Sinopsis Kleun Cheewit Episode 5 - 5

Sinopsis Kleun Cheewit Episode 5 - 5


Jee masih sedih saat dia hendak pulang. Tapi Thit tba-tiba muncul menyusulnya dan lagi-lagi menyindirnya.

"Apa rasanya menyakitkan melihat orang-orang yang kau cintai pergi?"

"Tinggalkan aku sendiri!"

"Ke mana perginya Jeerawat yang kuat?"

"Apa yang kau inginkan dariku?"

"Apa yang kuinginkan darimu? Tentu saja melihatmu terluka dan menderita saat kau kehilangan orang-orang yang kau cintai."

Jee sinis mendengarnya. Apa Thit pikir dengan melakukan ini, akan bisa menyakitinya? Thit kelihatan pintar, tapi ternyata dia jauh lebih bodoh daripada yang Jee kira.

Thit kan tahu kalau dia tidak ingin ada seorangpun yang mengetahui latar belakangnya. Tapi Thit malah menyingkirkan orang-orang yang mengetahui rahasianya. Jadi kenapa juga dia harus menderita karena ini.

Thit tak percaya mendengarnya. "Kau jauh lebih kejam daripada yang kukira Jeerawat! Tidak terkecuali pada nenekmu."

Tidak seharusnya dia lupa bahwa seseorang yang bisa melempar orang lain ke penjara untuk menggantikannya, tidak mungkin mencintai siapapun.

"Terserah kau mau berpikir seperti apa, Khun Sathit. Tapi jangan memaksakan sesuatu yang bahkan tidak kulakukan. Karena aku tidak merasakan apapun."


"Baiklah. Kalau begitu, aku tidak akan menahan diri dalam berurusan denganmu. Karena tanpa Nenek Jan, aku masih mengetahui latar belakangmu. Dan aku akan mengeksposmu ke publik. Bahwa kau... terlahir dari lubang!"

Jee sontak menamparnya. "Lakukan saja, Khun Sathit! Lakukan apapun yang kau inginkan! Tapi jangan mengancam. Kalau tidak, aku akan sia-sia menunggu. Mengerti?!"

"Jangan takut, Jeerawat. Karma atas perbuatanmu pasti akan kembali padamu. Persiapkan dirimu untuk itu. Ini baru permulaan."


Setelah Jee pergi, Nenek Jan yang melihat pertengkaran mereka sedari tadi, langsung menghampiri Thit dan memberitahunya kalau Thit sudah salah paham terhadap Jee.

Nenek Jan bukan nenek kandungnya Jee. Ia hanyalah nenek tetangga yang membesarkan Jee, tapi Jee tidak pernah mencampakkannya.

Jika ada orang yang ingin mengetahui latar belakangnya, Jee selalu siap untuk mengungkapkannya. Tapi dia tidak bisa melakukannya karena ada seseorang yang harus dia lindungi.

Nenek Jan tidak bisa memberitahu Thit tentang siapa orang itu. Satu-satunya hal yang bisa dia beritahu adalah Jee itu orang baik.

"Aku tidak tahu apa permasalahan di antara kalian. Tapi kumohon kau jangan menyakitinya. Hidupnya sudah cukup menyedihkan. Tolong, Pak Pengacara. Kumohon."

Thit hanya diam dengan menahan kesal.


Piak menemui seorang tetua (petinggi channel TV), pastinya untuk membicarakan lakorn terbaru itu. Piak mengklaim kalau dia punya ide untuk menaikkan rating acara mereka. Apa Tetua tertarik untuk mendengar idenya?


Jade mengantarkan ibunya ke sekolah setelah mentraktirnya makan. Tapi Ibu penasaran, Jade membeli dessert ini untuk siapa? Jade langsung canggung dan ragu menjawabnya.

Ibu curiga, Jane pernah bilang padanya kalau Dao suka dessert dari toko ini. Jade langsung canggung ingin mengatakan sesuatu, tapi Ibu langsung menyela duluan. Kalau memang untuk Dao, cepat berikan padanya. Dan lain kali, berikan sesuatu juga untuk Ibu.

"Ibu mau dessert juga?"

"Tidak. Aku mau menantu."

"Dan bagaimana kalau orang itu bukan Khun Dao? Apa Ibu masih menginginkannya?"

"Apa?"

Tapi Jade tidak menjelaskan lebih lanjut dan langsung masuk untuk memberikan dessert itu untuk Dao.


Dao sendiri lagi main sama murid-muridnya dan kalah dengan cepat. Tapi sebelum permainan dimulai lagi, dia memberitahu murid-muridnya bahwa siapapun yang kalah nanti, maka dia harus membaca cerita.

