Sinopsis Bupphae Saniwaat Episode 3 - 1

Sinopsis Bupphae Saniwaat Episode 3 - 1

 

Keesokan harinya, Kade antusias berlarian kesana-kemari mencari-cari keberadaan Por Date saat tiba-saja Khun Ying Jumpa muncul dan membentak sikapnya.

"Bibi, apa Bibi melihat Meun Suntorndewa?" Tanyanya santai.

Khun Ying sontak kesal membentak kelancangannya. Berani sekali dia bicara pada orang tua sambil berdiri, seharusnya dia duduk! Yam sampai harus menarik-narik bajjunya sampai akhirnya Kade duduk bersimpuh di hadapan Khun Ying dan meminta maaf atas kelancangannya.


"Bibi, apa Bibi melihat Meun Suntorndewa?" Ulang Kade.

Khun Ying tak percaya mendengarnya. Kade itu lebih muda daripada Por Date, bagaimana bisa Kade memanggil Por Date selancang itu?

"Salah lagi." Keluh Kade. "Jadi, dia di mana, jao ka?"

Alih-alih menjawab pertanyaannya, Khun Ying malah mengomentari keanehan Kade dan berusaha memancing Kade untuk jujur tentang siapa dirinya yang sebenarnya dan kenapa dia merasuki t**uh Karakade. Ia bahkan mengancam akan merukiyah Kade kalau dia tidak mau jujur.

Kade tetap tenang meyakinkan Khun Ying kalau dia bukan hantu atau semacamnya, sungguh. Dia berani bersumpah malah. Khun Ying tetap tidak percaya, kata-katanya tidak ada yang jujur.

"Bibi, jao ka. Apa yang harus kulakukan agar Bibi percaya?!" Seru Kade.

"Lancang! Berani sekali kau berteriak padaku?! Aku tidak bisa menoleransimu lagi."


"Bibi! Lalu apa yang Bibi ingin aku lakukan?"

"Kata-katamu menjijikkan. Bicaramu aneh, tidak seperti cara bicara orang-orang di sini. Aku curiga, dari negara mana kau berasal? Katakan, Mae Karakade."

Berusaha bersabar, Kade meyakinkan Khun Ying bahwa jika dia hantu maka suatu hari nanti dia pasti akan ketahuan oleh Ayahnya Por Date. Paman kan sangat ahli. Tapi Khun Ying tetap tak bisa mempercayainya dan langsung mengusir Kade.

Duo pelayan ingin mengikuti nona mereka, tapi Khun Ying mendadak menyuruh mereka untuk memperingatkan nona mereka itu agar dia tahu diri. Kalau tidak, Khun Ying mengancam akan mengirim mereka kembali ke Songkrae.


Duo pembantu sontak panik dan buru-buru menyampaikan ancaman Khun Ying itu pada Kade. Tapi Kade langsung menyela mereka dengan cuek, lagian dia juga sudah dengar kok tadi. Biasanya kapan Por Date pulang? Duo pembantu malah bengong.

"Kalian tidak mengerti? Begini saja, Meun Suntorndewa..."

"OI! Anda barusan dimarahi. Tolong panggil dia dengan benar, jao ka. Khun P'."

"OKE! Khun P'Meun, biasanya dia pulang jam berapa? Kapan?"

"Kenapa nona ingin tahu?"

"Aku harus bicara dengannya."

"Tentang apa, jao ka?" Seru duo pelayan serempak.

"Pokoknya penting. Itu saja yang perlu kalian tahu."


Jadilah dia mondar-mandir di dok depan rumah, menunggu Por Date yang tak kunjung pulang. Sebuah perahu datang tak lama kemudian, tapi itu cuma Prik yang baru pulang dari belanja.

Saat Prik berjalan melewatinya, Kade tersenyum tulus padanya. Tapi Prik cuma meliriknya dengan jutek. Tapi dia penasaran, apa yang sedang Kade tunggu? Saat Kade berpaling padanya, dia langsung berdesis nyinyir mengatai Kade tak punya hati lalu pergi.

Kade melongo mendengarnya. "Oke deh. Satu orang lagi yang membencimu, Karakade."


Prik nyinyir mengeluhkan Kade yang cuma mondar-mandir di dok pada nyonyanya. Prik setuju banget dengan kebencian Khun Ying pada Karakade, dia memang wanita yang paling menjengkelkan, dia pantas dibenci. Memangnya ada berapa banyak pelayan yang menyukainya? Cuma kedua pelayan setianya itu.

"Kedua orang itu, kelihatannya lambat dan bodoh. Tidak ada seorang pun yang cerdas." Nyinyir Khun Ying.


Kade mulai sebal karena Por Date masih juga belum pulang. Dia bahkan hampir menangis memikirkan nasibnya. Tapi yah sudahlah, toh dia sudah sampai sejauh ini dan tidak bisa kembali lagi.

"Aku harus berjuang. Aku manusia, Kadesurang. Aku sudah sejauh ini dan tidak ada jalan untuk kembali." Isak Kade.

Pin dan Yam jadi ikut sedih mendengar keluhannya. Mereka pun langsung duduk di sisinya dan menangis bersamanya, sementara Kade melamun memikirkan kenangan-kenangan indahnya bersama ibu dan neneknya.


Kenangan saat dia nyanyi-nyanyi gaje sampai diprotes ibunya, kenangan melipat kelopak bunga lotus bersama neneknya, kenangan belajar memasak bersama ibunya. Kenangan-kenangan yang penuh canda tawa dan membuat Kade tak kuasa menahan air matanya.


"Aku harus berjuang! Aku harus berjuang! Aku tidak akan menyerah!" Teriak Kade di tengah isak tangisnya. "Ibu... Nenek... apa kalian tahu di mana aku berada sekarang?"

Mengira yang dimaksud Kade adalah orang tua Karakade yang sudah meninggal dunia, Pin dan Yam meyakinkan Kade bahwa kedua orang tua dan neneknya Karakade pasti akan melindunginya dari surga.

Terharu, Kade sontak memluk mereka dan menangis bersama-sama. "Terima kasih, P'. Terima kasih."


Maria sedang mengobati luka ayahnya sambil membicarakan Constantine... tepat saat Constantine dan kedua anak buahnya tiba-tiba lewat di depan toko mereka. Tatapan mereka bertemu, tapi Maria langsung menghindar.


Por Date ternyata sedang minum bersama Reung yang mendadak penasaran ingin melihat seperti apa wajah Karakade. Soalnya ada rumor beredar yang mengatakan kalau Karakade berani nyolot Ork Luang Surasakorn sampai dia tak bisa berkata-kata.

Tapi dia memperhatikan, Por Date sepertinya tidak menyukai tunangannya itu. "Dia secantik langit, lalu kenapa..."

"Dia tidak cantik! Dia menjijikkan!"

"Pantas saja dia cemburu pada Mae Ying Janward sampai menenggelamkan perahunya."

"Mungkin iya, mungkin juga tidak." Por Date tak yakin karena Karakade tidak terpengaruh oleh mantra bulan.

Kalau begitu, Reung menyimpulkan kalau itu cuma gosip. Mantra bulan kan mantra yang sangat keramat, semua orang tahu itu.. Jadi kalau Karakade tidak kenapa-kenapa, berarti dia tidak bersalah.


Kade masih setia menanti Por Date di dok. Karena bosan, dia memutuskan untuk menanyakan masalah mantra bulan pada kedua pelayannya. Apa mantra gila itu benar-benar sangat keramat?

"Bagaimana bisa anda menyebutkan mantra gila, jao ka?" Tegur Yam.

"Ah, sudahlah. Katakan saja padaku. Jangan berbohong."

Sementara duo pelayan saling melempar pandang dengan ragu-ragu, Por Date sendiri sedang dalam perjalanan pulang sambil nyanyi-nyanyi dan minum-minum.


Setibanya dia di rumah, Kade langsung menuntut untuk bicara dengannya. Por Date menolak, tidak ada hal yang harus dia selesaikan dengan Kade kok.

"Tapi aku ada!" Seru Kade.

"Bagaimana bisa aku mempercayaimu?"

"Kalau begitu, jangan percaya. Aku tidak care (peduli) kau percaya atau tidak."

Jelas saja semua orang bingung mendengar bahasa anehnya. "Kau bilang apa? Care?" Heran Por Date.

"Iya. Aku tidak care! Kalau kau ingin yakin maka rapalkan." Tantang Kade.

"Rapalkan?"

"Rapalkan mantra bulan atau apalah itu."

"Apa sebenarnya yang ingin kau katakan?"

"Sudah jelas kan. Aku tidak akan mengulanginya lagi."


Tapi Por Date tidak mengerti, jadi Kade harus mengulang kata-katanya barusan. Mantra bulan itu bukan mainan yang bisa dia ucapkan sembarangan. Kade menyangkal, dia tidak main-main. Dia sungguh-sungguh.

"Rapalkan saja. Rapalkan saja semuanya. Dan kita lihat saja apakah nanti... Baiklah. Khun Meun..."

Tapi Por Date menyela dan menyuruh Kade untuk memanggilnya Khun P' saja seperti biasanya, dia beralasan kalau panggilan Khun Meun itu mengganggu telinganya.

"Baiklah. Khun P'Meun."

"Khun P' saja. Tidak perlu pakai 'Meun'. Apa arwah sepertimu tidak tahu bagaimana memanggil seseorang dengan benar?"

"Khun P', aku tahu sulit membuatmu percaya kalau aku bukan hantu yang merasuki t**uh Mae Karakade. Makanya aku meminta waktu dan aku ingin Khun P menunggu dan melihat bahwa jika aku benar-benar hantu, maka aku tidak akan sanggup bertahan terhadap mantra bulan. Rapalkan mantra bulan itu dan buktikan sendiri." Pinta Kade sungguh-sungguh.

Por Date jelas bisa melihat kesungguhannya itu, tapi kemudian dia memutuskan cuek dan masuk tanpa membawa jawaban.

Kade berusaha mengejarnya dan menghalangi langkahnya, tapi Por Date langsung menegur sikapnya dan menyuruhnya minggir. Kesal, terpaksalah Kade harus minggir dan membiarkan Por Date pergi.


Kade akhirnya kembali ke kamar dengan langkah gontai. Tapi saat dia melihat sekumpulan kain di keranjang, tiba-tiba dia ingat saat dia mengeluh tak nyaman karena tidak pakai c***na dalam.

Seketika itu pula mood-nya mendadak berubah drastis. "P'Pin, P'Yam. Ayo kita menjahit c***na dalam." (Pfft!)

"C***na... dalam?" Pin dan Yam bingung.

"Iya. Apa yang kalian bingungkan? Ayo cepat, ambil kainnya."

"Kain yang mana, jao ka?"

"Kain untuk menjahit c***na dalam. Ayo, cepetan ambil."

Bersambung ke part 2

2 komentar: