Sinopsis Prophecy of Love Episode 6 - 6

Paul menelepon untuk mengecek keadaan Rose, dia tahu kejadian semalam dari Kratai. Paul benar-benar khawatir, penjahatnya senekat ini, Paul rasa sudah tidak aman lagi tinggal bersama Thee.


Begini saja, nanti Paul akan pergi menemui Rose. Dia meyakinkan kalau dia akan berhati-hati, penjahatnya tidak akan membuntutinya. Dia langsung memutuskan teleponnya begitu saja bahkan sebelum Rose sempat mengucap apapun lagi.

"Apa ada jalan aman ke rumah Theerut?" Tanya Paul.

"Anda yakin mau pergi ke sana?" Tanya Kratai.

"Apa aku kelihatan bercanda?"


Di apartemen, Chang memberitahu Thee bahwa mereka tidak mendapatkan sidik jari lain selain sidik jarinya Thee dan Rose. Thee heran, para penjahat itu santai banget balik ke apartemen ini membersihkan segala bukti, bahkan membuang catatan post-it mereka tentang nama-nama tersangka. Penjahatnya entah salah satu dari para tersangka atau semuanya.

Chang menyarankannya untuk turun ke parkiran untuk mencari bukti lain. Tap Thee meminta Chang menunggu sebentar karena ada barang yang harus Thee ambil... bunga mawarnya. Chang geli melihatnya.


Sayangnya, bahkan di parkiran juga mereka tidak mendapatkan apapun. CCTV rusak, alarm kebakaran juga rusak, satpam juga tertidur dan tetangga sebelahnya Thee sudah pindah cukup lama. Aneh sekali, segalanya terjadi pada saat yang tepat.

"Itu pasti seseorang yang tahu betul tentang tempat ini. Makanya mereka bisa mengetahui semua detil dan merencanakan segalanya dengan baik." Thee menyimpulkan.

"Akan kucek apakah salah satu dari ketiga orang itu berhubungan dengan tempat ini. Kau pergilah bekerja seperti biasanya. Kau akan syuting dengan Khun Rinradee kan hari ini?"

"Iya. Aku tidak akan berhenti bekerja biarpun aku hampir menghadapi kematian semalam. Karena aku ingin melihat Rin, aku ingin melihat wajahnya, apakah dia akan terlihat mencurigakan."


Tapi setibanya di parkiran, Ti mendadak muncul dan mengomelinya dengan panik karena Thee malah tidak mendengarkan perintahnya yang menyuruh Thee untuk parkir di belakang.

Thee tidak mengerti kenapa Ti ngomel-ngomel terus. Masa dia baru datang, sekarang disuruh balik? Tiba-tiba saja sekumpulan reporter muncul menyerbunya dan langsung menanyainya tentang postingan IG-nya Rin.

Ternyata dia memposting hadiah kalungnya dan sekarang mereka mengira kalau kalung itu adalah hadiah pemberian Thee karena Thee juga terlihat di restoran yang sama.

Berusaha tetap tenang, Thee menjelaskan bahwa dia memang pergi ke restoran itu, tapi tidak bersama Rin, melainkan dengan Ti. Jelas tak ada yang mempercayainya. Mana ada yang merayakan valentine sama manajer, kenapa Thee tidak go public saja dan akui hubungan mereka.


Ti buru-buru menyela dengan alasan bahwa sekarang waktunya Thee kerja, sudah terlambat soalnya. Interview-nya nanti saja. Thee tidak akan ke mana-mana kok.

Ti pun menyeret Thee pergi sambil mengomelinya lagi. Thee santai, dia kan sudah sering digosipkan dengan para nang'ek-nya. Jadi tidak masalah dia digosipkan sama Rin.

Justru Ti yang masalah. Dia mengirim gambar mereka berdua makan bersama di hari valentine pada istrinya. Bagaimana kalau istrinya Ti mengira mereka jeruk makan jeruk? Bisa-bisa Ti bakalan ditendang dari rumah dan tidak akan bisa melihat anak-anaknya lagi?

"Kau mengutukku kehilangan istri dan anakku? Jangan begitu. Aku serius nih! Sudahlah, kerja saja. Nang'ek-mu sudah menunggu sejak pagi."


Ternyata hari ini Rin akan syuting adegan mengendarai motor. Tapi berhubung stunt-nya sedang sakit, jadi Rin diminta untuk melakukan adegannya sendiri.

Ternyata selain pintar bela diri, Rin juga ahli mengendarai motor. Dan jelas saja itu mencurigakan bagi Thee. Begitu Rin selesai syuting, Thee langsung memuji kehebatan stunt-nya. Rin mengaku kalau dia belajar dari teman geng motornya. Tapi dia baru belajar kok, dia tidak sehebat Thee.


"Oh, apa kau sudah melihat berita? Para reporter mewawancaraiku. Aku menyangkal memberimu kalung. Tapi tidak ada yang mempercayaiku."

Rin meminta maaf dengan canggung. Dia tidak tahu kalau Thee juga pergi ke restoran itu kemarin. Jika tidak, dia pasti tidak akan memposting apapun biar orang-orang tidak salah paham. Tapi ngomong-ngomong, kenapa Thee pergi ke restoran itu kemarin? Atau jangan-jangan... Thee stalking dia yah?

"Kenapa kau bicara begitu? Atau jangan-jangan... kau suka stalking orang lain juga?" Balas Thee.

"Kenapa aku melakukan itu. Aku bekerja keras sampai tidak punya waktu untuk tidur."


Rin lalu buru-buru menghindar dengan alasan mau ganti baju. Tapi Thee dengan sengaja meremas lengan kanannya dan sukses membuat Rin menjerit kesakitan.

"Aku tidak menyentuhmu terlalu keras kok, lukamu belum sembuh?"

"Sudah sembuh kok, aku cuma kaget." Sangkal Rin lalu bergegas pergi.

Ti memberitahu Thee bahwa dia sudah menanyai tim mereka dan katanya belakangan ini Rin meminta baju-baju lengan panjang terus. Jelas itu artinya Rin sedang berusaha menyembunyikan lukanya sampai sembuh.


Rin jadi gelisah dan langsung berusaha menelepon Phol, tapi tidak diangkat. Malah sata dia berbalik, dia mendapati Thee sudah berdiri di belakangnya. Rin kaget.

"Nong Rin, kenapa kau tampak sangat kaget? Atau kau sedang menelepon pria misterius yang memberimu kalung?"

"Jika aku bicara pada seseorang, kurasa itu urusan pribadiku, bukan?"

"Masalah pribadimu itu termasuk menyamarkan dirimu untuk melempar batu ke tokonya Rosita, mengiriminya pesan-pesan ancaman. Oh, dan bersekongkol dengan Ibunya Khun Lyla untuk mempermalukan putrinya di hadapan para reporter yang kau panggil dan kau rencanakan segalanya. Dan juga diam-diam membuntutiku dan Rosita, iya kan?"


Rin kesal menyadari dirinya sudah ketahuan, tapi dengan ahlinya dia berakting menuduh Thee ngawur seolah Thee kebanyakan main drama suspense sampai Thee tidak bisa membedakan yang mana drama dan yang mana dunia nyata.

"Kalau kau tidak berhenti memfitnah dan membuntutiku, maka aku akan..."

"Akan apa? Mengirim seseorang untuk menyerbu apartemenku?"

"Kau terlalu imajinatif. Aku permisi. Kuharap kau tidak akan membuntutiku lagi. Jika tidak, maka aku tidak akan mood untuk kerja dan syuting hari ini akan dibatalkan." Ancam Rin lalu pergi.


Begitu Rin mengangkat teleponnya, Phol langsung mengomelinya karena memposting kalung itu dan mengabaikan peringatannya. Dia hanya ingin tidak ada masalah apapun sampai perceraiannya beres.

Bahkan sekalipun orang-orang sekarang mengira kalau itu pemberian Thee, tapi jika para netizen menyelidikinya, mereka pasti akan ketahuan. Tiba-tiba terdengar suara Pat datang yang kontan saja membuat Phol jadi panik.

Dia langsung berakting seolah dia cuma sedang bicara dengan pegawainya tentang masalah dokumen lalu cepat-cepat mematikan teleponnya. Hmm, tapi sepertinya Phol tidak ada niatan untuk bercerai dengan istrinya dan tetap pura-pura manis seperti biasanya.

Bahkan saat Pat menuntut hadiah valentine-nya, Phol langsung memberikan hadiahnya yang berupa kalung sama persis seperti kalung yang dia berikan untuk Rin.


Pat langsung berbunga-bunga. Eh, tapi... "Mana cincinnya? Sekretarismu memberitahuku kalau kau memesan kalung dan cincin."

Phol langsung kesal sama sekretarisnya. Tapi dengan cepat dia mengklaim kalau sekretarisnya salah paham. Dia cuma pesan kalung. Sedangkan cincin yang dia maksud tuh cincin kawinnya yang hilang ini.

Hmm, jelas cincin yang asli memang benar-benar hilang dan dia memesan yang baru. Tapi dia mengklaim ada orang yang menemukan cincin ini di toilet kantor. Dia lalu buru-buru pamit ke kantor.


Auay menelepon untuk memperingatkan Phol agar dia berhati-hati karena barusan dia ditelepon polisi untuk diinterogasi. Phol sudah membereskan semua bukti di apartemen itu kan?

"Tidak usah mengkhawatirkan masalah itu, aku bisa menanganinya dengan mudah. Khawatirkan saja dirimu sendiri. Cari saja alasan untuk dirimu sendiri tentang di mana kau semalam." Ujar Phol tanpa menyadari istrinya mendengarnya dari lantai atas.


Rose membantu Ibu mengganti lampu teras. Ibu kagum, Rose memang benar-benar baik dan berani seperti yang dibilang Thee.

"Sepertinya dia sering menggosipkan saya setiap hari, yah?"

"Dia tidak menggosipkanmu. Dia memuji tanggung jawabmu dan keberanianmu. Aku selalu terkagum-kagum setiap kali dia bercerita. Seperti saat kau membantu ibunya si desainer itu dan tentang Khun Ying Nanthawadee."

"Sayalah menyebab kekacauan dalam hidup mereka. Jika ada apapun yang bisa saya lakukan untuk tidak membuat segalanya jadi semakin buruk, saya pasti akan membantu."


Tiba-tiba Rose mendengar suara-suara orang yang datang, Rose jadi cemas mengira para penjahatnya sudah menemukan keberadaannya. Dia langsung menyuruh Ibu masuk duluan lalu mengambil sapu dan menggunakannya sebagai senjata.

Dia hampir saja mau menyerang, tapi ternyata itu cuma Paul dan Kratai. Paul tampak kacau penuh keringat karena ternyata hanya demi mencapai rumah ini, Kratai membawanya keliling naik kereta, perahu, bus, menembus area perkebunan, melompati selokat dan memanjat pagar.

"Anda sendiri yang bilang kalau anda ingin datang kemari lewat jalan aman. Yah cuma itu cara satu-satunya. Kalau tidak percaya, tanya saja Tante Rujee."

Ibu keluar saat itu, Paul langsung to the point menyatakan maksud kedatangannya pada Tantee Rujee. "Bolehkan saya membawa Rose kembali?"


Ran baru tiba di Bangkok bersama beberapa orang rombongannya. Tapi saat dia hendak mengambil tasnya, seorang pria tiba-tiba saja mau merebut tasnya. Ran sontak panik dan langsung mendorong pria itu sampai terjatuh.

Istri pria itu tidak terima dengan kekasaran Ran dan langsung mengonfrontasinya. Ran menuduh pria itu mau melecehkannya, pria itu sontak menyangkal keras, dia cuma mau mengambil tasnya.

"Ini tasku!"

"Itu tasku!"

"Tasku! Aku baru saja membeli sandwich." Ran langsung merogoh ke dalam tas itu untuk membuktikan klaimnya, tapi malah menemukan barang lain. Tas itu benar-benar milik pria itu.

Tasnya sendiri memang sama persis dengan milik pria itu dan tersembunyi di antara tas-tas lain. Ran menyesal seketika dan langsung minta maaf. Tapi pasutri itu menolak melepaskan masalah ini begitu saja, apalagi Ran sudah menyakiti pria itu.


Jadilah mereka membawa masalah ini ke kantor polisi. Tapi si istri tak puas dengan hasilnya karena pak polisi memutuskan bahwa Ran cuma perlu bayar denda.

Tepat saat itu juga, Chang datang untuk memerintahkan bawahannya menyelidiki uang donasi yang diberikan pada yayasan yatim piatunya Guru Somphong. Yang tak disangkanya, dia malah melihat Ran sedang berdebat dengan pasutri itu. Ran pun kaget melihatnya.

Bersambung ke episode 7

Post a Comment

0 Comments