Sinopsis Kleun Cheewit Episode 14 - 4

Sinopsis Kleun Cheewit Episode 14 - 4


Dengan langkah tertatih-tatih, Thit berusaha berjalan secepat mungkin mencari Jee sembari teringat ucapan Chait bahwa Jee lah yang menegakkan keadilan untuk Thit. Apakah Jee membalaskan dendam untuknya atau tidak, hanya Thit lah yang paling tahu apakah Jee bisa melakukan hal sebesar itu demi Thit.

Dia terjatuh, tapi dia tidak menyerah dan bangkit kembali. Ucapan Bibi Wadee tadi kembali terngiang dalam benaknya. Bahkan saat dia melewati jembatan kayu, dia hampir saja terjatuh lagi hingga dia kehilangan tongkatnya. Tapi Thit tak mau menyerah begitu saja, dan terus berjuang untuk berjalan tanpa tongkat.


Dia terus berjalan, jatuh-bangun tanpa kenal menyerah. Tapi saat akhirnya dia menemukan Jee, dia malah melihat Jee sedang bersama Chaiyan.

Teringat permintaan Jee untuk mengakhiri segalanya sampai di sini agar mereka bisa memulai hidup baru, Thit akhirnya mengurungkan niatnya dan berbalik pergi dengan sedih.


Tapi kemudian Thit menelepon salah satu pegawainya dan menyuruhnya untuk menangani suatu kasus. Saat Jane menanyakannya pada si pegawai, Thit ternyata ingin mereka membantu Khun Ying untuk menangani kasusnya. Jane jelas heran mendengar Thit ingin membantu Ibunya Jee.


Keesokan harinya, Thit sedang jalan-jalan saat tiba-tiba saja dia melihat Jee datang untuk mengembalikan nampannya Bibi Wadee. Dia tidak melihat Thit dan santai saja mengira tidak ada orang di rumah.

Saat Jee melihat bunga lotus yang ada di atas meja, dia langsung memakannya dengan nikmat yang kontan membuat Thit terpesona melihatnya.


Dua anak mendadak muncul di belakangnya dan menyadari kalau Thit sedang mengintip Jee, mereka langsung menggodanya dengan lantang. "P'Thit, apa kau sedang mengintip P'Jee?"

Berkat merekalah Jee akhirnya melihat Thit. Thit mengaku terus terang kalau dia memang sedang mengintip Jee. Kedua anak itu jadi makin penasaran mendengarnya, kenapa Thit mengintipi Jee? Apa mereka sedang bertengkar?

"Karena aku sangat buruk, makanya aku tidak berani mendekatinya."


Tapi Jee salah paham mengira Thit tidak menginginkannya di sana dan buru-buru pamit. "Maaf sudah datang lagi kemari, aku cuma mau mengembalikan nampan kok. Tolong sampaikan salamku pada Bibi, setelah ini aku tidak akan pernah datang lagi kemari. Aku..."

"Jika Bibi ingin kau datang, maka kau boleh datang. Orang yang membuat semua orang di sini merasa tak nyaman bukan kau, tapi aku."

"Kalau Bibi tidak ada, aku pergi."

"Sepertinya P'Jee tidak akan memaafkan P' dengan mudah." Komentar salah satu anak. Mendengar itu, Thit mendadak punya ide bagus dengan bunga lotusnya.


Selesai berdiskusi dengan para anak buahnya Thit yang akan membantunya menangani kasus ini, Khun Ying mengajak Jane bicara berdua. Ia heran kenapa Thit membantunya?

"P'Thit ingin membantu anda karena dia tahu bahwa anda juga korban suami anda."

Mendengar itu, Khun Ying berpesan pada Jane bahwa jika Thit ingin membantunya, maka dia harus membantu Jee. Khun Ying tidak pernah menjadi korban siapapun, korban yang sebenarnya adalah Jee.

Jika bukan karena dirinya, Jee pasti tidak akan pernah terlibat dalam kecelakaan itu. Thit tidak perlu membantu membela kasusnya, Khun Ying hanya ingin Thit memahami Jee.

"Jika Jee tidak dibius, dia tidak akan pernah menabrak dan membunuh kekasihnya."

"Dia dibius? Maksud anda, P'Jee dibius saat dia mengendarai mobil itu?"

"Benar. Sitta membius Jee makanya dia kabur dan berkendara dalam keadaan setengah sadar. Sitta lah pelaku yang sebenarnya, Jee hanyalah korban. Kami berusaha melindungi Jee karena kami tahu bahwa bukan Jee yang bersalah dalam kasus ini."


Penasaran dengan kasus ini, Jane pun mencari tahu lebih banyak dengan bertanya pada Bibi Wadee. Jane tidak mengerti kenapa dulu Thit sangat yakin kalau Jee yang mengendarai mobil itu padahal dia tidak memiliki bukti rekaman itu?

Bibi Wadee berkata kalau itu karena Thit mendengar suara Jee melalui telepon saat kecelakaan itu terjadi. Kejadian ini meninggalkan bekas yang mendalam dalam hati Thit karena dia tidak bisa mendakwa pelaku yang sebenarnya, maka Thit selalu memandang Jee dengan buruk.

"Lalu kenapa Bibi menerimanya?"

Karena Bibi Wadee tahu kalau itu adalah kecelakaan, Jee tidak pernah berniat membunuh siapapun. Jika saja Thit bisa menerima bahwa kejadian itu adalah kecelakaan dan ketidaksengajaan, dia pasti bisa melihat kebaikan Jee dan tidak akan menutup diri seperti ini.

Bibi Wadee lalu cepat-cepat masuk dapur, meninggalkan Jane yang kebingungan dengan ucapan terakhir Bibi Wadee barusan. Apa maksudnya Thit menutup diri?


