Sinopsis Prophecy of Love Episode 3 - 2

Thee meyakinkan Ti tidak ada apa-apa, cuma kecelakaan kok, gara-gara Rose ceroboh. Rose menegaskan kalau kecelakaan itu terjadi gara-gara Thee menggodanya.


Ti tidak mau tahu, pokoknya dia akan tidur di sini malam ini, tidak akan dia biarkan mereka berduaan saja. Rose kaget, Ti mau tidur di sini juga?

"Iya. Dan kau, hentikan imajinasimu. Wanita sepertimu, sama sekali bukan tipeku." Ketus Thee.

Rose sinis mendengarnya. Paul menelepon saat itu untuk mengeceknya. Rose pun bergegas masuk ke kamarnya. Ti memperingatkan Thee agar tidak terjadi apapun di antara mereka.


Thee santai meyakinkannya bahwa tidak akan terjadi apapun. Kalaupun terjadi sesuatu, mereka cuma akan bertengkar seperti biasanya.

Itu bagus! Ti lebih suka mereka bertengkar saja sampai mati daripada ada berita bahwa Thee membawa wanita yang apartemennya. Apalagi wanitanya adalah Rosita. Duh, itu bisa jadi plot twist.

"Bagus dong. Reporter akan menulis berita bahwa musuh yang sering bertengkar menjadi sepasang kekasih."

"Nggak lucu. Aku tidak akan mempercayainya."

Bisa tidak sih, Thee jangan terus melibatkan diri dalam masalah. Dia hampir tertembak tadi! Sekarang Thee malah membawa Rose tinggal bersamanya dan tertendang olehnya sampai dia jatuh ke lantai. Berapa kali lagi Thee akan terluka sebelum kasus ini berakhir?

"Tidak akan seburuk itu. Kalaupun terjadi sesuatu, aku bisa menanganinya."

"Iya, aku tahu kau pintar. Juara tinju junior sepertimu pasti bisa menangani hal ini. Tapi aku tidak mengerti. Kenapa kau mempertaruhkan hidupmu demi Rosita?"

Thee mengaku punya alasannya sendiri dan meyakinkan kalau dia akan baik-baik saja. Penjahatnya pasti akan segera tertangkap.


Rose memberitahu Paul kalau Thee hanya akan menginap bersamanya malam ini, Thee akan pulang ke rumah keluarganya besok. Lagipula Rose tidak akan lama tinggal di sini. Dia yakin penjahatnya pasti akan segera tertangkap.

Rose menulis nama-nama tersangka di buku catatannya dan nama Thee masih masuk dalam daftar tersangkanya. Tapi dia benar-benar sulit menentukan siapa di antara keenam orang ini yang paling mencurigakan.

Thee mendadak masuk kamarnya. Rose kesal, dia tidak bisa ketuk pintu dulu apa? Thee minta maaf, dia hanya belum terbiasa tinggal bersama orang lain di sini. Rose sedang apa?

Rose mengklaim kalau dia cuma sedang menata barang-barangnya, tapi Thee tak percaya dan langsung merebut buku catatannya dan menemukan namanya dalam daftar tersangka.

Rose tahu kalau Thee tidak ingin dia tinggal di sini dan mengganggunya, makanya Rose berusaha menemukan penjahatnya secepat mungkin biar dia cepat tertangkap dan kasus ini cepat selesai.

"Lalu kenapa namaku masih ada dalam daftar? Sekarang ini kau tinggal di apartemenku."

"Aku tinggal di sini, bukan berarti aku percaya padamu 100%."

Thee langsung menulis nama Auay dan meyakinkan Rose bahwa orang inilah yang harus dia curigai. Rose heran, kenapa Thee keukeuh banget kalau Auay-lah pelakunya?

"Karena orang ini jauh lebih brengsek daripada yang kau pikirkan."


Pada saat yang bersamaan, Auay ditampar sama Wuttikorn yang kesal karena Auay gagal membungkam mulut Rose. Dia bahkan langsung mengungkit-ungkit jasanya yang telah menyelamatkan Auay.

Auay berusaha membela diri. Dia hampir membunuh wanita itu, tapi ada orang lain yang selalu mendahuluinya. Waktu Rose diserang di rumahnya waktu itu, Auay sebenarnya sudah menunggunya di depan rumahnya Rose.

Tapi tiba-tiba dia melihat orang lain pakai samaran yang memanjat masuk ke dalam rumahnya Rose. Dan dia semakin terhalang gara-gara ada tetangganya Rose yang lewat dan melihatnya.

Lalu tadi waktu dia mau masuk ke kamarnya Rose, dia malah mendengar jeritan Rose dari dalam kamar. Makanya Auay yakin musuhnya Rose banyak, bukan cuma mereka yang ingin membunuhnya. Mungkin sebaiknya mereka tidak usah mengambil resiko.


Lyla lagi-lagi mendatangi tokonya Rose, tapi hanya Kheng yang ada di sana. Lyla jadi semakin penasaran. Kalau Rose tidak pergi ke Perancis, lalu ke mana dia?


Keesokan harinya, Chang kembali ke hotel sambil bicara di telepon dengan polisi yang menangani kasusnya Rose. Kratai baru selesai kerja saat itu dan ngantuk banget. Chang pun menyuruhnya menunggunya di mobil dulu.

Tepat setelah Kratai pergi, Chang tiba-tiba melihat Ran yang baru keluar mengantarkan tamu-tamunya. Tapi begitu dia melihat Chang, Ran langsung lari.

Chang berusaha mengejarnya, tapi Ran malah mengancam akan melarikan diri semakin jauh kalau sampai ada yang mengikutinya.

"Ran, aku tidak tahu kenapa kau melarikan diri dan bersembunyi selama bertahun-tahun. Tapi bisakah kita bicara?"

"Tidak ada yang perlu kita bicarakan. Jangan mengikutiku lagi."

"Semua orang sangat mengkhawatirkanmu. Thee dan Bibi Rujee."

"Aku tidak mau kembali ke sana! Aku tidak mau melihat... kumohon, P'Chang. Jangan bilang-bilang P'Thee kalau kau bertemu aku di sini. Aku tidak ingin melarikan diri darimu juga."

Ran pun pergi dan tak lama setelah itu, Thee baru datang. Chang ragu sesaat, tapi akhirnya dia menuruti keinginan Ran dan tidak mengatakan apapun pada Thee.


Dia langsung beralih topik membahas kasusnya Rose. Pelakunya kali ini jelas lebih berhati-hati. Dia sama sekali tidak meninggalkan jejak, bahkan sidik jaripun tak ada. Rekaman CCTV-pun tidak jelas. Sepertinya si pelaku mempersiapkan segalanya dengan baik.

Tapi dari cara kerjanya, sepertinya dia orang yang sama dengan yang berusaha membunuh Rose di rumahnya. Dan jika dugaannya benar, berarti Auay bukan tersangka.

Tapi Thee ngotot tidak akan menyingkirkan Auay dari kecurigaan sampai dia membuktikan sendiri kalau Auay memang bukan pelakunya. Baiklah, Chang janji akan membantu menyelidikinya. Tapi, dia penasaran... bagaimana semalam? Katanya Thee tidak pulang semalam?

"Chang! Berhentilah bersikap seperti P'Ti. Yang kupedulikan hanya rumahku. Jika wanita itu tiba-tiba menampakkan diri dan membiarkan orang-orang tahu dia tinggal di sana, lalu apa yang harus kulakukan jika para penjahat datang menyerang?"

"Oke deh, kau hanya peduli dengan rumahmu." Geli Chang. "Lalu bagaimana dengan dia yang kau bawa ke rumahmu?"

 

Rose meyakinkan Paul bahwa dia baik-baik saja dan bekerja dengan nyaman di sini. Paul menyarankannya untuk meminta perlindungan polisi, tapi Rose tidak mau.

Rose tidak ingin menjadi beban, tapi dia janji akan menjaga dirinya sendiri dengan baik. Dia juga akan selalu memberitahu Paul kalau dia akan pergi ke toko.

Oh yah, Thee akan syuting drama di hotelnya Paul, kan? Nanti dia akan menumpang mobilnya Thee ke hotel. Dari sana, Paul antarkan dia ke toko. Lalu malam harinya, Paul jemput dia ke hotel lalu dia akan kembali ke apartemen bersama Thee. Dengan cara ini, orang jahatnya tidak akan punya kesempatan.


Di lokasi syuting, stylist dan Ti mendadak heboh saat tidak menemukan sebuah jaket. Jaket yang pernah Thee kenakan saat wawancara yang waktu itu. Jaket yang ada sulaman gambar sayap burung.

Thee langsung ingat tentang tuduhan Rose terhadapnya, bahwa pelaku pelempar batu waktu itu mengenakan jaket yang sama persis seperti yang pernah dipakai Thee waktu wawancara.

Tiba-tiba Rin muncul membawakan jaket yang dicari-cari itu. Rin mengaku jaket itu terjatuh dan Rin menemukannya. Err... Rin kahpelakunya? Tapi orang yang bertanggung jawab terhadap semua kostum adalah Lyla.


Lyla baru datang saat itu, Rin langsung sinis menyindirnya karena Lyla ceroboh banget. Seharusnya dia menyiapkan jaket itu untuk Thee. Semua orang jadi kebingungan mencari jaket ini.

Lyla membela diri kalau jaket ini dia serahkan pada tim wardrobe sejak jaket ini dipakai untuk adegan yang waktu itu. Dia tidak pernah membawanya.

Rin tidak mau tahu, apapun alasannya, pokoknya Lyla salah karena tidak menyiapkan pakaian mereka saat dibutuhkan. Katanya lulusan luar negeri, tapi kerjanya tidak profesional. Lyla jadi kesal dan langsung pergi mengejar Rin.

Ti sampai heran dengan kedua wanita itu. Selalu saja bertengkar setiap kali bertemu. Tapi Thee masa bodo dan lebih mempedulikan masalah jaket itu. Di adegan apa dan kapan dia pernah mengenakan jaket ini?

Bersambung ke part 3

Post a Comment

0 Comments