Sinopsis Legend of Yun Xi Episode 7 - 2

 Sinopsis Legend of Yun Xi Episode 7 - 2

Selesai makan mie, Yun Xi dan Qi Shao akhirnya berpisah. Tapi saking buru-burunya, dia jadi tak sengaja bertuburukan dengan Yu Zhe dan membuat botol serbuk nyamuk itu jatuh dan tumpah sedikit.


Yun Xi pun meminta maaf dan cepat-cepat mengembalikan botol padanya. Tapi setelah Yu Zhe pergi, dia mulai menyadari bau aneh dari botol itu yang masih tersisa di tangannya.

Yun Xi sontak ingin mengejarnya. Tapi wanita itu sudah masuk ke rumah brdil dan Yun Xi tidak bisa masuk karena dihadang seorang penjaga.

"Sayang sekali. Aku tidak melihat wajahnya tadi."


Qing Ge mengeluarkan sebuah perhiasan berwarna merah. Itu adalah Giok Darah berusia ribuan tahun yang dulunya merupakan benda kesayangan mendiang ibunya Qing Ge. Itu adalah hadiah ultah pemberian ayahnya pada ibunya.

Setelah ibunya meninggal dunia, Ayah Qing Ge selalu membawa giok darah itu ke mana-mana. Tapi saat perang antar Tian Ning dan Qiu Barat pecah, ayahnya menyerahkan giok darah itu padanya.

"Saat itu beliau berkata bahwa aku harus mengembalikannya setelah beliau kembali membawa kemenangan."

Walaupun rasanya berat, tapi Qing Ge sudah menetapkan hati untuk memberikan giok darah ini pada Ibu Suri. Dia lalu menyuruh pelayannya untuk membawa benda ini ke seluruh istana agar semua selir melihatnya menghadiahkan perhiasan berharga ini pada Ibu Suri.


"Putri, kita masih baru di sini. Sudah beberapa hari Kaisar tidak berkunjung lagi. Jelas-jelas ia ingin mengabaikan Putri. Kenapa Putri malah ingin membuat permusuhan dengan para selir istana pada saat seperti ini?"

"Jika aku tidak menarik perhatian, bagaimana orang akan memperhatikan kita?"

Sekarang ini, mereka sedang diawasi baik oleh Kaisar, Ibu Suri, dan semua selir istana. Memang benar kalau mereka harus diam dulu di saat seperti ini. Tapi Qing Ge tidak punya banyak waktu untuk disia-siakan.

"Aku tidak akan bisa tenang sebelum aku membalaskan dendam ayah dan negaraku."


Maka pelayanpun pergi melakukan perintahnya. Orang pertama yang berpapasan dengannya adalah Selir Xiao. Dengan sengaja dia memberitahu Selir Xiao bahwa dia hendak membawakan hadiah dari nyonya-nya untuk Ibu Suri dan dengan sopan melarang Selir Xiao untuk melihat isi kotak hadiah itu.

Setelah si pelayan pergi, Selir Xiao langsung nyinyirin tindakan Qing Ge ini. Sepertinya dia sudah tidak tahan diabaikan Kaisar, tapi menyenangkan Ibu Suri seperti ini bukan cara yang pintar.

Pelayannya Selir Xiao cemas kalau-kalau apa yang diperbuat Qing Ge ini akan bisa meraih kasih sayang Kaisar dan pada akhirnya akan membuat posisi Pangeran Kedua tergeser, padahal saat ini Kaisar jauh lebih mempercayai Pangeran Kedua dibandingkan Putra Mahkota.

Mendengar itu, Selir Xiao langsung memerintahkan si pelayan untuk mencari tahu hadiah apa yang diberikan Qing Ge pada Ibu Suri itu.

"Aku sudah sampai di posisi ini. Tidak akan kubiarkan seorang putri dari negeri barbar mencuri kasih sayang Kaisar."


Ibu Suri langsung suka dengan giok darah itu, apalagi itu perhiasan langka. Tapi ia cukup jeli mengetahui kemungkinan adanya maksud tersembunyi dibalik sikap Qing Ge menghadiahkan perhiasan ini padanya.


Tepat saat itu juga, Kaisar datang dan mereka langsung membahas masalah pencabutan kekuasaan militernya Fei Ye. Ibu Suri agak khawatir dengan itu, takutnya itu membuat Fei Ye marah.

Tapi Kaisar santai. Saat Fei Ye masih menguasai militer, dia tidak pernah bertindak apapun. Jadi sekarangpun dia pasti tidak akan melakukan apapun. Ibu Suri tenang saja.

Ia lalu mengalihkan topik membahas perhiasan baru yang dipegang Ibu Suri itu. Ibu Suri mengaku kalau dia mendapatkannya dari selir barunya Kaisar itu.

"Selir Qing itu sangat cantik. Apa kau tidak tertarik padanya?"

"Ibunda tahu bagaimana aku. Aku hanya mencemaskan masalah negara. Aku tidak punya waktu untuk cinta."

