Sinopsis You Are My Glory Episode 24

Pada hari ke-10 perpisahan mereka, entah kenapa Jing Jing tidak bisa melakukan adegan menangis sedih dengan benar. Sutradara Li tidak puas sehingga syuting harus terus menerus diulang. 


Begitu Jing Jing kembali ke hotel, dia langsung curhat sedih ke Yu Tu. Walaupun pada akhirnya syutingnya selesai dengan baik, tapi tetap saja Jing Jing masih sedih dan minta dihibur. Tapi reaksi Yu Tu malah cuma mengucap syukur adegannya bisa terselesaikan dengan baik.

Jing Jing kecewa dan langsung memprotesnya. Yu Tu menjelaskan bahwa itu karena kegagalan baginya adalah sesuatu yang sangat biasa, jadi dia sudah terbiasa, bahkan sampai sekarang dia masih kesulitan dengan proyeknya.


Ujung-ujungnya malah jadi Jing Jing yang menghibur Yu Tu dan menyemangatinya. Tapi Jing Jing tetap senang bisa menghibur sang pacar tercinta, sekarang dia mengerti betapa bahagianya menghibur belahan jiwa. Dia jadi bangga dengan dirinya sendiri karena telah menjadi pacar yang penuh perhatian menghibur sang pacar yang sedang sedih.

Tapi sang pacar yang dia kira sedang sedih itu tiba-tiba tanya. "Adegan yang diulang-ulang itu bukan adegan ciuman, kan?" (Pfft! Sedih apanya?)

Pada hari ke-15, Yu Tu dinas ke Xi'an bersama timnya. Jing Jing video call waktu Yu Tu tiba di hotel dan mendengar suaranya Da Meng yang lagi konser di kamar mandi dengan hati riang gembira.

Yu Tu memberitahu dia bahwa Da Meng pernah melihat percakapan chat mereka dan mengira kalau dia lagi chatting sama robot program mini Wechat. Hah? Jing Jing bingung kenapa Da Meng mengira dia adalah robot program mini Wechat?

Maka Yu Tu pun mengirimkan percakapan mereka dan saat itulah Jing Jing baru mengetahui kalau Yu Tu menyimpan kontaknya dengan nama Nona AI. Iiish! Nyebelin! Jing Jing langsung kesal mematikan sambungan mereka.

Pada hari ke-25, Yu Tu melapor pada sang kekasih kalau dia baru selesai main basket bersama para rekannya. Jing Jing penasaran ingin melihat gayanya bermain basket, jadi dia menuntut Yu Tu untuk selfie.

Tapi alih-alih selfie, Yu Tu mengirim fotonya dalam pose hendak menembakkan bolanya. Dia tidak bisa selfie, jadi dia menyuruh temannya memotretnya. Teman-temannya tanya buat apa dia ingin mengambil foto, jadi Yu Tu bohong kalau itu buat kencan butanya. 

Mereka jadi penasaran ingin melihat foto kencan butanya Yu Tu. Yu Tu mengusir mereka, tapi dia tetap menuntut 'kencan butanya' untuk mengirimkannya selfie.

Jing Jing pun mengirimkan foto selfie-nya yang cantik sambil memeluk boneka kelinci. Tapi setelah itu, Yu Tu malah tidak membalas pesannya, Jing Jing jadi bingung. 

Itu karena Yu Tu begitu terpesona melihat fotonya, membuatnya jadi semakin merindukan Jing Jing. Maka begitu dia sadar dari lamunannya, dia langsung menelepon Jing Jing dan bertanya-tanya kapan dia bisa bertemu langsung dengan 'Kencan butanya'.

Hmm, sepertinya harapan Yu Tu akan segera terkabul. Karena syuting untuk beberapa adegan akan dipercepat, jadi Jing Jing bisa pulang ke Shanghai selama 3 hari untuk menghadiri sebuah acara promosi brand. 

Dia langsung menghubungi Yu Tu sambil bercanda jadi program AI yang minta duit dengan imbalan hadiah. Yang dia minta lumayan mahal juga, tapi begitu dia memberitahu kalau mereka bisa kencan selama 3 hari, Yu Tu langsung antusias mentransfer uang sejumlah 520 Yuan (520 adalah bahasa gaul dari wo ai ni yang artinya aku mencintaimu) dan menanyakan kapan Jing Jing akan pulang, dia akan menjemput Jing Jing.