Saat dia mencari Thit, dia melihat Thit membeli segenggam bunga lotus dari seorang anak lalu cepat-cepat pergi dengan antusias. Jane heran melihatnya, untuk apa Thit membeli bunga lotus.


Jee sedang makan bersama Chaiyan saat itu. Dia benar-benar ngidam makan bunga lotus belakangan ini. Tapi melihat makanan itu membuat Chaiyan jadi merindukan Piak. Karena Piak juga suka sekali makan bunga lotus. Kalau dia melihat lotus wrap ini, dia pasti akan sangat menyukainya.

"Kalau begitu bawalah beberapa untuknya."

"Kalau aku melakukannya, dia hanya akan mengusirku bahkan sebelum dia melihat lotus wrapnya."

Jee benar-benar merasa bersalah. Karena dialah Chaiyan dan Piak berpisah seperti ini. Maaf.

"Bukan karenamu. Bahkan tanpamu, aku dan Piak akan tetap mencapai titik ini." Ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

 

Dia lalu cepat-cepat pergi dengan alasan mau mengambilkan bunga lotus lagi untuk Jee. Tapi Jee langsung memanggilnya kembali lalu memluk Chaiyan dan berusaha menghiburnya. Tapi Chaiyan merasa tak nyaman dan cepat-cepat melepaskannya.

"Setiap kali aku terluka, kau selalu ada di sisiku dan menghiburku. Tapi kenapa saat kau terluka, kau tidak membiarkanku berada di sisimu? Jangan bilang kalau pria tidak boleh lemah di hadapan wanita? Karena pria juga punya hati dan aku tahu kalau hati kakakku sedang sangat terluka sekarang."

Chaiyan akhirnya curhat kalau Piak mau pergi ke luar negeri. "Dia benar-benar akan meninggalkanku"

Prihatin, Jee langsung memluknya lagi... tanpa menyadari Thit yang melihat mereka dari belakang dan pastinya, salah paham lagi melihat pemandangan itu.

 

Patah hati, Thit menjatuhkan buket bunga lotusnya lalu pergi, tanpa menyadari Jane di belakangnya. Jane heran kenapa Thit mempedulikan Jee.

Tapi teringat ucapan Dao dan Bibi Wadee, akhirnya dia mulai paham kalau Thit jatuh cinta pada Jee. "Bagaimana mungkin jatuh cinta pada orang yang membunuh kekasihnya?" Heran Jane.

Teringat akan permintaan Khun Ying untuk menyampaikan kebenarannya pada Thit, Jane berpikir kalau Thit bisa mencintai Jee karena Jee sebenarnya tidak bersalah.

Jane lalu menyerahkan dokumen berisi pernyataan yang Khun Ying ajukan pada polisi. Thit langsung antusias bertanya apakah Khun Ying bersedia memperjuangkan kasusnya.

"P'Thit, sepertinya kau sangat baik pada mereka." Komentar Jane.

Thit canggung beralasan bahwa orang asing saja saling membantu. Jadi bagaimana bisa dia tidak melakukan apapun terhadap seseorang yang dia kenal.


Chaiyan tanya apakah Jee bisa melanjutkan syuting lakorn-nya besok? Tentu saja, besok kan syuting adegan pamungkas, jadi Jee harus bisa melakukannya.

Chaiyan meyakinkannya untuk tidak khawatir karena dia sudah meminta penulis skenario untuk mengganti adegan di mana Jee harus terjatuh. Adegan besok cuma adegan verbal saja tanpa action. Jee dan bayinya akan aman.

"Terima kasih, P'Chaiyan. Tanpamu yang selalu membantuku, aku pasti dalam masalah."

"Aku berusaha yang terbaik, tapi saat pe**tmu semakin besar, aku takut..."

"Takkan ada seorangpun yang tahu tentang bayiku. Setelah lakorn ini selesai besok, aku akan meninggalkan industri ini."

"Apa?!"

Jee sudah lelah, dia tidak mau lagi main lakorn baik on maupun off camera. Dia hanya menginginkan sebuah rumah di mana tidak ada seorangpun yang mengenalnya dan ibunya.

"Aku akan memulai hidup baru di sana bersama ibuku."

"Dan apa P'Suki mengetahuinya?" Tanya Chaiyan, tapi Jee hanya terdiam galau tak bisa menjawabnya.

 

Di lokasi syuting, Jee keluar setelah selesai didandani dan Suki langsung nyerocos memuji-muji kecantikan Jee. Bahkan dengan antusias dia memberitahu Jee bahwa seorang produser dari Korea menghubunginya untuk meminta Jee jadi model video musik mereka.

Suki bahagia banget. Jee benar-benar akan menjadi bintang yang bersinar terang dan bukan cuma debu bintang kayak Pim. Hari sabtu nanti mereka akan datang untuk mendiskusikan kontraknya.

Tapi Jee meminta maaf karena tidak bisa menerima pekerjaan itu. Suki tidak mengerti kenapa, ini kesempatan langka dan Jee malah menolaknya? Semua orang ingin bekerja di Korea.

"Aku tahu. Tapi... aku benar-benar tidak bisa melakukannya. Setelah lakorn ini selesai, aku akan meninggalkan industri ini."


Suki terkejut mendengarnya. "Meninggalkan industri ini?! Jee, apa maksudmu? Apa yang terjadi? Apa kau marah padaku? Apa aku menerima terlalu banyak pekerjaan untukmu? Aku bisa mengosongkan semuanya, Jee."

"Bukan karena itu, P'Suki."

"Lalu kenapa kau ingin meninggalkan industri ini? Aku tidak mengerti."

"Aku hamil."

Suki shock. "Hamil?"

Bersambung ke part 5

2 komentar: