Recap Our Secret Episode 13 & 14

Tepat setelah Si Yue mengajaknya untuk kuliah di Jiangling juga, Ding Xian tiba-tiba terbangun dari tidurnya di tengah kelasnya Pak Liu. (Hah? Jadi itu cuma mimpi?) Sha Di penasaran tadi Ding Xian mimpi apa sampai dia cengar-cengir di dalam tidurnya. Pasti memimpikan sesuatu yang bagus, yah? Ding Xian tersipu malu menyangkal. 

Sha Di mengingatkannya bahwa mereka sudah kelas tiga sekarang. Jadi Ding Xian harus menghargai waktu yang tersisa ini sebaik mungkin. Setelah lulus, mereka akan berjauhan.

Ucapan Sha Di itu membuat Ding Xian jadi galau seharian. Dia bahkan tidak fokus saat Si Yue mengajarinya rumus matematika. Si Yue jadi penasaran dia ada masalah apa, tapi Ding Xian menyangkal dan menolak menjawab apapun.

Karena hujan badai di luar, listrik jadi tiba-tiba padam. Si Yue memperhatikan Ding Xian tampak ketakutan. Ding Xian menyangkal, tapi jelas dia ketakutan saat petir tiba-tiba menggelegar dengan dahsyatnya.

Si Yue pun dengan manisnya menenangkannya dengan memakaikan headset ke telinganya dan memainkan lagu kesukaannya. Seketika itu pula Ding Xian membuat keputusan, dia juga ingin kuliah di Jiangling.

Jiang Chen dan ayahnya bertengkar hebat di tengah jalan yang jelas saja jadi tontonan orang-orang. Teman-temannya Jiang Chen tidak ada satu pun yang berani mendekat. Hanya Si Yue seorang yang berani dan berhasil menenangkan emosi Ayahnya Jiang Chen hingga akhirnya Ayahnya Jiang Chen bisa menerima dan mendukung keputusan putranya untuk menjadi tentara. 

Dukungan orang tua sudah berhasil didapatkan, Jiang Chen pun semakin semangat untuk mengejar Ke Ke. Dia bahkan memberikan kunci motornya pada Ke Ke agar Ke Ke menggunakan motornya untuk pergi ke tempat ujian masuk universitas. Ke Ke masih malu-malu, tapi jelas dia punya perasaan yang sama pada Jiang Chen.

Jiang Chen juga menghabiskan hari terakhirnya sebelum masuk militer untuk berkumpul bersama teman-temannya. Dia mengajak mereka main bilyar tapi gagal total. Dia pikir karena dia tidak bisa mengalahkan Si Yue, jadi dia menantang Ding Xian. Tapi yang tak disangkanya, Ding Xian malah mengalahkannya dengan telak.

Jiang Chen mengakui kalau Ding Xian memang hebat, lalu tiba-tiba saja dia meminta untuk sering-sering kontak dengan Ding Xian. Errr... bukan karena dia mendadak suka sama Ding Xian sih, melainkan karena dia ingin Ding Xian sering-sering memberinya update tentang Ke Ke. Segera kasih tahu dia kalau Ke Ke jalan sama cowok lain.

Ke Ke datang tak lama kemudian untuk mengantarkan Jiang Chen. Sudah saatnya berpisah, Jiang Chen pun pamit pada teman-temannya. Si Yue sedih berpisah dengan salah satu teman baiknya. Berusaha menyemangatinya, Ding Xian meyakinkan bahwa mereka pasti akan bertemu lagi suatu hari nanti.

Si Yue harus belajar untuk persiapan olimpiade, tapi dia juga masih menyempatkan diri untuk mengajari Ding Xian. Apalagi Ding Xian sudah bertekad untuk kuliah di kota yang sama dengannya.

Demi menyemangati Si Yue, Ding Xian begadang menyulam sebuah kantong jimat. Tapi gara-gara itu pula, dia hampir saja terlambat mengantarkan Si Yue. Untungnya dia masih sempat menyusulnya sebelum Si Yue masuk ke tempat kompetisi dan menyerahkan kantong jimat sulamannya. Ini sulaman pertamanya, jadi jangan dihina.