Tak lama kemudian, Jing Jing akhirnya tiba di bandara Shanghai dan Yu Tu sudah berada di bandara menjemputnya. Mereka langsung flirting sampai-sampai Xiao Zhu memutuskan untuk segera pamit meninggalkan mereka berduaan. 

Mereka benar-benar begitu bahagia seolah dunia milik berdua saja sampai-sampai mereka tidak menyadari adanya 3 orang paparazzi yang sedang memotreti dan membuntuti mereka. Dan jelas saja ketiga paparazzi itu langsung kegirangan bisa mendapatkan target besar. Mereka pasti akan kaya raya dari menjual foto-foto ini.

 

Tapi di tengah jalan, mereka malah terjebak macet yang sangat parah. Ditambah lagi, rumahnya Jing Jing jaraknya cukup jauh. Yu Tu mendadak punya ide bagus, daripada berlama-lama macet di sini, bagaimana kalau mereka menuju ke lokasi lain yang jaraknya lebih dekat, 20 menit sampai... Yaitu rumahnya. Pfft!

Jing Jing langsung sok jaim memprotes sikap Yu Tu yang baru kenal sama 'Kencan butanya' tapi sudah ingin menculiknya ke rumahnya. Tapi kemudian dia pura-pura tak sengaja memencet lokasi rumahnya Yu Tu sebagai tujuan mereka. Oop! Salah pencet, yah sudah deh, pergi ke situ saja. 

Trio paparazzi itu awalnya mengira kalau kekasihnya Jing Jing itu pasti kaya raya banget dilihat dari mobil mewah yang dipakainya untuk menjemput Jing Jing. Tapi mereka mulai bingung saat mereka terus membuntuti kedua orang itu hingga memasuki kawasan perumahan biasa. Mereka juga baru sadar kalau mobil mewah itu adalah mobilnya Jing Jing.

Yu Tu memang tinggal di sana karena lokasinya yang dekat dengan kantornya. Jing Jing antusias ingin segera keluar dan melihat rumahnya Yu Tu, tapi Yu Tu dengan cepat mencegahnya lalu menarik Jing Jing mendekat untuk menciumnya mesra, melepaskan semua kerinduannya selama sebulan ini.

Untungnya kaca mobil mereka gelap, trio paparazzi jadi tidak bisa memotret pemandangan itu. Penasaran, salah satu dari mereka memutuskan keluar untuk menyelidiki rumah kekasihnya Jing Jing.

Kedua sejoli itu keluar dari mobil tak lama kemudian, si paparazzi langsung sigap memotreti mereka sambil terkagum-kagum mengomentari sosok kekasihnya Jing Jing yang sangat tampan itu, tinggi lagi. Siapa yah dia? Selebritis juga kah? Pendatang baru? Tapi kenapa dia tinggal di kawasan semacam ini?

Menyambut Jing Jing di rumah sederhananya, Yu Tu ternyata sudah menyiapkan sandal rumah imut untuk Jing Jing. Dia memang sudah berencana membawa Jing Jing ke rumahnya sejak mereka jadian.

Jing Jing antusias banget melihat-lihat rumah itu. Biarpun tak semewah dan seluas rumahnya, tapi rumah itu dipenuhi dengan buku-buku di sepanjang dindingnya. Ada juga miniatur Yutu yang pernah Yu Tu sebutkan waktu itu dan sebuah boneka roket Long March 5 yang imut.

Yu Tu lalu membuat mie untuk makan malamnya, mie yang sama dengan yang dia pamerkan ke Jing Jing waktu itu. Jing Jing antusias untuk mencicipinya, tapi ternyata... rasanya tak seenak yang dia kira. Jing Jing kecewa.

Selama Yu Tu sibuk makan, Jing Jing tiba-tiba dihubungkan oleh teman sesama artisnya yang bernama Chen Xue yang menuntutnya untuk ikut main game dalam timnya, Chen Xue lagi butuh bantuan Jing Jing untuk menaikkan level soalnya.

Jing Jing ngotot menolak, Chen Xue kurang pintar nge-game, takutnya Chen Xue malah akan menjatuhkan levelnya. Chen Xue tak peduli, pokoknya Jing Jing harus dan wajib ikut timnya. Dia bahkan bersedia mentransfer sejumlah uang angpao ke Jing Jing.