Tapi waktu anak-anak melihat Jade datang, mereka langsung meminta bantuan Jade untuk membuat Dao kalah, biar mereka bisa mendengarkan cerita. Jade setuju.

Permainan pun dimulai dan Jade berlari dengan cepat ke Dao. Dia hampir saja berhasil menyentuh Dao saat tiba-tiba Dao berbalik.

Dao tercengang melihat Jade tiba-tiba ada di hadapannya. Saking bahagianya, dia setuju-setuju saja waktu Jade memintanya untuk kalah demi anak-anak.


Jade lalu membantunya berdiri dan meminta maaf karena membuat Dao kalah. Apa boleh buat, soalnya anak-anak ingin mendengar cerita dari Dao.

Dia bahkan menghadiahi Dao dengan dessert sebagai kompensasi yang jelas saja membuat Dao makin bahagia.


Tak lama kemudian, Dao mulai membacakan dongengnya. Tapi murid-muridnya terus saja menyela dan bertanya ini-itu. Salah satu anak tanya kenapa kalau ada putri, harus ada pangeran?

"Karena tanpa pangeran, tidak akan ada yang menolong putri dari naga."

"Apa Guru Dao punya seorang pangeran?"

Dao langsung canggung melirik Jade dan berusaha menghindari pertanyaan itu dengan melanjutkan dongengnya. Tapi melihat murid-murid tampak kurang antusias mendengarkan ceritanya, Jade mendadak punya ide lalu izin pergi sebentar.

Saat dia kembali, dia membawa sebuah gitar lalu duduk di samping Dao untuk mengiringi Dao bercerita. Dao sontak menundukkan kepala saking malunya.

Salah satu muridnya memperhatikan hal itu dan langsung nyeletuk. "Khun Dao, aku sudah menemukan pangeranmu... dia P'Jade!"


Yang lain kontan bersorak menggodai mereka dan Dao jadi canggung dibuatnya. Jade santai saja berkata kalau dia akan seperti pangeran dalam dongeng, membantu mengiringi sang putri bercerita yang jelas saja membuat Dao makin berbunga-bunga dan anak-anak makin heboh bersorak.

Dao pun melanjutkan ceritanya dan Jade mengiringinya dengan memainkan gitarnya. Tanpa mereka sadari, Ibu Jade melihat mereka dari kejauhan. Ibu jadi semakin yakin kalau Jade sedang mendekati Dao.


Saat Piak turun, dia mendapati Chaiyan lagi masak di dapur. Saking asyiknya masak, dia sampai tak sengaja membuat pipinya belepotan saus dan membuat Piak geli melihatnya. Dia bahkan dengan manisnya menarikkan kursi untuk Piak.

"Apa kau menaruh racun di dalamnya dengan harapan mendapatkan uang asuransiku?" Heran Piak.

Wah! Chaiyan langsung ngambek mendengarnya. "Kalau tahu begini, mending kupukul saja kepalamu sejak awal."

"Hei, Chaiyan! Kau mau membunuhku?"

"Bagaimana bisa aku membunuh istriku? Sini, duduk sini."

Dia langsung mendudukkan Piak di pangkuannya lalu mencoba menyuapinya spageti. Tapi Piak masih belum puas curiga, apa Chaiyan memanjakannya karena Jee akan menjadi nang'ek lakorn terbarunya?

Chaiyan kaget mendengar Piak sudah mengetahui hal itu. Tentu saja, bukan cuma Piak yang tahu, bahkan para pelayan di kantor pun sudah tahu.


"Lalu apa kau oke?" Cemas Chaiyan.

"Kenapa juga aku tidak oke? Kau kan sudah menjelaskan tidak ada hubungan apapun antara kau dan Jeerawat."

"Sungguh, Piak?"

"Kau tahu sendiri kalau orang sepertiku tidak oke, aku tidak mungkin makan spageti seperti ini."

Chaiyan jelas senang mendengarnya. "Apa kau tahu. Piak yang mempercayaiku seperti inilah yang kucintai."

"Aku juga mencintaimu, makanya aku bisa melakukan apapun." Ujar Piak. Hmm... tapi sepertinya dia nggak oke deh.


Di wrap up party lakorn mereka malam itu, Ayah Piak merasa aneh. Dia memperhatikan ada banyak reporter hari ini daripada biasanya.

Tanpa curiga apapun, Chaiyan memberitahuanya kalau Piak tadi bilang pihak TV memang mengundang lebih banyak wartawan. Ayah jauh lebih bingung lagi mendengarnya. Kenapa dia malah tidak mengetahuinya?

"Ayah tidak mempercayai Piak?"

"Sejujurnya... iya. Dan lagi, Piak tahu kalau Jee adalah nang'ek-nya dan dia malah tenang-tenang saja. Aku jadi semakin merinding seolah sedang menggigit es dan aku bisa merasakannya sampai ke semua gusiku."

Chaiyan jadi cemas mendengarnya. Lalu apa yang harus mereka lakukan untuk mengatasi hal ini? Tidak masalah, Ayah sudah memanggil bala bantuan kok. Seseorang yang bisa mengendalikan bomnya Piak.


Siapa lagi yang dimaksudnya kalau bukan Thit. Dia baru tiba di lobi saat dia mendengar Suki menelepon Jee dan tanya apakah Jee sudah sampai hotel. Thit berjalan agak menjauh sebelum Suki melihatnya, tapi tetap cukup dekat untuk mendengar percakapan Suki.

Suki dengan cepat menutup teleponnya karena tepat saat itu juga, dia melihat Khun Ying datang. Khun Ying mengaku kalau dia datang untuk menemui suaminya, dia sedang ada meeting dengan klien untuk penandatanganan kontrak kesepakatan. Dan Suki sendiri sedang apa di sini? Apa Jee juga ada di sini? Cemas Khun Ying.


Sitta baru saja selesai dengan meetingnya saat dia melihat Jee yang baru datang. Waduh! Jee bergegas masuk lift kosong, tapi Sitta dengan cepat menyusulnya dan langsung menyerangnya sambil menuntut Jee untuk memberi hormat padanya.

"Bahkan sekalipun aku mati, aku tidak akan memberimu hormat!"

Sitta tambah ganas mencengkeram wajah Jee dan menuduhnya bersikap jual mahal. "Kau mau berapa?"

"Bahkan sekalipun kau memberiku semua uangmu, aku tidak akan menerimanya."

"Dengarkan aku baik-baik. Industri ini tidak akan bertahan lama. Saat artis baru muncul, mereka akan berhenti mempekerjakanmu. Jadilah wanitaku dan manjakan dirimu dengan uang seperti ibumu. Menyerahlah padaku saat kau masih berharga sebelum aku menyuruh anak buahku untuk menyeretmu bagai anjing!"

"Lebih baik aku jadi anjing daripada jadi gundikmu!"


Kesal, Sitta kontan berusaha menc**mi lehernya. Jee sontak menggigit kupingnya keras-keras dan mengancam Sitta untuk tidak mendekatinya atau dia akan mengeksposnya ke wartawan.

"Kau pikir aku takut?"

"Jangan lupa, aku Jeerawat. Aku nang'ek nomor satu. Semua mic siap mendengarkanku. bahkan sekalipun aku bilang kalau seorang biksu adalah pencuri, semua reporter akan siap memberitakannya. Dan jika kau berusaha memperk**aku, kita lihat saja siapa yang akan hancur!"

"Kau tidak akan berani!"

"Siapa yang tidak berani? Jika tidak, kau tidak mungkin ketakutan saat aku menjadi selebritis."


Lift akhirnya membuka dan Jee berusaha lari secepatnya. Sitta berhasil menangkapnya dengan cepat. Tapi untung saja waktu itu ada beberapa wartawan yang kebetulan lewat dan melihat mereka.

Jee senang "Ada wartawan di sini, apa yang harus kukatakan pada mereka, Ayah?"

"Katakan apapun yang kau inginkan. Tapi jika aku hancur, maka ibumu akan hancur bersamaku."

"Kau pikir aku peduli dengan ibuku?"

Sitta yakin Jee menyayangi ibunya. Jika tidak, dia pasti sudah lama melarikan diri. Dia masih di sini, jelas karena dia mengkhawatirkan ibunya.


Begitu para reporter mendekat, mereka kontan pasang senyum manis. Sambil tetap merngkul Jee bak seorang ayah tiri penyayang, Sitta mengklaim kalau dia datang untuk memberi ucapan selamat untuk Jee.

Khun Ying muncul di sana saat itu juga. Dia tampak sangat cemas, tapi dengan cepat dia pasang senyum semanis madu lalu mem*luk Jee sambil memberinya ucapan selamat atas kesuksesan lakorn-nya.

"Kurasa lakorn-nya belum selesai. Ibu masih harus memainkan peran keluarga bahagia." Bisik Jee.

Mereka bertiga lalu foto-foto bersama sambil nyengir lebar bak keluarga bahagia. Suki sinis melihat kepalsuan mereka. Thit pun sama lalu bergegas masuk ke pesta.

Bersambung ke episode 6

1 komentar: