Sinopsis Maiden Holmes Episode 12 - 1

Mencemaskan Su Ci, Pei Zhao nekat mengabaikan pengobatannya dan pergi ke kamarnya Su Ci dengan dibantu Fei Yuan. Sesampainya di sana, mereka malah menemukan kamar itu sudah berantakan dan Su Ci tidak ada di sana.

Fei Yuan tak berpikir aneh-aneh, bahkan memunguti kembali kertas-kertas itu sambil menggerutui Su Ci yang sembarangan melempar berkas-berkas kasusnya.

Tapi Pei Zhao langsung tahu ada yang salah. Su Ci bukan orang yang menaruh barang-barangnya sembarangan. Maka dia langsung saja melepaskan penutup matanya, mengabaikan protesnya Fei Yuan dan mengamati kamar itu dengan seksama.

Melihat petunjuk terakhir yang ditulis Su Ci, Pei Zhao langsung mencoba memikirkan hubungan semua petunjuk itu dengan lukisan gadis cantiknya Tuan Qu... hingga akhirnya dia ingat tentang ucapan Tuan Qu yang mengaku padanya dan Su Ci bahwa dia telah menemukan mata indah yang dicari-carinya selama ini.

Pei Zhao langsung sadar bahwa mata indah yang dimaksudnya adalah Su Ci dan langsung bergegas keluar mencari Su Ci.

Tuan Qu sudah menyelesaikan lukisannya dan langsung puas dengan hasilnya sampai badannya gemetar dan ngakak gila saking senangnya. Dia bahkan jadi marah saat Su Ci tidak bereaksi apapun terhadap mahakaryanya itu dan menolak melihatnya.

Seketika itu pula Tuan Qu memutuskan kalau Su Ci sudah tidak berguna lagi. "Kau sudah boleh mati."

Tak lama kemudian, pandangan mata Su Ci mulai kosong terkena hipnotisnya Tuan Qu. Dia langsung memberikan sebilah pisau ke tangan Su Ci dan menyuruhnya untuk mengakhiri hidupnya.

Tanpa sadar Su Ci mengangkat belati itu ke lehernya, ingin menyusul kematian seluruh keluarga-nya. Namun kemudian dia teringat pertemuannya dengan penyelamatnya yang menyuruhnya untuk terus bertahan hidup, dan ingatan itu kontan membuatnya sadar.

Sayangnya dia masih lemah dan Tuan Qu berhasil menguasainya lagi dengan cepat. Su Ci kembali terhipnotis dan mengangkat kembali belati itu ke lehernya... saat tiba-tiba saja Pei Zhao datang menendang Tuan Qu dan mencengkeram erat belati itu untuk mencegah Su Ci membunuh dirinya sendiri hingga membuat tangannya sendiri terluka.

Untunglah Su Ci tersadar, tapi kondisinya masih sangat lemah. Tuan Qu jadi marah dan mau menyerang Pei Zhao. Tapi Pei Zhao menyerangnya duluan hingga membuat darahnya menciprati lukisan itu, dan seketika itu pula Tuan Qu langsung heboh meratapi lukisannya yang sekarang ternoda. Dia bahkan sudah tidak memedulikan mereka lagi dan langsung kabur dengan membawa lukisannya.

Pei Zhao benar-benar merasa bersalah pada Su Ci. Su Ci dengan lemah meminta Pei Zhao untuk mengambilkannya obat penawar. Tapi setelah menelan obat itu, Su Ci malah pingsan.

Pei Zhao jadi tambah cemas dan bergegas membawa Su Ci pulang. Dia bertemu Fei Yuan di halaman depan dan langsung meneriaki Fei Yuan untuk memanggilkan Ru Shuang ke kamarnya Su Ci.

Ru Shuang shock berat begitu tiba di sana dan melihat Su Ci yang ternyata wanita. Dia bahkan terus membeku di tempat saat Pei Zhao mendesaknya untuk segera menyelamatkan Su Ci.

"Ru Shuang! Aku tahu kau pasti sangat susah menerimanya sekarang, tapi Su terhipnotis dan situasinya sedang kritis!"

Berusaha menguasai diri, Ru Shuang akhirnya mulai mengecek keadaan Su Ci dan mendapati nadinya masih tidak stabil. Itu karena dia terlalu lama menghirup dupa penghilang kesadaran dan dihipnotis.

Pei Zhao langsung menyalahkan dirinya sendiri dengan penuh penyesalan sembar menggunakan bajunya sendiri untuk menyeka keringatnya Su Ci. "Aku datang terlambat. Ini salahku. Apakah dia akan seperti orang-orang itu? Akan bunuh diri dalam beberapa hari?"

Ru Shuang tercengang menyadari hubungan antara Pei Zhao dengan Su Ci. Tapi dia sungguh tidak punya jawaban atas pertanyaan Pei Zhao. Dia harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahuinya... yang itu artinya, Pei Zhao harus keluar dulu.

Fei Yuan mondar-mandir gelisah, ingin tahu apa yang terjadi dan mencemaskan matanya Pei ZHao juga. Tapi Pei Zhao mengabaikan kekhawatirannya dan memerintahkannya untuk pergi mengambil lencananya dan pergi ke biro Mingjing.

"Pelaku pembunuhan berantai itu adalah Qu Lin Jiang dan sekarang dia kabur. Pergilah dan beritahu Biro Mingjing untuk memburuhnya ke seluruh kota. Dan juga panggil Jiang Xi Wen..." Pei Zhao lalu membisiki sesuatu pada Fei Yuan agar dia memerintahkan pengawalnya untuk melakukan sesuatu.

Tak lama kemudian, Jiang Xi Wen berkuda menuju suatu tempat dengan menggunakan lencana Pangeran Qi untuk menerobos pasukan penjaga kota.

Segala yang terjadi barusan, tiba-tiba membuat penyakit matanya jadi semakin parah. Untungnya cuma sebentar dan Pei Zhao bisa melihat lagi.

Ru Shuang sudah mengganti bajunya Su Ci dan sedang meramu obat untuknya saat tiba-tiba saja Su Ci memimpikan ibunya yang memintanya untuk hidup dengan baik. Tapi Su Ci tiba-tiba jadi gelisah tak ingin ditinggal sendirian hingga dia teriak-teriak dalam tidurnya.

Pei Zhao cemas mendengar teriakannya dan bergegas masuk, dan mendapati Ru Shuang sedang mencekoki Su Ci dengan sebutir obat dan baru saat itulah Su Ci bisa tidur tenang kembali.

Melihat sikap tenang Pei Zhao, Ru Shuang bisa menduga kalau Pei Zhao sudah tahu sejak awal tentang identitas asli Su Ci sejak awal. Pei Zhao mengakuinya. Tapi dia yakin bahwa Su Ci punya alasannya sendiri yang sulit diceritakan.

"Kata-kata ini, tunggu dia sampaikan sendiri adaku setelah dia bangun. Aku mau lihat bagaimana dia menjelaskannya padaku." Kesal Ru Shuang.

Dia lalu memberikan sebotol pil penenang saraf. Jika lain kali gejala seperti ini muncul lagi, Pei Zhao masukkan saja satu butir ke dalam mulut Su Ci.    

Usai membantu memperban tangannya Pei Zhao, Ru Shuang akhirnya meninggalkan mereka berduaan, membiarkan Pei Zhao menjaga Su Ci sendiri.

Saat menyeka wajah Su Ci, tiba-tiba dia melihat tangan Su Ci yang mencengkeram erat selimutnya, sepertinya dia masih bermimpi buruk. Saat Pei Zhao menggenggamnya, Su Ci refleks mencengkeram erat tangannya hingga Su Ci tenang.

"Sudah tidak apa-apa. Aku akan selalu menemanimu."

Dia setia menjaga Su Ci sepanjang malam dan mengabaikan matanya yang kadang memburam. Tapi tiba-tiba dia menyadari ada orang mengintip di luar.

Ternyata Fei Yuan lagi penasaran berat dengan apa yang terjadi di dalam dan sengaja melubangi kertas jendela. Tapi tetap saja dia kesulitan melihat. Dia fokus banget dengan kegiatannya sampai-sampai dia tidak menyadari kehadiran Pei Zhao di belakangnya.

"Belum kelihatan yah?" Tanya Pei Zhao.

"Iya." Jawab Fei Yuan refleks... yang akhirnya membuatnya menyadari kehadiran Pei Zhao.

"Su sedang tidur. Apa yang kau ributkan? Apa yang kau lakukan di pagi buta begini?" Tegur Pei Zhao.

Tidak tahan lagi, Fei Yuan akhirnya menuntut untuk bicara serius dengan Pei Zhao. Dia langsung berlutut di hadapan Pei Zhao dan menyatakan kalau dia ingin membangkang.

Dia benar-benar tidak menyangka kalau Pei Zhao akan sampai pada titik ini. Tapi apa yang Pei Zhao lakukan ini tidak benar. Dia tidak akan membiarkan Pei Zhao terus terjerumus seperti ini lagi.

"Seandainya mendiang Kaisar tahu anda menyukai sesama jenis, rohnya di akhirat pasti akan sangat sedih!" (Pfft!)

Pei Zhao hampir tersedak mendengarnya. "Siapa yang menyukai sesama jenis?"

"Itu..." Jawab Fei Yuan sambil menunjuk kamarnya Su Ci. "Tuan Muda, walaupun Tuan Su sangat baik dan rupawan. Tapi dia tetaplah laki-laki. Ini kan... tidak terlalu etis. Bukankah begitu? Asalkan anda bisa sadar, walaupun saya harus mati pun sepadan!"

Fei Yuan tiba-tiba saja mau menjedotkan jidatnya ke ujung meja. Untung saja Pei Zhao berhasil mencegahnya tepat waktu sebelum jidatnya sempat mengenai ujung meja sambil mengomelinya.

Fei Yuan refleks mengusap jidatnya dan melihat ada sedikit darah. Tapi dia langsung lebay mengira itu adalah darahnya dan memanfaatkannya untuk membuat Pei Zhao berjanji untuk berubah dan tidak membuat kesalahan lagi.

Bersambung ke part 2

Post a Comment

0 Comments