Sinopsis My Secret Bride Episode 9 - 5

Keesokan harinya di kantor polisi, Padet masih mencemaskan Suam. Tapi Rut meyakinkannya untuk tidak cemas, dia sudah baik-baik saja. Tepat saat itu juga Direk menelepon Rut.


Padet langsung berniat mau menguping, tapi ternyata dia menelepon hanya untuk menanyakan Da. Direk khawatir karena Da tidak bisa dihubungi sama sekali. Rut jadi khawatir juga, takut Da sedang merencanakan sesuatu yang buruk.


Keesokan harinya saat Rut baru turun, dia mendapati Suam sedang sarapan. Dia sudah baikan? Suam santai, dia sudah biasa kok mendapat hal semacam ini. Terus Suam mau pergi ke mana hari ini? Sepertinya dia punya banyak sekali urusan?

Suam langsung tegang karena dia harus membuka rumah meditasinya hari ini dan berusaha menutupinya dari Rut dengan mengklaim kalau dia cuma mau mengerjakan tugas, dia kan masih mahasiswa.

"Ke manapun kau pergi, tolong berhati-hatilah."

"Tenang saja. Aku sudah tertabrak mobil, sudah kena tamparan, kuota kemalanganku bulan ini seharusnya sudah habis. Jangan khawatir, Pak Suami."

Suam mau langsung pergi, tapi Rut dengan cepat menghentikannya dan menegaskan bahwa dia serius, berhati-hatilah ke manapun Suam pergi.


Suam berjalan santai keluar rumah sambil baca buku saat tiba-tiba saja ada penghalang kasat mata muncul di hadapannya dan kontan membuat Suam terpental. Ternyata roh penjaga rumah-lah yang mendadak muncul dan menghalangi jalannya.

Suam sontak ketakutan, beberapa lama dia tinggal di sini, baru kali ini roh penjaga rumah menampakkan diri. Apa ada sesuatu? Roh itu hanya menjawabnya dengan gelengan kepala.

Suam tidak mengerti apa maksudnya. Tidak ada apa-apa? Tidak mau?... Atau maksudnya dia tidak boleh keluar rumah? Kali ini roh itu langsung mengangguk.

Tapi Suam tidak bisa, dia harus keluar keluar rumah. Dia harus pergi, tolong izinkan dia pergi. Dia benar-benar harus pergi. Dia sontak membungkuk hormat sambil memohon-mohon. Tapi saat dia membuka matanya kembali, roh itu mendadak menghilang. Hah? Apa itu artinya dia diizinkan pergi? Suam pun langsung pergi.


Satu per satu para pelanggan mulai berdatangan meminta nomor antrian, hingga akhirnya Bu melihat kedatangan ketiga preman. Bu langsung menyerahkan urusan nomor antrian ke Way dan menginstruksikan Way untuk memberikan nomor dua pada mereka.

Dia sendiri langsung melesat ke belakang untuk mengabarkan kedatangan para preman itu ke Suam yang sedang dirias sama Suk, dan menyuruh mereka untuk bergegas.

Tak lama kemudian, Way mulai memanggil antrian pertama. Bibi Jiab lagi-lagi minta nomor keberuntungan, soalnya dia lagi butuh duit. Suam jelas bingung harus jawab apa.

Tapi mendadak dia punya ide dan langsung menyuruh Bu untuk memberikan air suci untuknya. Bu bingung karena tidak ada air suci, akhirnya dia menyodorkan sebotol jus lemon yang sudah terminum separuh.

Suam langsung saja menyerahkan minuman itu ke Bibi Jiab sambil mengklaim kalau itu adalah air suci dan menyuruh Bibi Jiab meminumnya. Habis minum air suci itu, Bibi Jiab harus cari pekerjaan, apa saja. Minum air suci itu dan bekerja keraslah tanpa henti. Setelah 2 minggu Bibi Jiab boleh kembali dan beritahu dia hasilnya.


Sekarang giliran ketiga preman itu. Si preman langsung memohon-mohon pertolongan Jao Mae, soalnya mereka merasa ada hantu yang mengikuti mereka. Tapi Suam tidak melihat hantu apapun, maka dia langsung menginterogasi mereka. Hantunya seperti apa? Memangnya apa yang sudah mereka lakukan?

"Kami dikirim untuk bekerja."

"Di mana? Melakukan apa?" Tanya Suk.

Mereka malah diam. Suk jadi emosi dan menuntut mereka menjawab. Terang saja ketiga preman langsung menatapnya dengan garang. Baru sadar, Suk buru-buru mengklaim kalau dia disuruh Jao Mae untuk bertanya. Jao Mae harus tahu hantu mana yang sudah mereka ganggu. Mereka harus beritahu detilnya.

Si preman mengaku tidak melakukan apapun. Mereka hanya mengunjungi suatu tempat. Tapi tempat itu tidak ada apa-apanya, hanya ada suam (toilet). Semua orang bingung.

 

Tepat saat itu juga, Suam tiba-tiba melihat penampakan roh pria yang pernah dilihatnya di kuil waktu itu. Dia begitu fokus menatap roh itu tanpa menyadari ada seseorang yang sedang mengarahkan pistol ke arahnya.

Roh pria itu berjalan ke arahnya lalu tiba-tiba saja dia mendorong Suam tepat saat si penembak menembaknya sehingga Suam selamat dari peluru itu. Dia begitu terpana menatap roh itu sehingga dia tidak menyadari kepanikan semua orang.

Roh itu mendadak menghilang, Suam sontak celingukan mencarinya sampai-sampai dia tidak sadar lengannya tergores peluru.


Polisi dengan cepat mendapat kabar itu, Padet langsung memimpin rombongan polisi ke TKP. Tapi para Letnan bingung, ke mana Pak Deputi? Kenapa dia tidak ikut pergi? Apa mungkin dia tidak tahu?

Para Sersan sontak berlarian mencari Rut dan mendapati Rut lagi sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Dengan heboh mereka memberitahu ada insiden penembakan di rumah meditasi, satu orang terluka, seorang Jao Mae. Tapi Rut malah tak peduli, orang semacam itu cuma orang yang menipu warga.

"Deputi, anda tidak akan pergi?"

"Tidak. Aku banyak kerjaan."

"Anda benar-benar tidak akan pergi, Pak Deputi?"

"Memangnya ada apa?"

"E-Suam... Err, Nang Suam. Istri anda."

"Kenapa? Suam menembak Jao Mae?"

"Dialah Jao Mae yang terkena tembakan. Suam tertembak!"


Suam akhirnya mulai merasakan sakitnya saat polisi datang untuk memeriksa TKP. Suk langsung menunjukkan bagaimana kejadian tadi pada Padet dengan reka ulang. Jelas sekali si penembak menarget jantungnya Suam. Kalau saja Suam tidak menghindar tepat waktu, dia pasti sudah mati sekarang.

Ambulance tiba tak lama kemudian untuk membawa Suam ke rumah sakit. Ibu ingin ikut dan menemani Suam, tapi Suk ngotot untuk menemani Suam ke rumah sakit dan

Mereka jadi ribut otot-ototan gara-gara itu sampai Suam harus bergegas menengahi mereka dan meyakinkan Ibu untuk di rumah saja dan mengurus para pelanggan.meyakinkan Ibu untuk tidak khawatir. Ibu akhirnya mengalah. Pintu ambulance-pun ditutup.

 

Tapi tiba-tiba seseorang membukanya kembali dan Suam sontak melotot ketakutan melihat Rut yang mendadak muncul dan tegas menyatakan dialah yang akan pergi menemani Suam ke rumah sakit. Kali ini Suk tidak bisa membantah, terpaksalah dia mengalah.

Sepanjang perjalanan, Rut hanya diam sambil menatap Suam dengan tajam penuh amarah. Suam jadi canggung dan gugup dibuatnya. Dengan takut-takut dia berusaha meyakinkan Rut kalau ini hanya luka kecil, bahkan berusaha mengusir Rut secara halus. Tapi Rut terus diam menatapnya dengan wajah seram.


Di markas Snow White, semua orang rapat mendiskusikan kasus ini. Pelaku berhasil kabur. Suk bertanya-tanya, selain Darika, apakah Thuan punya dugaan tersangka lainnya?

"Kuharap itu cuma Darika. Karena jika pelaku adalah orang yang kucurigai, Suam sekarang dalam bahaya." (Hmm, siapakah pelakunya? Darika? Direk? Atau Sia Ha?)

Bersambung ke episode 10

Post a Comment

1 Comments

Hai, terima kasih atas komentarnya, dan maaf kalau komentarnya tidak langsung muncul ya, karena semua komentar akan dimoderasi demi menghindari spam