Ibu Suri setuju. Wanita cantik bisa menimbulkan bencana, Kaisar harus belajar dari sejarah. Perang antar kedua negara belum lama berakhir, tapi Qing Ge malah datang untuk pernikahan politik. Jelas itu cukup mencurigakan.


Tapi menurut Kaisar, pernikahan politik ini ada gunanya juga. Biarpun Tian Ning menang, tapi mereka kehilangan banyak pasukan. Jika Qiu Barat dan Bei Li menyerang mereka, maka mereka mungkin akan kalah.

Karena itulah, pernikahan politik dengan Qiu Barat pada saat seperti ini adalah pilihan terbaik.

Ibu Suri senang mendengar pemikiran Kaisar. Tapi Kaisar harus ingat bahwa posisinya ini sangatlah menggoda bagi siapapun yang punya kesempatan dan mereka yang punya ambisi besar.

"Akulah yang mendapatkan tahta ini untukmu. Tapi apakah kau bisa mempertahankannya atau tidak, itu tergantung pada dirimu sendiri. Ingat baik-baik, masih ada Pangeran Qin yang mengincar posisi ini."

"Ibunda benar. Aku mohon pamit, ada urusan lain yang harus kuurusi."


Kaisar lalu pergi ke istananya Qing Ge yang saat itu tampak sedang sibuk melukis. Kaisar memperhatikan dia melukis negeri Qiu Barat, Qing Ge pasti kangen kampung halamannya.

Qing Ge menyangkal. Lagipula dia sudah menikah sekarang, tempat ini adalah rumahnya sekarang. Dia melukis hanya karena sedang bosan.

"Paduka, apa anda datang kemari untuk beristirahat?"

Kaisar bertanya-tanya, apakah Qing Ge sudah dengar tentang ketiga menterinya yang terbunuh? Qing Ge mengklaim kalau dia tahu sedikit. Lalu, apa pendapat Qing Ge tentang kasus ini? Tanya Kaisar.


"Saya tidak berani berkomentar terkait masalah politik."

"Kasus ini berkaitan dengan Pangeran Qin, jadi kasus ini bisa dibilang masalah keluarga. Kau boleh berkomentar."

"Saya dengar bahwa Pangeran Qin itu pintar dan kuat. Jika dia ingin membunuh seseorang, dia tidak mungkin menggunakan cara bodoh seperti ini."

"Jadi menurutmu, Pangeran Qin itu tidak bersalah?"

"Bukankah Paduka juga berpikir begitu? Sejujurnya, saya yakin Pangeran Qin akan melakukan segala cara untuk membuktikan dirinya dan keluar dari situasi ini."



Yun Xi akhirnya pulang malam harinya. Tapi baru tiba di depan kamarnya, tiba-tiba Fei Ye muncul menghadangnya. Panik, Yun Xi berusaha melarikan diri, tapi Fei Ye dengan cepat menariknya kembali dengan wajah penuh amarah.

Jadilah Yun Xi dihukum berlutut dan disidang. Fei Ye melempar kitab ilmu racun yang Yun Xi curi dulu dan menuntut penjelasannya.

Yun Xi tahu kalau Fei Ye pasti tidak akan mempercayai apapun yang dikatakannya sekarang. Tapi saat pertama kali mereka bertemu, dia sungguh cuma sedang mencari Rumput Shenyou.

Sedangkan alasannya mencuri kitab ilmu racun itu karena dia suka mempelajari ilmu racun. Dia baru mengetahui siapa Fei Ye saat mereka menikah. Fei Ye juga pernah berusaha membunuhnya, makanya dia takut untuk berterus terang. Tapi sekarang dia mengatakan yang sejujurnya.

"Kau menghilang seharian. Ke mana saja kau?"

"Demi membuktikan kalau aku ini berguna bagimu, aku pergi ke rumah jenazah untuk menyelidiki."


Fei Ye tak percaya. Apa Yun Xi lupa siapa yang sudah membuatnya jadi tersangka dalam kasus ini? Bukankah Yun Xi yang memancingnya keluar ke rumah Menteri Kehakiman pada hari pernikahan mereka waktu itu?

"Waktu itu aku dikelilingi oleh banyak orang, mana mungkin aku membelah diriku sendiri?"

"Biarpun bukan kau, mungkin dia salah satu orang suruhanmu?"

"Kalau orang itu komplotanku, kenapa juga dia mengambil resiko ketahuan kalau dia memancingmu keluar? Dan kenapa juga aku membahayakan diriku sendiri dengan menikah denganmu?"

Hari ini dia berhasil menemukan petunjuk kasus ini. Para korban itu dibunuh dengan racun dari nyamuk laba-laba. Pembunuhnya menambahkan serbuk herbal ke dalam makanan atau wewangian para korban.

Saat aroma itu menyebar, maka nyamuk-nyamuk itu datang menyerbu dan begitulah bagaimana para korban mati secara diam-diam.

Bersambung ke part 3

Post a Comment

3 Comments

Hai, terima kasih atas komentarnya, dan maaf kalau komentarnya tidak langsung muncul ya, karena semua komentar akan dimoderasi demi menghindari spam