Sinopsis Kleun Cheewit (Waves of Life) Episode 1 - 3

Sinopsis Kleun Cheewit (Waves of Life) Episode 1 - 3


Ternyata Stefan yang pura-pura jadi penabraknya dan menceritakan kejadian tadi berdasarkan versinya sendiri. Saat Thit melihatnya, baik dia maupun Stefan sama-sama terkejut dan saling mengenali.

Ah, ternyata mereka berdua pernah bertemu tadi siang saat Stefan mengurus tabrakannya dengan Jee. Thit jelas tak percaya kalau dia penabraknya. Jelas-jelas dia mendengar suara wanita tadi.

"Katakan yang sebenarnya, di mana penabrak yang sebenarnya?" Tuntut Thit


Stefan ngotot mengklaim dirinya lah yang mengemudikan mobil tadi. Thit sontak emosi dan hampir saja menghajar Stefan kalau saja Chait tidak segera mencegahnya dan menjauhkannya dari Stefan.

"Tenanglah! Wanita apa yang kau maksud?"

"Sebelum Tiw tabrakan, aku bicara dengannya sampai saat kecelakaan itu terjadi dan aku mendengar suara wanita dari ponselnya Tiw. Dia bilang kalau dia menyesal dan tidak sengaja. Di mana wanita itu?!"

"Tidak ada wanita. Aku menyetir sendiri!"

Suasana jadi semakin ribut sampai Chait harus mendorong Thit keluar dari sana. Perkara ini menarik perhatian salah satu polisi.

Dia lalu menghubungi seseorang dan sepertinya dia memberitahukan kasus ini pada orang di seberang. Hmm... mungkin menghubungi media.

 

Ayahnya Piak yang sekaligus mertuanya Chaiyan, sedang senang karena lakorn-nya Jee sukses besar dengan rating tinggi dan karenanya ia ingin episodenya ditambah.

Chaiyan setuju-setuju saja, tapi Piak mendadak muncul dan menolak usulan itu. lebih baik Lakorn-nya diselesaikan secepat mungkin karena sekarang 'Sayap nang-ek-nya sudah patah'.

Dia langsung menunjukkan berita kecelakaan itu sambil nyinyir. Dia bahkan belum sempat ngapa-ngapain Jee yang sudah berusaha merebut suaminya, dan sekarang Jee malah terlibat dalam masalah sebesar ini. Jee cepat sekali dapat karma.


Tak lama kemudian, Chaiyan memberitahu mertuanya bahwa dia barusan menelepon Suki dan Suki bilang kalau berita itu tidak benar karena bukan Jee yang mengemudikan mobil itu. Semalam Jee pulang bersama Suki.

Piak tak percaya sedikitpun. Bagaimana bisa Chaiyan mempercayainya begitu saja? Memangnya sudah berapa lama mereka syuting bersama sampai Chaiyan bisa mengenalnya sebaik itu.

Berusaha menahan emosi, Chaiyan menegaskan bahwa dia dan Jee saling mengenal sejak mereka kuliah. Dia kan sudah bilang itu berulang kali, dan dia juga tidak melakukan apapun yang digosipkan orang tentangnya (selingkuh).

Tapi Piak ngotot tidak mau mempercayainya, bahkan mengancam Chaiyan untuk tidak sampai ketahuan olehnya.

Ayah Piak buru-buru melerai mereka dan memutuskan untuk mempercayai Suki, jadi Chaiyan bisa melanjutkan lakorn-nya dan tambah 10 episode.

Piak tidak setuju dan berusaha protes, tapi keputusan Ayah sudah bulat. Ini kesempatan bagus, jarang-jarang pihak channel TV minta tambah episode. Jadi Ayah tidak akan membiarkan berita bodoh itu menghancurkan proyek mereka.

"Ayah! Berita kali ini bukan berita omong kosong seperti sebelumnya. Ini kejahatan. kejahatan terhadap salah satu anggota keluarga kita. Orang yang ditabrak artis itu adalah Tiwadee, pacarnya P'Thit!"


Ayah dan Chaiyan terkejut mendengarnya. Chaiyan pun bergegas pergi, tapi Piak cepat menghentikannya dan blak-blakan nyinyirin Chaiyan tak peduli biarpun semua orang sedang menonton mereka.

Apa Chaiyan mau pergi menghibur si nang'ek yang akan segera dipenjarakan oleh Thit?

Tak enak dengan tatapan semua orang, Chaiyan berusaha menegurnya, tapi Piak tak peduli sedikitpun dan terus menuntut penjelasan akan buket bunga yang Chaiyan kirimkan untuk Jee.

Berusaha keras menahan emosinya, Chaiyan menegaskan sekali lagi kalau dia dan Jee adalah teman lama dan segala yang dia lakukan pada Jee hanya sebagai teman.

Piak terus saja ngotot menolak mempercayai klaimnya. Buktinya pesan Chaiyan dalam bunga itu jauh lebih manis daripada pesan yang dia kirim untuk istrinya sendiri. Teman macam apa itu?


"Kau sudah kelewatan. Sebelumnya kau tidak pernah seperti ini, Piak!"

"Itu dulu! Dulu aku istri yang baik, diam di rumah dan membiarkanmu bekerja bersama ayahku. Dan kau tahu bagaimana mereka menggosipkanku? Aku adalah produser yang murah hati yang mencarikan pekerjaan dan gundik untuk suaminya! Aku tidak akan membiarkan siapapun menyebutku bodoh lagi!"

"Cukup, Piak! Aku tidak mau membicarakan masalah ini lagi. Aku punya pekerjaan penting yang harus kulakukan untuk ayahmu."

"Pekerjaan penting? Kau akan membantu nang'ek mu keluar dari penjara, bukan? Itu pasti akan sulit. Kau tahu sendiri kalau P'Thit sangat menjunjung tinggi kebenaran dan ini terjadi pada wanita yang hendak dia nikahi. Sebaiknya kau bersiap untuk mengunjungi nang'ek mu di penjara!"


Jee mengunjungi Tiw dengan membawa sebuket bunga. Tiw terbangun saat itu dan langsung menuntut kenapa Jee menabraknya?

"Maafkan aku. Aku tidak sengaja. Itu kecelakaan."

Tiba-tiba kondisi Tiw memburuk. Jee kontan panik memanggil-manggil bantuan. Tapi Tiw mencengkeram kuat tangannya. Saat Jee berbalik, dia malah melihat darah tiba-tiba mengalir deras dari bibir Tiw.

"Kau membunuhku! Kau membunuhku!"

"Tidak! Aku tidak sengaja!"

"Kau membunuhku!"

"Tidak! Tidak! TIDAK!" Teriak Jee tersentak bangun dari tidurnya.  Ternyata itu cuma mimpi. Tapi mimpi itu sepertinya terasa begitu nyata sampai Jee gelisah.


Dao - sahabat Jee, datang tak lama kemudian dengan membawa makanan. Dia memencet bel pintunya.

Tapi saat Jee tidak membukakan pintunya, Dao langsung masuk sendiri sambil memanggil-manggil Jee. Tapi Jee tidak kelihatan di mana-mana.

Saat dia ke dapur, dia malah melihat kulkas terbuka. Seketika itu pula dia langsung tahu ke mana harus mencari Jee dan memergokinya sedang ngumpet makan es krim.

"Guru tua sudah datang. Waktu bersenang-senang sudah berakhir."

"Siapa yang kau panggil 'guru tua'?"

"Kau."


Dao langsung gregetan mengejarnya dan mencoba merebut es krimnya. Tepat saat itu juga, Suki datang.

Alih-alih melarangnya makan es krim, Suki malah santai saja menyuruh Dao untuk mengembalikan es krim itu ke Jee.

Malah dia sendiri membawa banyak makanan untuk Jee. Pokoknya hari ini Jee boleh makan apa saja, tidak perlu mengkhawatirkan masalah kalori. Jee sampai melongo saking tak percayanya.


Jee pun asyik menikmati semua makanan berlemak itu. Dao sampai gemas dibuatnya. Tapi Jee dengan serius meminta Dao untuk membiarkannya makan sepuasnya, dia sedang stres karena semalam dia mimpi buruk.

"Semalam aku bermimpi menabrak seseorang, Dao."

Oh, ternyata dia tidak ingat kejadian semalam gara-gara pengaruh obatnya. Jee mengira semua itu cuma mimpi, tapi mimpi itu terasa begitu nyata. Dao dan Suki cemas mendengarnya.

"Jee, kau sungguh ingat tentang semalam?" Tanya Dao


Jee mengaku kalau dia tidak ingat apapun pasca pesta itu. Memangnya apa yang dia lakukan semalam? Suki cepat-cepat berbohong kalau Jee semalam mabuk berat lalu mencaci maki Pim.

Untung saja Khun Peeka cepat-cepat mengusir para wartawan. Kalau tidak, dia pasti akan langsung jadi hot topic.

Dao ikutan mendukung bualannya hingga Jee percaya. Pantas saja sekarang dia sakit kepala, pasti gara-gara mabuk semalam.

Suki langsung menyuruhnya minum obat lalu tidur. Begitu Jee terlelap, Dao langsung menuntut penjelasan Suki akan apa yang sebenarnya terjadi semalam?


Mereka lalu pindah ke beranda di mana Suki memberitahu Dao bahwa kecelakaan itu terjadi karena Jee dibius. Masalahnya, Suki tidak tahu siapa pelakunya. Dia ingin sekali menyeret orang itu ke penjara, tapi sekarang tidak bisa.

Untung saja kemarin mereka datang duluan sebelum polisi. Dia menyuruh Stefan untuk menggantikan Jee dan bertanggung jawab atas kecelakaan itu. Untunglah Stefan mau menurutinya sehingga dia bisa membawa Jee kabur dari sana. Kalau tidak, karirnya Jee pasti akan hancur.

"P'Suki, obat apa yang disuntikkan pada Jee semalam? Kenapa Jee tidak bisa mengingat apapun?"

"Scopolamine. Efeknya bisa membuat orang mudah dibujuk untuk melakukan apapun dan tidak ingat apapun setelahnya."

Kalau dipandang secara negatif, untung saja obat ini membuat Jee lupa kalau dia menabrak seseorang semalam. Suki akan membereskan semua masalah ini sebelum Jee bisa mengingatnya. Dao khwatir kalau ada seseorang yang mengetahui masalah ini lalu membocorkannya pada media.

"Jangan khawatir, Dao. Aku Suki. Aku bisa menutup mulut semua orang."

 

Managernya Pim terburu-buru datang mengabarkan kalau Suki membatalkan semua acaranya Jee hari ini. Berita itu membuat Pim jadi semakin yakin tentang kebenaran berita bahwa Jee menabrak seseorang semalam.

Manager menambahkan, Suki juga melobi semua media cetak untuk tidak mencetak berita tentang Jee. Dia bahkan mengancam akan mengirim pengacara untuk menuntut mereka kalau mereka sampai melakukannya.

Pim mendadak punya ide licik, apa ada wartawan di event ini? Managernya mengiyakan, kalau Pim tidak mau diwawancara, dia bisa keluar lewat jalan belakang.

"Tidak. Aku mau diwawancara. Mendadak rasa cintaku pada para wartawan jadi semakin meningkat."


Suki mendatangi Chaiyan setelah mendengar kabar tentang Pim yang memberi kesaksian pada para wartawan bahwa dia melihat Jee keluar dari hotel (tempat pesta berlangsung)  semalam.

Chaiyan mengaku kalau dia juga ditanyai hal yang sama oleh para wartawan. Dan dia tegas mengatakan kalau Jee tidak mengendarai mobil itu karena Jee selalu bersama Suki sepanjang acara, seperti yang Suki bilang. Tapi para wartawan sepertinya tidak mempercayainya.

"Oi! Nang Pim! Seharusnya kutampar mulutnya itu semalam! Kalau sampai wartawan menggali masalah ini dan mengetahui (pelakunya) Jee... apa yang harus kulakukan?!"

Oops! Keceplosan. Chaiyan kaget mendengarnya, apa maksud Suki barusan? Jee yang menabrak Tiwadee? Jawab!


Bingung, Suki terpaksa membenarkannya, tapi Jee tidak sengaja. Kejadian itu terjadi gara-gara Jee dibius. Err... maksudnya karena kecelakaan. Masa depan Jee masih panjang, Suki tidak akan membiarkan Jee hancur karena masalah ini. Chaiyan mengerti, lalu apa yang harus mereka lakukan?

"Karena Nang Pim menggunakan media untuk menarget Nong Jee, maka aku juga akan menggunakan media untuk melindungi Nong Jee."


Di rumah sakit, Thit kebetulan lewat saat wawancaranya Pim disiarkan. Pim mengklaim bahwa malam itu dia melihat Jee mengemudikan mobilnya sendiri dari tempat pesta. Thit sontak meremas gelas kertas di tangannya, semakin yakin bahwa Jee lah penabrak yang sebenarnya.


Piak datang tak lama kemudian. Mendengar Tiw masih belum sadar, Piak menyemangati Thit untuk tidak kehilangan harapan. Tiw orang yang baik, Tuhan pasti akan melindunginya.

Ayahnya juga bilang bahwa semua biaya rumah sakit akan ditanggung oleh Ayah. Ibu Tiw tak enak mendengarnya, biayanya pasti sangat besar.

"Tidak apa-apa, bi. P'Thit sudah seperti kakakku dan putra ayahku. Walaupun kami tidak memiliki hubungan darah, tapi orang-orang yang P'Thit cintai adalah keluarga kami juga."

Ibu sungguh berterima kasih padanya. Thit juga sangat berterima kasih pada mereka. Dia janji kalau Tiw sudah sembuh nanti, dia akan membawa Tiw ke Ayahnya Piak untuk mengucap terima kasih.


Tapi kemudian mereka melihat suster keluar dengan panik dan memberitahu dokter bahwa tekanan darah Tiw menurun. Semua orang sontak cemas mendengarnya.

Jee tersentak bangun dari mimpi buruk yang sama. Dia sungguh tidak mengerti kenapa dia mimpi buruk itu lagi. Stres, dia memutuskan untuk nonton TV.


Tapi Dao mendadak muncul dan merebut remote-nya dengan alasan sinyal TV-nya sedang kacau hari ini lalu diam-diam memutus kabel TV-nya.

Tapi saat Dao keluar untuk membuatkannya bubur, Jee tidak kekurangan ide dan langsung mengeluarkan tabletnya untuk nonton TV.

Dan acara pertama yang ditontonnya adalah konferensi press-nya Suki yang mengkonfirmasi kalau Jee tidak terlibat dalam kecelakaan itu karena Jee pulang bersama Suki semalam.


Shock, seketika itu pula Jee teringat kembali semua kejadian yang terjadi semalam. Mulai dari saat Sitta dan anak-anak buahnya yang menyuntikkan obat padanya hingga saat dia menabrak Tiw. Air mata Jee berlinang teringat semua itu.


Semua orang gelisah menunggu di depan ruang ICU. Dokter keluar tak lama kemudian, tapi ia hanya meminta maaf. OMG! Tiw meninggal dunia. Ibu Tiw shock dan pingsan seketika. Thit pun langsung lemas terduduk di lantai.

Bersambung ke part 4

3 komentar: