Sinopsis Kleun Cheewit Episode 6 - 5

Sinopsis Kleun Cheewit Episode 6 - 5


Karena Jee tidak bisa meninggalkan pekerjaannya, Suki akhirnya pergi sendiri untuk mencari Nenek Jan. Tapi di tengah jalan, dia malah melihat mobil Managernya Pim sedang membuntutinya.

"Dasar kepo! Akan kukirim kau kembali ke kampungmu!" Kesal Suki. Dia lalu berbelok-belok kesana-kemari untuk mengecoh si Manager.


Sementara itu di studio, kedua nang'ek sekarang foto bareng sambil senggol-senggolan. Chaiyan lalu meminta mereka untuk pose saling mencengkeram satu sama lain.

Pim langsung semangat mau menampar Jee betulan. Tapi Jee dengan cepat menangkap tangannya dan mencengkeramnya erat-erat. Pim malah tambah ganas mencekik Jee dan Jee langsung balas menjambak rambutnya. Wkwkwk!

Chaiyan sampai bingung sendiri melihat mereka dan Piak jelas senang menikmati pemandangan itu. Sepertinya bakalan terjadi adegan tampar-tamparan dan pembunuhan betulan.

Chaiyan cepat-cepat menyudahi pemotretan ini, tapi kedua nang'ek tak ada yang mau mendengarnya sampai Chaiyan harus bertindak untuk memisahkan mereka.


Jee akhirnya punya waktu untuk menelepon Pan dan langsung panik saat Pan memberitahu kalau Nenek Jan kabur. Panik, Jee langsung menelepon Suki.

Tapi Suki sendiri masih sibuk muter-muter di jalanan gara-gara Managernya Pim yang terus mengejarnya tanpa kenal lelah.

"Dia terus membuntutiku kayak roh gentayangan. Entah dulu dia dikasih makan apa sama orang tuanya!"


Pada saat yang bersamaan, Thit ngebut ke stasiun Chiang Mai. Dia langsung masuk ke kereta untuk mencari Nenek Jan dan menemukannya tidur di sana. Tapi saat Thit mencoba membangunkannya, Nenek Jan tidak bangun-bangun.


Thit langsung memanggil ambulance dan mereka pun bergegas melarikan Nenek Jan ke rumah sakit. Tapi petugas medis penasaran apa hubungan Thit dengan pasien, apa dia keluarganya? Soalnya pasien tidak membawa KTP-nya, entah apakah dia punya keluarga.

Mendengar itu, Thit mendadak punya ide. Dengan sengaja dia menyerahkan album foto Nenek Jan yang berisi foto-foto Jee dan menyarankannya untuk membuat pengumuman mencari keluarga nenek itu. Mungkin nenek itu penggemar beratnya Jee?


Setelah pemotretan selesai, kedua nang'ek menjalani sesi wawancara. Saat Jee ditanya tentang perannya, Pim dengan liciknya menyela dan berkata kalau peran Jee di drama terbaru ini adalah mencuri kekasihnya Pim... sebuah peran yang sangat sesuai dengan Jee.

Tak mau kalah, Jee balas menyindir peran Pim juga sangat sesuai dengan Pim. Sebuah peran yang penuh dendam melintasi ruang dan waktu. Dia sangat cakap dalam hal itu.

"Saya dengar skrip ini sangat dramatis?" Tanya salah satu wartawan.

"Sangat dramatis 1000%." Kata Pim sambil melirik sinis Jee.

"Bagian latar belakangnya jauh lebih dramatis daripada bagian depan." Komentar Piak yang geli melihat kedua nang'ek itu dari kejauhan.

"Mereka akan saling membunuh satu sama lain sebelum lakorn-nya selesai." Cemas Chaiyan.

Menurut Piak, Chaiyan tidak perlu menyutradarai mereka karena peran kedua nang'ek itu sudah sangat sesuai untuk masing-masing, sama-sama licik dan jahat. Chaiyan cuma perlu jadi wasit saja.


Tapi di tengah wawancara, seorang wartawan lainnya tiba-tiba mendapat notifikasi pengumuman tentang seorang nenek yang pingsan di kereta. Berita itu mengatakan kalau nenek itu penggemarnya Jee. Apa Jee sudah mengetahuinya?

"Tidak. Apa aku boleh melihat beritanya?"

Si wartawan langsung memperlihatkan berita itu padanya. Jee sontak cemas melihat foto Nenek Jan, tapi dia berusaha tetap tenang dan mengklaim kalau dia tidak tahu karena penggemarnya kan dari segala umur.


"Jika itu kerabatmu, mungkin akan lain cerita." Sindir Pim. "Bahkan sekalipun dia cuma seorang penggemar, tapi tetap saja kasihan. Entah apakah anak-anak atau cucu-cucunya mencampakkannya. Kurasa kau tidak bisa melakukan apapun. Kau harus membantu nenek itu dengan mencari anak-anak atau cucunya."

Seorang wartawan tanya bagaimana perasaan Jee mendengar berita ini? Jee canggung berkata kalau dia ingin mencari cara untuk membantu nenek ini.


Di rumah sakit, Nenek Jan masih saja berikeras tidak mau dirawat. Para suster sampai harus menahananya dan berusaha memintanya untuk menunggu kerabatnya datang walaupun Nenek bersikeras kalau ia tidak punya kerabat.

Tepat saat itu juga, berita di TV menyiarkan bahwa setelah Jee mengetahui nenek yang pingsan itu adalah penggemarnya, Jee berkata kalau dia yang akan mengurus biaya perawatan nenek.


Khun Ying juga menonton berita itu dan langsung kesal. Ia langsung menelepon Suki dan memperingatkannya untuk tidak membiarkan Jee menginjakkan kaki di rumah sakit itu.


Begitu Suki tiba di rumah sakit, Thit langsung menyambutnya dengan nyinyiran. "Apa kau datang kemari untuk memainkan peran orang suci bagi si aktris itu?"

"Kau ini bicara apa? Memainkan peran apaan? Tidak ada yang seperti itu."

Tak lama setelah Suki masuk UGD, Pan dan Jane tiba di sana. Pan langsung berterima kasih pada Thit lalu cepat-cepat masuk UGD. Jane pun bersyukur karena Thit menemukannya. Jika tidak, entah bagaimana nasib Nenek Jan sekarang.


Pim lagi-lagi berusaha mengompori Piak. Jee baik banget sampai mencemaskan nenek itu, padahal nenek itu cuma penggemar. Kalau saja dia tidak mengenal Jee, dia mungkin akan berpikir kalau Jee terburu-buru karena Jee berusaha menutupi berita ini.

Dulu Ibunya Jee pernah bilang dalam sebuah interview kalau dia adalah mantan birokrat. Lalu tiba-tiba ada seorang nenek miskin muncul dan semua orang pasti akan tahu kalau dia birokrat palsu.

Saat Jee keluar, dia terburu-buru pamit pada Chaiyan. Dia mau ke rumah sakit untuk melihat keadaan nenek itu. Yang tidak mereka sangka, Piak tiba-tiba menyuruh Chaiyan untuk menemani Jee.

"Kasihan sekali nenek itu, entah di mana cucunya." Sindir Piak penuh arti.

 

Dan begitu mereka pergi, Piak dengan sengaja pura-pura menelepon Jee di dekat para wartawan. Begitu yakin seorang wartawan mengupingnya, dengan lantang dia pura-pura menyuruh Jee untuk berhati-hati, jangan sampai ada yang tahu kalau Jee adalah cucu nenek itu.

Mendengar itu, si wartawan kontan mengajak rekan-rekannya untuk pergi ke rumah sakit. Rencana Piak sukses.


Suki dan Pan terburu-buru membantu Nenek Jan turun dari ranjang. Suki cemas kalau-kalau sampai ada reporter datang, bisa kacau nanti. Pan juga langsung ngomel memarahi Nenek Jan, semua ini gara-gara Nenek Jan melarikan diri.

"Kau bilang apa? Bukankah kau yang duluan cari perkara dengan menelepon Jee?!"

"Aku kan cuma khawatir. Nenek mau aku bagaimana?"

"Sudah, jangan bertengkar. Ayo cepat pergi!" Kesal Suki. Tapi tepat saat itu juga, mereka melihat Khun Ying datang.


Pada saat yang bersamaan, Jee dan Chaiyan baru tiba di lobi rumah sakit tapi malah mendapati Thit dan Jane ada di sana.

"Sedang apa kau di sini?" Heran Chaiyan

"Aku membawa seorang klien ke rumah sakit. Bisa dibilang dunia ini sempit."

Tanpa menyadari ketegangan antara Thit dan Jee, Jane santai saja memberitahu Jee bahwa klien mereka adalah Nenek Jan. Apa Jee datang untuk mengunjungi Nenek Jan gara-gara berita itu?

"Kalau Nenek tahu, ia pasti akan sangat senang. Nenek Jan penggemarmu juga."

Thit menatapnya dengan licik sebelum kemudian mengusulkan. "Bagaimana kalau melakukan press conference?"


Seketika itu pula sekumpulan wartawan muncul mengerubungi Jee dan membombardirnya dengan segudang pertanyaan. Apa Jee datang untuk mengunjungi Nenek itu? Dan bagaimana dengan kabar yang mengatakan kalau nenek itu adalah Neneknya Jee, apa itu benar? Apa mereka saling mengenal? Dll.

Jane prihatin melihatnya. Para wartawan itu sepertinya sedang berusaha memaksakan hubungan Jee dengan Nenek Jan untuk menjual berita.

Jee awalnya bingung tak tahu harus menjawab apa sampai Chaiyan yang harus mengambil alih situasi dan mengklaim kalau Jee tidak mengenal nenek itu. Mereka datang kemari hanya karena mereka cemas setelah mendengar berita itu.

Tapi tentu saja para wartawan tak puas dengan jawabannya. Lalu bagaimana dengan album foto itu. Di dalamnya ada foto-foto masa kecil Jee. Apa dia kerabatnya Jee?


Dalam kegalauannya, Jee hampir saja mengakui kebenarannya. Tapi tepat saat itu juga, Nenek Jan mendadak muncul bersama Khun Ying dan menyatakan kalau Jee tidak mengenalnya.

Nenek berbohong kalau ia dulu bekerja jadi pembantu di rumahnya Khun Ying dan pernah membesarkan Jee. Tapi wajar saja kalau sekarang Jee tidak mengingatnya.

"Khun Nu, kau tidak mengingatku, kan? Aku dulu pengasuhmu waktu kau kecil."

Thit jelas kesal dengan perubahan situasi ini. Saat Jee masih diam saja, Khun Ying mengklaim kalau dia datang kemari untuk mempertemukan mereka agar Jee punya kesempatan untuk membalas jasa Nenek Jan yang telah membesarkannya walaupun sudah tidak mengingat Nenek Jan lagi.


"Aku ini cuma seorang pelayan. Aneh sekali kalau dia masih ingat. Wajar kalau kau tidak kenal aku, Khun Nu." Ujar Nenek Jan.

Jee cuma bisa terdiam sedih. Tapi Nenek Jan terus menyemangatinya untuk mendukung klaimnya. Setetes air mata mengalir saat akhirnya Jee dengan terpaksa menyatakan maaf karena tidak mengingat Nenek Jan lalu melempar tatapan tajam ke ibunya.

Khun Ying mengklaim kalau dia dan putrinya baru saja mengetahui penderitaan Nenek Jan, jadi mereka akan membantunya demi membalas jasa Nenek Jan dulu.


Thit menjauh dari mereka dengan kesal. Chaiyan bertanya apakah Thit sudah melihat kebenarannya sekarang. Thit tak percaya mendengarnya, masa Chaiyan tidak bisa membedakan mana kebenaran dan mana yang cuma akting?

Jee itu lagi memainkan akting jadi aktris sok suci yang membantu seorang nenek tua, padahal mereka itu sebenarnya hidup bergelimang harta dan mencampakkan nenek itu di tempat kumuh. Kalau saja tidak ada reporter, mereka tidak mungkin datang.

"Apa kau pengadilan? Kenapa kau selalu menghakimi orang setiap saat?"

"Aku melakukan segalanya untuk membuktikan bahwa keadilan itu masih ada. Tapi aku sendiri tidak mengerti kenapa aku menghabiskan hidupku untuk memperjuangkan sesuatu yang tidak ada."

 

Setelah para reporter itu pergi, Jee tanya apakah ini alasan Nenek melarikan diri? Jee janji akan menjaga Nenek Jan mulai sekarang. Nenek Jan cuma senyum, tapi Pan entah kenapa terus menggerutu gelisah.

Suki datang tak lama kemudian dan memberitahu Jee kalau Nenek Jan harus melakukan X-ray. Tapi Suki juga tampak galau seperti Pan.


Dalam perjalanan keluar, Jane berkomentar riang tentang betapa sempitnya dunia ini. Dia sungguh tak menyangka kalau Nenek Jan ternyata mantan pengasuhnya Jee. Dia yakin kalau Jee pasti tidak akan meninggalkan Nenek Jan.

Thit langsung sinis menasehati Jane bahwa sebagai pengacara, dia tidak boleh asal menilai seseorang dari ucapannya. Lebih baik Jane pulang, dan lain kali jangan terlalu mudah mempercayai omongan orang lain.


Tepat setelah Jane pergi, Thit melihat Suki mengantarkan Nenek Jan dan Pan (Hmm... sepertinya mereka bukan mau melakukan X-ray). Nenek Jan bahkan berterima kasih pada Thit seolah sedang pamitan.

Nenek Jan meyakinkan Thit untuk tidak mencemaskannya... tepat saat seorang pengawal datang untuk menjemput Nenek pergi. Wah!

 

Saat Suki kembali, dia baru memberitahu Jee kalau Nenek Jan sudah pergi dan menitipkan album foto ini. Nenek Jan bilang kalau ia tidak mau menjadi bebannya Jee, makanya dia memberikan ini pada Jee.

Di dalam album foto itu, Jee menemukan sebuah surat perpisahan. Dalam suratnya, Nenek Jan meminta Jee untuk tidak marah padanya karena pergi tanpa pamit, dan jangan pula takut kalau ia akan marah karena Jee berbohong pada para wartawan tadi.

"Aku tahu kau sedih dan menderita. Tapi jangan lupa bahwa selain harus berbakt padaku, kau harus wajib berbakti pada ibumu dengan melindungi reputasi dan martabatnya. Pan dan aku sudah memutuskan bahwa kami harus pergi sejauh mungkin darimu."

"Sekarang kau sudah memiliki segala yang kau impikan, baik uang dan reputasi. Jangan biarkan Pan dan aku menjadi penyebab penderitaanmu lagi. Aku memberikan foto-foto lama ini agar tak ada bukti yang bisa mengeksposmu dan ibumu lagi. jee, kau akan selalu ada dalam ingatanku selama aku masih hidup. Aku tidak akan pernah melupakanmu."

Jee kontan menangis membaca surat itu. Tapi saat dia membuka-buka album foto itu, tiba-tiba ada sebuah kertas lain yang terjatuh dan kontan membuat Suki panik.

Dia berusaha mengambil kertas itu, tapi Jee langsung merebutnya. Dan kertas itu ternyata cek yang pastinya dari Khun Ying, tapi Nenek Jan mengembalikan cek itu pada Jee. Jee kontan marah melihat cek itu lalu buru-buru keluar untuk mencari Nenek Jan.


Thit baru keluar saat dia melihat Nenek Jan hendak masuk ke sebuah mobil. Nenek Jan menatap tajam Khun Ying sebelum kemudian masuk. Jee keluar saat itu dan si pengawal kontan mendorong Pan masuk mobil dan bergegas membawa pergi.

"Nek! Jangan pergi! Tunggu aku! Nenek! Pan! Nenek! Kembalilah! Jangan tinggalkan aku!"


Tapi mobil itu terus melaju membawa mereka pergi sampai Jee terjatuh dengan berlinang air mata dan Thit hanya bisa tercengang menyaksikan semua itu.

Bersambung ke episode 7

Post a Comment

1 Comments

Hai, terima kasih atas komentarnya, dan maaf kalau komentarnya tidak langsung muncul ya, karena semua komentar akan dimoderasi demi menghindari spam