Sinopsis About is Love Episode 10 - 1

 Sinopsis About is Love Episode 10 - 1

Zhou Shi heran memikirkan Wei Qing yang menunggunya di depan rumah tadi, dia nganggur banget apa gimana? Atau Wei Qing benar-benar tidak punya teman? Ah, sudahlah! Zhou Shi bergegas pergi ke kelasnya.


Wei Qing sendiri pergi menemui direktur kampus dan meminta daftar penerima beasiswanya. Pak direktur heran, untuk apa Wei Qing tiba-tiba ingin melihat daftar ini?

"Tidak ada. Aku hanya ingin memastikan sesuatu."

"Ah, jika lain kali anda memerlukan hal seperti ini, lebih baik kirim saja asisten anda. Anda tidak perlu datang sendiri."

"Tidak masalah. Kebetulan aku lewat dan sedang ada waktu, aku mampir untuk melihat-lihat. Anda bisa kembali bekerja."


Pastinya yang ingin dia periksa adalah data diri Zhou Shi, tapientah untuk apa. Begitu mendapatkan apa yang dicarinya, Wei Qing langsung menelepon Asisten An dan menyuruhnya untuk menyelidiki sesuatu.


Zhou Shi tak sengaja bertemu Ming Cheng, tapi Ming Cheng malah sibuk melamun sampai tidak mendengar Zhou Shi memanggilnya. Ada apa dengannya?

"Err... aku mengalami sebuah situasi."

"Masalah apa yang membuatmu sampai stres begini? Baru pertama kali ini aku melihatmu begini."

"Ini juga pertama kalinya bagiku."

Mari kita melihat masalahnya dalam flashback.


Ternyata tadi saat dia bertanding baduk dengan Qiu Jing, Ming Cheng kalah dengan cepat padahal Qiu Jing bahkan tidak tampak terlalu serius memainkannya.

Menurut Qiu Jing, sebenarnya kemampuan Ming Cheng cukup bagus. Hanya saja, seandainya Ming Cheng tidak terlalu membosankan, mungkin Qiu Jing akan mau main beberapa ronde lagi dengannya.

Bagaimanapun, Ming Cheng adalah lawan nyata pertamanya. Setelah bertanding dengan Ming Cheng, Qiu Jing baru menyadari kalau bermain seperti ini ternyata jauh lebih menyenangkan daripada melawan komputer. Yah, setidaknya dia tidak terlalu emosi soalnya Ming Cheng sangat lemah.

Ming Cheng tak percaya mendengarnya. "Apa kau barusan mengolokku?"

"Aku memujimu. Setidaknya melalui permainan ini, aku tahu kalau kau adalah orang yang memiliki toleransi. Setidaknya kau tidak akan marah pada Zhou Shi karena kau kalah."

"Memangnya aku kelihatan sepicik itu? Memangnya sebelumnya kau pikir aku ini bagaimana?"

"Tidak penting apa yang kupikirkan tentangmu. Lagian kita tidak sering bertemu. Aku pergi."

"Tunggu! Jika suatu hari ini klub baduk ini jadi lebih menarik, apa kau mau bergabung?"

"Mungkin iya."

Flashback end.


Zhou Shi sampai bingung melihatnya melamun. Dia mikirin apa sih? Apa Ming Cheng butuh bantuannya?

"Tidak usah. Anak kecil sepertimu tidak perlu memikirkan masalah ini untukku. Ternyata ada seseorang yang jauh lebih baik daripada kita. Dulu, aku tidak memahami hal ini."

Ngomong-ngomong, sepertinya Zhou Shi hari ini sedang senang. Betul sekali, soalnya Zhou Shi tidak telat masuk kelas hari ini. Kalau begitu, Ming Cheng traktir dia makan siang nanti, bagaimana? Oke!

Dia lalu tanya jam berapa, tapi malah heran melihat Zhou Shi memakai jam tangan yang kayaknya jam tangan cowok. Jam tangannya siapa itu?

Zhou Shi langsung panik berbohong kalau ini punyanya mantannya Fei Fei. Ponselnya kan rusak, jadi Fei Fei pinjemin ini ke dia.

"Oh, kukira kau sudah punya pacar."

"Mana mungkin! Aku sangat lapar, Kak Ming Cheng, ayo kita makan."


Di rumah, Zhou Shi memberitahu Fei Fei kalau tadi dia bilang ke Ming Cheng bahwa jam tangan ini punyanya pacarnya Fei Fei. Jadi kalau Ming Cheng tanya, Fei Fei tolong bantu dia untuk bilang ke Ming Cheng kalau ini hadiah lama dari mantannya. Zhou Shi akan mengembalikan jam tangan ini begitu ponselnya selesai diperbaiki.

"Buat apa dibalikin? Itu jam tangan Patek Philipe white gold edition. Kalau dijual, kita bisa beli apartemen tingkat dua atau tiga di pusat kota. Gao Yang bahkan tidak memiliki basic edition-nya. Siapa yang memberimu hadiah semahal ini? Wei Qing?"


Shock mendengar betapa mahalnya jam tangan ini, Zhou Shi buru-buru melepaskan jam tangan itu dari tangannya dan membungkusnya dengan tisu. Memiliki benda ini bisa membuatnya stres. Dia sudah cukup sial dengan kehilangan dompet dan ponsel rusak. Oops! Keceplosan.

Fei Fei kaget mendengarnya. Zhou Shi kehilangan dompetnya? Pantas saja belakangan ini dia bersikap sangat aneh. Jadi dia kehilangan biaya hidupnya? Terus apa rencana Zhou Shi bulan depan?

"Mungkin bergantung pada gaji bulan ini. Untung saja Wei Qing mengirimiku makanan untuk menyokongku untuk sementara waktu. Aku harus berterima kasih padanya."

"Berterima kasih padanya? Apa kau bercanda? Cuma karena ini, kau ingin berteman dengannya?"

Zhou Shi lapar, Wei Qing mengiriminya makanan. Ponselnya rusak, Wei Qing memberinya jam tangan. Bukankah itu terlalu kebetulan? Seharusnya dia lebih berhati-hati.


Berhati-hati kalau Wei Qing secara perlahan-lahan... pelan-pelan... menangkap Zhou Shi... sebagaimana dia mengencani para wanita itu di masa lalu.

"Jangan hubungkan aku dengan para wanita itu. Aku tidak menerima hadiah apapun dari dia."

"Tidak? Terus semua makanan yang kau makan dan barang-barang yang kau gunakan ini apa namanya?"

"Aku akan belum gajian. Begitu aku dapat gaji, aku akan membayarnya kembali."


Asal Zhou Shi tahu saja. Salah seorang seniornya adalah mantannya Wei Qing. Dulu dia juga berkata sama persis seperti Zhou Shi. Tapi begitu dia mendapatkan Wei Qing, dia berubah jadi cewek matre.

Dan selanjutnya, Wei Qing mencampakkannya hanya dalam kurun waktu sebulan. Wanita itu tidak rela melepaskannya begitu saja, dia bahkan mencoba bunuh diri beberapa kali. Tapi pada akhirnya, dia tetap saja dicampakkan.

Zhou Shi ngeri mendengarnya. "Terus selanjutnya bagaimana?"

Pepatah mengatakan 'sekali kau merasakan kehidupan mewah, kau tidak akan bisa hidup sederhana lagi'. Setelah gadis itu sudah terbiasa dengan barang-barang mewah, apa Zhou Shi pikir dia bisa kembali ke gaya hidupnya yang sebelumnya?

"Kalau kau ingin bersamanya, maka abaikan semua kata-kataku. Tapi jika kau tidak ingin terlibat dengannya, maka jangan menerima apapun darinya."

 

Ketakutan mendengar cerita Fei Fei tadi, Zhou Shi langsungmendata semua makanan pemberian Wei Qing itu, tapi lama-lama dia bingung juga karena sebagian sudah dia makan dan dia sudah tidak ingat lagi apa-apa saja yang sudah dia makan itu. Terus bagaimana dia bisa membayarnya kalau begini? Pokoknya besok dia harus mengembalikan jam tangan ini ke rumahnya Wei Qing.


Di kantor, Asisten An menyerahkan ponsel baru ke Wei Qing dan melapor bahwa dia sudah mengurus semuanya, sepertinya mereka menyuruh orang untuk melakukan sesuatu dan hal itu berhubungan dengan Zhou Shi.

Tapi Asisten An sebenarnya agak khawatir, langkah ini cukup beresiko. Wei Qing santai saja, pokoknya dia tidak mau bermain dengan aturannya Zhou Shi. Biar Zhou Shi tahu siapa pemain dominan dalam game ini.

"Bagaimana kalau dia mengetahuinya, apa yang harus kita lakukan?"

Gampang, Wei Qing tinggal minta maaf sekali lagi saja. Tiba-tiba resepsionis melapor bahwa Zhou Shi ingin bertemu Wei Qing. Maka Wei Qing menyuruhnya untuk naik ke ruangannya.



"Ini untukmu." Ujar Zhou Shi sambil menyerahkan jam tangan mewah yang sudah dia bungkus rapat pakai bubble wrap segala.

"Apa ini?"

"Apartemenmu... err, bukan. Maksudku jam tanganmu."

"Aku tidak terburu-buru ingin dikembalikan, kau pakai saja."

"Tidak, ini barang mahal. Kalau sampai retak dan kau kehilangan kamar mandi atau kamar tidur, aku tidak akan bisa mengembalikannya."

Wei Qing geli mendengarnya, kenapa harus dibungkus seperti ini? Biar aman lah. Zhou Shi juga menyerahkan sebuah amplop yang didalamnya berisi beberapa uang.


Itu untuk membayar makanan-makanan yang Yi Zhou kirim. Yah, walaupun dia tidak yakin dengan jumlah pastinya karena dia tidak ingat berapa yang sudah dia makan. Jadi Wei Qing hitung sendiri saja. Kalau itu kurang, nanti dia kirim sisanya.

"Bukankah kita teman? Apa perlu begini?"

"Tapi aku tidak suka berhutang sama orang, bahkan pada teman dekatku."

Lagipula, mereka berdua kan belum bisa dianggap sebagai teman. Masalah apakah nantinya mereka akan jadi teman atau tidak, itu dibicarakan lain kali saja. Zhou Shi pamit.

"Eh, tunggu. Ini ponselmu."

"Berapa biaya perbaikannya?"

"Wah, kau masih punya uang lebih?"

Tidak, sih. Kalau begitu, zhou Shi janji akan membayarnya lain kali. Wei Qing rasa, masalah itu mereka bicarakan saja lain kali, sekarang kan mereka masih belum jadi teman, Zhou Shi bahkan sudah tidak mau terlibat dengannya.

"Anggap saja ini kerugianku. Kau tidak perlu menggantinya."


Tapi, kenapa ponselnya ini kelihatan masih baru? Yakin ini bukan ponsel lamanya? Tepat saat itu juga, tiba-tiba ponsel itu berbunyi dari ibunya yang terdengar panik.

Bersambung ke part 2

6 komentar: