade juga ikut senang untuk Por Date dan langsung memberinya tepuk tangan ringan.


Tapi saat Por Date melihat Kade masih di sana, dia malah ngomel-ngomel memarahi Kade karena wanita tidak seharusnya mendengarkan pembicarakan politik para pria. Lebih baik Kade balik ke kamarnya.

Kade jelas tidak terima. Janward juga wanita dan dia duduk di sini mendengarkan mereka. Lalu kenapa dia sendiri malah dilarang? Suasana sontak jadi tegang mendengar protesnya Kade.

"Mae Ying Janward tahu segalanya. Tapi kau hanya akan bosan mendengarkan kami karena kau tidak mengerti apa-apa."

Kade tidak terima, apa yang tidak dia mengerti? Dia mengerti kok tentang masalah mengirim duta besar ke Perancis. Dia juga mengerti tentang rasa iri dan kecemburuan dalam dunia politik. Tapi baiklah kalau Por Date tidak menginginkannya di sini. Tapi sebelum pergi, ada yang harus dia sampaikan pada Khun Lek.


"Pangkat yang anda miliki sekarang ini, membuat anda harus terlibat dengan para farang dalam hal bisnis, uang dan bea cukai. Anda harus tahu bahwa ada orang-orang yang iri pada kekayaan dan keberuntungan anda, dan berpikir untuk menghancurkan keberuntungan anda."

Khun Lek sontak emosi mendengarnya, apa yang Kade ketahui? Kade menyangkal, tapi tentu saja Khun Lek tak percaya. Kade menegaskan bahwa dia tidak bohong.

"Lalu kenapa kau bicara seolah kau mengetahui sesuatu?"

"Jika anda mempertimbangkannya baik-baik, setiap kata yang saya ucapkan adalah kebenaran dari sifat alami 'manoot' (manusia - dialek modern)."

Khun Lek bingung. "Apa itu manoot?"

"Kon (manusia), jao ka."

"Kon? Lalu kenapa kau tidak bilang 'kon' saja? Kenapa kau malah bilang 'ma...' apa tadi?"

"Manoot. Artinya manusia, jao ka."

Khun Lek menduga kalau itu pasti bahasa dari Songkrae, dan Kade diam saja membiarkan Khun Lek berpikir seperti itu. 

Tak enak, Por Date memberitahu Khun Lek kalau Kade itu cuma lagi ngomong gila. Jadi lebih baik Khun Lek tidak usah mempedulikannya.


"Dia bicara lebih banyak daripada apa yang dia ketahui seolah tak pernah ada seorangpun yang mendidiknya. Bagaimana bisa kau bicara seperti itu pada orang tua?!" Sinis Por Date.

"Dan kau akan tahu kalau wanita gila ini bicara kebenaran! Aku hanya menebak kebenaran itu atau apa yang mungkin terjadi di masa depan... tak ada seorangpun yang tahu. Sebenarnya jika kau punya otak dan kecerdasan, maka kau akan bisa menebak bahwa tenggelamnya perahu Mae Ying Janward itu tidak biasa. Orang lain bergosip kalau itu perbuatanku, tapi hanya aku yang tahu kalau itu tidak benar dan karena itulah aku berpikir bahwa mungkin ada seseorang yang ingin mencelakai keluarga Thun Kosa. Tapi percuma aku bicara, karena aku cuma wanita gila." Cerocos Kade. (pinter juga dia)

Yam berbisik bingung, kenapa Kade malah menyalahkan orang lain. Pin sontak berbisik menegurnya, coba pikirkan kenapa Kade bicara begitu. Tapi Yam masih saja nggak nyambung, memangnya kenapa?

Suasana langsung sunyi berkat ucapan Kade tadi, sepertinya mereka mulai mempercayai ucapannya. Kade meminta maaf lalu pamit pergi. Ayah meminta Kade untuk membawa Janward pergi bersamanya juga.


Di luar, kekesalan Kade sirna seketika saat tiba-tiba dia melihat pelayan di rumah tetangga sedang membeli sekeranjang mangga. Pemandangan itu kontan membuat Kade teringat kenangan masa lalunya di dunia modern.

Kenangan saat dia dan pembantunya memetik sekeranjang mangga dari pohon mangga mereka sendiri. Kade antusias banget bisa dapat mangga yang bagus-bagus... dan langsung gatal-gatal setelahnya. Hee.

Kade jadi ngiler melihat mangga-mangga yang menggoda itu. Ah, dia mendadak punya ide bagus. 

"Mae Ying Janward. Ayo kita makan mangga dengan 'Nam Pla Wan' (bumbu rujak manis asin)."

"Apa itu?" Janward malah tidak mengerti itu makanan apa.

"Kau tidak mengerti? Kalau begitu, akan kubuatkan untukmu. Kujamin pasti 'zaap' (enak - bahasa gaul)."

Janward bingung maksudnya. Kade menjelaskan zaap itu maksudnya enak, lezat, tak ada duanya. Dia lalu memberitahu Pin dan Yam bahwa dia mau memetik sendiri mangga yang ada di kebun.


Tapi berhubung baju ini kurang cocok untuk memanjat, Kade meminta mereka untuk membantunya memegangi keranjang. Tapi duo pelayan malah geleng-geleng.

Yah sudah, Kade akan melakukannya sendiri saja. Dia santai saja berniat mengubah sarungnya jadi celana di hadapan mereka semua... yang pastinya membuat Janward shock melihat tingkah nyentriknya. Wkwkwk!

Pin dan Yam sontak panik menghentikan perbuatannya dan mengingatkan kalau ini sikap yang tidak pantas. Mereka janji akan melakukannya untuk Kade deh. Kesal, Kade akhirnya duduk lagi sambil menggeram sebal.


"Sudah oke kan, jao ka?"

"Oke, oke. Kalau begitu, kalian berdua saja yang memetiknya untukku."

"Kami, jao ka? Itu tidak oke, jao ka." Protes Pin.

"Kenapa tidak oke?"

Mereka asyik aja berdebat pakai oke-okean tanpa memperhatikan Janward yang cuma bisa bengong tak mengerti. Yam memberitahu Kade bahwa mereka tidak perlu memetiknya sendiri.

Tak lama kemudian, Buong-lah yang akhirnya disuruh memanjat dan memetiki semua mangga muda yang ada di pohon, sementara Pin dan Yam membantu memegangi keranjang-keranjangnya. Kade puas banget mendapatkan mangga yang bagus-bagus.

"Ayo Mae Ying Janward, kita buat mangga bumbu rujak."


Tapi saat Kade membuka salah satu keranjang, dia malah mendapati ada ular hijau kecil di sana. Kade sontak menjerit heboh dan melompat mundur ketakutan. Cemas, Yam buru-buru menyuruh Buong untuk membuang ular itu.

"Kau takut ular?" Janward malah heran melihat ketakutan Kade.

"Siapa yang tidak takut ular?!"

"Aku... pernah melihatmu menangkap ular." (Hah?)

Kade shock mendengarnya. "Menangkap ular?"

Bersambung ke part 2

3 komentar: