Sinopsis You Are My Glory Episode 23

Gara-gara ulah Yu Tu, Jing Jing jadi diomeli ibunya sepanjang jalan. Dia berusaha meyakinkan Ibu bahwa dia dan Yu Tu baru pacaran kemarin, tapi Ibu tak percaya, bahkan menuduhnya tak bertanggung jawab dalam hubungan mereka lalu menutup teleponnya begitu saja.

Sontak saja Jing Jing memelototi Yu Tu dengan kesal. "Ibuku bilang kalau aku tidak bertanggung jawab dalam hubungan kita."

"Kebetulan sekali, ibuku juga berkata begitu padaku." Santai Yu Tu.

"Ibuku bilang kalau aku tidak menjaga perasaan pasanganku."

"Kebetulan sekali. Ibuku juga berkata begitu."

"Ayahku juga ikut-ikutan. Dia bilang kalau aku harus lebih baik padamu."

Kalau yang itu tidak terjadi pada Yu Tu, soalnya Ayahnya Yu Tu tidak mungkin berani ngomong kalau ibunya sedang ngomel. Jing Jing sungguh tidak mengerti untuk apa mereka berdua saling mencemarkan nama baik satu sama lain. Yu Tu santai mengingatkan bahwa Jing Jing duluan yang cari perkara, dia hanya belajar dari pacarnya.

"Pacarmu adalah gadis yang polos! Jelas-jelas kau memang berbakat (akting) sejak lahir."

 

Tiba-tiba ponselnya Yu Tu berbunyi. Takutnya ibunya mengomelinya lagi, jadi Yu Tu meminta Jing Jing untuk mengeceknya. Oke! Jing Jing antusias banget ingin melihat Yu Tu diomeli lagi, tapi ternyata yang mengirim voicemail bukan ibunya melainkan Zhai Liang. Yu Tu memberitahu kalau Zhai Liang itu adalah Haohuang.

Dalam voicemail-nya, Zhai Liang memberitahu Yu Tu bahwa dia kencan buta waktu imlek kemarin dan gadis itu sesuai banget sama kriteria idamannya. Kebetulan mereka bekerja di kota yang sama, jadi dia akan mengejar gadis itu dan menarget untuk mendapatkan gadis itu dalam kurun waktu satu bulan. Dengan bangganya dia mengklaim kalau dia akan melepaskan status jomblo-nya lebih cepat daripada Yu Tu.

Jing Jing pun membantu Yu Tu membalas voicemail-nya, mendoakan semoga Zhai Liang berhasil. Akan tetapi, Yu Tu sudah melepaskan status jomblonya duluan. Tapi setelah itu, malah tidak ada balasan dari Zhai Liang. Kok belum dibalas?

"Mungkin perasaan sedang terpukul."

"Dia serapuh itu?"

 

Iya, dia serapuh itu. Saking shock-nya mendengar suara Jing Jing, dia sampai menjatuhkan ponselnya ke cangkir teh dan butuh waktu untuk mengelapnya sampai kering sebelum kemudian dia video call nomornya Yu Tu tapi malah melihat wajahnya Jing Jing.

Wah! Ternyata Mianhua benar-benar Jing Jing. Apa mereka berdua sedang bersama sekarang. Jing Jing membenarkan, Yu Tu lagi nyetir, jadi tidak bisa angkat telepon. Sebentar, sebentar! Zhai Liang butuh waktu untuk menata perasaannya yang masih shock.

Zhai Liang penasaran ingin melihat mukanya Yu Tu sekarang, ingin melihat apakah mukanya Yu Tu merona setelah sekarang dia sudah punya pacar. Yu Tu sontak pasang muka poker face, tapi itu sama sekali tak memperdaya Zhai Liang, jelas-jelas muka Yu Tu sedang menunjukkan kebanggaan besar.

 

Dia bahkan dengan senang hati membeberkan aib temannya sendiri dengan memberitahu Jing Jing bahwa dulu Yu Tu tuh tidak pernah memperhatikan Jing Jing, tidak pernah sekalipun dia melirik iklan-iklannya Jing Jing di jalan-jalan. Bahkan waktu wajahnya Jing Jing muncul di iklan game pun, tidak pernah Yu Tu meliriknya. Pfft!

Yu Tu jadi ketakutan bak suami takut istri dan berusaha memperingatkan Zhai Liang, tapi Zhai Liang terus saja nyerocos antusias. Dia bahkan memberitahu Jing Jing bahwa waktu Yu Tu pulang dari memperbaiki pembersih udaranya Jing Jing waktu itu, dia kan tanya bagaimana wajahnya Mianhua, tapi Yu Tu malah bilang bahwa wajahnya Mianhua bisa dilihat di mana-mana.

