Sinopsis My Secret Bride Episode 9 - 3

Neung baru tiba di rumah dan langsung diomeli ibunya. Apa sih yang Neung pikirkan, toh dia tidak perlu bekerja. Dia hanya perlu meluangkan waktunya untuk pergi bersama Khun Paiboon (pria yang dijodohkan dengannya itu).


Neung kesal, mending dia bekerja saja, itu lebih baik dan mungkin sakit kepalanya bisa berkurang daripada dia harus menatap 10 cincin berliannya Paman Paiboon. Ujung-ujungnya dia dan Ibu bertengkar lagi gara-gara cara Neung memanggil Paiboon.

Ayah buru-buru menenangahi mereka dan menasehati Neung untuk membuka hati sama Paiboon. Menurut Ayah, pria itu baik daripada Rut. Ayah benar-benar heran. Awalnya Rut menyukai Neung, lalu kenapa dia tiba-tiba menikah dengan Suam?

"Mungkin mereka saling mencintai, aku tidak tahu."


Ibu sinis tak percaya, mana mungkin ada orang yang mencintai Suam. Ibu benar-benar malu pernah membiarkan Suam tinggal di rumah ini. Tapu tuh anak pintar juga, lepas dari Aik, dia langsung berhasil mendapatkan Rut. Neung benar-benar tidak berguna, membawa anak itu tinggal di rumah ini.

Ibu dan anak itu sontak ribut lagi gara-gara itu sampai Ayah harus cepat-cepat menghentikan pertengkaran mereka. Bagi Ayah, yang paling penting adalah menemukan orang baik yang bisa menjaga dan mengurus Neung. Niat Ibu baik, Neung sendiri juga tidak pintar menilai orang.

Seharusnya Neung seperti Aik yang nurut sama Ibu, sekarang Aik hidup dengan nyaman. (Pfft! Nyaman apanya? Tengkar terus sama istri yang sama sekali tidak menghormati suaminya)

"Seharusnya P'Aik-lah yang Ibu khawatirkan." Sinis Neung.

Ibu tidak mau tahu, pokoknya hari sabtu nanti Paiboon akan mengajak Neung makan bersama. Neung tidak boleh mengecewakan. Augh! Neung kesal. Tidak mau!


Sendirian di kamarnya, Neung galau teringat betapa khawatirnya dia terhadap Suam tadi. Tapi di sisi lain, dia masih ragu akan Suam. Apalagi saat dia teringat hasutan teman-temannya dulu.

Flashback saat dia masih di Korea Selatan.


Suatu hari, dua orang temannya menghubunginya dan langsung menghasutnya untuk tidak berhubungan dengan Suam lagi. Mereka memberitahu kalau Suam sudah di-DO dari sekolah karena tidak mampu bayar uang sekolah.

Tapi mereka mengklaim bahwa alasan mereka menyuruh Neung untuk berhenti berteman dengan Suam adalah Karena Suam suka menghina Neung. Mereka mengklaim bahwa Suam senang banget Neung pergi ke Korea, jadi sekarang Suam bebas pergi ke mana-mana dengan Aik. Sekarang hampir setiap hari Aik menjemputnya. Aik bahkan lebih peduli sama Suam daripada sama Neung.

Neung mulai percaya omongan mereka. Apalagi saat mendapat chat dari Ibu yang mengiriminya foto-foto Aik bersama Suam yang tampak terlalu akrab.

Flashback end.


Keesokan harinya, ranjangnya Suam tampak penuh dengan bunga-bunga yang indah. Tiba-tiba dia merasakan Rut menyentuhnya dan membangunkannya dengan romantis.

Tapi Suam masih ngantuk dan langsung mengeluh manja, maka Rut pun langsung mendekat untuk menciumnya. Suam jadi malu-malu dan langsung memukul Rut dengan manja... Sebelum akhirnya dia terbangun dari mimpi indah itu. Wkwkwk! Duh, malunya. Untung nggak ada yang lihat.


Sementara Teerak sedang menyiapkan sarapan, Suam masih menggalau ria di kamarnya, tak tahu harus menghadapi Rut nanti. Teerak memanggil tak lama kemudian, Suam jadi tambah galau nggak karuan. Apa yang harus dia lakukan? Ah, sudahlah! Semangat saja!... Tapi tunggu dulu! Pakai parfum dulu dan lipbalm dulu. 


Sudah oke! Suam pun turun sambil celingukan mencari-cari Rut. Sepertinya tidak ada. Suam pun berbalik dan langsung kaget melihat Rut mendadak sudah ada di belakangnya.

"Kau mencariku?" Goda Rut.

Suam menyangkal. "Nggak tuh, kenapa juga aku harus mencarimu? Aku sedang mencari Teerak (Sayang)."

"Teerak yang kau maksud adalah aku, kan?"

"Gila! Yang kumaksud adalah Khun Sutterak."

Oh, baiklah. Tapi... Rut tiba-tiba mengendus-endus bau dari diri Suam. Dia pakai parfum yah? Dan kenapa bibirnya berminyak banget? Dia habis makan apa? Wkwkwk! Duh, Suam jadi malu dan buru-buru menghapus lipblam-nya.


Rut heran, ada apa dengan Suam hari ini? Hari ini dia sangat aneh. Suam canggung menyangkal. Memangnya apa yang salah dengannya? Oh yah... Nanti dia mau mengerjakan tugas bersama temannya.

"Aku bahkan tidak bertanya."

"Aku cuma ingin mengatakannya. Kenapa? Tidak boleh?"

"Mau kuantar?"

"Kau sedang merayuku, yah?"

"Apa ciuman semalam masih belum jelas?"

Suam melotot gugup. "Kau bicara apa sih?"

"Aku mengatakan kebenaran. Saat aku bersamamu, aku merasa nyaman. Jadi aku berpikir, aku akan merayumu. Itu bagus, kan?"

"Buat apa merayu? Kita kan sudah resmi menikah."

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita langsung ke kamar pengantin?"

Suam sontak gugup. "Tenanglah, Khun. Aku menolakmu."


Rut memintanya untuk mengabaikan masalah sertifikat pernikahan itu, toh itu cuma bisnis. Sedangkan masalah ini, ini adalah masalah pribadi. Suam jadi malu, tapi kalau Rut merayunya, Suam jadi takut. Takut karena dia tidak sadar kalau dia sedang dirayu.

"Kalau begitu aku juga takut."

"Takut apa?"

"Takut kalau kau menginginkannya."

"Khun!" Suam malu.


Usai sarapan, Suam bukannya mengerjakan tugas seperti yang dia bilang tadi, malah nongkrong bersama ibunya dan para tetangga di warung pinggir jembatan, di mana Bibi Waew sedang melukis alisnya jadi tebal banget kayak alisnya Sinchan dan Way sedang menggoda Bu.

Mengalihkan topik ke bahasan utama mereka, Ibu tanya apakah Suam akan membuka rumah meditasi hari kamis. Suam membenarkan, jadi mereka harus mulai bersiap. Suk akan menutup warungnya kalau begitu, biar dia bisa membeli segala perlengkapan.


Nenek Dukun langsung sinis memberitahu Suam bahwa besok Jao Mae-nya sendiri akan datang. Jadi jika lusa Suam kekurangan pelanggan, maka Suam jangan menyalahkannya.

Ibunya Suam tidak terima dan langsung balas menyindirnya dan jadilah mereka ribut lagi. Tapi Nenek Dukun mulai semakin kelewatan saat hinaannya mulai semakin meleber ke mana-mana dan menghina seluruh anggota keluarga Suam. Menghina Oil yang hamil tanpa suami, menghina Nat yang tidak jelas siapa ayahnya, dan menghina Suam yang namanya saja sudah menjijikkan.

Ibu dan Suam jelas tidak terima dan langsung balas menyindir kelakuan mereka yang tidak ada hormat-hormatnya sama orang lain. Suam bahkan langsung pamer pangkat suaminya yang jelas-jelas lebih tinggi daripada pangkat suaminya Lamyai, dan menggunakan hal itu untuk mengancam Nenek Dukun, mengklaim kalau besok dia akan menyuruh bawahan suaminya untuk berpatroli di sekitar rumah meditasinya Nenek Dukun.


Saat Padet tiba di kantor polisi, dia mendapati Neung sedang menunggunya di depan. Dia masih galau gara-gara kemarin dan hari ini dia datang untuk menanyakan pendapat Padet tentangnya. Apa menurut Padet dia bodoh? Padet menyangkal. Neung tidak bodoh, hanya gila.

"Hei! Kenapa kau bicara begitu?"

"Ada apa kau datang kemari?"

"Bosan. Mau mencari teman untuk makan bersama."

"Deputi masih di kantornya, dia belum turun."

"Teman yang kumaksud itu kau. Bisakah kau membawaku makan shabu dan bingsoo? Jebal... Please..." Pinta Neung dengan imutnya.


Padet setuju. Tapi Neung tidak boleh mentraktirnya. Hari ini Padet-lah yang akan mentraktir Neung. Dan perginya naik motor. Oke! Neung bahkan sudah mempersiapkan sebuah helm bulu-bulu yang ada kupingnya. Padet benar-benar tampak terpesona oleh keimutan Neung.

Tepat saat dia membantu Neung memakaikan helmnya, dia melihat Rut keluar dan dijemput oleh pamannya.

Bersambung ke part 4

Post a Comment

1 Comments

  1. Lanjut semangat 💕💕💕💕💕

    ReplyDelete

Hai, terima kasih atas komentarnya, dan maaf kalau komentarnya tidak langsung muncul ya, karena semua komentar akan dimoderasi demi menghindari spam