Si Yue senang dan langsung menyuruh Ding Xian mendekat lalu menyentuh kepalanya. Ding Xian tersipu malu memberitahu kalau dia belum keramas, tapi tidak masalah bagi Si Yue, dia hanya ingin menyerap aura positifnya Ding Xian dan berkata kalau dia punya hadiah untuk Ding Xian semester depan.

Musim dingin 2011, Ding Xian mendapat kabar bahwa neneknya meninggal dunia. Imlek yang seharusnya dirayakan dengan penuh suka cita, berakhir jadi penuh duka. Seluruh keluarga sangat sedih, terutama Ayah dan Ding Xian. 

Namun pada akhirnya, Ding Xian-lah yang lebih kuat dan lebih dewasa saat menyemangati Ayah untuk tidak terus tenggelam dalam dukanya dan menerima takdir yang tak bisa mereka ubah ini.

Si Yue juga tengah menghadapi masalahnya sendiri. Orang tuanya lagi-lagi bertengkar hebat Dengan Ibu yang lagi-lagi curiga kalau Ayah selingkuh sehingga Ayah lama-lama tidak tahan di rumah terus dan langsung pergi.

Si Yue benar-benar kecewa dan sedih. Saat Ding Xian meneleponnya, dia tidak mengatakan apapun tentang masalahnya, tapi Ding Xian bisa langsung tahu kalau dia sedang sedih. Si Yue yang biasanya cerewet, tiba-tiba membisu itu jelas tidak wajar. 

Maka Ding Xian pun langsung menghiburnya dengan menyanyikan lagu untuknya dan berhasil membuat Si Yue tersenyum kembali. Sekian lama menjadi teman sebangku, tentu saja Ding Xian menjadi sangat mengenal Si Yue luar-dalam.

Suasana Imlek mereka berdua sangat sepi dan menyedihkan, tapi mereka saling berbohong bahwa merayakan Imlek dengan penuh suka cita dan kembang api, dan saling berjanji bahwa mereka akan melihat kembang api bersama tahun depan.

Saat mereka kembali ke sekolah, Pak Liu mengumumkan bahwa Si Yue berhasil memenangkan kompetisi kemarin dan diterima di Universitas Huaqing. Dan berkat kemenangannya itu, akhirnya Ding Xian bisa duduk sebangku lagi sama Si Yue. 

Inilah yang Si Yue minta dari Pak Liu sebagai hadiah kemenangannya dan inilah hadiah yang dia janjikan pada Ding Xian sebelum dia masuk ke tempat kompetisi waktu itu. Dia bahkan sudah menyiapkan rencana untuk membantu Ding Xian kuliah di kota yang sama dengannya.

Ujian masuk universitas sudah semakin dekat, anak-anak kelas tiga semakin sibuk belajar setiap hari. Berkat perencanaan Si Yue, nilai-nilai tesnya Ding Xian pun semakin meningkat. Sebelum ujian masuk universitas dimulai, Si Yue berpidato untuk menyemangati teman-temannya. 

Dia mengingatkan mereka bahwa dibalik rasa lelah dan bosan belajar di sekolah, namun di sini pula mereka bertemu dengan teman-teman yang baik, teman yang memiliki arah dan tujuan yang sama, berjuang bersama-sama untuk menggapai arah dan tujuan tersebut.

"Di ruang yang luas dan waktu yang tak terbatas ini, bahkan jika akhirnya berbeda, namun bisa melihat langit yang penuh bintang bersamamu, merupakan hal terindah dalam hidupku." Ucap Yi Yue yang walaupun terkesan ditujukan pada semua temannya, tapi sebenarnya kata-kata itu khusus dia tujukan untuk Ding Xian.

"Jadi, marilah kita terus maju ke depan. Jangan takut. Hari demi hari yang sekarang yang tampaknya tidak penting, pada suatu hari nanti, akan membuatmu tiba-tiba mengerti arti dari sebuah kegigihan. Karena aku selalu memeprcayai satu kalimat. Masa depan yang cerah sedang menanti." Pungkas Si Yue dalam pidatonya.

Tapi saat benar-benar menghadapi ujian masuk universitas, Ding Xian malah tiba-tiba jadi sangat gugup, keringat dingin bercucuran dan matanya memburam, hingga dia kesulitan mengerjakan ujiannya.

