Sinopsis My Secret Bride Episode 14 - 4

Rut baru pulang dengan lesu dan mendapati Suam sedang menunggunya. Dia benar-benar mencemaskan Rut dan tanya apakah dia lelah. Tapi Rut hanya menanggapinya dengan singkat tanpa kehangatan dan mau langsung naik.


Tapi Suam tiba-tiba memanggilnya dan berusaha membujuk Rut untuk memberitahunya jika Rut ada masalah. Rut berbohong menyangkal dan beralasan kalau dia hanya lelah. Tapi Suam belum selesai bicara. Ada hal yang mau dia sampaikan ke Rut.

Rut pun membawa Suam ke ruang kerjanya dan Thuan cs langsung menguping percakapan mereka. Rut tak sabaran saat Suam bertele-tele membahas tentang kemampuan cenayangnya dan menyuruh Suam untuk to the point saja.

Tapi saat Suam mengaku bahwa tadi dia memegang tangannya Cuchai, Rut mendadak emosi menuntut kenapa Suam memegang tangannya Cuchai, apa Suam lupa dengan apa yang mereka lakukan pada Suam?


Suam sampai tercengang mendengar kemarahannya. "Khun, diamlah dulu. Dengarkan aku dulu. Tadi aku tidak sengaja memegang tangannya, lalu aku melihat masa depannya."

"Bagaimana?"

"Dia mati."

"Wajar kan, kau juga tahu kalau dia sakit parah."

Masalahnya, Suam melihat Cuchai mati bukan karena penyakitnya, melainkan dibunuh. Suam tidak melihat siapa pembunuhnya, dia hanya melihat Cuchai terkapar di lantai dan ada seorang pria yang berdiri di atas tubuhnya. Sepertinya dia diracun.

Thuan jadi cemas dan langsung memerintahkan Songkram untuk menghubungi Chana, suruh Chana mengawasi Cuchai.


Neung mendatangi rumah Padet dan langsung mengumpulkan semua bantal-bantal pemberian dengan penuh amarah sebelum kemudian dia menangis sedih.

Saat Padet pulang tak lama kemudian, Neung sontak melemparinya dengan bantal-bantal itu sambil merutukinya dengan segala macam kata makian. Padet jelas bingung apa maksudnya, apa yang sebenarnya terjadi?

"Apa yang tadi kau lakukan?" Tuntut Neung.

"Aku bekerja."

"Masa? Cuma itu? Hah? Bangsat! Kenapa kau sejahat ini? Kenapa kau sejahat ini?! Sia-sia aku mempercayaimu! Tak pernah kusangka ternyata kau serendah ini! Aku sengaja memeluk P'Rut untuk membuktikan perasaanku tapi lihatlah apa yang kau lakukan?! Kenapa kau melakukan ini? Menjijikkan!"

"Kau bicara apa sih? Aku tidak mengerti."


"Tentu saja. Aku bicara omong kosong. Tak ada seorang pun yang mengerti apa yang ucapkan. Aku cuma pemeran pembantu. bukan pemeran utama seperti Suam."

"Apa hubungannya sama Suam? Kalau kau marah pada Deputi Danurut, kau marah saja padanya, jangan marahi aku!"

"Aku tidak marah pada P'Rut! Aku marah padamu, goblok!"

Padet jadi tambah bingung. "Lalu apa hubungan antara aku sama Suam?"

"Bagaimana bisa tidak ada hubungan? Hari ini kau pergi ke motel bersama Suam. Apa maksudnya itu?"

Padet kaget. "Jadi kau melihat kami?"

"Aku melihatnya. Melihatnya dengan kedua mataku sendiri, dasar tangmo busuk (semangka busuk)!"


Padet langsung mengerti kenapa Neung marah. Lalu bagaimana perasaan Neung setelah melihatnya keluar dari motel bersama Suam?

"Aku marah, dasar kau buaya darat! Teganya kau melakukan ini pada P'Rut!"

Lalu bagaimana dengan saat Neung memeluk Rut kemarin? Apa yang dia rasakan?

Neung dengan mantap berkata bahwa dia tidak merasakan apapun. Padet jadi tambah senang mendengarnya. Jadi kesimpulannya, Neung tidak merasakan apapun saat memeluk Rut, tapi Neung marah saat melihatnya keluar dari motel bersama Suam. Begitu, kan?

Neung canggung dan bingung. "Kau suka Suam? Gila! Bagaimana bisa kau menyukai Suam? Apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaan P'Rut? Pikirkan bagaimana perasaannya! Kenapa kau suka sama Suam juga?!"


Padet sontak menutup mulut Neung dengan ciuman dadakan yang jelas saja membuat Neung membeku di tempat sambil kedip-kedip kebingungan saking kagetnya.

"Aku tidak suka sama Suam. Aku menyukaimu."


Suam tidur nyenyak sampai tidak menyadari Rut diam-diam masuk ke kamarnya dan menatapnya dengan sedih. Dia benar-benar mencemaskan keselamatan Suam, apalagi saat dia teringat ancaman Sia Ha di acaranya Su kemarin.


Neung jadi bahagia banget saat dia datang ke rumah Rut keesokan harinya. Tapi di mana semua orang? Kenapa sepi banget?

Rut akhirnya baru turun saat itu. Neung mengaku datang karena Suam bilang ada yang mau dia bicarakan padanya. Rut senang mendengar mereka akhirnya berteman lagi.

"Mulai sekarang, jika ada apa-apa, aku mempercayakan Suam padamu." Pinta Rut.

Dia benar-benar serius. Tapi Neung nggak nyambung dan santai saja berkata kalau dia tidak bisa janji, soalnya kan Suam sudah punya Rut.

Oh yah, Rut pernah bilang kan bahwa jika dia punya niat untuk melakukan sesuatu, dia bisa melakukan apa saja. Neung sudah memikirkannya, dia mau membuka restoran makanan Korea.

"Seseorang bilang bahwa masakanku sangat enak."

"Baguslah. Aku senang mendengarnya." Rut langsung mengelus sayang kepala Neung bak seorang yang mengelus kepala adiknya.


Tapi Suam turun saat itu dan langsung salah paham melihat kedekatan mereka. Suam berniat mau pergi saja tanpa mengganggu mereka, tapi Neung melihatnya saat itu dan langsung memanggilnya.

Dan Suam jadi semakin salah paham saat Rut menolak ajakan Neung untuk sarapan bersama mereka lalu pergi melewati Suam tanpa mengucap sepatah kata.


Suam jadi semakin sedih karena itu sampai-sampai dia tidak selera makan. Neung heran melihatnya, apa bubur buatannya itu tidak enak?

"Enak."

"Enak tapi aku tidak melihatmu memakannya, Suam. Ada apa? Apa ada masalah?"

"Ada yang ingin kukatakan padamu."

"Apa? Katakan saja."

"Malam itu... aku melihatmu... memeluk Khun Rut."

Sadar Suam sudah salah paham, Neung buru-buru menjelaskan dan meyakinkan Suam kalau itu bukan apa-apa, Suam jangan salah paham.

Tapi Suam masih salah paham dan dengan sedih mengakui dirinyalah yang salah karena tidak seharusnya dia hadir di antara mereka. Neung berusaha menjelaskan sekali lagi, tapi Suam mendadak jujur mengaku bahwa pernikahannya dan Rut palsu.

Neung kaget. Suam mengaku bahwa Rut hanya menyewanya untuk mencegah wanita lain mendekati Rut, dan mereka akan bercerai 2 minggu yang akan datang. Setelah itu, Neung bisa kembali bersama Rut. Hanya Neung pasangan yang paling cocok untuk Rut.


"Khun Neung tidak akan kembali ke Deputi, Suam." Ujar Padet yang baru datang.

"Kenapa kau ada di sini?" Tanya Neung.

"Aku melihat mobil pacarku terparkir di sini, makanya aku datang mencarimu."

Suam kaget. Padet bilang apa barusan? Mobilnya siapa diparkir di sini? Padet sekali lagi menegaskan, mobil pacarnya dan Neung tidak akan kembali ke Rut karena Neung sudah punya pacar. Dia langsung merangkul Neung mesra, membuktikan dirinyalah pacarnya Neung.

Neung malu-malu menyangkal. Belum pacaran kok. "Dia cuma PDKT."

"Apanya yang PDKT? Kita sudah ciuman."

Neung sontak panik menutup mulutnya dan akhirnya setuju untuk mengakuinya sebagai pacar. Neung mengaku kalau sebenarnya dia sudah cukup lama berhenti suka sama Rut dan baru-baru ini dia menyadari kalau yang dia sukai adalah Padet.


Mereka benar-benar pasangan baru yang sedang dimabuk cinta. Padet mau pergi kerja saja mereka dadah-dadah terus nggak berangkat-berangkat, Suam sampai gemas melihat mereka dan buru-buru menyela dan mengusir Padet.

"Aku masih shock, Neung."

"Aku juga shock. Tapi sebenarnya jika kita jujur pada diri kita sendiri itu juga mudah."

Waktu Suam melihatnya memeluk Rut, sebenarnya waktu itu Neung cuma mau mengetes perasaannya. Memeluk Rut rasanya seperti memeluk seorang kakak, Neung tidak merasa berdebar.

"Jadi apa kau sudah memeluk Sara?"

"Suam! Jangan menggodaku ah."


Tapi sebenarnya, yang membuat hatinya berdebar paling kencang bukan saat dia memeluk Padet, melainkan saat dia melihat Suam keluar dari motel bersama Padet. Apa ada yang ingin Suam jelaskan padanya? Suam sontak terdiam canggung tak tahu harus menjawab apa.


Di tempat lai, Rut tiba-tiba saja menemui Sia Ha. Hmm, entah apa rencananya.

Bersambung ke episode 15

Post a Comment

0 Comments