Yu Tu buru-buru menjelaskan maksudnya tuh iklannya Jing Jing banyak bertebaran di jalan-jalan, makanya dia bisa dilihat di mana-mana. Jelas itu artinya, dia selalu melirik iklannya Jing Jing di jalan-jalan. Jadi jangan dengarkan omongan Zhai Liang.

 

Tapi... Zhai Liang juga memberitahu bahwa sebelum mereka jadian beberapa waktu yang lalu, Yu Tu sempat sangat stres dan frustasi gara-gara memikirkan Jing Jing. Kalau Jing Jing ingin tahu lebih banyak, sebaiknya Jing Jing menambahkan kontaknya di Wechat.

Oke! Jing Jing pun mengirimkan kontaknya melalui Wechat-nya Yu Tu. Zhai Liang makin heran sama temannya yang satu itu, baru juga jadian, Yu Tu sudah menyerahkan segalanya pada kekasihnya, termasuk Wechat-nya.

Begitu mereka sudah saling menambahkan kontak satu sama lain, mereka langsung main game sepanjang jalan, bahkan saat mereka tiba di apartemennya Jing Jing. Saking asyiknya main, Jing Jing sampai lupa mematikan mic saat dia bertanya-tanya kenapa Yu Tu malah membawanya ke lantai satu dan bukannya langsung ke rumahnya.

Terang saja Zhai Liang langsung penasaran mendengar Yu Tu berada di rumahnya Jing Jing. Yu Tu cepat-cepat mengambil alih game-nya Jing Jing biar cepat selesai dan dengan mudahnya memenangkan game untuknya.

Selesai main Yu Tu membawa Jing Jing ke kotak pos dan dengan santainya memencet sandi kotak posnya Jing Jing seolah itu miliknya sendiri lalu mengambil sebuah surat. Dia tahu sandinya karena sandi kotak pos itu sama dengan sandi rumahnya Jing Jing. Tapi Jing Jing bingung, kenapa suratnya Yu Yu malah terkirim ke kotak posnya?

"Kurangilah main game, makanlah lebih banyak pati." Ujar Yu Tu.

"Maksudnya?"

"Otak butuh asupan gula untuk berpikir." (Pfft!)

Jing Jing kesal. Tapi akhirnya dia langsung nyambung juga dan sadar kalau itu adalah surat yang Yu Tu kirimkan untuknya, surat yang katanya tentang wahana penjelajah bulan Yutu yang memiliki kisah romantis.

Dia ingin membacanya, tapi Yu Tu ingin membacakannya sendiri untuk Jing Jing karena surat yang satu ini memiliki makna mendalam baginya. Waktu dia menulis surat ini, dia bertanya-tanya sendiri apakah saat surat ini sampai ke Jing Jing, dia sudah bisa membacakan surat ini untuk Jing Jing. 

Sekarang karena hubungan mereka sudah pasti, akhirnya Yu Tu pun bisa membacakan surat ini untuk Jing Jing. Jing Jing pun berbaring di pangkuan Yu Tu saat Yu Tu mulai membacakan surat itu untuknya.

Dia mengawali suratnya dengan memberitahu bahwa dia punya miniatur Yutu di rumahnya yang ingin dia perlihatkan pada Jing Jing jika suatu hari Jing Jing datang ke rumahnya nanti.

Saat akhirnya Yu Tu selesai membacakan surat 4 halaman itu, Jing Jing sudah ngantuk dan memberitahu Yu Tu bahwa tadi pagi dia sudah menyuruh Xiao Zhu untuk membantunya berkemas untuk besok.

Hmm, berarti itu artinya, mereka bisa berduaan saja malam ini. Yu Tu sontak tersenyum lebar dan menyatakan bahwa dia mau menginap di sini malam ini. Eiiits! Jangan mikir yang aneh-aneh dulu. Maksudnya dia hanya akan tidur di sofa. 

Tapi mulai sekarang, Yu Tu ingin lebih berinisiatif. Hanya saja dia kurang pengalaman dalam berinisiatif, jadi kalau Jing Jing merasa dia keterlaluan, maka Jing Jing harus mengingatkannya. Jadi... apakah keterlaluan jika dia menginap di sini malam ini? 

Yu Tu cepat-cepat menjelaskan bahwa dia hanya ingin mengantarkan Jing Jing ke bandara besok. Pesawatnya Jing Jing kan berangkat pagi jam 8, masa dia harus datang kemari jam 4 subuh? Jing Jing sempat tercengang mendengar Yu Tu berniat mau mengantarkannya ke bandara, tapi akhirnya dia setuju, senang malah. Dia lebih suka Yu Tu yang seperti ini.

Keesokan harinya saat Xiao Zhu datang membawakan sarapannya Jing Jing seperti biasanya, dia malah kaget mendapati Yu Tu-lah yang menyambutnya. Mereka berdua tidak menjelaskan apa pun padanya, tapi kemesraan mereka terpampang dengan begitu jelas sehingga Xiao Zhu bisa langsung menyadari kalau dirinya sudah jadi obat nyamuk di antara kedua sejoli yang sedang dimabuk asmara itu.

Saat Jing Jing mengeluhkan susu kedelainya yang terlalu tawar tapi juga tidak ingin yang terlalu manis, Yu Tu langsung meminum setengah susu yang tawar lalu mencampurnya dengan susu yang manis. Jing Jing senang, Yu Tu menatapnya dan melayaninya dengan penuh cinta, dan Xiao Zhu cuma bisa canggung menonton kemesraan mereka berdua yang begitu manis sampai bisa bikin diabetes.

Bukan cuma Xiao Zhu, Manajer Ling pun sama tercengangnya melihat mereka berdua muncul di bandara bersama-sama. Dia juga tidak butuh penjelasan apa pun karena cinta mereka berdua kentara sangat jelas sehingga Manajer Ling langsung paham apa hubungan mereka sekarang.  Karena itulah, Manajer Ling memaksa Yu Tu untuk pakai masker mulai sekarang biar mereka tidak ketahuan sama paparazzi. 


Sudah hampir waktunya berangkat, Manajer Ling minggir agar kedua sejoli itu bisa berpamitan. Yu Tu sedih menyadari mereka mungkin tidak akan bisa bertemu selama dua bulan lebih karena jadwal syutingnya Jing Jing.

Dulu dia pikir kalau dia akan sangat sibuk luar biasa karena harus sering dinas ke luar kota dan tidak akan ada waktu untuk menjaga kekasihnya, tapi sekarang dia menyadari kalau Jing Jing sebenarnya lebih sibuk darinya. Mendengar itu, Jing Jing pun menghiburnya dengan kecupan manis. Yu Tu pun kembali senang.


Manajer Ling masih shock. Bisa-bisanya mereka mengumbar kemesraan di tempat umum. Apa Jing Jing tidak takut ada orang yang memotret mereka? Jing Jing sama sekali tidak peduli dengan itu karena ada masalah lebih penting yang harus dia pikirkan. LDR itu sangat sulit, Jing Jing harus memikirkan bagaimana cara mempertahankan hubungannya. 

Maka dimulailah hubungan LDR mereka. Pada hari pertama, Jing Jing mengirim meme dirinya sendiri dan bercanda memperkenalkan dirinya sebagai 'AI Jing Jing', pacar virtualnya Yu Tu.

Setiap hari mereka saling chatting biarpun cuma sekedar saling sapa atau membahas hal-hal remeh atau cuma sekedar pamer makanan. Bahkan di kantin kantor, Yu Tu terus menerus menatap HP-nya dan memotreti makanannya yang lama kelamaan membuat Da Meng penasaran. 

Dia langsung mengintip ponselnya Yu Tu dan mendapati Yu Tu chatting sama kontak yang dinamai 'Nona AI'. Yu Tu mengklaim kalau ini adalah program mini buatannya sendiri, semacam pacaran virtual. Dan Da Meng dengan polosnya mempercayainya, mengira kalau si 'Nona AI' itu semacam robot pacar virtual.


Jing Jing jadi ingin juga merasakan makanan di kantin kantornya Yu Tu dan meminta Yu Tu untuk mengajaknya makan di sana kapan-kapan. Eh, tapi, apakah orang luar tidak boleh masuk?

Yu Tu bilang boleh, tapi dia harus menunjukkan KTP-nya di pintu gerbang. Tidak masalah, Jing Jing dengan narsisnya berkata bahwa foto KTP-nya sangat cantik. Dan Yu Tu yang tak kalah narsis, mengklaim bahwa foto KTP-nya juga ganteng. (Pfft! Pasangan narsis)


Suatu malam, Manajer Ling memberitahu Jing Jing bahwa dia masih berusaha menegosiasikan jadwalnya Jing Jing selanjutnya untuk dilakukan di Shanghai saja biar Jing Jing bisa bertemu Yu Tu. Manajer Ling sebenarnya masih menyayangkan Yu Tu yang tidak mau masuk industri hiburan. Tapi dipikir-pikir, mungkin juga Yu Tu tidak akan terkenal.

Soalnya biarpun dia itu sangat tampan, tapi dia terlalu 'transparan'. Bayangkan saja, selama lebih dari sebulan dia mengajari Jing Jing main game, setiap hari dia keluar masuk rumahnya Jing Jing, tapi tidak ada seorang pun yang memotretnya.

Dan lagi, waktu mereka berdua di kampung halaman mereka dan di bandara, mereka kan sangat terang-terangan mengumbar kemesraan di depan umum. Tapi anehnya, tidak ada satu pun foto mereka yang diposting di media sosial.

Geli, Jing Jing langsung nge-chat Yu Tu untuk memberitahukan ucapan Manajer Ling barusan. Yu Tu bingung apa maksudnya transparan, dia yakin kalau cahaya tidak bisa menembus dirinya. Maka Jing Jing langsung video call dia untuk menjelaskan maksud transparan itu. 

Kalau masa di KTV, Yu Tu tahu apa penyebabnya. Itu karena Pei Pei bagi-bagi angpao pada semua teman mereka sebagai uang tutup mulut. Tapi Yu Tu mengaku sudah mengganti uangnya Pei Pei.

Awalnya Pei Pei sempat menolak, apalagi selama ini dia banyak berutang budi pada Jing Jing yang selalu memberinya banyak baju-baju bagus. Tapi kemudian Pei Pei menyadari bahwa dia tidak boleh membiarkan Yu Tu merasa diuntungkan. Makanya Pei Pei menerima uangnya.

Tapi Pei Pei bilang kalau dia akan mengembalikannya suatu hari nanti dalam wujud hadiah pernikahan untuk mereka. Jing Jing penasaran berapa jumlahnya?

"Setengah dari gaji bulananku."

"Banyak sekali! Mending kita ketahuan saja waktu itu. Sayang sekali!"

"Kalau begitu, kurangi saja dari jumlah maharmu."


Jing Jing sontak ngambek dan mematikan video call-nya. Yu Tu cepat-cepat menghubunginya lagi dan berjanji tidak akan membahas masalah mahar pernikahan. Mereka pun memutuskan untuk tetap saling terhubung tapi sambil sibuk sendiri-sendiri dengan kegiatan masing-masing.

Tapi Jing Jing lama-lama tidak fokus dengan hapalan naskahnya saking terpesonanya melihat sang pacar yang lagi serius dengan kegiatannya. Dia sedang apa sih?

Yu Tu mengaku kalau dia sedang menulis surat untuk Jing Jing, kali ini tentang migrasi manusia ke Mars. Tapi berbeda dari surat-surat sebelumnya, kali ini Yu Tu menulis suratnya dengan cara mengarang sebuah cerita dengan tokoh utamanya yang bernama Yu Xiao Qiao (Yang merupakan gabungan nama marga mereka).

Yu Xiao Qiao adalah seorang pelajar SMA di Shanghai. Suatu hari setelah Yu Xiao Qiao mentraktir salah satu temannya makan ayam goreng karena temannya itu telah berjasa mengajarinya matematika, dia mendapatkan hadiah tiket liburan musim panas ke Mars.

Dia sengaja mengarang cerita biar Jing Jing tidak terlalu bosan dan biar lebih mudah dipahami juga. Teknologi zaman sekarang masih belum cukup canggih bagi manusia untuk migrasi ke Mars. Makanya tokoh utama ceritanya ini adalah keturunan mereka di masa depan nanti. Pfft!

Jing Jing jadi tersipu malu mendengar Yu Tu ngomongin masalah keturunan, tadi masalah mahar pernikahan, sekarang malah ngomongin keturunan. Eh tapi, kenapa Yu Xiao Qiao perlu diajari matematika oleh orang lain? Memangnya si Yu Xiao Qiao ini tidak mewarisi gennya Yu Tu?

"Itu harus ditanyakan pada Nona Qiao. Bolehkah genku memengaruhi genmu?"

"Kau membuatku kesulitan menghapal naskahku! Yu Tu!" Jing Jing tersipu malu.

Bersambung ke episode 24

Post a Comment

1 Comments

  1. Terima kasih! Seperti episode2 sebelumnya gaya bahasa mantappppp.....lanjuttt

    ReplyDelete

Hai, terima kasih atas komentarnya, dan maaf kalau komentarnya tidak langsung muncul ya, karena semua komentar akan dimoderasi demi menghindari spam