Mendengar itu, Yu Tu tiba-tiba berbaik hati untuk menggantikan Jing Jing membantu Chen Xue. Sekalian dia mau mencoba hero baru. Dia yakin kalau dia pasti bisa membantu Chen Xue naik level hanya dalam kurun waktu satu jam.

Tapi aneh, saat dia sudah mulai main, entah kenapa performanya kali ini tidak seperti biasanya dan kalah dengan cepat. Bukan cuma sekali, berkali-kali malah dia kalah terus. Yu Tu frustasi. 

Berusaha berpikir positif, Jing Jing pun terus menyemangatinya, meyakini kalau ini pasti cuma karena Yu Tu belum terbiasa dengan hero barunya. Tapi saat Jing Jing mengeluh karena merass tidak enak sama Chen Xue yang sudah ngasih angpao ke dia, Yu Tu mendadak berubah jadi ahli game lagi dan menang dengan mudah. Hah? Kok aneh?

Saat akhirnya Yu Tu berhasil mencapai target, hari sudah larut malam. Jarak rumah Jing Jing terlalu jauh, takutnya dia akan kurang istirahat kalau pulang sekarang, apalagi kan besok dia ada jadwal. 

Jadi Yu Tu langsung menyarankan agar Jing Jing menginap saja di sini malam ini. Pfft! Sengaja ternyata dia. Dasar licik! Dia meyakinkan Jing Jing untuk tidak khawatir karena dia akan tidur di sofa ruang tamu, sedangkan Jing Jing bisa tidur di kamarnya.

Jing Jing awalnya dengan polosnya menyetujuinya. Tapi beberapa detik kemudian dia mulai sadar bahwa ada yang aneh dengan Yu Tu. Dulu saat Yu Tu membantunya mencapai level King, dia bisa melakukannya hanya dalam waktu beberapa menit. Tapi sekarang membantu Chen Xue naik level Ace saja malah butuh waktu lebih dari 3 jam. Wah! Yu Tu benar-benar pintar berakting.


Yu Tu berusaha menyangkal dengan muka tanpa dosa, tapi Jing Jing tak percaya dan langsung menyuruhnya untuk main solo rank dengan menggunakan hero yang tadi. Kalau Yu Tu bisa menang minimal 15 kali, Jing Jing janji tidak akan pulang.

Yu Tu terpaksa menurutinya. Dan kecurigaan Jing Jing langsung terbukti benar saat Yu Tu dengan mudahnya memenangkan game, bahkan berhasil menang lebih dari 20 kali. Dasar Yu Tu!

Jing Jing mau pergi saja. Tapi Yu Tu sontak menariknya ke pangkuannya sambil protes karena Jing Jing melanggar ucapannya sendiri. Katanya tadi tidak akan pulang.

Jing Jing santai meralat. Dia memang tidak akan pulang, tapi dia juga tidak bilang akan menginap di sini, dia mau menginap di hotel. Memangnya Yu Tu doang yang pintar bohong. Cepetan, anterin ke hotel!

Tapi Yu Tu tiba-tiba pasang muka melas dan memberitahu Jing Jing bahwa besok dia mengambil cuti agar bisa menemani Jing Jing ke lokasi acara dan bisa bersama Jing Jing seharian.

Demi mengambil cuti kali ini, dia rela lembur selama beberapa hari sebelumnya. Dia jadi kurang istirahat. Kalau sekarang dia mengantarkan Jing Jing pulang, maka dia bakalan harus begadang sampai jam 2 dini hari, besok pagi masih harus ke rumahnya Jing Jing lagi. 


Wah! Jing Jing sungguh tak menyangka kalau pacarnya ternyata seorang pembohong yang handal. Sepertinya dialah yang harus menyiapkan mental untuk menghadapi Yu Tu. Tapi baiklah, Jing Jing dengan senang hati menurutinya untuk menginap di sini.

Bersambung ke episode 25

Post a Comment

1 Comments

  1. Mantappp......Terima kasih!!! ditunggu kelanjutannya....

    ReplyDelete

Hai, terima kasih atas komentarnya, dan maaf kalau komentarnya tidak langsung muncul ya, karena semua komentar akan dimoderasi demi menghindari spam