Sinopsis (Drama Taiwan) Bromance Episode 3 - Part 2

"Kalian berdua ngapain?!" teriak Zi Han shock melihat posisi aneh mereka.

"Kakakmu sedang membantuku mengikat dasi," jawab Ya Nuo polos sekaligus bingung dengan teriakannya.

Kemeja cocok, sudah belajar pasang dasi juga, Ya Nuo pun pamit. Tapi Zi Han mendadak menghadangnya dengan gaya seksi. Pfft! Malah dia sudah ganti penampilan dan dandan habis-habisan hanya untuk menggoda Ya Nuo dan keukeuh mau mengantarkan Ya Nuo pulang.

 

Keesokan harinya, Nana mendatangi cafe-nya Qing Yang, tepat saat Qing Yang sedang menyeduh kopi. Qing Yang seperti biasanya, dingin. Tapi Nana tak peduli dan terus nyerocos ceria mengomentari penyeduhan kopinya Qing Yang.

Qing Yang mendengarkannya sambil tetap fokus menyeduh kopinya, jelas kalau segala komentar Nana barusan sama sekali tidak menganggunya seperti sebelumnya, dan kali ini dia akhirnya memberikan segelas kopi hitam yang barusan diseduhnya untuk Nana. Oww, apakah ini artinya Qing Yang sebenarnya sudah menunggunya untuk datang kemari? Nana senang.

"Aku tahu kau memang orang yang baik. Biarpun kau terlihat dingin dan tidak suka bicara, tapi sebenarnya hatimu sangat lembut," ujar Nana. Sebuah komentar yang tampak jelas menyentuh hati Qing Yang.

Tapi entah kenapa setelah dia mencicipi kopinya Qing Yang, senyum Nana tiba-tiba menghilang yang jelas saja membuat Qing Yang penasaran dan khawatir. Dia kenapa?

"Kopimu memiliki rasa yang sama dengan kopi buatan ibuku," ujar Nana. 

Aww, ternyata ibunya Nana sudah meninggal dunia. Awalnya dia mengira tidak akan pernah bisa lagi merasakan kopi yang sama seperti kopi buatan ibunya, tidak disangka hari ini dia akhirnya bisa merasakan kopi yang sama seperti kopi buatan ibunya.

"Di masa depan nanti, jika aku merindukan ibuku, bolehkah aku memintamu untuk membuatkan secangkir kopi untukku?"

Qing Yang prihatin mendengarnya, dan langsung menyetujui permintaannya. Nana senang, tapi sekarang dia ada urusan, dan langsung bergegas menghabiskan kopinya lalu buru-buru pergi. Bahkan saking buru-burunya, dia sampai lupa bayar.


Qing Yang langsung pergi mengejarnya. Tapi di tengah jalan, dia tiba-tiba saja melihat Nana pingsan. OMG! Cemas, Qing Yang pun bergegas membawanya ke rumah sakit.

Setelah memeriksa Nana, Dokter memberitahu Qing Yang bahwa Nana ternyata menderita tumor tulang dan dia pingsan karena anemia. Qing Yang tercengang, soalnya waktu Nana bilang tentang penyakitnya di kapal pesiar waktu itu, dia tidak percaya.

Saat Qing Yang masuk kamarnya Nana, dia mendapati Nana melamun sedih. Namun Nana dengan cepat pasang senyum ceria begitu menyadari kehadiran Qing Yang. Dia memang harus selalu bersikap optimis terlepas dari penyakit yang mengerogoti tubuhnya ini karena yah... apa yang bisa dia lakukan selain tetap optimis menjalani hidupnya.

"Siapa pun yang menghadapi masalah seperti ini pasti merasa sangat sedih. Kau tidak perlu pura-pura kuat dan optimis."

"Kau benar. Penyakit yang tidak bisa disembuhkan, bagaimana bisa aku tetap kuat dan ceria? Kau benar-benar beda dari orang lain. Orang lain selalu menyuruhku untuk menghadapi masalah ini dengan kuat dan ceria, hanya kau yang paling beda."

"Apa ada sesuatu spesial yang ingin kau lakukan? Apa saja boleh. Aku akan berusaha sebisaku untuk mewujudkannya bersamamu," ujar Qing Yang (Aww, so sweet)

"Sesuatu yang spesial?... Ada."

Tak lama kemudian, Qing Yang membawa Nana ke rooftop dan membawakannya beberapa lembar kertas, di mana Nana menggambar tumornya bak monster jahat. Dia lalu melipatnya jadi pesawat dan menerbangkannya. Ini adalah doanya pada Langit biar pesawat kertas ini membawa pergi penyakitnya.

"Kau pintar juga," puji Qing Yang.

"Bukannya aku pintar, hanya saja, kadang ada hal-hal yang tidak bisa kita ubah. Membiasakan diri dengan itu juga termasuk menjadi kuat. Selain itu, penyakit takut sama orang yang pantang menyerah. Pesawat kecil! Kau harus membawa tumor kecilku bersamamu dan terbang sejauh mungkin! Yang terbaik adalah kau terbang ke sisi Tuhan dan beritahu Dia bahwa Yang Nana tidak takut sakit! Yang Nana tidak akan bisa dikalahkan! Dia (Tuhan) akan menerimanya, kan? Kuharap Dia akan menerimanya."

Qing Yang punya ide bagus. Mereka lalu membuat semua kertas yang tersisa jadi pesawat kertas lalu menerbangkan semuanya ke udara. Qing Yang dengan manisnya meyakinkan Nana bahwa salah satu dari pesawat-pesawat kertas itu pasti akan mencapai Tuhan. Dia bahkan tidak menolak saat Nana meminjam bahunya untuk menyandarkan kepalanya di sana.

Di taman hiburan, Ya Nuo sedang menyerahkan laporan yang dia tulis tangan pada Zi Feng. Kebetulan Zi Feng baru saja mendapatkan surat yang Ya Nuo kirimkan lewat pos atas nama Yan Ting.

Zi Feng jelas senang akhirnya mendapat kabar dari penyelamatnya, namun agak sedih juga saat dia membaca isi suratnya yang menginginkannya untuk berhenti mencarinya, karena Zi Feng sebenarnya ingin tetap berterima kasih secara langsung pada penyelamatnya.

Ya Nuo meyakinkannya bahwa terima kasih itu hanya formalitas, yang penting kan penyelamatnya Zi Feng bisa merasakan ketulusan Zi Feng. 

 

Zi Feng akhirnya menyetujui pendapatnya dan benar-benar percaya kalau surat itu dari Yan Ting... sampai saat dia melihat laporan tulisan tangan Ya Nuo dan langsung sadar kalau tulisan tangan Ya Nuo dengan tulisan di surat itu sama persis.

Dia langsung mengonfrontasi Ya Nuo saat itu juga dan menuntut penjelasan. Hadeh! Ini hal yang sama sekali tidak Ya Nuo pikirkan dengan matang sebelumnya, dan sekarang dia gugup dan bingung bagaimana harus menjelaskannya pada Zi Feng.

Namun yang tak disangkanya, Zi Feng bukannya marah, malah mengucap terima kasih padanya. Soalnya Zi Feng mengira kalau Ya Nuo menulis surat ini pasti untuk menghiburnya. Fiuh! Syukurlah, Ya Nuo langsung saja mengiyakannya.

Zi Feng berterima kasih dan tersentuh atas perhatian Ya Nuo ini, namun tetap saja perbuatan Ya Nuo ini kurang baik, jadi jangan dilakukan lagi. Ya Nuo meminta maaf, dia janji tidak akan melakukan hal seperti ini lagi. Dia hanya tidak ingin Zi Feng terus bersedih karena tidak bisa menemukan penyelamatnya.

Siang harinya, Zi Feng membawa Ya Nuo patroli keliling taman hiburan. Namun kemudian Zi Feng berhenti di depan air mancur dan menatapnya dengan sedih. Dia memberitahu Ya Nuo bahwa air mancur ini dibangun atas ide ayahnya yang ingin membahagiakan para pengunjung taman hiburan mereka ini. Dia dan Ayah-lah yang mendesain pembangunan air mancur ini.

Melihat kesedihan dan kerinduan Zi Feng pada ayahnya, Ya Nuo pun berusaha menghiburnya dengan memberitahu Zi Feng bahwa di Italia juga ada sebuah air mancur yang dibangun oleh seorang ayah dan diselesaikan oleh putranya.

Ayah dan putra yang menyelesaikan sesuatu bersama-sama, bukankah itu sesuatu yang membahagiakan? Apalagi hal itu juga sesuatu yang membahagiakan bagi orang lain. Jadi, seharusnya Zi Feng merasa bangga dan bukannya sedih. 

Berusaha menghiburnya, Ya Nuo langsung saja mengambil segenggam air mancur lalu menyiramnya ke Zi Feng. Orang bilang, kalau kita kena siram air mancur, maka kita akan bahagia.

Oh begitu? Baiklah! Zi Feng langsung saja menarik Ya Nuo ke tengah air mancur dan jadilah mereka bermain air dengan riang gembira bak sepasang kekasih, tidak sadar kalau mereka sedang dilihat Zi Han yang cemburu dan sedih melihat kebahagiaan Ya Nuo setiap kali bersama kakaknya. Sedangkan setiap kali bersamanya, Ya Nuo selalu tegang dan menghindar.


Setelah puas bermain air, Zi Feng dan Ya Nuo malah mendapati Zi Han lagi tengkar sama dua orang ibu-ibu gara-gara kedua ibu itu hampir menabrak Zi Han. Zi Han dan salah satu dari kedua ibu itu sama-sama keras dan tidak ada yang mau saling mengalah atau mengaku salah.

Apalagi saat si ibu kedua mengenali Zi Feng yang merupakan penerus geng gangster karena si ibu kedua pernah membaca berita tentang Zi Feng di sebuah artikel majalah, si ibu pertama jadi semakin heboh menghina mereka dan menuduh orang-orang seperti mereka sebagai perusak moral masyarakat. 

Zi Feng diam saja, namun Zi Han tidak terima dan jadi semakin heboh berseteru dengan si ibu pertama. Mereka bahkan hampir jambak-jambakan kalau saja Zi Feng tidak segera menahan Zi Han dan mengingatkannya untuk tidak merendahkan dirinya jadi seperti orang-orang yang gampang kemakan gosip kayak ibu-ibu ini.


Ya Nuo yang juga ikut kesal pada kedua ibu itu, sontak membela Keluarga Du dan mengingatkan kedua ibu itu untuk menjaga lisan mereka... karena kata-kata jahat sama sekali tidak menyakiti orang jahat, melainkan menyakiti orang baik.

Qing Yang masih mengkhawatirkannya, namun Nana meyakinkan bahwa dia baik-baik saja setelah menerbangkan pesawat-pesawat kertas tadi. Tapi... Nana bertanya-tanya apakah jika dia bilang dia ingin meminum kopi buatan ibunya, akankah Qing Yang bersedia membuatkannya?

Ibunya sudah meninggal dunia, dan karena penyakitnya ini, Nana tidak bisa memenuhi harapan ibunya untuk pergi ke luar negeri. Tapi setidaknya, dia ingin merasakan lagi kopi buatan ibunya.

Prihatin, Qing Yang langsung membawa Nana kembali ke cafenya dan mengajarinya cara membuat kopi yang mirip kopi buatan ibunya, biar Nana bisa membuatnya kapan saja dia merindukan ibunya.

Tapi sulit sekali baginya untuk membuat kopi yang sama persis buatan ibunya. Beberapa kali dia mencoba, tapi rasanya tidak sama. Tapi Qing Yang tetap sabar dan terus menyemangatinya untuk terus mencoba lagi dan lagi... hingga akhirnya, Nana berhasil juga membuat kopi yang rasanya sama persis yang kontan membuatnya berlinang air mata. 

Dulu, ibunya ingin mengajarinya menyeduh kopi. Namun Nana selalu menolaknya, dia tidak mau belajar biar ibunya terus membuatkannya kopi. Prihatin, Qing Yang langsung menyodorkan sapu tangan untuknya dan mengingatkan Nana bahwa Nana harusnya bahagia karena akhirnya berhasil membuat kopi buatan ibunya.

Nana yakin bahwa pertemuan mereka di kapal pesiar waktu itu diatur oleh ibunya. Dulu, ibunya sangat suka melihat laut, makanya Nana naik ke kapal pesiar itu dan pada akhirnya bertemu dengan Qing Yang, bertemu dengan kopi yang persis buatan ibunya.

Berniat membantu Zi Feng, Ya Nuo nekat pergi sendirian mengonfrontasi pemimpin redaksi majala yang menerbitkan artikel tentang Zi Feng itu. Tapi si pemimpin redaksi dengan gaya angkuhnya menolak mengaku salah, bahkan meremehkan posisi Ya Nuo yang cuma asisten.

Lalu tiba-tiba saja dia menipu Ya Nuo dengan mengklaim bahwa dia mau memanggil pengacaranya, padahal kemudian dia mengunci Ya Nuo di rooftop dan meninggalkannya. Dia bahkan tidak peduli biarpun sedetik kemudian hujan turun deras. Tidak ada tempat berteduh di tempat itu sehingga Ya Nuo terpaksa kehujanan dan kedinginan.

Baru malam harinya saat Ya Nuo tidak ada kabar, Amy akhirnya melapor ke Zi Feng bahwa barusan dia mendapat telepon dari orang tuanya Ya Nuo bahwa Ya Nuo belum pulang setelah tadi siang pamit mau bertemu dengan kepala redaksi dari majalah yang menerbitkan berita yang salah tentang Zi Feng itu.

Zi Feng jadi khawatir dan langsung pergi ke sana dan setibanya di sana, dia malah mendengar si kepala redaksi berkata tentang Ya Nuo yang dia kurung di rooftop. Dia langsung bergegas ke sana, dia berusaha mendobrak pintunya, tapi gagal.

Dia jadi makin khawatir saat mendengar suara lemah Ya Nuo yang berkata kalau dia kedinginan dan mau tidur. Sudah pasti Ya Nuo terkena hipotermia. 


Zi Feng jadi kesal saat mengonfrontasi salah satu pegawai yang kerja lembur di sana, karena mereka tidak punya kuncinya dan si kepala redaksi malah melarikan diri. Jelas saja Zi Feng jadi murka dan bersumpah akan mencari si kepala redaksi begitu masalah ini selesai nantinya.

Dia akhirnya terpaksa harus naik ke gedung sebelah, berusaha menyemangati Ya Nuo untuk bertahan sebentar dan meyakinkan Ya Nuo bahwa sebentar lagi petugas damkar akan segera datang menyelamatkannya.

Namun tiba-tiba saja Ya Nuo roboh yang jelas saja membuat Zi Feng jadi makin panik. Zi Feng akhirnya nekat untuk melompat dari gedung sebelah, dan jelas saja itu membuat Ya Nuo jadi khawatir.

Dia berusaha keras melarang Zi Feng melompat, tapi Zi Feng lebih mengkhawatirkan nyawa Ya Nuo daripada nyawanya sendiri sehingga dia langsung saja nekat melompat dari gedung sebelah, dan untungnya dia mendarat dengan selamat dan langsung memeluk Ya Nuo.

 

"Kau bisa mati, tahu!" kesal Ya Nuo saking khawatirnya.

"Aku tahu. Tapi mulai sekarang, bisa dibilang, hidup kita saling terkait."

Untungnya Amy dan petugas damkar akhirnya datang tak lama kemudian.

Bersambung ke episode 4

Post a Comment

0 Comments