Ding Xian jadi frustasi hingga dia ingin minum-minum usai ujian, tapi dia tidak mau minum bersama Si Yue dan cuma mau minum bersama Sha Di karena dia harus curhat dan menangis tentang kegagalan ujiannya tadi. Sekarang dia tidak akan bisa mengejar Si Yue.

Sha Di juga sama sedihnya dengannya. Walaupun menyangkal perasaannya pada Zi Qi, tapi sebenarnya dia sangat sedih karena sudah pasti dia dan Zi Qi akan terpisah dan kuliah di universitas di kota yang berbeda.

Sedih menyadari mereka semua akan berpisah setelah lulus nanti, kedua gadis itu pun saling berjanji bahwa mereka tidak akan saling melupakan satu sama lain dan akan selalu menjadi teman selamanya.

Malam itu mereka habiskan dengan terus minum-minum dan bernyanyi dengan riang gembira. Dan saat mereka keluar tak lama kemudian, Ding Xian sudah mabuk berat sampai-sampai dia menganggap tong sampah sebagai Si Yue.

Untungnya Si Yue dan Zi Qi tiba tepat waktu untuk menjemput gadis mereka masing-masing. Si Yue berusaha memapahnya, tapi Ding Xian langsung menampiknya sambil memprotes Si Yue yang biasanya selalu berjalan di depan dan meninggalkannya.

"Kalau begitu, ke depannya, kau yang jalan di depan."

"Mau jalan di depan atau di belakang, kita sudah tidak bisa berjalan bersama lagi."

Bingung, Si Yue langsung menggendongnya dan mengingatkan Ding Xian bahwa mereka akan menghadapi segalanya bersama-sama. Dalam mabuknya, Ding Xian bertanya-tanya apakah mereka akan bisa menjalani hari-hari dengan mudah dan bahagia seperti sekarang saat mereka tumbuh dewasa nanti.

Si Yue yakin pasti bisa, tapi Ding Xian tak percaya. Mana mungkin orang tidak akan berubah setelah berpisah. Mungkin nanti mereka akan merasa asing pada satu sama lain.

"Zhou Si Yue, apa kau pernah dengar perkataan ini, 'Jangan takut jika awan menutupi cahaya bulan, kau lebih bersinar dibandingkan bintang'? Masa depanmu, sama seperti bintang."

"Bodoh. Bintang tidak bisa bersinar."

"Aku tidak peduli." Ding Xian tiba-tiba mengecup pipi Si Yue dan keras kepala berkata. "Kalau aku bisa bilang bisa, yah berarti bisa."

Di tempat lain, Zi Qi juga sibuk mengurusi Sha Di yang tiba-tiba menangis sedih karena sebentar lagi mereka akan berpisah dan mengeluhkan segala keusilan Zi Qi padanya sejak mereka kecil. Sha Di jadi berpikir kalau Zi Qi melakukan semua itu karena Zi Qi membencinya, tapi apa Zi Qi tidak tahu kalau dia menyukai Zi Qi? Zi Qi terkejut mendengarnya. Dia sungguh tidak tahu perasaan Sha Di yang sebenarnya karena biasanya Sha Di jahat padanya.

"Jangan mengalihkan pembicaraan! Katakan padaku sekarang, apa kau menyukaiku?"

"Kong Sha Di, selama bertahun-tahun aku selalu ikut di belakangmu. Jika aku tidak menyukaimu, siapa lagi yang aku suka?"

Akhirnya mereka jadian juga, tapi yah terpaksa ke depannya mereka harus LDR. Tapi jangan khawatir, Zi Qi meyakinkan biarpun mereka LDR, tapi dia pasti akan setia. Senang, Sha Di langsung menuntutnya untuk menelepon setiap hari, tidak boleh bohong, tidak boleh marah, bertemu minimal sebulan sekali. Masih banyak lagi syarat yang dia ajukan, tapi Zi Qi sontak membungkamnya dengan menciumnya mesra.

Nilai ujian masuk universitasnya Ding Xian sebenarnya cukup bagus. Akan tetapi, nilainya itu hanya cukup untuk digunakan mendaftar di universitas lain yang berbeda kota dari Si Yue.

Tapi Ding Xian tidak mau, tetap bertekad untuk kuliah di universitas yang sama dengan Si Yue. Karena itulah, dia kemudian memutuskan untuk mengulang kelas 3 SMA-nya. Ibu jelas tidak setuju, tapi Ding Xian tegas melarang Ibu untuk ikut campur dalam hidupnya. Ini hidupnya sendiri, dia sendiri yang akan membuat pilihan dan keputusan untuk hidupnya. Dia sendiri pula yang akan menanggung konsekuensinya.

Si Yue mengajak Ding Xian bertemu di kolam renang di mana Ding Xian memberitahunya tentang keputusannya untuk mengulang kelas 3 SMA.

"Kau tunggulah aku di Huaqing. Siapa tahu aku bisa mendapatkan nilai yang lebih tinggi, lalu bisa pergi mencarimu ke Huaqing."

Si Yue sendiri punya kabar buruk, dia harus berangkat ke Jiangling lebih cepat, dia tidak mengatakan alasannya (ayahnya terlibat masalah) dan hanya berkata bahwa sepertinya dia tidak akan bisa pulang liburan nanti.

"Aku akan merindukanmu." Ucap Ding Xian. Canggung, dia lalu pamit duluan. Tapi Si Yue mencegahnya untuk memberikan sebuah hadiah perpisahan, robot mini-nya D2-T3 yang pernah Si Yue perlihatkan padanya dulu.

Karena dulu robot ini cuma diberi nama asal-asalan, jadi Ding Xian memutuskan untuk memberinya nama baru: Siyue (yang artinya April).

Mereka pun berpisah, Si Yue berangkat ke kota lain, sedangkan Ding Xian kembali ke sekolah. Kali ini dia ikut kelas guru lain, belajar dengan lebih tekun setiap hari, kedua orang tuanya sampai khawatir karena dia jadi sering tidur terlalu larut saking giatnya belajar.

Di kota Jiangling, Si Yue tengah menghadapi masalahnya sendiri. Kedua orang tuanya berusaha merahasiakan masalah Ayah darinya, tapi Si Yue tidak tinggal diam dan langsung menemui Profesor Ye. 

Dari Profesor Ye-lah, akhirnya dia tahu bahwa ternyata ada orang yang melapor bahwa tesis ayahnya plagiat dan sekarang tengah diselidiki. Dan masalah ini membuat Ayah diberhentikan dari kampusnya. Parahnya lagi, kesehatan Ayah juga jadi terpengaruh.

Si Yue mengerti kalau mereka merahasiakan ini darinya karena takut dia terpengaruh. Tapi Si Yue meyakinkan Ayah bahwa dia tidak takut, dia percaya pada Ayah. bahkan demi membantu kedua orang tuanya, dia mengumpulkan semua barang-barang kesayangannya untuk dijual, mengklaim kalau dia sudah dewasa sekarang, sudah tidak membutuhkan barang-barang ini lagi.

Shi Yi lalu menelepon Ding Xian. Ding Xian tidak mengatakan kegundahan hati dan rasa frustasinya, tapi dari nada suaranya, Si Yue bisa tahu kalau Ding Xian sedang ada masalah tapi tidak mau mengatakannya.

Cemas, Si Yue pun memutuskan untuk kembali ke Shenhai sebentar mumpung kuliahnya belum dimulai. Tapi setibanya di sana, dia malah melihat dan mendengar dari kejauhan Ding Xian curhat pada Bo Cong.

Ding Xian jujur mengakui kalau dia sekarang dia malah jadi semakin tak percaya diri dan meragukan keputusannya ini benar atau salah. Terutama saat melihat teman sekelasnya yang sudah 3 tahun terus menerus mengulang kelas 3 SMA, bertekad untuk masuk ke universitas yang ditargetnya, namun setiap tahun nilai ujiannya malah terus menurun yang pada akhirnya malah membuat mentalnya semakin terganggu.

"Kakak kelas, aku sangat lelah. Aku benar-benar sangat lelah."

Bersambung ke episode 15

Post a Comment

3 Comments

Hai, terima kasih atas komentarnya, dan maaf kalau komentarnya tidak langsung muncul ya, karena semua komentar akan dimoderasi demi menghindari spam